
Adijaya memutuskan untuk pergi dari padepokan. Ki Ranggasura juga masih bersemedi, belum bisa ditemui. Padahal Adijaya ingin menumpahkan semua perasaan kepada pemimpin padepokan itu. Entah kenapa sekarang menjadi sungkan kepada Arya Sentana.
Dia hanya menemui Komara sebentar sebelum akhirnya keluar menggunakan kereta kuda pemberian Darma Koswara.
Praba Arum juga tak bisa membujuk pemuda itu untuk tinggal lebih lama. Wanita ini mengerti keadaan hati Adijaya. Berada terus di padepokan akan menambah dalam luka hatinya.
Adijaya berniat mendatangi bukit Gajah Depa tempat tinggalnya dulu bersama ayahnya.
Pada hari masih Balebat kereta kuda Adijaya sudah bergerak meninggalkan padepokan.
Pada saat seperti ini hatinya benar-benar hancur. Putus asa. Seolah tak ada jalan lagi untuk melanjutkan hidup.
"Juragan tidak usah sedih berlarut-larut, masih ada saya. Pelayan setia juragan selamanya," ujar Guriang yang sedang malih rupa menjadi seorang kusir.
"Sekarang juragan adalah orang kaya. Bisa membuka ladang, membuat huma, mendirikan kedai atau penginapan. Soal perempuan, gampang kalau sudah punya harta banyak mah!"
Benar juga saran si guriang ini. Bukankah awalnya dia tidak memiliki apa-apa? Tidak memiliki kekuatan. Tidak memiliki seorang kekasih. Dan sekarang kembali seperti semula.
Hanya saja perlu menyesuaikan diri, menyesuaikan hati. Tetap saja ini adalah sebuah goncangan jiwa yang baru pertama dirasakan.
Belum pernah merasa kehilangan sesuatu yang sangat penting bagi hidupnya. Sekarang merasakannya membuat terguncang hati dan jiwa.
Belum pernah merasakan bagaimana ditinggalkan.
"Pengalaman hidup kalau datar-datar saja, tidak naik turun. Tidak seru dan hambar, juragan," kata si Guriang lagi. "Tidak akan meningkatkan sikap kedewasaan,"
Sebelum ke bukit Gajah Depa, Adijaya berniat mengunjungi kedai Sariti. Tapi ternyata kedai itu tutup dan sepi. Rumah tempat tinggal Sariti juga tampak sepi tak terurus.
"Ki Sanak, kenapa kedai ini tutup?" tanya Adijaya kepada orang yang kebetulan lewat.
"Pemiliknya 'Ngababarkeun' lalu pindah rumah,"
(Ngababarkeun : melahirkan)
"Kemana?"
"Maaf, saya tidak tahu!"
"Oh, ya. Terima kasih, Ki sanak!"
Adijaya melanjutkan perjalanan.
"Ada kenangan dengan kedai ini?" tanya guriang.
"Aku pernah bekerja di kedai itu."
"Pengalaman yang menarik!"
__ADS_1
Setelah beberapa hari melewati perjalanan. Beberapa kali singgah di kedai untuk mengobati lapar. Berhenti di malam hari untuk meluruskan punggung. Akhirnya sampai juga di bukit Gajah Depa. Tempat sebagian masa kecilnya dihabiskan.
Rumah tempat tinggal dulu tidak berada di puncak bukit. Melainkan di bagian lereng bawah. Jalannya masih bisa dilalui oleh kereta yang cukup besar itu.
Adijaya turun dari kereta. Berdiri di depan rumah kayu yang cukup besar.
Rumah ini tidak berubah. Keadaan di sekitarnya juga tetap sama. Tapi ada yang aneh!
"Rumah ini terlihat rapi dan bersih, seperti ada yang mengurusnya,"
Pemuda ini kerutkan kening sambil perlahan melangkah menaiki tangga teras yang hanya tiga undakan. Begitu berada di teras, tiba-tiba pintu rumah terbuka.
Sring!
Seorang gadis kira-kira seumuran dengannya muncul dari balik pintu sambil menghunus pedang.
"Siapa kau?" seru gadis itu sambil memasang kuda-kuda kokoh. Pedangnya menodong ke wajah Adijaya.
Sementara Adijaya tidak terlalu kaget. Keningnya masih berkerut. "Kenapa ada seorang gadis di sini?" batinnya.
Gadis ini memiliki perawakan mungil tapi justru terlihat indah karena kemungilannya. Mukanya lonjong, dagu dan hidung lancip. Bibir tipis. Rambut hitamnya dikuncir belakang. Wajahnya? Tentu saja cantik dan imut.
