
Belakangan ini padepokan Karang Bolong disibukkan dengan pekerjaan baru, yaitu membangun asrama untuk murid perempuan. Seluruh murid sepertinya menyambut dengan gembira tentang penerimaan murid perempuan.
Dengan semangat bahu membahu mendirikan bangunan yang cukup besar di lahan kosong yang masih milik padepokan.
"Kalau ada murid wanita, latihan kita tidak jenuh nantinya,"
"Pasti selalu semangat!"
"Sepertinya Mahaguru sengaja agar kita makin giat berlatih,"
"Dan juga dapat jodoh!"
"Huuuu...!"
Sementara itu Mahaguru Manguntara sedang menerima tamu di ruang pertemuan. Tiga orang wanita yang tampangnya seumuran dengan dirinya. Mereka adalah sahabat sang mahaguru.
"Senang sekali akhirnya kalian sudi memenuhi undanganku!" kata Ki Manguntara dengan senyum ramah.
"Justru aku merasa terhormat Mahaguru telah sudi mengundang ke padepokan yang besar ini,"
"Jangan merasa sungkan, Nyai Parasuri!" Lalu Ki Manguntara menoleh ke dua wanita lainnya. "Nyai Sangga Manik dan juga Nyai Rengganis,"
"Terima kasih, Ki Manguntara," ucap Nyai Rengganis. "Kedatanganku dan juga dua sahabatku ini tidak lain untuk membicarakan tawaranmu tempo hari,"
Dua wanita lainnya anggukan kepala pelan membenarkan. Ki Manguntara tara mengetahui mereka bertiga mempunyai murid yang semuanya perempuan. Sang mahaguru mengajak mereka bergabung dalam satu lingkup padepokan Karang Bolong.
"Setelah kami memikirkan matang-matang secara masing-masing dilanjutkan dengan rembukan kami bertiga..." Nyai Parasuri menggantung sejenak kata-katanya. Dia memandang ke dua temannya seolah meminta ijin.
"Kami bersedia bergabung!" Nyai Sangga Manik yang melanjutkan.
Ki Manguntara tersenyum lebar dan bernapas lega mendengar keputusan mereka. Nyai Parasuri mempunyai sebelas murid yang hampir semuanya berusia remaja. Nyai Rengganis mengambil murid dari wanita muda yang ditinggal suaminya dan sebatang kara, jumlahnya ada dua puluh.
Sedangkan semua murid Nyai Sangga Manik beragam. Ada yang sudah dewasa tapi tidak punya suami, remaja dan anak kecil yang masih berumur lima tahun.
"Aku haturkan beribu-ribu terima kasih atas kesediaan kalian bergabung di sini," ucap Ki Manguntara. "Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, kalian tetap mempunyai kuasa atas murid-murid kalian.
"Karena semua murid perempuan akan dididik olah guru perempuan juga. Kalian juga boleh bertukar melatih agar semuanya memiliki kepandaian dari beberapa guru. Dan satu lagi, jika kalian juga ingin mendidik murid laki-laki, dengan senang hati aku mempersilakan,"
__ADS_1
"Betul, dengan begitu semua murid akan memiliki beragam ilmu. Ke sananya mereka akan menggunakan ilmu mana yang dirasa cocok sesuai dengan bakat masing-masing," timpal Nyai Parasuri.
Yang lainnya sama-sama mengangguk pertanda satu pikiran. Suasana jadi terasa menyenangkan. Karena mereka semua dari golongan putih yang selalu berpikiran baik, maka di antara mereka tidak ada rasa saling bersaing satu sama lainnya. Justru dengan bersatu jadi merasa lebih kuat bersama.
"Asrama murid wanita sedang dibangun, kapan kalian akan memboyong murid-murid kalian?" tanya Ki Manguntara.
"Sebelum berangkat aku sudah memerintahkan mereka segera menyusul setelah persiapan sudah selesai," jawab Nyai Rengganis.
Dua wanita lain menimpali dengan perkataan yang sama.
"Bagus, lah! Tahukah kalian, kenapa aku tiba-tiba mempunyai pikiran seperti ini?"
Tiga wanita saling pandang lalu menggeleng.
Kemudian Ki Manguntara menceritakan tentang peristiwa penyerangan padepokan Gunung Sindu yang melibatkan sepasang pendekar muda, Adijaya dan Asmarini.
"Asmarini yang mengusulkan hal itu. Mereka berasal dari padepokan Linggapura jauh di sebelah timur sana. Dan tahukah kalian siapa Adijaya itu?"
