
Tinggal berdiri sendirian, Asmarini memilih menerjang keluar. Pertempuran belum lama terjadi, tapi sudah banyak jatuh korban.
Gadis ini mencari senapati Suta Wingit. Entah kenapa dia ingin melawan pemuda itu. Setelah beberapa saat akhirnya dia melihat senapati itu sedang melawan empat prajurit.
"Aku lawanmu, Senapati!" teriak Asmarini.
Suta Wingit menoleh. "Apa maksudmu?"
Sebagai jawabannya Asmarini tarik pedang lalu melepaskan serangan.
Sring!
Aroma harum menebar. Empat prajurit yang melawan senapati mundur. Kini Suta Wingit bersiap menerima serangan si gadis.
Trang!"
Dua senjata beradu. Aroma harum semakin pekat. Hawa sakti menebar mempengaruhi para prajurit yang sedang bertempur. Suta Wingit kini mengerti, si gadis yang dia sukai ternyata mata-mata.
Suta Wingit telah melihat kepandaian Asmarini sebelumnya ketika sandiwara perampokan beberapa hari yang lalu. Dia tidak akan menganggap remeh lawannya. Apalagi senjata pedangnya yang menebarkan aroma harum, pasti sebuah senjata pusaka.
Sementara Asmarini sudah meliuk dengan jurus Tarian Japati. Sekali gerak lima tusukan mengancam lawan. Empat serangan bisa dihindari dengan satu elakan oleh Suta Wingit. Serangan ke lima yang tak bisa dihindari terpaksa ditangkis dengan pedangnya.
Trang!
Pertarungan dua anak muda ini tampak sengit dan seimbang. Asmarini lebih banyak menyerang dengan jurus lincahnya. Si gadis tidak memberi kesempatan Suta Wingit untuk membalas. Dia keluarkan semua kemampuan yang diajarkan gurunya.
Suta Wingit harus mengakui kehebatan lawan, walau dirinya belum tersentuh sama sekali. Dia berpikir jika terus begini, maka hanya sedikit kesempatan untuk membalas. Maka sang senapati berusaha untuk memperlebar jarak, agar jangkauan serangan lawan menjadi jauh.
Hal ini disadari Asmarini. "Dia memperlebar jarak agar memiliki kesempatan untuk membalas, hmm. Tak kan kubiarkan!" batin Asmarini.
Kini si gadis menggabungkan dua jurus menjadi satu. Tarian Japati digabung dengan Tarian Walet. Kombinasi kedua jurus ini sangat mematikan. Banyak gerak tipuan yang dilakukan sangat cepat. Mungkin lebih cepat dari kedipan mata.
Sementara Suta Wingit belum juga menemukan kesempatan atau celah kelemahan lawan walau tenaganya dirasakan lebih kuat dari lawannya. Apalagi aroma harum seperti membuyarkan konsentrasinya. Sangat menusuk penciuman dan membuat kepala pusing.
Asmarini benar-benar tidak memberikan lawannya untuk bernapas barang sejenak. Putaran pedangnya bagai sinar yang mengurung lawannya. Ditambah aroma harum yang seolah-olah tak pernah habis memancar dari bilahnya.
Bagi si gadis, pertarungan ini memberi kepuasan tersendiri. Lawan yang semakin berat akan menambah semangatnya. Ini bagian dari jiwa petualangnya. Dia tidak memikirkan hal lain. Jiwa pendekar memang ingin selalu mencari lawan yang sebanding atau lebih unggul.
__ADS_1
Senapati utama ini terus disibukan untuk menghindar dan menangkis serangan. Memang sampai detik ini dirinya masih bisa selamat dari ancaman senjata lawan. Gerakan menangkis terpaksa dilakukan karena tak ada kesempatan lain untuk menghindar.
Trang! Trang! Trang!
Tetapi setiap tangkisan menimbulkan getaran. Setiap getaran menguras tenaga. Anehnya, gadis itu seperti tak pernah berkurang tenaganya. Padahal secara tenaga dalam dia lebih besar.
Tentu saja Asmarini membuat gerakan jurusnya seefektif mungkin. Dengan pengerahan sedikit tenaga tapi menghasilkan daya yang besar. Teknik yang jarang bisa dilakukan para pesilat.
Lama-lama sang senapati terdesak mundur. Pemuda ini telah mentok pikirannya. Bagaimana bisa dia tidak mampu membalas serangan lawan yang hanya seorang gadis bertubuh mungil dan tenaga dalamnya berada di bawahnya.
