Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Pergerakan Sepasang Pendekar Muda


__ADS_3

Ketika tengah asyiknya menikmati pemandangan di atas kereta kuda. Adijaya mendapat bisikan dari Padmasari. Guriang perempuan itu melaporkan hasil pekerjaannya bersama Ki Santang.


Yang pertama mereka sudah bisa menyembunyikan keberadaan mereka agar tidak terdeteksi oleh manusia atau guriang lain yang berada di sekitarnya.


Yang kedua membuat Adijaya cukup tersenyum lebar. Ini sesuai dengan keinginannya. Ternyata Ki Santang mampu mewujudkan hal itu. Apa itu? Nanti saja disebutkannya. Biar tidak tertebak.


"Mengapa Kakang senyum-senyum sendiri?" tanya Asmarini saat memperhatikan suaminya.


"Mereka berhasil menemukan sesuatu, Dinda!"


"Mereka...."


"Temannya mereka." Adijaya menunjuk ke arah kuda.


"Oh," Asmarini angguk-angguk mengerti. Pasti Ki Santang dan Padmasari.


Tiba-tiba kereta berhenti, padahal tidak ada apa-apa di sekitar tempat itu.


"Ada apa, Paman dan Bibi Kuda?" tanya Asmarini.


"Kami mendapatkan berita, entah apa ini penting untuk Gusti Putri?"


"Katakan saja!"


"Padepokan Gunung Sindu berniat menyerang padepokan Karang Bolong,"


"Bagaimana, Kakang?" tanya Asmarini kepada suaminya.


"Ini termasuk penting, padepokan Karang Bolong sudah kehilangan empat murid terkuat. Jika Gunung Sindu juga mempunyai murid-murid terkuat, kemungkinan Karang Bolong tidak akan mampu bertahan." Adijaya mengutarakan pemikirannya.


"Jadi bagaimana?"


"Kita bagi tugas, Dinda!"


"Baik, apa tugasku?"


"Paman dan Bibi Kuda, apa kalian bisa membawa terbang kereta ini?" tanya Adijaya kepada sepasang kuda guriang.


"Tentu saja bisa, Juragan!"


"Bagus! Dinda, nanti kalau sudah gelap pergilah ke padepokan Karang Bolong. Bantu mereka!"


Asmarini tampak menerawang. Suaminya pernah bercerita tentang pertemuannya dengan Mahaguru Manguntara pemimpin tertinggi padepokan itu. Dia merasa tidak akan sulit memperkenalkan diri.


"Dan, Kakang?" tanya sang istri.


"Aku akan mengikuti rombongan murid Gunung Sindu itu sampai ke markas mereka. Jangan khawatir, jika butuh bantuan aku akan mengirim Ki Santang atau Padmasari,"


"Oh, ya. Kenapa harus malam hari berangkatnya?"

__ADS_1


"Biar tidak kelihatan aneh, siang-siang ada kereta terbang," jawab Adijaya sambil mencubit hidung lancip istrinya.


Sang istri membalasnya dengan kecupan. "Sebenarnya entah kenapa aku tidak mau jauh-jauh dari Kakang." Asmarini menyandar manja ke dada sang suami.


"Aku akan segera menyusul. Setelah urusan selesai, kita bisa main-main di pantai yang ada di sana,"


Sepasang suami istri ini saling tatap cukup lama. Kemudian mereka berpagutan juga cukup lama sebelum akhirnya Adijaya melesat terbang menggunakan payungnya.


Asmarini memerintahkan sepasang kuda agar berlari cepat. Kereta memang melaju cepat, tapi terlihat kaku tanpa terguncang-guncang oleh jalan yang berbatu dan tidak rata. Ternyata keempat rodanya tidak menapak di tanah, melainkan melayang sedikit di udara.


"Paman dan Bibi Kuda, dari mana kalian mendapat informasi itu?" tanya Asmarini yang tiba-tiba saja penasaran.


"Itu kelebihan kami, Gusti Putri. Karena kami tahu Gusti Putri dan Juragan punya rencana terhadap mereka, jadi kami mencari-cari berita tentang mereka!"


Asmarini tidak bertanya lagi.


Sementara itu di atas udara Adijaya mengitarkan pandangan mencari keberadaan rombongan murid padepokan Gunung Sindu. Dia melihat beberapa dari mereka sudah jadi mayat tergeletak begitu saja di jalanan.


Bergerak maju lagi, terlihat lagi sisanya yang juga sudah terkapar tanpa nyawa. Di antara mereka tidak ada lelaki berkumis tipis itu. Mungkin dia yang telah membantai semua temannya. Entah apa masalahnya, Adijaya tidak peduli.


