
Lelaki yang menjadi lawan Sekar Kusuma malah menghambur ke depan sambil rentangkan tangan. Dadanya sengaja diarahkan ke ujung pedang Sekar Kusuma yang terhunus.
Crebb!
Sekar Kusuma sempat terkesiap sekejap saat orang itu menusukkan diri. Wanita ini segera tarik pedangnya. Lawannya menggelosor ambruk tanpa nyawa lagi. Sekali kibas, darah yang menempel di bilah pedang langsung terhapus oleh angin.
Sementara itu pertarungan Cakra Diwangsa sudah bergerak menjauh sampai ke tanah kosong di seberang jalan. Lelaki setengah baya ini lama-lama semakin tangguh juga. Meski begitu, Cakra Diwangsa sukar ditundukkan.
Memang cucu Prabu Satyaguna ini belum banyak pengalaman bertarung. Namun, dengan sikap tenang dia bisa membaca pergerakan lawan dan secara perlahan menemukan gaya bertarungnya sendiri.
Perhatian Cakra Diwangsa terpusat pada dua tangan lawan yang berbeda bentuk itu, cakar dan kepalan. Dia merasakan serangan yang berasal dari dua tangan lebih bertenaga, sedangkan bagian lainnya hanya penopang.
Murid Ki Brajaseti akhirnya berinisiatif untuk menyasar pergelangan tangan, siku bagian luar dan sambungan bahu. Tentu saja dengan pengerahan tenaga yang lebih besar lagi.
Benar saja setelah Cakra Diwangsa mengincar bagian-bagian itu, lelaki setengah baya kini lebih banyak menghindar dan menangkis. Namun, tangkisan itulah yang dinantikan Cakra Diwangsa.
Pada saat serangannya mengincar bahu dan tak bisa dihindari, maka lawan akan menggunakan tangan untuk menangkis. Dalam waktu kurang dari sekejap saja, serangan Cakra Diwangsa mendadak berubah arah.
Dess!
Lelaki setengah baya terpancing. Tangkisannya malah jadi sasaran. Pukulan Cakra Diwangsa tepat mengenai pergelangan tangan. Ini membuat seluruh tangan bergetar, terasa seperti ada sengatan yang menjalar ke urat-uratnya.
Satu kesalahan ini telah membuka celah yang lain yang tak dapat dihindari. Karena Cakra Diwangsa begitu cepat melancarkan serangan susulan yang mengincar bagian-bagian penting lainnya.
Dess! Degh! Bukk!
Bertubi-tubi pukulan Cakra Diwangsa yang mengandung tenaga dalam bersarang telak di bagian yang melemahkan. Pergelangan tangan, siku luar dan sambungan bahu.
Dugh!
Terakhir, pukulan Cakra Diwangsa telak menghantam muka sebelum lelaki setengah baya terpental dan menghantam pohon di belakangnya. Sebelum jatuh Cakra Diwangsa sudah meraih lehernya, diangkat dan ditekankan ke batang pohon.
"Siapa yang menyuruhmu?"
Meskipun masih bisa bersuara karena cekikan Cakra Diwangsa tidak terlalu kuat. Orang ini tampak enggan bicara. Bola matanya berputar-putar seperti sedang mencari sesuatu.
Dan sesuatu itu datang juga. Cakra Diwangsa mendengar suara berdesing walau tak kentara disertai hembusan angin kuat.
__ADS_1
Sring! Crep! Crep!
Puluhan senjata rahasia berbentuk paku tajam tiba-tiba melesat dari arah belakang. Cakra Diwangsa langsung melepaskan cekikan lalu berguling cepat ke samping.
Beruntung nyawanya masih selamat, dia hanya terserempet beberapa saja. Itu juga cuma pakiannya yang kena. Sementara hampir semua paku-paku itu telah menancap di sekujur tubuh lelaki setengah baya.
Lelaki itu tewas mengenaskan sebelum raganya ambruk ke tanah. Cakra Diwangsa merasa kehilangan sesuatu untuk mengorek informasi.
Ternyata serangan paku-paku itu bukan cuma menyasar ke Cakra Diwangsa. Sekar Kusuma harus bersalto tinggi agar bisa menghindari serbuan senjata rahasia yang entah dari mana dan siapa penyerangnya.
Begitu juga pasangan pendekar muda kita. Namun, serangan ini sama sekali tak berarti bagi mereka. Karena Payung Terbang dengan mudah langsung melindungi.
Setelah serangan paku, suasana jadi sepi. Tak ada lagi serangan bokongan lanjutan. Empat orang yang jadi incaran menarik napas lega. Cakra Diwangsa dan Sekar Kusuma sudah mendekat ke tempat Adijaya dan istrinya berdiri.
