
Cakra Diwangsa merasa jantungnya seolah-olah akan meledak. Debarannya sangat kuat dan cepat. Dia saling berpelukan dengan sang istri yang juga merasakan hal sama. Bahkan Sekar Kusuma sampai menjerit histeris.
Kereta kuda melayang terbang. Mereka melihat ke bawah, jalan batu di sisi lamping itu longsor. Jatuh ke jurang yang dalam. Suara gemuruh ambruknya jalan terasa menggidikkan.
Ketika kereta kuda sampai di ujung sisi tebing yang lain, yang sudah masuk ke jalan biasa lagi. Barulah Cakra Diwangsa dan istrinya bisa bernapas lega, walau debaran jantungnya masih menghentak.
Sepasang suami istri ini menoleh ke pasangan lain yang berada di dalam ruangan. Adijaya dan Asmarini terlihat tenang-tenang saja. Seolah-olah tidak terjadi apapun.
"Memang kuda ajaib!" ujar Cakra Diwangsa masih mengatur perasaannya. "Tapi tidak kusangka sampai seajaib ini!"
"Kalau begitu sering-seringlah naik kereta ini, masih banyak keajaiban lain yang belum Raden tahu!" timpal Adijaya.
Lalu bagaimana dengan kereta yang tertimpa batu besar dan terperosok ke jurang. Itu hanya ilusi yang diciptakan Padmasari untuk mengelabui orang yang hendak mencelakai Adijaya.
Cakra Diwangsa hentikan kereta. Perasaannya masih tidak karuan. Apalagi Sekar Kusuma juga masih tak mau lepas memeluknya erat. Mereka berdua bagai habis berlari sekencang-kencangnya akibat dikejar sesuatu yang menakutkan.
"Raden di dalam saja, gantian biar kami di situ!"
Adijaya dan Asmarini beringsut ke luar. Cakra Diwangsa langsung setuju tanpa menjawab. Mereka bertukar posisi. Cakra Diwangsa menyandarkan punggungnya ke pintu belakang agar suasana hatinya lebih tenang lagi, sedangkan Sekar Kusuma berbaring di pangkuannya.
"Apakah pohon tumbang itu disengaja?" tanya Cakra Diwangsa setelah kondisinya benar-benar tenang.
"Benar!" jawab Adijaya singkat.
"Gelo! Saking ingin melenyapkan kalian segala cara dilakukan! Entah apa lagi yang akan menghadang di depan?"
Setelah agak lama, laju kereta memasuki sebuah perkampungan lagi. Akibat peristiwa tadi yang mengguncang perasaan, rasa lapar datang lebih cepat. Cakra Diwangsa meminta berhenti bila ada kedai.
***
Sementara itu di sebuah tempat sedang terjadi perdebatan beberapa orang. Mereka mempertahankan pendapat masing-masing.
"Aku dan kelompokku yang menjatuhkan batu, semua melihat dengan mata kepala sendiri. Batu itu menimpa kereta hingga hancur dan jatuh ke jurang. Iya, kan?"
"Ya, betul aku juga menyaksikannya!"
"Tapi aku dan kawan-kawan melihat kereta itu keluar dari perbatasan bukit batu. Iya, kan?"
"Iya, iya, benar!"
"Mungkin kereta lain!"
"Kereta yang lain dari mana? Yang melalui jalan tebing hanya satu!"
"Sudah, sudah, kita tunggu laporan teman yang lain!"
__ADS_1
Tak lama kemudian datanglah seseorang dengan tergopoh-gopoh mengatur napas karena sepanjang jalan dia berlari seperti dikejar hantu.
"Bagaimana?"
"Benar mereka masih hidup, sekarang sedang ada di kedai!"
Semua yang ada di situ saling pandang satu sama lain. Terutama mereka yang bertugas menjatuhkan batu dari atas tebing.
"Mungkin mereka 'jurignya'!"
Kelompok yang bertugas menjatuhkan batu tetap penasaran. Tetap tak terima dengan kenyataan karena mereka benar-benar melihat kereta hancur tertimpa batu lalu terjerumus ke jurang.
"Memangnya jurig bisa makan?"
"Kalau tidak percaya lihat saja sendiri!"
Yang bikin mereka pusing adalah bagaimana cara melapor kepada majikan mereka? Ini sama saja dengan gagal kalau begitu.
***
Dirga Prana dan anak buahnya bersimpuh di hadapan seseorang berpakaian rapi dan gagah. Sesuai rencana bahwa sore ini majikannya akan datang untuk memastikan rencana yang telah dibuat.
