Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Buhul Sakti Penjerat Siluman


__ADS_3

Sebelumnya terima kasih buat yang sudah mendukung karya ini.


***


Di lereng utara gunung Indrakilla. Di malam yang sama. Pemuda tampan berkumis tipis menunjukan wajah yang tak sedap dipandang ke arah lelaki yang sedang bersimpuh di hadapannya.


"Aku menyuruhmu karena kau yang paling kuat!" teriak pemuda berkumis tipis.


"Ada dua guriang yang mendampinginya," jawab si lelaki membela diri.


Si pemuda menoleh ke arah si botak tinggi besar yang berdiri agak jauh di belakang lelaki bersimpuh. Sorot matanya menyiratkan tanya.


"Saya hanya menyirap satu saja, yang sering menjelma menjadi Payung Terbang," Si botak menjelaskan hasil penyelidikannya.


"Si Payung Terbang itu adalah Santang dan yang satunya Padmasari!" Lelaki yang bersimpuh menambahkan.


Si botak terkejut bukan main. Pemuda berkumis tampak heran melihat raut mukanya. Sepertinya menyiratkan ketakutan.


"Kenapa kau terlihat takut?" tanya si pemuda.


"Mereka bukan guriang sembarangan, mereka mempunyai kedudukan tinggi di kerajaan guriang," jawab si botak.


Si pemuda berkumis tipis memandang bergantian dua sosok di hadapannya. Tampaknya ada yang belum mengerti dengan ucapan si botak.


"Kalian bersepuluh apa tidak sanggup menangkap mereka?"


Si botak menjura menunjukan rasa penyesalan. "Di dunia manusia, ibaratnya kami hanya rakyat jelata. Mereka adalah bangsawan. Perbedaannya di alam kami, semakin tinggi kedudukan semakin tinggi juga kesaktiannya!"


Pemuda berkumis tipis ini membayangkan betapa beruntungnya kalau memiliki budak dari bangsa guriang yang kedudukannya tinggi. Pendekar Payung Terbang itu bagaimana bisa mendapatkan mereka. Walau hanya dua, tapi pengaruhnya tinggi.


"Jadi apa yang harus aku lakukan?"


"Juragan jangan memaksa kami menghadapi mereka walaupun kami bersepuluh. Tapi kalau memaksa juga kami malah bersyukur..."


"Apa maksudmu?" Si pemuda menyela si botak.


Si botak tak menjawab. Lelaki yang bersimpuh juga diam saja ketika ditatap tajam.


"Oh, aku tahu sekarang!" Bola mata si pemuda mengerling licik dengan seringai serupa di bibirnya.


Jika ingin menguasai kedua guriang yang berpangkat tinggi itu, maka dia harus membunuh pemiliknya.

__ADS_1


Pemuda berkumis tipis ini bernama Rangrang Geni. Tidak diketahui dari mana asalnya, siapa gurunya. Dia mempunyai pusaka Buhul Sakti Penjerat Siluman. Dengan pusakanya dia berhasil menaklukan sepuluh guriang untuk dijadikan pengikutnya.


Rangrang Geni memiliki cara kejam untuk menambah kekuatan saktinya. Yaitu dengan mengambil kekuatan orang-orang yang mempunyai ciri istimewa. Caranya dengan merebus sampai tubuhnya hancur, kemudian rebusannya diminum. Seperti yang telah dilakukan kepada Jerangkong Koneng.


Si botak yang bernama Magada dan lelaki yang bersimpuh bernama Pancala adalah dua di antara sepuluh guriang pengikutnya.


Magada sering ditugaskan mencari orang-orang yang memiliki ciri istimewa. Baik dari kalangan pendekar ataupun orang biasa. Kemudian orang-orang itu dibawa paksa untuk diambil kekuatannya dengan cara seperti di atas.


Ketika ditugaskan untuk mengambil Jerangkong Koneng, Magada mendapat kesulitan karena terhalang oleh sihir dari alamnya. Dia tidak bisa 'mendeteksi' kalau sihir itu berasal dari Padmasari.


Akibatnya dia hanya bisa membawa tubuh Jerangkong Koneng yang sudah tak berdaya lagi. Dengan kesaktiannya dia berhasil mengumpulkan keterangan tentang Adijaya. Hanya saja dia cuma menemukan Ki Santang yang menjaga Adijaya. Dia tidak mendeteksi keberadaan Padmasari.


Sekarang rencana Rangrang Geni adalah menghadapi Adijaya secara langsung. Tapi tidak serta merta begitu saja. Dia akan melihat dulu seberapa besar kekuatan Adijaya tanpa guriang pendampingnya.


