
Ternyata pernikahan Asmarini sekarang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Tapi bukan menikah dengan Adijaya, melainkan orang dari golongan yang sama. Bangsawan.
Ketika Asmarini kembali dengan membawa Adijaya sebagai calon suaminya, sang ayah berpura-pura menerima dan merestui mereka juga mencari hari baik untuk pernikahan mereka.
Kemudian sesuai rencana, malam harinya sang ayah menyewa seorang pendekar untuk memancing Adijaya keluar kamar. Lalu menjebloskan ke dalam lubang yang sudah disiapkan.
Rencana berhasil, selanjutnya tinggal mengakali Asmarini agar mau dinikahkan dengan orang lain tanpa perlawanan lagi seperti dulu. Entah dengan cara apa akhirnya gadis itu jadi penurut.
Karena pernikahan ini sudah direncanakan jauh-jauh hari, maka para undangan pun banyak yang datang terutama dari kalangan pejabat istana. Baik dari Wanagiri atau kerajaan tetangga.
Bahkan ke pusat Tarumanagara juga mengundangnya. Hanya saja maharaja Wisnuwarman tidak hadir karena ada kepentingan di luar istana. Salah seorang mentri datang untuk mewakili.
Tamu undangan lain yang hadir adalah Cakra Diwangsa.
Ketika mendengar ribut-ribut ada orang gila, Cakra Diwangsa merasa penasaran. Karena sepertinya dia mengenali sosok orang gila itu. Dia tidak bisa mendengar saat Adijaya bicara karena jaraknya cukup jauh.
Diam-diam Cakra Diwangsa meninggalkan acara pesta. Dia ingin mengejar orang gila itu. Tapi sebelumnya dia menanyai prajurit jaga dulu.
"Apa kau tahu orang gila itu?" tanya Cakra Diwangsa.
Dua prajurit yang sedang berjaga saling pandang. Sepertinya mereka ragu untuk menjawab.
"Tidak apa-apa, ceritakan saja!" bujuk Cakra Diwangsa.
"Begini, Raden," salah seorang prajurit menjawab agak ragu. "Beberapa hari yang lalu, Gusti putri pulang dengan membawa calon suaminya, hanya..." dia melirik ke temanya.
Kemudian temannya itu menyambung. "Hanya Gusti patih sudah merencanakan menikahkan Gusti putri dengan orang lain. Gusti patih tidak ingin mempunyai menantu dari kalangan rendah..."
Dua penjaga ini kembali saling pandang ketakutan.
"Lanjutkan, jangan takut, aku yang menjamin keselamatan kalian!"
"Lalu Gusti patih menjebak calon suami Gusti putri hingga menjadi seperti orang gila!"
Cakra Diwangsa tampak geram. "Terima kasih!"
Lalu dia berlari ke arah kepergian Adijaya.
***
Di sebuah sungai Adijaya baru saja selesai membersihkan diri. Pakaiannya yang kotor dan lusuh juga dibersihkan, tapi dipakai lagi karena tidak membawa pakaian ganti. Tentu saja pakaian gantinya tidak bisa diambil karena berada di dalam kereta kuda.
Ketika dia membalik badan hendak naik ke darat, seseorang telah menunggu di pinggir sungai. Seorang lelaki yang sudah dikenalnya.
__ADS_1
"Adijaya!" Cakra Diwangsa tersenyum meskipun tahu anak muda itu tak akan membalas senyumnya, karena suasana hatinya.
"Bagaimana Raden bisa ada di sini?"
Benar saja, Adijaya tidak menyunggingkan senyum sedikitpun. Tapi Cakara Diwangsa memaklumi.
"Aku menghadiri undangan patih Ragadenta,"
Adijaya terkesiap. Timbul banyak pertanyaan dalam pikirannya. Kemudian pemuda ini duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai. Wajahnya tampak sedih.
Tanpa diminta Cakra Diwangsa menjelaskan apa yang barusan dia ketahui. Penuturan yang membuat hatinya semakin tersayat.
"Apa itu kamu?" tanya Cakra Diwangsa di akhir penuturannya.
Kini giliran Adijaya yang bertutur. Di mulai dari perkenalannya dengan Asmarini, hingga menjalin tali kasih dan berencana menikah. Tapi kemudian dijebak oleh ayahnya Asmarini.
"Biadab!" Cakra Diwangsa menahan amarahnya.
"Mungkin benar, aku hanya punuk yang merindukan bulan,"
"Tapi Ragadenta sudah keterlaluan, bahkan harta milikmu sampai dirampasnya!"
