Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Dewi Kembang Kuning


__ADS_3

Terlihat banyak penduduk desa yang berlari ketakutan dan langsung masuk rumah. Mereka seperti dikejar-kejar hantu.


"Ada apa?" tanya Adijaya menghentikan salah seorang.


Orang itu hanya menggeleng dengan tubuh gemetar. Bergegas Adijaya mencari sumber kegaduhan itu. Cukup jauh dia menelusuri jalan desa. Orang-orang terus berlarian menjauhi tempat keributan.


Di halaman rumah Ki Lurah yang luas terjadi pertarungan tidak seimbang. Puluhan warga desa yang mempunyai kepandaian berusaha melumpuhkan sepuluh orang bertopeng.


Tidak seimbang bukan karena jumlahnya, tapi kepandaian sepuluh orang bertopeng itu lebih tinggi daripada warga desa. Sementara sudah terlihat bergeletakan mayat warga desa korban keganasan orang-orang bertopeng itu.


Mengerikan dan menakjubkan. Sudah tentu mengerikan karena nyawa bagaikan tak berharga. Menakjubkan karena warga desa yang berkepandaian kompak berjuang rela mati mempertahankan desanya.


"Berhenti!"


Suara teriakan nyaring terdengar dari dalam rumah. Lalu muncul sosok gadis berpakaian kuning yang wajahnya juga tertutup cadar kuning, dengan sebuah pedang menyandera Ki Lurah.


Muncul lagi dua orang bertopeng lain sambil menyandera seorang gadis dan wanita setengah baya. Dua perempuan ini tampak pucat karena saking takutnya. Suara tangisannya sampai bergetar.


Gadis bercadar kuning sepertinya pemimpin dua belas orang bertopeng itu. Wanita dan gadis yang disandera tentunya istri dan anak Ki Lurah.


Pertarungan berhenti. Banyak dari pihak warga desa yang terluka menepi mencari tempat aman untuk merawat lukanya. Bahkan ada yang baru saja meregang nyawa.


"Ki Lurah, anak dan istrimu akan dijadikan sebagai jaminan kalau tidak mau desa ini aku musnahkan!" ancam gadis bercadar kuning.


Adijaya terkejut mendengar suara gadis itu. Seperti tidak asing baginya. Dia memperhatikan bentuk tubuh gadis itu. Seperti mengenalnya. Hanya saja ketika menatap matanya, bagian yang seharusnya hitam berwarna kuning menyala.


Sebenarnya bisa saja Adijaya mengacaukan suasana. Tapi belum tentu bisa menyelamatkan sandera. Dengan ajian Bantai Jagat akan membuat semuanya terluka, tapi dia tidak ingin melukai Ki Lurah dan keluarganya.


"Mulai saat ini, sertiap purnama desa kalian wajib menyerahkan upeti!" kata si gadis bercadar kuning lagi.


Saat mendengar suara gadis itu, dada Adijaya terasa berdebar. Suara itu seperti sangat dekat dengannya. Tapi sorot mata kuningnya menampakkan kebengisan.


Ki Lurah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti kehendak si gadis dan gerombolannya. Apalagi anak dan istrinya jadi tawanan mereka. Dia hanya menunduk pasrah dan menyesal, tidak bisa melindungi warga desanya.


Komplotan yang dipimpin gadis bercadar kuning kemudian pergi dengan membawa dua tawanan yang terisak-isak. Salah seorang bertopeng membentak agar diam.


"Dewi Kembang Kuning akan menagih upeti tiga hari lagi!" teriak si gadis setelah beberapa langkah.

__ADS_1


Tentu saja Adijaya terkejut mendengarnya. Dia ingat desa kecil yang dibantai habis semua penduduknya. Rupanya dia yang benama Dewi Kembang Kuning. Berarti desa kecil itu juga disuruh bayar upeti. Karena tidak bisa membayar maka seluruh warganya dibantai.


Sungguh sadis dan kejam! Siapa gadis bercadar kuning yang tidak berperasaan itu? Apakah hanya dia sendiri sebagai pimpinannya, atau ada orang lain dibelakangnya?


Dari keterangan yang didapat, entah dari mana datangnya gerombolan Dewi Kembang Kuning pagi-pagi sudah mengepung rumah Ki Lurah. Mereka meninta desa itu tunduk dan memberikan upeti setiap purnama.


Salah satu pembantu Ki Lurah berhasil menyelinap kabur lalu menghubungi para warga yang mempunyai kepandaian silat. Jumlahnya cukup banyak sehingga mereka percaya diri bisa meringkus gerombolan itu yang jumlahnya lebih sedikit.