Dia tidak akan menurunkan guriang pengikutnya untuk menguji Adijaya. Karena pasti akan diketahui oleh Ki Santang dan Padmasari. Rangrang Geni menghela napas panjang.


Akhirnya ada urusannya yang harus ditangani langsung tanpa melibatkan pengikutnya.


"Adijaya, jika mau memiliki ciri istimewa. Maka aku akan sangat beruntung!" desis Rangrang Geni merasa yakin dengan kekuatan yang dimilikinya.


Rangrang Geni bercita-cita ingin menguasai dunia persilatan.


***


Dia memiliki dua ratus pengikut yang sangat setia. Dua ratus pengikutnya di bagi menjadi dua puluh kelompok. Setiap kelompok berjumlah sepuluh orang. Semua pengikutnya rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi.


Cukup susah untuk mendapatkan mereka. Namun, mereka patuh bukan karena kepemimpinan Rangrang Geni yang berwibawa. Mereka setia karena ancaman.


Di leher masing-masing pengikut Rangrang Geni melilit tali yang tak kasat mata, yang sewaktu-waktu akan memotong lehernya bila mereka berkhianat.


Sesuai namanya, mereka dinamai Laskar Rangrang Geni.


Dalam waktu singkat dengan kekuatannya Rangrang Geni bisa berpindah tempat dalam beberapa kejap dari lereng gunung ke bukit ini.


Mengetahui pemimpinnya datang. Dua ratus anggota Laskar Rangrang Geni langsung berlutut.


"Aku datang untuk menurunkan titah!" seri Rangrang Geni.


Tidak ada yang menyahut, semuanya diam menunggu perintah.


"Ada rombongan kecil yang sedang menuju gunung Lingga, tangkap semua orang kecuali satu yang bernama Adijaya. Jangan membuat masalah dengan orang ini. Biar aku sendiri yang menghadapinya. Kalian hanya gunakan segala cara untuk menangkap orang-orang di sekelilingnya!"

__ADS_1


Setelah bicara Rangrang Geni berkelebat lenyap kembali. Dua puluh kelompok Laskar Rangrang Geni segera bergerak melaksanakan tugas.


***


Adijaya dan rombongannya sudah dalam perjalanan lagi. Tiga perempuan berjalan di depan, sementara Adijaya bersama Arya Sentana.


"Paman, apa pernah mendengar tentang buhul sakti yang bisa menjerat para siluman?"


"Buhul sakti?" Arya Sentana kerutkan kening sebagai jawaban. Artinya dia sendiri baru mendengarnya.


"Benda semacam apa itu?" tanya Arya Sentana.


"Konon katanya dengan benda itu orang yang memilikinya bisa menangkap siluman untuk dijadikan pengikutnya,"


"Menurutmu ada orang yang memilikinya?"


"Inilah yang sedang aku pikirkan!"


"Bahaya jika orang itu menyalahgunakannya," Tapi dalam hatinya bertanya-tanya dari mana Adijaya tahu tentang ini? Kenapa dia memikirkannya? Sepertinya pemuda itu seolah-olah akan bertemu dengan orang itu.


Sepertinya Adijaya akan menghadapi masalah lagi, pikir Arya Sentana. Tapi wajar saja, setiap pendekar bahkan orang biasa saja tak pernah lepas dari masalah.


Seperti dirinya yang sedang dilema antara menjadi pemimpin padepokan atau tidak. Walaupun dalam hatinya lebih condong agar adik seperguruannya saja yang jadi pemimpin.


Adijaya dikejutkan dengan suara Padmasari dari dalam tubuhnya. Suara yang hanya bisa didengar olehnya. Tidak seperti Ki Santang, Padmasari cukup aktif.


"Aku akan membuat mantra pelindung!"


"Untuk apa?"


"Untuk orang-orang yang bersamamu sekarang, mereka dalam bahaya!"


"Mereka punya kepandaian masing-masing,"


"Bahaya yang mengancam mereka tidak main-main!"


Lalu Adijaya melihat satu bayangan halus, hanya dia yang bisa melihatnya. Bayangan membentuk tubuh seorang wanita. Bayangan ini menghampiri satu persatu orang yang bersama Adijaya.


Mengingat kejadian semalam, pasti dirinya dan orang-orang sekelilingnya berada dalam bahaya. Padmasari melakukan ini untuk penjagaan.


Adijaya ingat ucapan Eyang Batara, Kekuatan besar tanggung jawab besar. Dia yang dulunya tak ingin jadi pendekar ternyata sudah tercebur sangat dalam ke dunia persilatan.

__ADS_1


***


__ADS_2