"Biarlah, mungkin ini sudah menjadi garis hidupku," Adijaya menunduk. Menelungkupkan kedua telapak tangannya di wajah.
Sekuat apapun seorang lelaki, bila hatinya tergores luka yang amat perih, maka akan menangis juga. Menangis? Berarti yang dialaminya adalah hal yang sangat berat.
Bukan menangis karena kehilangan cinta, kehilangan orang disayangi. Atau karena ditinggal nikah. Bukan! Tapi lantaran hinaan yang diterimanya.
Mengapa hidup ini harus ada perbedaan kasta?
"Aku akan membuat perhitungan dengan patih busuk itu!" ujar Cakra Diwangsa.
"Tidak perlu,"
"Tenang saja, aku tahu caranya!"
Cakra Diwangsa menepuk pelan pundak Adijaya. Dari sikapnya jelas dia memberi dukungan kepada pendekar muda itu. Lalu cucu Prabu Satyaguna itu melangkah meninggalkan Adijaya sendirian.
Adijaya tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan Cakra Diwangsa. Hatinya benar-benar kalut. Lebih kalut daripada ketika mengetahui Kinasih telah menikah dengan orang lain.
Setelah Cakra Diwangsa pergi. Terdengar kelebatan dari belakangnya. Lalu satu sosok telah berdiri di samping kanannya. Adijaya menoleh.
Seorang nenek berwajah menyeramkan yang tidak asing bagi Adijaya. Nyai Gandalaras gurunya Asmarini. Tatapan Adijaya seperti menyalahkan si nenek.
__ADS_1
Nyai Gandalaras mengerti tatapan si pemuda. "Kalau kau percaya, aku juga dijebak patih serakah itu!"
Penjelasan si nenek yang sedikit ini cukup dimengerti oleh Adijaya.
"Kenapa menemuiku?" tanya Adijaya. Tatapannya sudah lurus lagi memandang air.
"Aku hanya memastikan, bahwa kau tidak menyalahkanku. Selain itu, aku akan menyelidik ke istana. Ada yang aneh dengan muridku!"
Memang aneh, Asmarini terlihat seperti mayat hidup. Wajahnya datar, kaku dan pandangannya kosong.
Si nenek yang berjuluk Pendekar Pedang Bunga sudah berkelebat lenyap.
Adijaya merebahkan diri di atas batu yang ia duduki. Pikirannya melayang entah kemana. Rasanya ingin mengakhiri hidup, tapi dia masih yakin bahwa ini hanya tempaan untuk menguatkan jiwanya.
Tiba-tiba hawa membunuh tercium di sekitarnya. Satu sosok berkelebat dari atas pahon sambil mengayunkan pedang.
Trang!
Pedang membentur payung terbuka. Si pemegang pedang terpental balik hingga menghantam pohon lalu jatuh bergulingan.
Adijaya bangun sambil memegang payung yang masih terbuka. Menoleh ke arah orang yang hendak membunuhnya.
"Pendekar Payung Terbang!" seru si pembunuh terkejut. Wajahnya ditutupi kain dari hidung ke bawah.
Adijaya mengira orang itu akan melanjutkan serangan. Ternyata malah menjatuhkan pedangnya sambik mengumpat.
"Kalau saja tahu siapa yang hendak kubunuh, mungkin aku tidak akan menerima tugas ini. Huh, dasar patih bod*h!"
Lalu orang ini pergi begitu saja. Adijaya kerutkan kening mendengar ocehan tadi.
"Patih itu masih kurang puas, dia ingin melenyapkanku!" geram Adijaya.
Amarahnya meluap-luap lagi setelah tenang beberapa saat. Rasanya dia ingin mengobrak-abrik istana kepatihan. Tapi setelah berpikir lagi, itu akan membuat namanya tercoreng.
Si pembunuh tadi tidak tahu kalau sasarannya ternyata Pendekar Payung Terbang. Kemungkinan sang patih juga tidak tahu, tapi... Apakah Nyai Gandalaras tidak memberitahu ayah Asmarini itu?
Heran dan bingung.
Payung Terbang telah kembali ke tempatnya. Pakaian yang dikenakan juga sudah kering di badan. Adijaya tidak membawa kepeng sepeser pun. Jadi dia hanya mencari buah-buahan di sekitar tempat itu untuk mengisi perutnya.
Namun, baru saja melangkah beberapa tindak, satu sosok bertopeng bersenjatakan tombak bermata pedang telah berdiri menghadang sejauh lima tombak di depan.
"Kau juga ingin membunuhku?" seru Adijaya lantang.
__ADS_1