Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Penjaga Gerbang Ke Tiga


__ADS_3

"Gelo!" umpat Adijaya kaget setelah beberapa langkah memasuki gerbang kedua.


Di depannya membentang sebuah danau luas hampir seperti laut. Jauh di tengah sekitar ratusan tombak terlihat benteng ke tiga yang tampak kecil di matanya.


"Benar-benar dunia aneh!" Adijaya angkat dan buka Payung Terbang. Baru kali ini dia memandangi jelmaan Ki Santang begitu lama.


"Hanya dia yang bisa terbang. Ilmu meringankan tubuh milik Juragan tidak akan kuat sampai ke sana. Dan..."


Adijaya menoleh menatap Padmasari sebagai bentuk pertanyaan mengapa perkataannya digantung?


"Ini alamku, di sini aku juga tidak bisa mengandalkan ilmu 'Hampang Awak'!"


"Jadi?"


"Juragan harus membawa serta aku saat terbang!"


Kalau di raga kasar mungkin dia sudah menelan ludah. Dia bisa melayang terbang dengan Ngaraga Sukma kalau berada di dunia fana. Tetapi di sini, dia sama saja dengan orang tidak bisa Ngaraga Sukma dan ilmu meringankan tubuh yang rendah.


"Baiklah!"


Padmasari tersenyum penuh arti. Lalu wanita guriang ini merangkul Adijaya dari belakang. Ada rasa berdebar dalam hati pemuda ini. Rasanya seperti menyentuh manusia biasa.


"Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan!" Suara Ki Santang terdengar menyindir.


"Tidak usah cemburu!" balas Padmasari.


Kemudian tubuh mereka terangkat sampai tiga tombak di atas permukaan air. Lalu bergerak terbang melintasi danau luas dengan air yang berwarna biru.


Baru seperempat menyeberangi danau, gangguan datang. Dari dalam air meloncat ikan besar dengan mulut menganga memperlihatkan giginya yang seperti gergaji hendak melahap mereka.


Adijaya menjejak energi di bawahnya, mengangkat badannya lebih tinggi lagi menghindari sergapan ikan raksasa itu. Tentu saja Payung Terbang juga membantu menyelamatkan mereka.

__ADS_1


Ternyata bukan cuma satu ikan yang menyerang. Setelah selamat dari ikan pertama, muncul lagi dua ikan yang lebih besar dan lebih tinggi lompatannya.


Sang pendekar hanya percepat lesatannya sehingga dua ikan saling bertabrakan di atas air. Selanjutnya dia bersiap jika ada ikan yang menyerang lagi. Pegangan Padmasari terasa kuat sekali, tapi badannya terasa ringan.


Rintangan di depan ternyata bukan ikan lagi, tapi gelombang air yang bergulung mencapai belasan tombak bagai dinding bergerak hendak menghempas Adijaya.


"Ini laut apa danau!" gerutu Adijaya.


Dia tidak menaikkan terbangnya lebih tinggi lagi, tapi dia dorongkan payung ke depan. Menembus dinding air. Tentu saja dia sudah mempersiapkan kekuatannya.


Menggunakan Payung Terbang untuk menerobos air, sedangkan sepasang kakinya bertolak ke energi di udara supaya luncuran badannya lebih cepat.


Wussh!


Brussh!


Sosok Adijaya yang membawa Padmasari dalam gendongannya menembus gelombang air yang cukup tebal sampai lima tombak. Namun, setelah lolos dari rintangan ombak datang lagi rintangan lainnya.


Yaitu hujan dengan curah air besar. Bukan sebesar lidi seperti biasanya, tapi lebih besar lagi seperti air pancuran. Tentu saja ini membuat beban menjadi berat. Dalam hal ini Ki Santang harus bekerja lebih kuat lagi.


Adijaya menjatuhkan diri ke pasir karena tenaganya cukup terkuras. Dadanya terasa sesak. Kemudian segera duduk bersila dan menyalurkan hawa sakti. Kalau di raga kasar, mungkin mengatur napas yang tak beraturan.


Sementara Padmasari juga telah melepaskan diri. Dia juga tampak menenangkan perasaannya sambil duduk emok.


