
Keesokan harinya.
Sebelum semua murid berkumpul untuk latihan, Praba Arum menemui Kinasih secara pribadi di biliknya.
"Sepertinya ada hal penting sehingga Teteh menemui saya?"
"Tentu, Kinasih. Aku hendak memberitahumu, hari ini akan ada adu tanding satu lawan satu memperebutkan kamu,"
"Saya?" Kinasih terkejut bukan main. "Siapa mereka?"
"Soma dan... Adijaya!"
"Apa, kenapa bisa seperti itu?"
"Soma menyukai kamu dan sepertinya dia juga tahu Adijaya juga menyukai kamu. Jadi semalam Soma menantang Adijaya,"
Kinasih tampak bingung dan resah. "Duh, kenapa jadi begini?"
"Kamu tenang saja,"
"Tapi..."
"Sudahlah, biar aku dampingi. Mari kita lihat, mereka sudah berkumpul."
Di lapangan semua murid sudah berbaris duduk bersila dalam dua kelompok. Murid laki-laki dan perempuan. Empat murid laki-laki yang sudah diangkat jadi pelatih berdiri di sisi yang lain. Arya Sentana berada di antara empat pelatih ini. Angga, Boma, Sena dan Maruta.
Di tengah-tengah lapangan berdiri dua orang berhadap-hadapan. Adijaya dan Soma.
Sungguh biarpun memiliki kekuatan besar, tapi gugup menguasai dirinya. Ini seperti ujian naik tingkat untuk seorang murid. Apalagi sebelumnya Adijaya belum pernah mengalami. Pertarungan atas sebuah tantangan. Persoalan wanita lagi. Bingung juga melanda pikirannya. Pertarungan seperti apa nantinya yang akan diperagakan?
"Baiklah!" Seru Boma dengan suara besar menggema ke seluruh lapangan. "Secara resmi Soma menantang Adijaya adu tanding untuk membuktikan siapa yang paling jantan dan pantas untuk mendapatkan Kinasih,"
"Huuuu...!" seluruh murid bersorak.
Kinasih yang berada di samping Praba Arum tampak memerah wajahnya.
"Peraturannya!" seru Boma lagi. "Pertarungan hanya menggunakan tangan kosong. Tidak sampai membunuh lawan. Dan pemenangnya apabila menjatuhkan lawan sebanyak tiga kali,"
Boma diam sejenak. Dia menghampiri dua orang yang akan adu tanding.
"Kalian siap?" teriak Boma kepada keduanya.
"Siap!" sahut mereka berdua. Namun, suara Soma yang paling lantang.
"Mulai!" seru Boma lagi seraya dirinya mundur ke tempatnya semula.
__ADS_1
Soma membuka kuda-kuda. Tampak mantap dan tegap. Soma termasuk murid berbakat yang cepat menyerap setiap pelajaran. Soma mengeluarkan jurus Pukulan Dewa Tunggal.
Sementara Adijaya yang masih dilanda perasaan tak karuan hanya asal-asalan membuka kuda-kuda. Dia tidak berniat menyerang duluan. Lagi pula dia tidak punya jurus bernama. Semua jurus ciptaannya masih tidak jelas namanya. Maka dia menunggu lawan menyerang duluan.
Soma yang tampak bersemangat, yakin dan percaya diri mulai menyerang duluan. Kakinya melangkah ke depan, dua kepalan tangan menyasar wajah dan dada. Dalam satu kejapan, lima gerakan sudah memburu sasaran.
Namun, dalam satu gerakan halus, Adijaya selamat dari serangan pertama. Ia berusaha tenang. Dalam sepersekian kejap muncul dalam pikirannya, dalam benaknya berkata. "Niatkan bertarung bukan untuk mencari kemenangan, tapi mempertahankan diri. Memahami intisari jurus lawan dan menciptakan jurus penangkal. Dan yang paling penting, lupakan Kinasih sejenak."
Begitulah akhirnya Adijaya hanya menghindar, menahan dan memapak serangan lawan. Gerakannya tercipta sendiri sesuai gerakan jurus lawan. Gerakan yang menjadi penangkal atau pemecah jurus lawan. Gerakannya tenang tapi tepat.
Bagi murid biasa, adu tanding itu terlihat seperti adu tanding biasa untuk mencapai kemenangan. Untuk menentukan siapa yang lebih unggul.
Namun, bagi Arya Sentana dan empat pelatih melihat ada yang lain dari pertarungan itu. Mereka yang semula berdiri kini duduk bersila memperhatikan jalannya pertarungan dengan seksama.
"Apa yang kalian lihat?" tanya Arya Sentana tanpa berpaling dari perhatiannya ke arah pertarungan.
"Celah dan kelemahan jurus Pukulan Dewa Tunggal," jawab Angga tanpa menoleh.