"Kau yang siapa, sedang apa kau di rumahku?" balik tanya Adijaya.
"Rumahmu?" si gadis tersurut satu langkah.
"Bohong! Sudah satu tahun lebih aku tinggal di sini. Enak saja tiba-tiba kau datang mengaku sebagai pemilik rumah!"
Ketus juga gadis ini. Tapi kenapa Adijaya merasakan sesuatu yang aneh dalam benaknya.
"Lima tahun lebih aku sudah meninggalkan rumah ini," kata Adijaya. "Ayahku pemilik asli rumah ini. Kau tahu siapa ayahku?"
"Tidak tahu dan tak peduli. Enyahlah kau dari sini jangan berbuat macam-macam atau pedangku yang bicara!"
"Sebelum kau melakukan ancamanmu, aku akan membuktikan bahwa aku benar-benar anak pemilik rumah ini,"
"Mau apa kau?!" bentak si gadis semakin galak.
"Tenang, sabar nona manis!"
Disebut nona manis, gadis ini tampak memerah wajah imutnya. Tapi pedangnya masih terhunus.
Adijaya tetap tenang. Walaupun tidak mempunyai kekuatan. Gadis mungil ini kelihatan tidak berbahaya.
"Apa kau tahu rumah ini menyimpan harta yang begitu banyak? Kalau sudah tahu apa kau sudah mememukan tempat harta itu?"
Si gadis diam saja. Dia masih berpikir Adijaya hendak menipunya.
__ADS_1
"Kau pasti menipu!"
"Baiklah, aku akan menunjukannya!"
Adijaya melangkah masuk tak peduli pedang mengancam nyawanya.
Si gadis tidak melakukan apa-apa. Dia malah menyarungkan pedangnya.
Adijaya melangkah menuju sebuah kamar yang dulu ditempati ayahnya. Si gadis diam saja. Berarti gadis itu tidak menempati kamar ini selama tinggal di rumah ini.
Keadaan kamar juga tidak terlalu bersih. Masih ada sarang laba-laba di setiap sudutnya. Kemudian Adijaya mengangkat dipan (tempat tidur), memiringkannya.
Di lantai di bawah tempat tidur terlihat sebuah papan yang mirip pintu. Adijaya membukanya. Memang itu adalah pintu sebuah peti seukuran tempat tidur yang ditanam di lantai.
Di dalamnya sudah terisi kepeng emas, emas batangan, perhiasan emas, permata dan barang berharga lainnya.
Si gadis tampak melongo melihat semuanya. Tidak menyangka ada harta sebanyak itu di dalam rumah ini. Dan dia tidak tahu sama sekali. Padahal katanya sudah setahun lebih mendiami rumah ini.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya gadis itu pelan.
"Sudah kubilang, aku anaknya pemilik rumah ini!"
"Siapa pemilik rumah ini?"
"Namanya Gandara, dia pimpinan perampok yang berjuluk Lima Begal Cakrageni,"
Si gadis terkejut. "Jadi, kau anak perampok?"
Adijaya tersenyum melihat raut lucu si gadis.
"Iya, tapi itu dulu. Mereka sudah musnah sekarang,"
"Berarti kau penerusnya!"
"Tidak! Aku bukan perampok. Sudahlah, kita duduk di depan sambil bercerita. Oh iya, terima kasih kau sudah merawat rumah ini dengan baik. Aku akan memberikan sebagian barang berharga itu untukmu sebagai imbalannya,"
Entah kenapa Adijaya bisa mengucapkan kata sepanjang itu sambil berjalan ke ruang depan. Di sana sudah ada hidangan makanan dan buah-buahan yang disajikan oleh lelaki jelmaan guriang.
"Dia Ki Santang, yang selalu menemaniku dalam perjalanan," Adijaya memperkenalkan jelmaan guriang itu dengan nama Ki Santang.
Sikap gadis itu sudah melunak dan menyimpulkan Adijaya bukan orang berbahaya. Berkali-kali dibentak pemuda itu tetap tersenyum ramah. Tampan lagi. Setiap gadis yang melihat ketampanannya pasti akan tergoda.
Mereka duduk berhadap-hadapan dipisahkan oleh hidangan yang tersaji. Ki Santang tampak duduk di depan, di pinggir teras.
"Namaku Adijaya, kau siapa?"
Si gadis tidak segera menjawab, tapi tidak bersikap ketus lagi. Wajahnya tidak garang lagi.
__ADS_1
"Asmarini,"