Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Pertemuan Tak Disangka


__ADS_3

Benar juga tak lama kemudian di halaman rumah Ki Somara yang luas telah hadir tiga orang. Satu lelaki dua perempuan. Satu perempuan sudah dikenalnya yaitu Parwati putri Ki Wardana. Sedangkan dua lainya dipastikan sepasang suami istri yang telah merepotkannya.


Ki Somara langsung menatap perempuan bertubuh mungil yang tidak lain adalah Asmarini. Gadis ini tersenyum kecil seolah-olah bicara, 'bagaimana, sudah puas menyiksa aku yang palsu?'


Sang guru berdiri di belakang Ki Somara. Dia bermaksud mendeteksi seberapa besar kekuatan yang dimiliki Adijaya. Tapi hasilnya nihil. Dia melihat pemuda itu hanya seperti manusia biasa. Tapi dia yakin Adijaya menyembunyikan kekuatannya.


"Tidak perlu bermain ukur-ukuran orang tua, aku takut nyalimu meleleh sebelum bertempur!" ejek Adijaya sambil tersenyum lebar membuat guru Ki Somara mendengkus kesal.


"Seharusnya kalian tidak ikut campur urusanku!" teriak Ki Somara.


"Kenapa, kau takut?" tukas Asmarini. "Dengan sewenang-wenang kau menindas warga desa, tapi kau sendiri tidak mau ditindas!"


"Kalian pikir sudah di atas angin, hah! Ayo, majulah secara ksatria!"


Asmarini tertawa lantang sambil menutup mulutnya. "Kau meminta kami berlaku ksatria, agar kau bisa berbuat licik. Begitu, kan!"


Memerah muka Ki Somara. Dia mendengar bisikan gurunya agar langsung menyerang gadis itu. Sementara dia akan mengawasi suaminya, sedangkan gadis yang satunya tak perlu dipikirkan.


Setelah menarik napas dan menghimpun tenaga dalam, Ki Somara melesat ke arah Asmarini langsung mengirimkan serangan pukulan. Serangkum angin sudah lebih dulu menyambar sebelum serangan datang.


Asmarini menyambut dengan melangkah dua tindak lalu menggunakan tangannya menahan pukulan lawan. Angin tajam yang menyambar tidak berdampak apa-apa.


Takk!


Tangan Asmarini menangkis pukulan lawan sehingga arahnya berubah. Ki Somara manfaatkan perubahan arah itu untuk serangan susulan. Namun, si gadis sudah membaca arahnya sehingga mampu ditepis dengan mudah.


Kejap berikutnya saling tukar serangan terjadi. Ki Somara kaget mendapati kekuatan lawan sebanding dengannya. Padahal secara postur, dia lebih besar sehingga terlihat seperti melawan anak kecil saja. Dia ingat perkataan gurunya bahwa Asmarini bukan tandingannya. Nyatanya meleset.


Memang benar kalau Asmarini bukan lawan sebanding Ki Somara, tapi itu kemarin. Semalam bersama suaminya tidak hanya menikmati indahnya surga dunia. Lewat penemuan baru yang diciptakan Adijaya, ritual kenikmatan itu bisa digunakan untuk mentransfer tenaga dalam.


Sekarang, gadis ini sudah mengalami peningkatan tenaga dalam dengan pesat. Tentu saja ini mengejutkan Ki Somara yang awalnya menganggap remeh, kini harus kesulitan mencari celah untuk menarik napas dan menghimpun kekuatan.

__ADS_1


"Baiklah, karena kau lebih tua aku memberikan kau kesempatan untuk bernapas!" Asmarini menarik diri mundur agak menjauh.


Ki Somara merasa terhina, tapi dia gunakan juga kesempatan itu. Terdengar suara tawa Asmarini sebelum sosoknya lenyap kemudian tahu-tahu sudah ada di depan mata.


Dekh!


Telapak tangannya refleks menahan pukulan Asmarini. Dua tenaga beradu. Keduanya sama-sama tersurut. Asmarini hanya dua langkah, sedangkan Ki Somara sampai lima langkah. Lelaki ini mendengkus kesal sebelum mengerahkan tenaga baru.


Pertarungan berlangsung sengit. Keduanya saling jual beli serangan. Sudah lebih dari tiga puluh jurus, keadaan masih imbang. Adijaya menonton dengan tenang tapi tetap waspada terhadap gurunya Ki Somara yang selalu mengintai kelengahannya.


Ki Somara kesal karena tidak bisa mencari celah untuk melukai lawannya. Dia seperti menemui jalan buntu. Sedangkan Asmarini tidak masalah kalau tidak bisa menjatuhkan lawan. Dia akan terus bertahan sampai lawannya kekurangan tenaga.


