Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Menyedot Ilmu Hitam


__ADS_3

Hari ini Asmarini diperbolehkan mengunjungi Adijaya. Dia membawa beberapa makanan yang sudah dipersiapkan sejak pagi-pagi. Beberapa hari belakangan Asmarini sempat minta diajarkan masak kepada Padmasari.


Kebetulan Adijaya baru selesai menghapalkan satu halaman ketika sang istri datang. Wajahnya langsung sumringah seolah-olah sudah lama tak berjumpa.


"Aku membuat masakan ini untuk Kakang,"


"Dinda masak?"


Asmarini segera menghidangkan masakan yang dia bawa. Tidak menjawab pertanyaan suaminya, dia langsung memberikan satu 'tekor' nasi dengan lauknya.


"Kakang harus mencoba masakanku, kalau tidak wajar saja karena aku baru belajar,"


"Baiklah!" Adijaya menerimanya.


Mereka pun mulai menyantap hidangan buatan Asmarini. Biasanya mereka makan di kedai. Suatu saat mereka mungkin tidak akan berpetualang lagi, jadi hal seperti ini akan menghiasi hari-hari mereka kemudian.


"Bagaimana rasanya, Kakang?" tanya Asmarini setelah selesai makan.


"Untuk pemula seperti Dinda, lumayanlah!"


"Bilang saja kalau tidak enak!"


"Enak, kok! Nanti masak lagi ya. Biar nanti kalau sudah ada anak-anak, Dinda sudah terbiasa,"


Asmarini tersenyum tersipu, wajahnya merona merah. Tatapannya menjadi sangat lembut membuat Adijaya sedikit heran.


"Dinda kelihatan aneh, ada apa?"


"Soal itu tidak lama lagi..."


"Tidak lama lagi, apanya?"


Asmarini berpindah ke pelukan suaminya. Dia menggelayut manja. Lalu membimbing tangan sang suami meraba perutnya. Beberapa saat Adijaya belum mengerti maksud istrinya. Dia mengira Asmarini sedang ingin bercinta.


"Tidak lama lagi kita akan menjadi ayah dan ibu,"


Adijaya terperanjat, wajahnya tambah berseri-seri. Dia seakan tak percaya mendengarnya. Ini kabar yang menggembirakan. Betapa bahagianya dia tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Rasanya aku ingin berhenti saja menghapal kitab ini, terus mendampingi Dinda sepanjang waktu,"


"Teruskan saja, tidak perlu mengkhawatirkan aku. Jangan nanggung harus sampai tuntas," saran Asmarini.


Memang benar ucapan Asmarini, karena selama sang suami berlatih terus ada guriang-guriang yang selalu menemani dan melindunginya.


Selanjutnya Asmarini menceritakan pengalamannya beberapa hari ke belakang. Mulai dari salah seorang anggota Dewan Kehormatan yang memeletnya hingga menghabisi si ratu pelet Nini Kewuk.


"Apakah si Anjasmara itu?"


"Bukan, namanya Parta Dinata, sekarang dia menjadi tidak waras setelah Bibi Padmasari mengembalikan ilmu peletnya,"


Adijaya bernapas lega. Beruntung dia mempunyai pengabdi dari alam lelembut. Jadi bisa mengatasi serangan-serangan yang berupa sihir dan sejenisnya. Namun, dia juga kasihan pada orang bernama Parta Dinata itu. Mungkin dia akan menyembuhkannya kalau pekerjaannya sudah rampung.


Dan terakhir Asmarini memberitahukan tentang kepergian Padmasari yang dimintai bantuan oleh Ratu Siluman Kerang. Sang ratu kerang sekarang menggantikan Padmasari untuk melayani keperluannya.


***


Biasanya Padmasari cukup merapalkan mantera untuk menghadapi lawannya. Namun, kali ini dia juga harus menjadi layaknya pendekar dari bangsa manusia. Dia dipaksa jadi manusia.


Permainan jurus yang entah apa namanya dipadukan dengan ilmu sihir dengan rapalan manteranya. Kalau tidak begitu dia akan seperti manusia seutuhnya yang bisa terluka oleh cabikan Cakar Siluman milik lawan.


Satu kepala terputus lagi dari badannya. Sosok Padmasari berubah menjadi mengerikan seperti pembantai berdarah dingin. Tinggal tiga orang tersisa. Dia tidak mau berlama-lama lagi.


Padmasari membelah diri menjadi tiga. Masing-masing mengejar satu orang dengan Cakar Siluman itu. Gerakannya yang secepat cahaya tak mampu dilihat apalagi dihindari.


Crasss! Crasss! Crasss!