Ketiga wanita lagi-lagi menggeleng pelan.
"Dia yang dijuluki Pendekar Payung Terbang!"
Ki Manguntara melanjutkan. "Walau masih muda, ilmunya sudah tinggi. Gentasora, mahaguru dari padepokan Gunung Sindu mampu dikalahkannya!"
Tiga wanita sama-sama terkejut. Yang mereka tahu, Gentasora bisa disejajarkan dengan Ki Manguntara. Kalau Adijaya mampu mengalahkan berarti ilmunya setara dengan Ki Manguntara juga.
"Apakah mereka masih di sini?" tanya Nyai Parasuri.
"Masih, bahkan tidak disangka Adijaya berjodoh dengan kitab Hyang Sajati!"
Mulut terbuka tanpa suara, itulah yang ditampakkan tiga wanita sahabat mahaguru ini. Tidak terbayangkan betapa beruntungnya Adijaya. Terbersit dalam pikiran mereka ingin menjodohkan dengan muridnya yang paling cantik.
***
Di dalam kereta kuda Asmarini sedang bersemedi berlatih untuk menambah tenaga dalam yang dipelajari dari kitab pemberian Adijaya. Dia tidak ingin berpuas diri walaupun sudah mengalahkan Nini Kewuk, lawan paling kuat yang beberapa waktu lalu dia kalahkan.
Ketika sedang larut dalam konsentrasi sambil mengolah hawa sakti yang ada di dalam tubuhnya tiba-tiba perutnya terasa mual seperti ada yang menyedak dari dalam dan ingin muntah.
__ADS_1
Dia hentikan semedi, membuka kedua matanya lalu meraba perutnya dipikir-pikir bukan kali ini saja dia merasa mual, sejak dua hari belakangan dia sudah sering merasakannya. Dia berpikir Apakah ini luka dalam akibat pertarungan melawan Nini Kewuk?
Nyatanya bukan, ini hanya semacam masuk angin saja, tapi kenapa sering terjadi. Atau mungkin dia kena racun, tapi ini bukan gejala keracunan. Karena tahu banyak tentang racun, jadi dia tahu gejala kena racun.
Setelah tidak menemukan jawabannya akhirnya dia memanggil Padmasari, guriang wanita yang dijuluki Ratu Sihir muncul seketika di depan Asmarini. Si cantik mungil langsung menceritakan kondisi tubuh yang dialaminya.
"Apa Bibi tahu aku kenapa?"
Padmasari malah tersenyum dengan wajah berseri-seri. Sorot matanya begitu berbinar. Dia seperti mendapatkan sesuatu yang menyenangkan hatinya.
"Kenapa Bibi seperti itu?" Asmarini heran dan sedikit cemas.
"Akhirnya, aku akan menjaga Juragan Istri lebih ketat lagi. Kalian dengar, Kuda?"
"Kami turut bergembira atas kabar baik ini!" sahut kuda betina dari luar.
"Kabar baik? Apa sih, Bi?" Asmarini kebingungan. "Paman dan Bibi kuda ada apa sebenarnya?"
"Gusti Putri harus menjaga kesehatan. Kalau bisa jangan mengeluarkan tenaga berlebih, simpan tenaga untuk nanti," timpal kuda jantan.
"Simpan tenaga untuk nanti? Kalian jangan bikin aku bingung!"
"Masa Gusti Putri belum mengerti juga!"
Asmarini terdiam sejenak. Mencari jawaban sendiri tentang kondisinya belakangan ini. Beberapa saat kemudian kerutan keningnya berubah menjadi pancaran keceriaan.
"Aku hamil!" ucapnya pelan.
"Selamat, Juragan Istri akan menjadi seorang ibu!" ujar Padmasari.
Si cantik mungil tersenyum lebar, betapa gembira hatinya menyadari hal ini. Sesuatu yang selalu diimpikan oleh pasangan suami istri. Dia ingat pesan orang tuanya untuk tinggal menetap selama menunggu kelahiran bayinya.
Berarti dia akan menetap di padepokan ini sementara. Atau bisa jadi selamanya. Karena sang suami bisa saja menjadi pewaris menggantikan Mahaguru Manguntara.
Di saat suasana dipenuhi kegembiraan, tiba-tiba berhembus angin yang terasa asing.
"Kita akan kedatangan tamu!" seru kuda betina.
__ADS_1
"Siapa lagi yang datang?" tanya Padmasari.
"Dari bangsa Bibi lagi, ya?" tanya Asmarini juga.