***
Istana Tarumanagara.
Di ruang pribadi maharaja. Tempat sang maharaja menelaah segala urusan kerajaan. Hanya orang yang dikehendaki saja yang bisa masuk ke sana.
Tampak sang maharaja sedang duduk menghadap meja kecil sambil membaca sebuah kitab yang terbuat dari susunan bilah bambu.
"Ampun Gusti Prabu, mereka mendapatkan serangan pertama,"
Tidak ada reaksi dari Maharaja Wisnuwarman yang berwibawa karena sikap lembutnya. Sementara yang memberi informasi tampak menunggu tanpa bergerak sedikitpun.
"Belum satu hari perjalanan mereka sudah datang gangguan. Sudah diperiksa pelakunya?" Suara sang maharaja pelan, tapi bagaikan mengandung ancaman. Dia tetap pada posisinya.
"Tidak ditemukan tanda-tanda apapun, pembunuh lapis kedua lebih dulu menghabisi mereka,"
Terdengar helaan napas walau sangat pelan. "Lanjutkan saja, biarkan semuanya keluar!"
"Ampun, Gusti Prabu. Apa perlu dikirim pasukan pelindung?"
"Tidak perlu!" bantah langsung sang maharaja. "Dia lebih kuat dari Paman Cakrawarman. Sehebat apapun lawannya dia mampu mengatasi!"
"Titah hamba laksanakan, mohon pamit Gusti Prabu!"
__ADS_1
Maharaja menggeliatkan badannya sambil menghempaskan napas setelah pemberi keterangan tidak ada.
***
Kereta kuda mewah itu telan melaju lagi di jalanan yang agak sepi. Buat Cakra Diwangsa kejadian tadi sangat tak diduga sebelumnya sama sekali. Namun, buat Adijaya sudah terkumpul beberapa dugaan dalam benaknya.
"Raden, kalau boleh tahu jabatan apa yang hendak dianugerahkan kepadaku?" tanya Adijaya.
"Sejujurnya aku tidak tahu," jawab Cakra Diwangsa dengan nada seolah menyesal. "Aku hanya diberi perintah untuk menjemputmu karena Gusti Maharaja hendak memberimu jabatan, itu saja!"
"Mengingat kejadian tadi, berarti ada yang tidak senang dengan keputusan Maharaja, karena tidak bisa dibantah maka Kakang yang jadi sasaran!" ujar Asmarini menuangkan pendapatnya.
Cakra Diwangsa dan Sekar Kusuma berada di tempat kusir lagi untuk berjaga-jaga dari musuh yang mengincar mereka. Padahal dia tahu, Adijaya lebih sakti darinya.
"Yang aku sesalkan tidak dapat mengorek keterangan siapa dalangnya?" rutuk Cakra Diwangsa kepada diri sendiri.
"Tentu saja mereka tidak ingin terbongkar jati dirinya," sahut Sekar Kusuma. "Jadi sudah menyiapkan pembunuh lapis kedua,"
Sebenarnya Cakra Diwangsa sempat bertanya bagaimana Asmarini bisa selamat dari racun. Dengan jelas si cantik mungil memberitahukan bahwa dirinya tahu tentang racun jadi bisa mengantisipasi sebelumnya.
Sudah barang tentu Asmarini tidak menceritakan keterlibatan Padmasari.
Menjelang hari gelap mereka memasuki sebuah desa lagi. Keadaan sudah tampak sepi. Dari kejauhan terlihat ada beberapa orang yang berdiri di tengah jalan. Sepertinya hendak menghadang mereka.
Cakra Diwangsa segera waspada. Bahkan buru-buru hendak menerjang ke depan kalau tidak dicegah Adijaya.
"Tidak perlu tergesa-gesa, Raden. Kita lihat saja nanti!"
Murid Ki Brajaseti ini urungkan niatnya. Dia kembali memegang tali kekang meskipun hanya sekedar memegang, karena laju kereta tak perlu dikendalikan.
Begitu sampai di sana, kereta kuda berhenti. Orang-orang yang menghadang mereka menunjukkan senyum ramah seramah-ramahnya. Salah seorang yang berkumis tipis mendekati Cakra Diwangsa.
"Apakah ini rombongan tuan Adijaya?"
"Benar!" jawab Cakra Diwangsa langsung. Tatapannya penuh selidik kepada orang-orang ini.
"Mohon maaf kalau kami membuat Tuan-tuan curiga, tapi maksud kami baik,"
__ADS_1
"Oh, ya. Ada maksud apa?"