Namun, sang majikan tampak kecewa karena laporan Dirga Prana tidak memuaskan sama sekali. Sasaran bisa bebas tanpa perlawanan. Lebih parahnya ternyata penawar racun yang dipegang Dirga Prana sudah diganti yang palsu.
Bagaimana bisa target mencuri dan menukar penawar dengan yang palsu, sedangkan rencana berjalan dengan sangat mulus.
Sang majikan hanya mengepalkan tangan kuat-kuat. Pikirannya bekerja mencari cara yang lain.
"Lantas bagaimana dengan kelompok yang lain lagi? Katanya cara mereka berbeda lagi?"
"Benar, Gusti! Cara mereka adalah menggiring target ke jalan tebing bukit Batu, tapi..." Dirga Prana tidak melanjutkan ucapannya.
"Gagal lagi?"
Dirga Prana mengangguk pelan. Sang majikan menghempas napas panjang.
"Kau tahu pendekar terkuat saat ini?" tanya sang majikan kemudian.
"Kalangan persilatan menyebutnya Eyang Batara, tapi tidak ada yang tahu tempatnya di mana. Kalangan pendekar pun tidak bisa sembarangan bertemu dia!"
"Siapa lagi?"
"Ki Manguntara dari padepokan Karang Bolong, tapi kabar yang beredar mereka bersahabat,"
"Ada lagi?" Sang majikan mendengkus kecewa mendengar jawaban itu.
__ADS_1
"Ki Gentasora dari padepokan Gunung Sindu, dia dari aliran hitam!"
"Maaf, Gusti!" Salah satu anak buah Dirga Prana tiba-tiba menyela.
"Ada apa?" tanya sang majikan.
"Hamba mendapat kabar satu purnama yang lalu, Gentasora telah tewas dan padepokan Gunung Sindu lenyap,"
"Siapa yang telah membunuhnya, berarti lebih kuat dari Gentasora?"
"Justru itu, Gusti. Orang yang menjadi target itu yang melakukannya!"
"Edan!" Sang majikan membanting kakinya. "Sepertinya ini sengaja agar aku masuk perangkap!" gumamnya pelan.
Mungkin jika tidak bisa dilenyapkan, maka jangan menjadi musuhnya. Sebaliknya harus jadi orang terdekatnya agar posisinya tetap aman. Jika tidak bisa jadi lawan, maka jadilah penjilat. Sang majikan menyeringai licik.
"Apalagi dia masih hijau dalam hal jabatan. Kenapa aku tidak terpikirkan hal ini? Aku harus menjadi orang yang mengendalikan dia di belakang," batin sang majikan.
"Dengarkan perintahku!" seru sang majikan kemudian. Dirga Prana dan anak buahnya menunduk hormat.
"Rencana diubah, sekarang kalian kutugaskan untuk melindungi mereka dari gangguan!"
Dirga Prana sempat terdiam beberapa saat, memikirkan kenapa majikannya berubah halauan? Tapi karena ini perintah, maka dia tidak bisa membantah. Yang penting posisi dan rejekinya aman.
***
Sewaktu menemukan kedai, ternyata Cakra Diwangsa hanya membeli makanan untuk dibawa lagi ke dalam kereta. Mau tak mau Adijaya melakukan hal yang sama. Membeli makanan dibungkus.
Kereta kuda melaju lagi. Saat senja tiba mereka berhenti di sebuah kebun luas yang belum ditanami. Jadi terlihat seperti tanah kosong saja.
Adijaya mencari ranting-ranting kering untuk membuat penerangan. Mereka tidak mencari penginapan untuk istirahat malam ini. Untungnya tadi mereka membeli banyak makanan untuk bekal malam nanti.
Para istri berada di dalam kereta yang semua jendelanya sudah tertutup, dan para suami sedang membuat api unggun.
"Adijaya, kau jangan pura-pura tidak tahu!" bisik Cakra Diwangsa.
"Kenapa?" Adijaya tersenyum.
"Tempat ini sudah dikepung!"
"Biarkan saja, dan Raden juga tenang saja,"
Walaupun Adijaya bicara begitu, tetap saja Cakra Diwangsa meningkatkan kewaspadaan. Dia melirik ke arah kereta kuda seolah-olah bertanya keajaiban apa lagi yang akan diperlihatkan?
"Apa kau ingin cepat-cepat ke kota raja?" tanya Cakra Diwangsa kemudian.
__ADS_1
"Tidak perlu, lagipula Maharaja juga tidak menargetkan, kan?"
Cakra Diwangsa mengangguk.