Namun, tak disangka ternyata Dewi Kembang Kuning dan anak buahnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi. Sehingga banyak warga yang tumbang. Bahkan Ki Lurah yang juga memilik ilmu silat akhirnya menyerah.


Sebenarnya Adijaya ingin membuntuti Dewi Kembang Kuning, tapi perutnya sudah melilit perih minta diisi. Dia tidak ingat sudah berapa hari perutnya kosong. Biarpun berilmu tinggi, tapi kalau lama tidak nakan tetap saja tubuhnya lemas.


Maka dia segera mencari kedai terdekat.


Seperti biasa bila di kedai selalu sambil mencari keterangan. Baik secara langsung atau dengan menguping. Seperti menguping pembicaraan dua orang yang duduk di belakangnya.


"Kita harus segera melaporkan hal ini kepada senapati Ajidarma,"


"Dewi Kembang Kuning, entah dari mana asalnya. Tiba-tiba muncul meresahkan warga,"


"Beberapa desa sudah jatuh ke tangannya, dia memaksa meminta upeti,"


Dari obrolan mereka, jelas dua orang ini adalah prajurit yang sedang menyamar. Ternyata kemunculan Dewi Kembang Kuning bisa dibilang belum lama.


Tapi pihak kerajaan sudah mengetahui hal ini. Kalau pihak kerajaan sudah turun tangan, tentunya tugas Adijaya akan lebih ringan lagi.


"Maaf, Ki Sanak, saya mau tanya!" sela Adijaya di antara percakapan mereka.


"Oh, silakan. Apa yang ingin Ki Sanak tanyakan?" sahut salah satunya dengan ramah.


"Ini sudah masuk wilayah mana?"


"Ini sudah termasuk kerajaan Indraprahasta, Ki Sanak hendak kemana?"


"Apa kota raja masih jauh?"


"Kalau ditempuh dengan berjalan kaki akan memakan waktu tiga hari,"

__ADS_1


"Oh, begitu. Terima kasih, Ki Sanak!"


"Sama-sama!"


Adijaya melanjutkan makannya. Dia pesan banyak karena saking laparnya. Kalau kota raja ditempuh tiga hari berjalan kaki, berarti menuju lereng barat gunung Indrakilla akan lebih lama lagi.


Walaupun pikirannya selalu mengkhawatirkan Asmarini, tapi dia tidak akan tergesa-gesa untuk mengambil kitab Jagat Pamungkas. Dengan tenang dan berprasangka baik, dia yakin Asmarini juga akan baik-baik saja.


Selama perjalanan itu dia akan menyelidiki Dewi Kembang Kuning yang menyita perhatiannya. Terutama sosok dan suaranya walau cuma menduga-duga.


Tampak dua orang lelaki datang memasuki kedai. Dari penampilannya menunjukan mereka dari kalangan persilatan. Mereka datang dengan wajah masam penuh amarah.


"Kita harus cari bantuan!" kata salah seorang setelah memesan makanan.


"Kemana?"


"Tentu saja ke Aki guru Bandawa. Gadis bercadar kuning itu terlalu kuat untuk kita hadapi. Guru kita saja bisa dikalahkan!"


Mendengar disebutnya gadis bercadar kuning, salah seorang prajurit yang menyamar langsung menghampiri mereka.


"Maaf, Ki Sanak. Apa yang dimaksud gadis bercadar kuning itu Dewi Kembang Kuning?" tanya si prajurit yang menyamar.


"Benar, apa Ki Sanak juga bermasalah dengannya?"


"Ya, seluruh penduduk desa kami dibantai habis, dan putri lurah dia teman saya itu juga disandera," si prajurit yang menyamar menunjuk ke temannya.


Dia sengaja menyebutkan dua kejadian yang pernah dilewati Adijaya juga untuk meyakinkan. Rupanya dua prajurit ini juga sudah melihat desa kecil yang dibantai itu.


Dua orang pendekar yang baru datang tampak bergidik mendengarnya.


"Gila!" umpatnya.


"Apakah desa Ki Sanak juga mengalami hal yang sama?"


"Tidak, apa yang kami alami berbeda. Kemarin Dewi Kembang Kuning datang ke padepokan kami, menantang guru kami. Tidak disangka guru kami dengan mudah dibunuhnya."


Adijaya menahan napas mendengarnya. Seberapa hebat gadis yang tampaknya masih muda itu sampai bisa mengalahkan seorang guru padepokan?

__ADS_1


Apakah dia memiliki kekuatan yang sama atau bahkan lebih dibandingkan kekuatan Melati Tunjung Sampurna atau lumut ungu?



__ADS_2