Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Mengungkap Kebenaran


__ADS_3

Sejak tewasnya Rana dan Lesmana yang semua orang menganggap Puspasarilah yang membunuhnya. Rumah Ki Basra, ayahnya Jatnika selalu dijaga beberapa pendekar bayaran.


Ki Basra termasuk orang kaya di desa itu. Jadi dia bisa menyewa pendekar untuk melindungi anaknya dari incaran Puspasari. Jatnika adalah pemuda terakhir yang berhubungan dengan Puspasari sebelum gadis itu menghilang.


Puspasari membalas dendam kepada setiap pemuda yang telah mencampakkannya. Jatnika salah satunya.


Memang sejak peristiwa pengejaran Puspasari hingga sampai bertemu dengan Nini Bedul, gadis itu tidak muncul lagi. Namun, penjagaan tetap dilakukan hingga keadaan benar-benar aman.


Aman di sini berarti kematian Puspasari. Tapi bila gadis itu tewas, pembalasan Nini Bedul akan lebih mengerikan. Begitu pemikiran warga. Jika ingin lebih aman, maka Nini Bedul juga harus dilenyapkan. Tapi bagaimana caranya?


"Aku akan mencari seorang pendekar ternama yang sudah tidak diragukan kesaktiannya," kata Ki Basra di suatu pagi sambil minum teh.


Dia berniat meminta bantuan pendekar tersebut untuk membasmi Nini Bedul dan muridnya. Berapapun bayaran yang diminta akan dia sanggupi.


"Juragan pernah mendengar tentang Maharaja yang memecat patih Wanagiri hanya karena sang patih menghina seorang pendekar yang ternyata teman Maharaja?" tanya salah satu anak buahnya.


"Ya, aku tahu, kenapa?"


"Namanya Pendekar Payung Terbang, kabarnya dia masih berada di daerah kerajaan ini. Jika juragan berkenan, saya siap mencari dia,"


"Boleh juga, sudah banyak orang yang membicarakan pendekar muda itu. Aku kira dia mampu menandingi Nini Bedul. Cari dan mintalah bantuannya!"


"Baik juragan!"


Anak buah Ki Basra pun beranjak pergi. Dia mengajak beberapa temannya untuk menunaikan tugasnya.


Setelah kepergian anak buahnya, muncullah Ki Jantaka. Lelaki ini ingin menyampaikan sesuatu kepada Jatnika. Ki Basra langsung mempersilakan masuk menemui Jatnika di kamarnya.


Beberapa saat kemudian Ki Jantaka bersama Jatnika keluar bersama.


"Mau kemana?" tanya Ki Basra.


"Ada hal yang harus direncanakan bersama Ki Dipasara dan Nyi Rengganis,"


"Apa perlu pengawalan?"


"Saya menjamin keselamatan anakmu, apalagi di sana ada Ki Dipasara dan Nyi Rengganis.

__ADS_1


"Baik, pergilah!"


Ki Basra menatap kepergian anaknya bersama Ki Jantaka. Walaupun katanya dijamin keselamatan karena ada dua pendekar tersohor di desa itu tetap saja dia khawatir.


Rumah Ki Dipasara agak jauh dari rumah Ki Basra, tapi Jatnika dan Ki Jantaka berjalan kaki menuju ke sana. Ki Jantaka bilang mereka akan merencanakan penyergapan Puspasari.


Ketika melewati sebuah jalan yang agak sepi tiba-tiba mereka dihadang sesosok wanita cantik tapi terlihat bengis. Jatnika sepertinya lupa-lupa ingat akan wanita ini. Yang mengejutkan. Dia membawa pedang pendek.


Pedang Ular Hitam.


"Mau apa kau?" Pucat wajah Jatnika melihat wanita itu menyeringai sinis.


Sementara Ki Jantaka langsung ambil langkah seribu tanpa mempedulikan pemuda itu.


Selagi bingung harus berbuat apa, tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku. Wanita itu telah menotok jalan darahnya. Lalu dia merasa ada orang yang memanggul dirinya, tapi tak bisa melihat sosoknya.


Kemudian wanita berjalan di depan diikuti orang yang memanggulnya. Jatnika di bawa ke suatu tempat yang sepi. Di tengah hutan dia diikat pada sebuah pohon. Sampai saat itu karena tubuhnya kaku, dia belum bisa melihat orang yang memanggulnya.Namun, bisa dipastikan orang itu laki-laki.


Terdengar suara kaki berlari menjauh. Si pemanggul sudah pergi. Tinggal wanita cantik tapi bengis itu berdiri di depan Jatnika.