"Jurus penangkal," timpal Maruta.
"Jurus pemecah," sahut Sena
"Bagus," ujar Arya Sentana. "Perhatikan terus, ini penting. Ini pelajaran berharga bagi kita semua,"
"Adijaya orang yang cerdik!" puji Boma.
Di tempatnya, Kinasih semakin gelisah melihat dua orang yang adu tanding itu.
"Kau lihat, sebenarnya Adijaya bisa dengan mudah menjatuhkan Soma, tapi dia tidak melakukannya karena dia sedang mengajari kita," kata Praba Arum.
"Mengajari?" Kinasih tak mengerti. Sudah gelisah, kini tak mengerti dengan ucapan gurunya.
"Ya, Adijaya secara tidak langsung menunjukan celah dan kelemahan jurus yang digunakan Soma. Sekaligus dia memperagakan jurus penangkal atau pemecahnya. Hebat, kan, dia?
"Iya, iya!" tanpa sadar Kinasih berucap seperti itu.
"Kau pasti senang kalau Adijaya yang menang!
"Hah!" Kinasih kaget. Wanita ini benar-benar tak karuan perasaannya.
Praba Arum tertawa kecil melihat kebingunan yang melanda muridnya itu.
Kembali ke tengah lapangan.
Soma mulai kehabisan akal untuk mendesak lawannya. Dia seperti mentok. Walaupun sudah ditingkatkan permainan jurusnya juga tenaga dalamnya, tapi tetap saja Adijaya selalu mampu mengimbangi. Lama kelamaan tenaga Soma terkuras juga. Badannya sudah bermandikan keringat. Tapi melihat Adijaya sepertinya masih segar saja. Dia mulai khawatir. Pikirannya mulau kacau. Bagaimana kalau dia kalah? Dia begitu menyukai Kinasih. Apakah cintanya akan kandas.
__ADS_1
Karena pikiran yang mulai kacau inilah membuatnya lengah. Sebenarnya Adijaya tidak mengirimkan serangan, hanya Soma yang salah gerak sehingga patal akibatnya. Tubuhnya malah terjajar beberapa langkah kebelakang. Untung tidak jatuh.
"Cukup!" sergah Arya Sentana.
Adijaya dan Soma berdiri mematung.
"Kalian berdua duduklah!"
Mereka menuruti perintah Arya Sentana. Adijaya merasa tenang pertarungan tak dilanjutkan. Begitu juga Soma senang karena tidak jadi kehilangan muka. Tapi entah apa yang akan terjadi selanjutnya?
"Dengar dan perhatikan semua!" ujar Arya Sentana. "Dari adu tanding ini kita mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, apa itu?"
Semuanya terdiam.
"Boma!" tunjuk Arya Sentana menyuruh Boma menjelaskan.
Boma menarik napas sejenak. "Bahwa sehebat-hebatnya jurus masih ada celah dan kelemahan!"
"Betul!" seru Arya Sentana. "Sena!"
"Setiap jurus bisa diciptakan penangkal dan pemecahannya!" jawab Sena.
"Masih ada pelajaran lagi, khusus buat Soma!" Arya Sentana menatap Soma.
Soma menegakkan badan, tapi wajahnya menunduk. "Tidak boleh memaksakan kehendak hanya untuk mementingkan diri sendiri," jawab Soma. Entah sejak kapan dia menyadari hal itu.
"Dan Adijaya?" tatapan Pendekar Tinju Dewa kini ke arah Adijaya.
"Segala keinginan membutuh perjuangan," ujar Adijaya entah apa maksudnya. Hanya itu yang dia ingat.
Lalu Arya Sentana berpaling ke arah Kinasih. "Bicaralah!" pintanya. Dia tahu wanita yang jadi rebutan itu juga ingin mengutarakan isi hatinya.
Kinasih tampak gugup. Jari-jari tangannya saling menjalit erat. Wajahnya merona merah. Perlahan dia mulai bicara.
"Aku menghargai cara kalian yang ingin menunjukan kejantanan untuk mendapatkan kepantasan. Dan itu adalah cara laki-laki, cara pendekar. Tapi..."
Kinasih berhenti, wajahnya menunduk.
"Tapi untuk soal perasaan, sebagai wanita ingin memilih sendiri. Walaupun pada kenyataanya harus tunduk pada pilihan yang kita anggap orang tua,"
"Bagaimana Soma?" tanya Arya Sentana lagi.
"Ya, saya sadar. Saya tidak bisa dan tidak boleh memaksa,"
"Bagaimana Adijaya?"
__ADS_1
Adijaya kaget tak mengerti dengan maksud pertanyaan pamannya.
"Saya, saya... Harus jawab apa, Paman?" wajah Adijaya tampak tol*l jadinya lucu. Membuat semua orang jadi tertawa.