Tiga pengikut Ratu Kulon tersisa meregang nyawa dengan kepala terpenggal. Suasana sangat mencekam. Terlihat asap tipis hitam seperti bayangan bergerak-gerak di atas jasad Ratu Kulon.


Padmasari sudah berdiri di dekat jasad yang masih utuh itu. Dia memperhatikan asap tipis yang bergerak-gerak seperti sedang mengusap dari kepala hingga kaki.


"Ilmu yang bersemayam sudah mulai membentuk sukma," gumam Padmasari. Besok malam adalah tepat dua ratus tahun dan saatnya Mintari bangkit lagi.


"Cabut ilmu yang bersemayam di dalam jasadnya, maka dia tidak akan bangkit lagi." Begitulah petunjuk Eyang Batara.


Sebenarnya ada satu pertanyaan yang mengganjal. Mengapa Eyang Batara tidak melenyapkan ilmu hitam yang melekat di tubuh Ratu Kulon saat membunuhnya? Kalau suatu saat akan bangkit lagi, berarti Eyang Batara sudah mempunyai rencana lain.

__ADS_1


Dengan segenap kemampuannya, Padmasari mulai menarik ilmu hitam dari dalam tubuh Mintari alias Ratu Kulon. Dua telapak tangannya di arahkan ke jasad Ratu Kulon.


Pekerjaan ini cukup menguras tenaga kalau tidak dibantu dengan mantera penghisap. Sementara di sisi lain dia sudah menyirap pengikut Ratu Kulon yang lain sudah berjalan menaiki lereng.


"Aku harus menyelesaikannya sebelum mereka datang!"


Terlihat asap hitam tipis tersedot ke dalam telapak tangan Padmasari. Bukan hanya yang bergerak-gerak di luar tubuh, tapi juga dari dalam tubuh ikut tersedot. Padmasari hanya mengumpulkannya sebatas siku. Dia menahan agar asap itu tidak masuk ke dalam tubuhnya.


Cukup lama proses menyedot ilmu hitam yang bersarang di jasad Ratu Kulon. Setelah semua habis tersedot, jasad Mintari berubah drastis. Dari yang semula cantik dengan tubuh indah, kini menjadi keriput tinggal kulit pembalut tulang. Wajahnya pun berubah menjadi tua.


Kedua tangan Padmasari berubah hitam legam sebatas siku dan bobotnya bertambah. Lalu dia menghentakkan tangan ke atas seperti melemparkan sesuatu.


Wussh! Byarr!


Berkelebat cahaya hitam menembus rimbunnya dedaunan yang rapat lalu meledak di angkasa seperti letusan kembang api. Kalau saja Padmasari adalah manusia mungkin dia akan menarik napas lega setelah melakukan hal itu.


***


Pada saat terjadinya letusan di angkasa tadi, rombongan pengikut Ratu Kulon terkejut karena melihat letusan itu tepat berada di atas tempat persembunyian mereka.


"Gawat!"


"Cepat naik!"


Yang tadinya berjalan kini mereka berlari secepat mungkin menuju markas. Ilmu meringankan tubuh dipergunakan secara total. Cakar Siluman juga keluar dengan sendirinya. Mereka merasakan hawa asing yang begitu kuat.


Walaupun keadaan yang begitu curam tidak menyulitkan mereka sedikitpun. Mereka seperti berlari di tanah datar saja. Tiga orang yang membawa kerang sebesar kepala manusia juga tidak takut bawaannya terjatuh.


Sampai di tempat tujuan mereka dikejutkan dengan keanehan yang dipandang mata. Sosok Ratu Kulon yang terbaring di atas dipan dikelilingi oleh enam belas wanita cantik yang semuanya mirip sang ratu. Mereka tidak melihat lima teman mereka yang bertugas menjaga sang ratu.


"Bagus, kalian cepat datang!" Ratu Kulon yang di atas dipan terbangun lalu duduk.


Semua pengikutnya ternganga melihat pesona setiap ratu yang memancar mengundang birahi. Cakar Siluman yang semula muncul kini masuk kembali ke dalam tangan.


"Aku telah bangkit kembali dengan keistimewaan yang tidak pernah disangka sebelumnya. Sekarang kalian memiliki pasangan masing-masing. Ini bentuk terima kasihku kepada kalian yang telah menjagaku selama dua ratus tahun!"


Suara sang ratu terdengar begitu merdu di telinga. Masing-masing tubuh ratu memancarkan cahaya kehijauan dan menghembuskan angin beraroma wangi.

__ADS_1


________


Tekor ('e' nya dibaca seperti 'tempe') : daun yang dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi sebuah wadah.


__ADS_2