"Dengan pedang ini, orang akan menyangka Puspasarilah yang telah membunuhmu." Wanita itu tertawa menyeramkan.


Pemuda ini seperti sering melihat wanita ini, tapi dalam penampilan berbeda. Terlihat tua, tapi yang dia lihat sekarang lebih muda seperti gadis. Wajahnya mirip dengan yang tua. Apakah wanita ini anaknya.


Wanita ini mengangkat Pedang Ular Hitam. Bersiap menusuk jantungnya. "Selamat datang korban terakhir!" ucapnya.


Namun, sebelum ujung pedang itu berhasil menusuk, satu angin kuat menghempas tubuh wanita ini.


Wussh!


Karena tidak menyangka akan ada serangan mendadak, wanita ini terpental tiga tombak ke belakang. Lalu seperti datang dari langit satu sosok melayang turun, mendarat membelakangi Jatnika.


Seorang wanita tua yang rambutnya sudah memutih dan wajahnya keriput.


"Berani sekali kau mencampuri urusanku!"


Wanita bersenjata pedang langsung menyerang. Pedangnya membabat ke arah leher. Tapi hanya memotong udara. Wanita tua berambut putih dengan mudah menghindar, malah sempat kirim pukulan balasan.

__ADS_1


Si cantik berpedang tarik badannya demi menghindari pukulan lawan. Meski tangan kosong, tapi bisa merasakan kekuatan yang besar dibaliknya. Dia tidak mau berlaku ceroboh.


Kejap berikutnya dia punya kesempatan menyerang lagi. Diputar pedangnya mengurung pergerakan lawan. Tapi wanita tua itu gerakannya begitu lincah seperti seorang gadis sehingga kelebatan pedangnya mampu dihindari.


Seseorang di atas pohon tengah mengawasi pertarungan itu. Beberapa saat kemudian datanglah dua orang. Ki Basra dan Jantaka. Orang di atas pohon sudah menduga hal ini.


Terlihat Ki Jantaka terkejut menyaksikan dua wanita sedang beradu jurus. Ketika beberapa orang sewaan Ki Basra datang dan hendak mengeroyok wanita yang menggunakan pedang, Ki Jantaka langsung menahannya.


"Tahan dulu!"


Awalnya Ki Basra mengira wanita bersenjata Pedang Ular Hitam itu pastilah Puspasari. Begitu juga anggapan orang-orang sewaannya. Tapi setelah diperhatikan lebih jelas, ternyata bukan.


"Sukawati!"


Seru seseorang yang baru datang menyebut nama wanita yang memegang Pedang Ular Hitam. Ternyata Nyi Rengganis bersama Ki Dipasara.


Semua orang heran kenapa Sukawati menggunakan Pedang Ular Hitam melawan wanita tua berambut putih itu? Lebih heran lagi penampilan Sukawati yang lebih muda dari usia sebenarnya.


Sementara Jatnika sudah dilepaskan oleh ayahnya. Dengan bantuan Ki Dipasara, totokannya dilepaskan.


Luput dari perhatian karena terfokus pada pertarungan Sukawati, diam-diam Ki Jantaka mengambil langkah seribu. Tapi orang di atas pohon segera berkelebat menangkapnya.


"Jangan lari, kau!"


Lalu semua orang berpaling ke arah sumber suara. Seorang pemuda tengah memegang tangan Ki Jantaka dililitkan ke belakang punggung, sehingga lelaki ini tak bisa bergerak.


Nyi Rengganis pernah melihat pemuda ini yang pertama menemukan anaknya tewas. Adijaya.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Ki Dipasara kebingungan. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Sebaiknya bantu wanita berambut putih itu, jangan sampai Sukawati kabur!" suruh Adijaya.


Tanpa basa-basi lagi segera Nyi Rengganis, Ki Dipasara dan beberapa pendekar sewaan Ki Basra bergerak mengurung pertarungan antara wanita berambut putih dengan Sukawati yang memegang Pedang Ular Hitam.


Melihat hal itu, Sukawati jadi tampak ketakutan. Jelas dia tidak akan mampu melawan seandainya mereka menyerang bersama. Sementara dia sendiri sudah mulai terdesak menghadapi wanita berambut putih ini.


Senjata Pedang Ular Hitamnya tak mampu membantunya, walaupun lawan menggunakan tangan kosong. Selain itu, ilmu yang sedang diperdalamnya belum sempurna.

__ADS_1


Bagaimana cerita sebenarnya?


__ADS_2