
Dua pendekar ini bernama Wiraganda dan Taji Salira, mereka murid padepokan Harjamukti. Guru mereka yang tewas ditangan Dewi Kembang Kuning bernama Ki Antaguna. Sekarang mereka hendak menemui gurunya Ki Antaguna yang bernama Ki Bandawa.
Adijaya ingat nama ini pernah ia gunakan ketika menyamar jadi saudagar.
Setelah tewasnya Ki Antaguna, Dewi Kembang Kuning menyatakan diri menjadi pemimpin padepokan. Tapi Wiraganda dan Taji Salira tidak terima sehingga mereka diam-diam keluar dari padepokan.
"Kami hendak melaporkan tentang sepak terjang Dewi Kembang Kuning ini ke kota raja," kata prajurit yang menyamar itu.
"Baguslah, karena sudah merugikan banyak pihak. Sudah sewajarnya kerajaan juga turun tangan. Saya dukung!"
Percakapan mereka berhenti ketika hidangan yang dipesan dua pendekar itu tiba. Sementara Adijaya telah menghabiskan makanannya. Lalu membayar dan meninggalkan kedai.
Dalam perjalanan entah kenapa Adijaya mendadak berubah pikiran. Dia penasaran tentang Dewi Kembang Kuning, tapi pikirannya mengarahkan agar dia mencari kitab Jagat Pamungkas terlebih dahulu.
Sepertinya ini sebuah firasat atau petunjuk. Dia merasa kitab itu akan menjadi kunci tentang misteri ini. Sebenarnya ini bukan asal menduga-duga. Tapi seperti ada yang membisikinya.
"Kau sudah memikirkannya?"
Satu suara mengiang di telinganya tapi Adijaya tidak melihat sosoknya setelah tengak-tengok ke segala arah. Suara yang dikenalnya. Suara si kakek kurus gurunya Nini Bedul. Dia lupa namanya.
"Jangan kaget, aku sengaja mengirim suara jarak jauh untuk memberimu petunjuk,"
Nini Bedul saja bisa begini, apalagi gurunya. Mungkin kakek itu juga yang mempengaruhi pikirannya.
"Ambil dan pelajari dulu kitab Jagat Pamungkas secepatnya. Aku yakin kau mampu dan cepat menguasai. Firasatku mengatakan itu akan membantumu dalam menguak misteri yang sedang kau hadapi. Satu lagi, jangan tertipu pada satu titik. Cepatlah!"
Setelah beberapa saat menunggu, suara itu tak terdengar lagi. Artinya kakek itu sudah menutup pembicaraan. Kini Adijaya memikirkan bagaimana cara cepat ke lereng barat gunung Indrakilla.
"Payung Terbang!"
Tring!
Tangan Adijaya sudah memegang payung. Diangkat dan dibuka.
"Tidak ada hujan, tapi pakai payung!" ujarnya bicara sendiri.
Kemudian sosok Adijaya melesat ke atas setinggi-tingginya supaya orang yang melihatnya di bawah hanya menyangka seekor burung saja.
Setelah di atas Adijaya membaca wilayah. Ternyata dia harus ke arah barat daya untuk menuju gunung Indrakilla. Segera dia melesat dengan menggabungkan kekuatan Payung Terbang dan ilmu meringankan tubuhnya agar mendapatkan kecepatan yang 'maksimum'.
__ADS_1
Jarak yang seharusnya ditempuh hingga tujuh hari, bisa disingkat hanya dengan seharian saja. Sampai di sana hari sudah Sareupna. Suasana di dalam lereng yang tertutup rimbunnya pohon sudah gelap.
Adijaya menyalurkan hawa sakti ke bagian penglihatan. Biar gelap matanya tetap awas. Menurut peta yang dia baca, kitab itu berada di dasar sebuah sumur.
Dia mendarat di tempat yang menurutnya dekat dengan sumur itu. Sebenarnya bukan sumur, tapi lubang yang lingkarannya sebesar sumur.
Kedua matanya yang tampak menyala seperti kucing memandang berkeliling mencari keberadaan sumur.
"Dasar orang-orang aneh!" umpat Adijaya. "Menyimpan kitab jauh dari tempat tinggalnya, tempatnya ditulis dalam peta. Peta itu dimasukan ke dalam gagang pedang. Pedangnya di simpan di tempat lain lagi!"
Menurutnya kenapa kitabnya tidak disimpan di rumahnya saja di bukit Bedul, tidak usah bikin peta dan pedang. Tapi sepertinya ini memang sudah diatur. Adijaya berjodoh dengan pedang Guntur dan kitab itu.