"Sudah bangkotan, pasti cepat loyo!" batin Asmarini.


Benar juga, karena terus digempur tanpa jeda, akhirnya stamina Ki Somara mulai menurun.


"Bodoh, kau sudah terpancing. Kenapa tidak langsung menggunakan ajian andalanmu atau senjatamu!" Suara gurunya terdengar dekat di telinga, padahal sosoknya jauh.


Ini adalah hawa sakti kiriman gurunya Ki Somara. Yang tidak terpengaruh hawa sakti ini hanya Adijaya, tapi sesaat kemudian Asmarini juga sudah mengatasinya. Adijaya terlihat tetap tenang.


"Sudah kau dapat keterangan" tanya Adijaya dalam batin kepada Padmasari.


"Sudah, Juragan!"


"Siapa dia?"


"Murid padepokan Gunung Sindu!"


Adijaya tersenyum lebar, dia menatap tajam gurunya Ki Somara yang masih berdiri menunggu kesempatan berbuat licik.


Sementara Ki Somara sudah dibuat terdesak. Beberapa pukulan mendarat telak di badannya. Kalau saja pukulan itu adalah goresan senjata, tentu tubuhnya sudah banyak luka tusukan atau goresan.

__ADS_1


Guru Ki Somara menambah tekanan hawa saktinya. Bila perlu dia akan menyerang menggunakan hawa saktinya. Tapi kedua matanya terbelalak lebar ketika melihat Adijaya kini telah memegang payung yang terbuka.


"Payung Terbang!" seru sang guru tertahan, tapi masih terdengar ke telinga Ki Somara yang membuka kelengahannya karena tenaga yang menurun.


Dess! Desss! Desss!


Tiga tendangan beruntun berhasil mendarat di dada Ki Somara. Lelaki ini terpental lalu jatuh bergulingan. Dari mulutnya keluar banyak darah. Sosoknya terbaring di tanah, kedua matanya melihat wajah sang guru begitu ketakutan. Apa yang ditakutkannya?


"Aku tidak mau berurusan dengan dia, Mahaguru saja tidak mampu melawannya!" kata-kata terakhir sang guru sebelum berkelebat kabur. Benar juga ejekan Adijaya diawal. Jika sudah tahu dari awal pasti nyalinya langsung menciut.


Sekarang dia sudah tahu siapa Adijaya. Dia tidak ingin mati konyol. Atau kehilangan seluruh kekuatannya, karena sifat Adijaya yang tidak mau membunuh.


"Guru, kenapa kau tinggalkan aku?" teriak Ki Somara diakhiri batuk-batuk yang mengeluarkan darah. Dia tidak mengerti kenapa gurunya sampai ketakutan bagai melihat jurig?


Pada saat itu tiba-tiba Parwati berlari sambil menghunus pedang. Tanpa bisa dicegah dia hujamkan pedangnya tepat ke jantung Ki Somara yang akhirnya meregang nyawa. Lalu Parwati berlari lagi masuk ke dalam rumah. Asmarini segera menyusul.


Di dalam dia mendapati Parwati telah menghabisi Raksana yang dalam keadaan tak berdaya. Kemudian sepasang pembantu yang merawat Raksana juga hendak dia bantai.


"Tunggu, jangan!" cegah Asmarini segera menghadang.


Asmarini seperti mengenali dua orang ini. Mereka tampak gemetaran. Bahkan yang perempuan sudah menangis. Beberapa saat Asmarini memperhatikan keduanya sampai akhirnya dia sadar.


"Ayah, Ibu!" teriak Asmarini.


Kedua orang ini tampak membuka mulut tapi tak keluar suara. Mereka begitu kaget melihat Asmarini. Tidak menunggu lama gadis itu menghambur memeluk yang perempuan.


"Ibu!" Gadis ini tak bisa menahan perasaannya.


Sepasang suami istri yang menjadi pembantu di rumah Ki Somara ternyata orang tuanya Asmarini. Mereka tampak saling memeluk sambil terisak-isak.


Parwati lebih memilih keluar, dia akan mencari kakak atau kekasihnya untuk mengabarkan hal ini secepatnya. Dia memenggal kepala Ki Somara terlebih dahulu untuk dijadikan sebagai bukti.

__ADS_1


Sedangkan Adijaya kini sudah berada di dekat Asmarini. Gadis ini ingat, semalam Adijaya bilang dia harus ke sini. Ternyata dia bertemu orang tuanya.


__ADS_2