
Adijaya membawa pemuda yang bernama Kantadalu masuk ke dalam kedai. Sedangkan Asmarini memanggil Parwati turun.
Parwati langsung menghambur memeluk Kantadalu sambil menangis tersedu-sedu. Dari sini Adijaya dan Asmarini tahu, mereka sepasang kekasih.
"Kau harus selamat, jangan sampai bedebah itu menemukanmu. Tenanglah, aku akan melindungimu!" janji Kantadalu.
Ketika Kantadalu dan Parwati saling mencurahkan rasa, di tempat lain Asmarini sedang menceritakan kejadian yang barusan dialaminya.
"Ayahnya Raksana pasti lebih sakti lagi, Dinda harus tingkatkan tenaga dalam. Aku bisa membantu supaya Dinda cepat mendapatkannya,"
Senyum Asmarini mengembang lebar ketika mendengarnya. Lalu dia pun memeluk suaminya. Sang suami mengerti keinginannya. Membantu masalah desa Rancawangi tanpa melibatkan suami.
Dia tahu kesaktian Adijaya tak bisa diukur. Dia juga sudah melihat kedahsyatan salah satu ilmu suaminya. Tentunya akan sangat mudah membereskan urusan ini. Tapi sikap Adijaya memberikan kesempatan padanya untuk menyelesaikan sendiri.
Lagi pula tidak perlu khawatir saat menemukan kesulitan. Sang suami pasti langsung turun tangan.
Beberapa saat kemudian mereka berempat telah duduk melingkari satu meja. Adijaya sudah menjelaskan tentang kakaknya Parwati yang masih di luar desa dan kini sedang diburu oleh anak buah Raksana.
"Kakang Liwa tidak sendiri, dia bersama dua temannya," jelas Parwati tahu karena sebelumnya pernah bentrok dengan kakaknya demi membatalkan perjodohan.
Adijaya dan Asmarini pernah melihat mereka sewaktu mengejar Parwati.
"Aku akan mencari mereka!" Kantadalu tampak antusias. "Aku tahu di mana mereka berada!" Maksudnya dia tahu kemana mereka akan pergi.
"Hindari bentrok dengan anak buah Raksana," saran Parwati.
Kantadalu mengangguk mantap lalu pamit segera melakukan tugasnya. Semantara Parwati kembali ke dalam kereta kuda.
Beberapa saat kemudian kerera kuda Adijaya dipindahkan ke tempat yang lebih tersembunyi. Sebelumnya Asmarini menjanjikan kepada pemilik kedai jika sampai rusakbkarena menjadi sasaran kemarahan anak buah Raksana, maka dia akan menjamin ganti rugi.
__ADS_1
...***...
Di rumah lurah yang kini dikuasai Raksana. Pemuda ini baru saja menerima penyaluran tenaga dalam untuk pemulihan dari ayahnya. Wajahnya menyiratkan dendam yang begitu dalam.
"Belum sehari kau berkuasa di sini, sudah mendapat gangguan seberat ini!" ujar Ki Somara. Dia tidak percaya seorang gadis mungil mampu mengalahkan anaknya.
"Ayah coba hadapi saja sendiri, aku yakin di belakang dia ada orang yang lebih kuat!"
Raksana mendengkus marah lalu meninggalkan ruangan menuju kamar tempat di kurungnya Utari. Gadis ikut terikat di atas tempat tidur dalam keadaan terlentang.
Utari menangis tiada henti-hentinya. Pagi tadi, begitu keluarga Raksana mengambil alih posisi ayahnya. Pemuda otak bejat itu langsung mengurung dirinya bahkan merenggut kesuciannya.
Sekarang, kemarahan akibat kekalahan dari Asmarini dilampiaskan kepada Utari dengan meluapkan nafsunya. Gadis malang ini hanya mengutuk dalam hati perbuatan bejat pemuda yang tak disangka membawa bencana buat keluarganya.
Di ruang depan, Ki Somara memasang raut muka dingin. Sebelum Raksana kembali dengan membawa luka. Beberapa anak buahnya melaporkan tentang seorang pemuda yang kebal senjata, bahkan mampu mematahkan golok.
Menurut mereka pemuda itu bukan warga desa sini. Mereka curiga dia membantu orang-orang Ki Wardana yang masih berkeliaran di luar, karena pemuda ini menjemput salah satu warga desa.