Adijaya mencari satu orang lagi yang kemungkinan masih hidup, karena si kumis tipis masih tidak dihilangkan ilmunya. Hanya dia satu-satunya yang bisa membawa ke markas padepokan Gunung Sindu.


***


Tiga hari kemudian dengan tergopoh-gopoh dan ketakutan yang amat sangat, si kumis tipis sampai di padepokan Gunung Sindu. Dia tidak berani masuk ke dalam. Dia hanya melapor di bagian penjagaan.


"Kuntawala, kenapa wajahmu kelihatan ketakutan?" tanya salah satu dari tiga penjaga gerbang depan.


Dua orang penjaga segera membopong tubuh si kumis yang bernama Kuntawala itu ke dalam. Mereka langsung menemui salah satu guru atau dedengkot yang ada di ruang pertemuan umum.


"Kenapa dia?" tanya Komba yang kebetulan ada di sana.


"Dia melaporkan bahwa Guru Gardika tewas!"


"Apa!" Rambut Komba tampak berjingkrak. Wajahnya yang marah menunjukan ketidakpercayaan dengan apa yang barusan dia dengar.


Lalu tampak dua jarinya menyentik udara. Dari dua jari itu melesat cahaya bulat kecil menghantam tubuh Kuntawala. Si kumis ini tiba-tiba sadar dan segera bangun.


"Jangan berkata dusta kalau tidak ingin nyawamu lepas!" ancam Komba.


Setelah menenangkan hatinya, Kuntawala mulai menceritakan kejadiannya dari awal dia menghadang sebuah kereta kuda sampai tewasnya Gardika salah satu guru atau dedengkot padepokan.


Komba benar-benar tidak percaya seorang wanita muda bisa mengalahkan Gardika. Kuntawala juga mengatakan dia telah membunuh semua murid bawahannya karena tidak ingin kembali ke padepokan.


Kabar ini telah sampai ke telinga Mahaguru Gentasora. Dia sangat terkejut mendengarnya. Padahal sebelumnya dia tidak mendapat pirasat apa-apa.


"Sepasang suami istri yang masih muda dan menaiki kereta kuda mewah," gumam Gentasora mengulang perkatan yang dilaporkan Kuntawala.


"Periksa, jangan-jangan Kuntawala diikuti mereka!" perintah sang mahaguru.

__ADS_1


Beberapa murid segera bergegas menuju gerbang padepokan dan sekelilingnya. Sedangkan keempat dedengkot utama segera dikumpulkan juga di ruangan khusus mereka.


"Kalian berangkat sekarang juga menyerang Karang Bolong, biar suami istri itu aku yang urus di sini. Mereka pasti menguntit sampai ke sini!"


Tanpa menjawab lagi keempat murid utama ini segera meninggalkan ruangan. Mereka mengumpulkan murid-murid andalan masing-masing.


Beberapa lama kemudian, sekitar empat ratusan murid padepokan Gunung Sindu turun gunung dipimpin empat dedengkot utama. Mereka hendak menyerang padepokan Karang Bolong.


Serangan yang sudah lama direncanakan. Seharusnya ada lima dedengkot. Namun, tidak disangka salah satunya yang bernama Gardika mengalami nasib sial.


Di saat pikirannya dipusingkan atas apa yang menimpa Gardika, tiba-tiba datang salah seorang murid menghadapnya.


"Jika tidak ada yang penting jangan menghadapku!" hardik Gentasora.


"Ampun, Mahaguru, ada tamu yang ingin bertemu,"


"Tamu?" desisnya. Seketika teringat pasti mereka yang mengikuti Kuntawala. Tidak salah lagi. Gentasora segera keluar.


***


Banyak yang komentar tentang covernya yang mungkin jelek, hihihi...


Terus terang, saya agak susah mencari gambar karakter Nusantara yang membawa payung. Karena ceritanya berlatar Nusantara terutama tanah Sunda.


Jika pernah nonton film Wiro Sableng (2018) yang dibintangi langsung oleh Vino G Bastian, anaknya Bastian Tito penulis Wiro Sableng, maka akan menemukan karakter yang membawa payung.


Yaitu Hanata Rue yang berperan sebagai Pendekar Pemetik Bunga, jadi saya ambil saja ini buat dijadiin cover.


Kalau karakter dari luar negeri mah banyak. Kayaknya saya harus ganti cover lagi. Atau kalau ada teman-teman yang punya, silakan sarannya ditunggu.


Di bawah ini ada cover baru yang direncanakan sebagai gantinya, dan ada juga cover lama yang sudah pernah dipakai.


Terima kasih.


Cover yang pernah digunakan 👇👇👇



ini juga 👇👇👇



Cover rencana 👇👇👇



atau yang ini


__ADS_1


Pilih mana, ya?


__ADS_2