Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Keresahan Mangkubumi


__ADS_3

Ketika melewati sebuah pasar. Adijaya mencari tukang kerajinan kayu. Dia ingin merombak rumah keretanya. Cakra Diwangsa tidak habis pikir, dalam keadaan terancam dan bahaya selalu mengintai, Adijaya malah bersikap santai.


Tukang kerajinan kayu ditemukan setelah agak lama mencarinya. Adijaya langsung meminta mereka yang hanya dua orang ini untuk mengerjakan sesuai keinginannya.


Hasilnya. Semula rumah kereta tidak mempunyai pintu belakang. Sekarang ada pintu menggunakan dua daun pintu kiri dan kanan yang ketika menutup masing-masing sisinya bertemu di tengah.


Di bagian atas kedua daun pintu ada jendela selebar daun pintu tersebut. Dibukanya dengan cara digeser ke bawah. Jadi ketika jendela ini dibuka, bisa melihat pemandangan di belakang.


Lalu jendela di dinding kiri dan kanan semula ukurannya kecil. Sekarang menjadi sangat panjang. Dari ujung depan sampai belakang. Lebarnya juga dari atap sampai tengah-tengah.


Engsel jendela ini berada di atas dan dibukanya dengan cara dilipat ke dalam dikaitkan ke atap bagian dalam. Sehingga cahaya dan udara yang masuk semakin banyak.


Selanjutnya bagian atap agak ditinggikan. Bagian atap ini dibuat ruangan kecil untuk menyimpan berbagai macam benda. Harta yang tersimpan dalam peti yang diikat di bawah kereta dipindahkan semua ke sana.


Bahkan masih bisa menampung benda-benda lainya seperti pakaian ganti dan alat bersolek Asmarini. Pokoknya kereta ini seperti benar-benar sebuah kamar pribadi. Rumah kecil berjalan.


Kedua pengrajin kayu terbelalak ketika menerima upah yang sangat besar menurut ukuran mereka. Masing-masing sekantong kecil kepingan emas. Mereka memasang wajah bahagia saat kembali ke rumahnya.


"Juragan, kalau kereta ini masih terasa sempit, aku bisa buatkan ruangan lain yang lebih luas yang hanya bisa dimasuki Juragan dan Istri," bisik Padmasari dari alamnya.


"Boleh, nanti kalau selesai bisa perlihatkan padaku!"


Perombakan kereta ini memerlukan waktu sampai lewat tengah hari. Mereka melanjutkan perjalanan setelah mengisi perut di kedai terdekat.


Cakra Diwangsa dan Sekar Kusuma tambah kerasan walau cuma duduk di tempat kusir. Karena tempatnya semakin luas dan ada pagar kecil sebagai pembatas di setiap sisinya. Bahkan bisa berbaring melintang muat untuk dua orang.


Semua jendela dibuka jadi pemandangan dari berbagai arah terlihat jelas. Seperti yang terlihat di depan, sejauh dua puluh tombak di sana ada persimpangan jalan.


Di jalan yang ke arah kanan, ada sebuah pohon besar tumbang menghalangi jalan sehingga kereta tidak akan bisa lewat. Cakra Diwangsa menghentikan laju kereta.


"Waduh, padahal yang ke arah kanan jalurnya lebih dekat!" keluh Cakra Diwangsa.


"Kalau ke kiri?" tanya Adijaya.


"Memutar jauh, jalannya juga mengerikan!"


"Mengerikan?" ulang Asmarini.

__ADS_1


"Ya, jalannya berbahaya, berada di sisi tebing yang curam dan di sebelah kiri ada jurang menganga sepanjang jalan," jawab Sekar Kusuma.


"Tidak apa-apa, lewat jalur kiri saja!" kata Adijaya.


Asmarini memandang agak aneh kepada suaminya. Karena dia tahu, kereta ini bisa menjadi bayangan yang mampu menembus benda apapun. Atau bisa juga terbang. Adijaya mengerti tatapan sang istri.


"Pohon tumbang itu disengaja agar kita memilih jalur sebelahnya," jelas Adijaya kepada Asmarini dengan suara hampir berbisik.


Si cantik mungil ini angguk-angguk kepala. Lagipula ke kanan atau ke kiri sama saja. Kereta ini tidak akan mengalami kendala apapun.


Ketika kereta memasuki jalur kiri, beberapa orang yang sembunyi di atas pohon memperhatikan dengan seringai puas. Mereka berpikir mangsa telah memasuki perangkap.


"Beritahu yang di sana untuk segera bersiap!"


"Baik!"


Benar juga setelah belasan tombak memasuki jalan ini, tampak di sebelah kiri jurang yang tidak kelihatan dasarnya karena saking dalamnya. Di sebelah kanan tebing curam berdiri tegak tinggi bagai menembus langit.


