
Untuk menenangkan pikiran, memikirkan gagasan dan mendapatkan berita, Adijaya kembali mencari kedai. Kepeng emas dari Darma Koswara cukup banyak. Bisa untuk makan tiga purnama.
Tapi belum juga menemukan kedai, Adijaya mendengar suara bentakan orang bertarung. Saat itu dia sedang melangkah di jalan kecil yang kiri kanannya terdapat kebun dan ladang. Di belokan jalan sejauh sepuluh tombak di depan sana itulah terlihat dua orang sedang beradu jurus.
Dua orang yang dikenalnya. Membuatnya jadi heran, kenapa dua orang ini bertarung malah seperti sebuah pertarungan hidup mati.
"Paman Arya dan Paman Komara?" gumam Adijaya memelankan langkahnya ketika semakin dekat dengan pertarungan dua orang yang ternyata sama-sama murid Ki Ranggasura dari padepokan Linggapura.
Seperti biasa Arya Sentana memainkan jurus-jurus tinju andalannya. Sebenarnya Ki Ranggasura bukan hanya mengajarkan jurus tinju saja. Tapi juga jurus tendangan, jurus menggunakan berbagai macam senjata dan lain-lainya. Hanya saja Arya Sentana lebih mahir menguasai jurus tinju sehingga dia dijuluki Pendekar Tinju Dewa.
Sedangkan Komara memainkan jurus yang tampak aneh. Walaupun Adijaya belum pernah melihatnya, tapi bisa dipastikan itu bukan jurus dari padepokan Linggapura. Gerakannya kaku tapi kuat. Raut wajahnya datar bahkan terlihat pucat. Dan kedua matanya...
Berwarna merah!
Adijaya menyalurkan kekuatan halus ke sepasang matanya. Terkejutlah anak muda ini. Dia melihat hawa aneh menyelimuti sekujur tubuh Komara. Hawa siluman!
"Rayi! Sadarlah!" hardik Arya Sentana sambil terus melayani serangan adik seperguruannya itu.
Tampaknya Arya Sentana sudah tahu bahwa Komara berada dalam kendali orang atau mahluk lain. Komara tidak merasakan sakit sedikitpun ketika tubuhnya terkena pukulan lawan walaupun dilapisi tenaga dalam.
Komara bagaikan mayat hidup yang tak punya rasa dan sukar ditundukan hingga Arya Sentana tampak kewalahan. Bahkan kini dia mulai terdesak. Ingin rasanya mengeluarkan jurus andalannya yang paling dahsyat, tapi dia tidak ingin mencederai apalagi sampai membunuh saudaranya sendiri.
Saat dalam kebimbangan seperti itulah, Komara yang kerasukan dan tak kenal ampun melayangkan tinju yang ganas dan berbahaya karena mengandung hawa sakti jahat dan dilapisi tenaga dalam. Tinju ini bergerak cepat mengincar leher kakak seperguruannya.
Namun, sejengkal lagi pukulan itu mengenai sasaran. Ujung payung Adijaya meluncur lebih cepat menghantam tepat di tengah-tengah kening.
Tuk!
Tubuh Komara terpental ke belakang. Jatuh terjengkang. Adijaya segera memencet jempol kaki kiri Komara.
Komara berteriak-teriak seperti kesakitan. Lalu berhenti saat pangkal jempol kaki yang dipencet itu telah diikat sebuah tali. Tubuh Komara terkulai bagai lumpuh.
Payung Adijaya sudah kembali ke tempatnya dengan cara menghilang.
__ADS_1
"Terima kasih, Ki Sanak!" Arya Sentana mendekat.
"Paman," sapa Adijaya sambil tersenyum.
Pendekar Tinju Dewa terkejut bukan main. "Kau, Adijaya?"
Awalnya dia kurang yakin. Tapi setelah memperhatikan lebih seksama lagi, baru benar-benar yakin. Orang ini memang Adijaya yang dulu hilang jatuh ke jurang.
"Ya, Paman. Ini saya,"
"Gusti Nu Agung, ternyata kau masih hidup!"
Arya Sentana memegang pundak Adijaya saking gembiranya. Melihat-lihat dari atas sampai bawah.
"Kau sudah besar, hebat lagi,"
"Paman, kita bawa pulang dulu Paman Komara."
"Ya, nanti aku ceritakan kenapa dia jadi seperti itu. Dan kau juga harus menceritakan tentang dirimu!"
Saat pertarungan tadi terjadi di waktu 'Tangage' (tengah hari). Ketika sampai di padepokan sudah waktu 'Tunggang Gunung' (sekitar pukul empat sore). Tubuh Komara langsung dibawa ke bilik Ki Ranggasura.