Di sana tidak ada hujan lagi. Suasana seperti biasa, langit tetap terang tanpa matahari. Entah sudah berapa lama Adijaya berada di alam ini. Tantangan selanjutnya adalah penjaga gerbang ke tiga.


Jarak menuju gerbang ke tiga sekitar dua puluh tombak lagi, tapi Adijaya sudah melihat sosok yang menjaga gerbang tersebut. Tampilannya masih muda seumuran dia. Berjubah hitam dan juga membawa tongkat sepanjang tinggi tubuhnya.


Pemuda ini dulunya mempunyai pusaka buhul yang bisa menjerat para siluman dan guriang. Sekarang sukmanya malah kena jerat buhul Jurig Kaladetya.


Adijaya sudah berdiri dalam jarak lima tombak dari sukma pemuda yang tidak lain adalah Rangrang Geni. Sementara Padmasari sudah mengambil tempatnya sendiri. Mengapa wanita guriang ini belum juga membantu majikannya? Mungkin belum saatnya.

__ADS_1


Seperti tiga penjaga gerbang sebelumnya, Rangrang Geni bersikap dingin sedingin wajahnya yang pucat pasi. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut. Dia sudah 'disetting' untuk menghadang Adijaya.


Sementara Adijaya menunggu si penjaga menyerang lebih dulu sambil menyiapkan kekuatan. Hawa yang dia rasakan begitu panas, maka dia mengimbangi dengan menyalurkan hawa dingin.


Rangrang Geni mengangkat tongkat ke atas kepala, kemudian diputar tiga kali. Segelombang energi panas tak kasat mata memancar ke udara.


Blurr!


Tiba-tiba lingkaran api yang menyala besar sudah mengurung Adijaya. Diameternya hanya tiga tombak, jadi panasnya api sangat terasa membakar. Sejenak ada tanya dalam benaknya, apakah sukma bisa terbakar?


Si Payung Terbang pertebal hawa dingin di raga halusnya. Dia juga putar payung yang telah terbuka hingga menimbulkan semacam angin (kalau di alam nyata) yang menghalau api.


Lingkaran api semakin besar dan mengecil diameternya, alias semakin mendekat mengurung Adijaya yang terus mengeluarkan hawa dinginnya. Begitu setengah tombak lagi hendak membakarnya, Adijaya memutar badan sambil mengibaskan payung.


Wesss!


Lingkaran api seketika padam bagaikan disiram salju. Asap putih dan hitam mengepul ke atas lalu hilang. Suasana kembali seperti semula. Namun, tetap energi panas mendominasi udara di sana.


Rangrang Geni sudah siap menyerang lagi dengan tongkat terangkat lurus ke depan sejajar dengan matanya. Tongkatnya dikobari api dari ujung sampai kepalan tangan yang memegangnya.


Selanjutnya si pemuda mulai menerjang memutar dan menyabetkan tongkat. Memberikan ancaman kepada Adijaya. Setiap sabetan tongkatnya menjulurkan lidah api panjang.


Adijaya terpaksa mengambil jarak agak jauh agar tidak dalam jangkauan lidah api itu. Namun, ternyata lidah api bisa menjulur lebih panjang lagi bagaikan cambuk yang hendak membelit raga halusnya.


Selain menghindar dengan cara meloncat atau berguling, Adijaya menangkis juluran cambuk api dengan payung yang dialiri hawa hingga sedingin es.


Desss! Cesss!


Adijaya menggunakan ilmu perubahan energi seperti ketika melawan Buta Merah. Ilmu yang intisarinya berasal dari beberapa kalimat dalam kitab Hyang Sajati. Dalam hal ini mengubah energi yang ada menjadi hawa dingin.


Semburan lidah api dilawan hembusan angin es. Benturan keduanya selain menimbulkan suara seperti api yang disiram air juga membuat tempat sekitar bergetar hebat.

__ADS_1


Padmasari merasakan dampak udara yang kadang panas kadang dingin ini. Dia mengambil jarak lebih jauh lagi agar tidak terkena imbasnya, sembari berpikir apakah dia harus turun tangan membantu sang majikan.


Sementara cambuk api yang menjulur dari tongkat terus memburu Adijaya.


__ADS_2