Lebih mendebarkan lagi karena lebar jalan hanya lebih lebar sedikit dari lebar kereta yang diukur dari roda kiri ke roda kanan.


Cakra Diwangsa menahan napas. Hatinya tegang. Tangannya berusaha sebaik mungkin memegang tali kekang.


Sekar Kusuma tersenyum melihat raut ketegangan di wajah suaminya. Cakra Diwangsa menghembuskan napas tenang, tapi tidak lama hatinya berdebar lagi. Ada apa?


Ada suara bergemuruh dari atas tebing. Ketika melihat ke atas, Cakra Diwangsa terbelalak kaget bukan main.


"Celaka!" umpatnya.


Sebuah batu sebesar kerbau melayang jatuh menimpa kereta. Dari kejauhan terlihat batu besar itu menindih kereta kuda sampai hancur. Bahkan mampu menjebol jalan hingga terdongkal.


Kemudian batu dan kereta terperosok ke jurang.


***


Dua purnama yang lalu.


Di ruang kerja maharaja Wisnuwarman yang tidak sembarang orang bisa masuk, kedatangan Gunadarma. Seorang lelaki yang berumur enam puluh tahun lebih, sudah terlihat sepuh dari usia sebenarnya.

__ADS_1


Gunadarma adalah Mangkubumi kerajaan Tarumanagara. Dia sudah menjabat sejak jaman Purnawarman, ayahnya Wisnuwarman. Bahkan dari maharaja sebelum Purnawarman dia sudah mengabdikan diri, hanya saja jabatannya belum seperti sekarang.


"Sepertinya ada urusan sangat penting, sehingga Kakek menghadap sepagi ini!"


"Benar, Paduka!" Gunadarma menunduk hormat. Kerutan dahinya menyiratkan kegundahan hatinya.


"Apa yang ingin Kakek Mangkubumi sampaikan?"


Si kakek mengambil napas agar bisa berbicara dengan lancar sesuai yang telah direncanakan sebelum menghadap. Selalu begitu ketika menghadap raja, agar kata-katanya mudah dimengerti.


"Hamba ingin melaporkan bahwa upeti yang selalu kita terima sebenarnya telah berkurang jumlahnya,"


Maharaja Wisnuwarman mengangkat alisnya, tapi tidak menyela. Dengan anggukan dia menyilakan sang Mangkubumi meneruskan.


Selain sang maharaja dan ayahnya, tidak ada yang tahu bahwa Mangkubumi Gunadarma sebenarnya seorang pendekar digjaya yang tidak lagi mengurusi dunia persilatan. Dia ingin mengabdikan dirinya pada kerajaan.


Salah satu tugas mangkubumi adalah mengumpulkan upeti yang dikirim kerajaan bawahan. Dia mempunyai beberapa bawahan yang disebut Mantri yang bertugas menarik upeti.


Tanpa diketahui siapapun kecuali sang maharaja, Gunadarma selalu menyamar menjadi anak buah atau bawahan mantri ketika hendak menarik upeti ke salah satu kerajaan bawahan.


Dengan menyamar dia bisa menghitung berapa jumlah upeti yang dibayarkan. Namun, ketika dia kembali menjadi mangkubumi, jumlah upeti yang disetorkan mantri jadi berkurang.


Tidak cuma satu, tapi hampir semua mantri bawahannya begitu. Dia ingin melaporkan perbuatan mantri-mantrinya, tapi tidak ada bukti yang bisa ditunjukkan.


"Begitulah, Gusti!" tutup Gunadarma masih tetap menunduk. Walaupun sang maharaja jauh lebih muda darinya, dia tetap menghormatinya sebagai junjungan.


Maharaja tentu saja mempercayai laporan mangkubumi karena tahu sering menyamar menjadi bawahan mantri. Kemampuan menyamarnya tentu saja dari memanfaatkan ilmu kependekarannya.


"Aku tahu keinginan Kakek," ujar maharaja. Kalau kasus ini terbongkar, maka mangkubumi yang akan menjadi tersangka utama. Bisa saja para mantri itu menjebaknya.


"Hamba mohon turunkan titah Paduka!"


"Tidak, Kek!" tukas Maharaja Wisnuwarman. "Beri aku waktu tiga hari untuk memikirkannya. Kakek bisa datang lagi setelah tiga hari!"


"Kalau begitu hamba undur diri, Paduka!"


______

__ADS_1


Mungkin di kasus ini alurnya dibuat maju mundur, tapi saya TIDAK AKAN memberi tanda dengan tulisan 'Flashback On' atau Flashback Off'.


Baca dan nikmati.


__ADS_2