Setelah beberapa saat mencari, akhirnya ditemukan juga lubang tanah yang mirip sumur. Tanpa takut dan ragu Adijaya langsung melompat masuk ke dalam sumur.
Tubuhnya meluncur cepat, tapi sambil menggunakan ilmu meringankan tubuh. Karena sumur ini cukup dalam dan tidak tahu kapan kedua kakinya akan menyentuh dasarnya.
Akhirnya sampai juga di dasar sumur yang ternyata ruangannya cukup besar dan tidak ada airnya. Dia ingat bentuk ruangan ini seperti di dalam goa pertama kali dia terjerumus. Di dalam sini tidak gelap.
Adijaya mencari sumber cahaya itu. Ternyata berasal dari satu sosok tubuh wanita cantik yang tengah duduk bersila sambil memejamkan mata. Bersemedi.
Kejap berikutnya pemuda ini terperanjat, ternyata tangan dan kaki wanita ini dirantai yang melilit ke bawah ke sebuah gembok besar yang menjadi tempat duduk si wanita.
Bagaimana ini? Kenapa ada manusia di dalam sini? Di mana kitab Jagat Pamungkas? Apakah Nini Bedul menipunya.? Siapa wanita yang terlihat seperti gadis ini?
Adijaya terkejut karena tiba-tiba saja wanita itu berbicara.
"Sudah tahu, kenapa tanya?"
Si wanita ini mendengkus, merasa dipermainkan. Tapi dia tahu, orang yang bisa masuk ke dasar sumur ini berarti orang yang mendapat petunjuk.
"Akulah kitab itu!"
Si pemuda kerenyitkan kening. "Aku mencari kitab, bukan orang. Tapi apa kau juga manusia?" Adijaya tertawa mengekeh.
"Akulah kitab itu!" ulang si wanita masih memejamkan matanya. "Kau mau tahu ceritanya?"
"Aku hendak mengambil kitab, bukan mendengarkan dongengmu!"
"Tidak bisa! Kamu harus mendengarkan ceritanya dulu!"
__ADS_1
"Kalau tidak?"
"Kau tidak akan menemukan kitabnya!"
"Semudah ini ujiannya, cuma mendengarkan dongeng?"
Tring!
Guriang pengabdi Adijaya tiba-tiba muncul menjelma menjadi Ki Santang.
"Padmasari?" ucapnya kepada wanita itu.
Adijaya heran, sedangkan wanita ini terkejut mendengar suara Ki Santang. Dia membuka kelopak matanya. Ternyata bola matanya berwarna biru terang dan memancarkan cahaya seperti damar.
"Santang! Bagaimana kau berada di sini?"
"Aku yang memberinya nama Santang, kenapa kau tahu?" Adijaya kerutkan kening. Benaknya dipenuhi tanya dan heran.
"Namanya memang Santang, aku kenal dia sejak dari kecil!" tukas wanita bermata biru.
"Jadi wanita ini segolongan dengan Ki Santang," batin Adijaya.
"Dia juraganku, karena dia yang telah mampu membebaskan aku dari hukuman, namanya Adijaya," jelas Ki Santang.
"Adijaya," panggil wanita bermata biru yang tadi sempat di panggil Padmasari. "Kau bisa menemukan tempat ini berarti kau membawa kunci gemboknya, cepat buka!"
Adijaya tarik mukanya, seringai licik terlukis di bibirnya.
"Kenapa kau?" tanya Padmasari.
"Aku mau mendengarkan dongeng dulu," si pemuda tersenyum lalu memandang Ki Santang meminta persetujuan.
"Setuju!" sahut Ki Santang.
Padmasari mendengkus kesal. "Baiklah, karena aku gagal menjalankan tugas maka raja Guriang menghukumku. Aku dikutuk menjadi sebuah kitab kosong.
"Sang raja menyuruhku agar mengisi kitab dengan ilmu apa saja. Maka aku isi dengan ilmu sihir, teluh, santet, gendam dan sejenisnya.
"Kata sang raja, bila ada manusia yang menemukan kitab yang kuberi nama Jagat Pamungkas ini, kemudian dia mempelajarinya sampai halaman terakhir, lalu mengikuti petunjuk di halaman terakhir. Maka aku akan menjalani hukuman ke dua.
__ADS_1
"Kemudian seorang manusia bernama Bardawata menemukanku dan memperlajarinya. Tapi dia tidak melakukan perintah di halaman terakhir. Malah mewariskan aku kepada muridnya yang bernama Gandamayang!"
Adijaya angguk-angguk kepala, ternyata Nini Bedul nama aslinya Gandamayang.