Lelaki paruh baya ini sempat berpikir ingin meminta bantuan gurunya. Tapi dia akan malu nantinya, masa menghadapi pemuda seumuran anaknya saja sampai meminta bantuan?
Tapi mengingat luka yang diderita anaknya, juga laporan anak buahnya telah membuatnya membayangkan betapa hebatnya kekuatan dua anak muda itu.
Sementar tak mungkin laporan anak buahnya dibuat-buat karena sebelumnya dia tidak menerima laporan tentang kegagalan. Mereka selalu membawa kabar memuaskan sebelum hari ini.
Apa karena selama ini dia merasa paling sakti di desa-desa yang terletak di sekitar sini, sehingga selalu meremehkan orang lain? Yang pasti sekarang dia akan menghadapi kekuatan yang mengimbanginya. Ini tidak bisa dibiarkan.
Ki Somara memerintahkan agar sebagian anak buahnya ditarik untuk menjaga rumah ini. Untuk sementara dia tidak akan cari masalah dengan menyatroni gadis itu. Dia lebih baik menunggu musuh datang.
Sementara di kamar kurungan, Utari terkulai tak sadarkan diri setelah mendapat pelecehan beberapa kali. Sedangkan wajah Raksana tidak menunjukan rasa puas. Hatinya masih kesal.
__ADS_1
...***...
Malam mulai merambat, suasana desa makin mencekam. Warga desa tetap bertahan di dalam rumah. Bahkan ada yang tidak menyalakan penerangan. Anak buah Raksana yang tidak tahu berapa banyak jumlahnya selalu ada di mana-mana mencari sasaran kesewenang-wenangan.
Namun, dari arah yang luput dari pantauan anak buah raksana terlihat beberapa orang mengendap-endap ke segala arah. Mereka menuju rumah-rumah yang sepertinya sudah direncanakan.
Mereka menemui pemilik rumah secara sembunyi-sembunyi dari pintu belakang. Agak lama mereka berbicara dengan pemilik rumah sebelum akhirnya diperbolehkan masuk.
Kemudian dari rumah-rumah itu mereka membawa satu dua orang, kemudian berkumpul di titik semula saat memasuki desa. Setelah terkumpul semua mereka segera meninggalkan desa.
Mereka adalah Sudaliwa, Kantadalu dan kawan-kawannya menjemput beberapa pemuda lain. Dibawa ke suatu tempat untuk merencanakan penyerangan kepada keluarga Raksana.
Setelah sampai di tempat berkumpul. Ternyata semuanya berjumlah delapan orang termasuk Sudaliwa dan Kantadalu. Mereka adalah pemuda-pemuda yang memiliki kepandaian silat walau bukan tandingan Raksana.
"Kita akan bergerak secara senyap, sedikit demi sedikit menghabisi anak buah mereka sampai tak bersisa," jelas Sudaliwa.
"Urusan ayah dan anak itu biar sepasang pemuda itu yang mengatasi," sambung Kantadalu.
Kantadalu yakin Adijaya dan Asmarini tidak akan menolak dimintai bantuan. Dia juga telah menceritakan kehebatan Adijaya yang menurutnya mampu menandingi Ki Somara sekalipun.
Sore tadi Kantadalu langsung berhasil menemukan Sudaliwa sesuai dugaanya. Setelah memberitahu tentang kabar Parwati, mereka langsung merencakan langkah yang akan ditempuh. Yang pertama adalah mengumpulkan pemuda yang mempunyai kepandaian.
"Jangan lupa, tarik teman-teman yang belum bergabung. Kita tahu, lawan lebih unggul. Tapi kalau kita kompak dan bergerak sesuai rencana, pasti desa kita akan bebas dari penindasan mereka!" kata Sudaliwa lagi memberi semangat.
...***...
Keadaan desa yang seperti mati tanpa penghuni, apalagi anak buah Raksana yang hanya fokus pada kesenangan. Membuat mereka tidak awas ketika satu sosok melesat dari satu atap rumah ke atap lain begitu ringan dan tanpa menimbulkan suara.
Sosok ini berani menampilkan dirinya alias tidak menutupi wajahnya dengan kain atau topeng. Dia melesat ringan menuju rumah Ki Lurah. Rambutnya berkibar menghiasi langit malam yang hitam.
__ADS_1
"Sudah lama aku tidak menggunakan ilmu peringan tubuh ini!" gumam orang ini. Senyum kecil tersungging di bibirnya yang tipis.