***
Kembali ke masa ketika Adijaya terlempar ke jurang.
Enam purnama setelah memberikan hukuman dan mengusir tujuh orang murid padepokan Linggapura karena terbukti menganiaya dan memfitnah Adijaya. Komara, salah satu murid utama Ki Ranggasura dikabarkan menghilang. Tidak ada yang tahu atau pun melihat dia pergi. Ditunggu sampai empat belas hari ternyata belum pulang juga.
Bahkan Ki Ranggasura yang menggunakan ilmu penerawangan tak mampu menangkap keberadaan muridnya itu. Kemudian sang guru besar mengangkat empat murid tingkat atas yang ilmunya sudah mendekati tahap sempurna menjadi pelatih menggantikan Komara. Dua orang ditugaskan melatih di padepokan, dua lainnya menemani Arya Sentana mencari Komara.
Satu purnama kemudian Arya Sentana bersama dua pendampingnya kembali dengan tangan hampa. Keesokan harinya mereka kembali turun gunung mencari saudaranya. Kali ini setiap dua purnama mereka pulang dan selalu tak membawa hasil. Keempat murid yang diangkat jadi pelatih bergantian menemani Arya Sentana. Karena selain menjalankan tugas juga memberikan mereka pengalaman di dunia luar. Semua ini dilakukan terus sampai tiga tahun. Namun, tetap tak membuahkan hasil.
Hingga di suatu pagi.
__ADS_1
Tak disangka Komara telah kembali. Namun, dia tidak sendiri. Dia membawa tujuh murid yang telah terusir itu. Sikap mereka aneh. Raut wajahnya datar dan pucat. Kepalanya kaku hanya memandang ke depan, tidak pernah menengok. Kedua mata berwarna merah.
Para murid langsung berkerubung mengurung mereka.
"Rayi!" sapa Arya Sentana.
Tapi Komara seperti tak mengenalnya.
"Mereka kena Gendam," ujar Ki Ranggasura yang baru datang.
"Hmmmmh!" suara Komara menggerung seram. "Kami datang menuntut balas," ujarnya. Suaranya besar tapi serak dan nadanya datar.
"Hancurkaaaan...!" teriak Komara lagi.
Serentak ketujuh orang yang dibawanya bergerak mendekati murid-murid dan langsung menyerang siapa saja yang dekat.
Terjadilah kekacauan!
Delapan orang yang seperti mayat hidup itu mengamuk. Walaupun satu orang dilawan sampai sepuluh murid, tapi sangat sukar dilumpuhkan. Tubuhnya seperti kebal, tidak merasakan sakit saat terkena pukulan atau tendangan. Malah beberapa murid mengalami cidera sendiri.
"Putuskan urat nadi di lehernya!" seru Ki Ranggasura memberikan petunjuk.
Arya Sentana yang sedang menghadapi Komara mendengarnya. Tapi dia menjadi bingung. Apakah dia harus membunuh saudaranya sendiri? Walaupun tahu adik seperguruannya ini dalam pengaruh Gendam.
Murid-murid biasa sudah banyak yang terluka. Kini tersisa tinggal tujuh orang yang masih mampu melawan. Empat orang yang sudah diangkat jadi pelatih dan tiga orang murid tingkat atas yang ilmunya sudah dibilang paling tinggi.
Atas petunjuk sang guru akhirnya mereka bisa melumpuhkan orang-orang yang seperti mayat hidup itu. Ada yang menggunakan senjata, ada juga yang menggunakan ketajaman kuku tangannya. Yaitu memutuskan urat nadi di leher.
Memang jadi lumpuh. Tubuhnya terkulai lemas, tapi nyawanya hilang juga.
Kecuali Komara, sangat kuat. Ini pertarungan paling susah yang dialami Arya Sentana selama jadi pendekar. Bahkan pertarungan ini sampai menjauh keluar dari padepokan karena saling kejar mengejar.
Sementara itu Ki Ranggasura sudah melesat entah kemana sejak keributan di mulai setelah memberikan petunjuk tadi kepada muridnya. Ki Ranggasura mencari dalang yang mengendalikan pengacau itu.
__ADS_1
Dengan ilmu pelacak hawa, Ki Ranggasura menelusuri hawa Gendam yang memancar di sekitar padepokan. Walaupun tidak terlihat tapi bisa dirasakan. Sampai akhirnya menemukan juga sumbernya.
"Ternyata kau!" seru Ki Ranggasura.