Kekuatan besar tidak menjamin kemenangan dalam pertempuran. Tapi kecerdikan mampu membuat kekuatan yang lebih besar itu jadi sia-sia digunakan.
Karena semakin terdesak dan tak terpikirkan lagi cara membalas lawan, akibatnya Suta Wingit mulai lengah.
Sret!
Sabetan Pedang Bunga mulai menggores tubuhnya. Satu dua goresan tak mampu dihindari. Sabetan berikutnya bisa ditangkis. Tapi tenaga semakin lemah.
Sret! Sret! Trang!
Di depan, Suta Wingit yang sudah penuh luka sabetan tak kuat mengangkat pedangnya. Dan tak sempat lagi menghindar.
Srebb!
Pedang Bunga menusuk tepat di jantung hingga tembus ke punggung. Suta Wingit tidak mampu menjerit. Tidak menyangka kalau hidupnya diakhiri oleh si gadis yang baru saja disukainya.
Bruk!
Sosok senapati utama Suta Wingit ambruk setelah pedang yang menusuknya ditarik lagi. Nyawanya melayang meninggalkan wajah yang penasaran. Tak percaya hidupnya akan berakhir seperti ini.
"Jurig bikang gelo!"
Terdengar makian yang disertai hawa membunuh. Asmarini menoleh. Dari atas datang sosok dengan tombak menjulur mengarah ke ubun-ubun si gadis.
Trak!
Pedang mengibas menangkis tombak. Si pemegang tombak sempat terpental balik. Namun, dengan sigap dia bersalto untuk menyeimbangkan tubuh lalu mendarat dengan selamat.
__ADS_1
Sedangkan Asmarini tersurut beberapa langkah akibat benturan senjata itu. Tangannya sedikit kebas.
"Munding Wirya!" gumam Asmarini.
Dari benturan senjata tadi sudah merasakan bahwa si Patih ini lebih kuat dari senapati Suta Wingit.
Asmarini atur napas. Kerahkan segenap kekuatan. Lawannya kali ini lebih berat lagi. Tapi tak sedikit pun gadis ini gentar.
Sementara sang Patih tidak menyangka senapati yang menurutnya hanya satu tingkat di bawahnya, bisa terbunuh oleh gadis bertubuh mungil. Siapa gadis ini? Bahkan bisa dibaca kalau tenaga dalam si gadis lebih rendah dari senapati. Tapi kenapa bisa begini?
Asmarini mengacungkan pedangnya. Pertanda dia sudah siap.
Didahului teriakan yang menggelegar, Patih Munding Wirya memutar tombak lalu melancarkan serangan. Dari putaran tombak ini menimbulkan hempasan angin kuat yang mampu menggores kulit.
Wangi bunga tercium semakin pekat. Pedang Bunga tampak memancarkan cahaya. Rambut Asmarini berkibar tertiup angin.
Wuggh!
Si gadis menghindari tusukan dan sabetan tombak dengan jurus Tarian Rajawali. Dia tidak menggunakan pedangnya untuk menangkis, karena tahu tenaga lawan lebih besar. Dia mencari kesempatan menusuk lawan.
Bila tusukannya hampir mengenai sasaran, lawan menangkisnya dengan tombak. Maka segera dia tarik lagi serangan agar tak terhindar dari benturan senjata.
Hebatnya gerakan menusuk dan menarik kembali ini sangat cepat.
Begitulah, kali ini Asmarini lebih banyak mengelak dan menghindari benturan senjata. Mengandalkan kelincahan gerakannya dan juga kemungilan tubuhnya memberikan keberuntungan baginya.
Satu yang kuat dalam benak gadis ini adalah keyakinan, mampu menghadapi lawan. Tidak terpikirkan akan kalah. Tidak takut kalah. Dia yakin berada di jalur yang benar. Dan kebenaran tidak akan kalah.
Pertarungan kali ini lebih sulit. Asmarini harus selalu mengeluarkan hawa saktinya untuk melindungi diri. Pasti karena melihat senapati telah dikalahkan maka sang Patih tidak mau menganggap enteng dirinya.
Sehingga tidak tanggung-tanggung lelaki paruh baya ini mengeluarkan seluruh kekuatannya. Tidak peduli yang dihadapinya seorang gadis yang pantas jadi anaknya.
Mampukah Asmarini menghadapi Patih Munding Wirya?
Mampukah gabungan tiga pasukan ini menumpas kerajaan yang dianggap telah merongrong kekuasaan tiga kerajaan itu?
Ikuti terus kisahnya!
__ADS_1