
Para pengikut sang ratu bagaikan terhipnotis, pikirannya telah terpengaruh. Dalam waktu sekejap mereka telah lupa hal-hal sebelumnya. Kemudian mereka mengambil pasangan masing-masing.
Jiwa mereka sudah dipenuhi nafsu yang menggelora. Apalagi sudah dua ratus tahun tidak pernah merasakan kelembutan kulit sang ratu. Jika dulu harus menunggu giliran, maka sekarang tidak lagi.
Selanjutnya bagaikan singa lapar, orang-orang yang sudah lupa diri ini 'menggarap' pasangan masing-masing. Namun, baru beberapa saat saja tubuh mereka tiba-tiba menggelepar bagai ayam disembelih.
Mereka tidak tahu apa yang menimpa mereka. Semuanya memandang pada pasangan masing-masing. Mereka melihat seringai jahat di bibir sang Ratu Kulon yang perlahan-lahan sosoknya berubah menjadi debu.
Rupanya, masing-masing tertusuk oleh pedang sihir Padmasari tepat di jantung. Karena semuanya permainan sihir sang guriang. Beberapa saat kemudian semua pengikut Ratu Kulon terkapar tak bernyawa.
Ratu Kulon gagal bangkit kembali. Tiga kerang sesepuh kini sudah di tangan Padmasari. Guriang wanita ini menyeringai seram melihat mayat bergelimpangan.
"Juragan pasti tidak setuju pembantaian ini, tapi mereka memang selayaknya mati daripada menebar ancaman di kemudian hari!" Padmasari teringat Adijaya yang tidak pernah mau membunuh.
Padmasari mengibaskan salah satu tangannya ke bawah. Sekelebat cahaya tampak membelah tanah, sehingga terbentuk sebuah parit yang panjang dan dalam. Kemudian mengibas lagi dua kali.
Kibasan pertama menciptakan angin yang menyedot semua mayat termasuk jasad Mintari masuk ke dalam parit. Kibasan kedua, tanah menutup rapat kembali seperti semula. Ratu Kulon dan pengikutnya telah terkubur selamanya.
***
Sejak 'Harieum Beungeut' (pukul tujuh malam) Asmarini sudah membaringkan diri di dalam ruangan kereta kuda yang beralaskan permadani empuk. Tak seperti biasanya malam ini cepat ngantuk. Ratu Siluman Kerang juga tidak menampakan diri. Akhirnya si cantik mungil ini tertidur.
Sampai waktu 'Tumoke' (pukul sembilan malam) tiba-tiba terbangun karena merasakan hawa yang berbeda. Hawa kehadiran mahluk lelembut.
"Mohon maaf, Juragan Istri, bila kehadiranku mengganggu istirahat Juragan,"
"Oh, rupanya Bibi sudah datang, tidak apa-apa!"
Entah dari mana asalnya tiba-tiba Padmasari mengeluarkan tiga buah kerang laut sebesar kepala manusia. Kerang itu memancarkan cahaya berkilau.
"Aku sudah berhasil menyelamatkan mereka, keluarlah!" kata Padmasari menyuruh Ratu Siluman Kerang keluar.
Tring!
__ADS_1
Tak butuh waktu lama sosok ratu yang berwujud wanita cantik berkulit putih itu muncul di antara mereka. Wajahnya tampak berseri melihat tiga kerang sesepuh tergeletak di lantai.
"Ah, aku tidak dapat mengungkapkan rasa kegembiraan ini. Juga rasa terima kasih yang amat banyak!" ujar Ratu Siluman Kerang. "Bagaimana aku membalas budi baikmu, Gusti Ratu?"
"Terserah kepadamu, tapi... berikanlah rasa terima kasihmu kepada majikanku!"
Ratu Siluman Kerang memandang Asmarini. Dari awal jumpa dia sudah menyukai si mungil ini. "Kalau saja dia dari bangsa lelembut, aku ingin menjadikannya Putri Mahkota,"
Asmarini tersenyum canggung, dalam pikirannya membayangkan bagaimana dia menjadi Putri Mahkota keratuan siluman kerang.
"Dulu aku juga seorang putri patih," kata Asmarini.
Kemudian Ratu Siluman Kerang mengeluarkan sebuah kerang kecil berwarna perak. Ketika dibuka, terpancarlah cahaya berkilau berasal dari sebuah mutiara yang tersimpan di dalamnya.
"Ini salah satu peninggalan leluhur kami. Mutiara yang sudah berumur tiga ratus tahun. Aku berikan untukmu," sang ratu mengulurkan tangan yang memegang kerang itu ke Asmarini.
Asmarini tampak ragu. Dia memandang Padmasari seolah meminta persetujuan. Guriang wanita ini mengangguk pelan. Lalu si mungil menerima kerang berisi mutiara tiga ratus tahun tersebut.
"Kalau boleh tahu, apa manfaatnya?" tanya Asmarini agak ragu karena takut menyinggung yang punya kerang.
"Jika ditelan, maka akan memiliki tubuh istimewa untuk seorang manusia. Tapi aku tidak bisa menjabarkannya kalau untuk manusia. Mungkin semacam kesaktian, tenaga dalam, kekebalan atau bisa jadi aura yang bisa mempengaruhi orang lain yang melihatnya,"
"Berikan saja nanti untuk anak Juragan Istri!" saran Padmasari.
Asmarini menutup kerang itu, lalu menyimpannya ke dalam kotak yang ada di belakangnya.
"Terima kasih, Ratu! Aku akan memberitahu suami tentang hadiah ini,"
"Aku yang terima kasih banyak, terutama Gusti Ratu!" Ratu Siluman Kerang menatap ke Padmasari sambil menjura.
"Nah, sekarang, Bibi bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mereka sampai merampas kerang sesepuh ini?"
Maka Padmasari menceritakan semuanya dari awal. Sejak meminta petunjuk dari Eyang Batara hingga menggagalkan kebangkitan kembali Ratu Kulon. Setelah mendengarkan cerita Padmasari, sang ratu kerang mohon pamit untuk kembali ke negeri di laut selatan.
__ADS_1
***
Di kediamannya, di saat sayup-sayup mata terkantuk-kantuk. Sekilas Ki Manguntara merasakan ada sesosok yang hadir di dekatnya. Sosok yang tidak dirasakan hawa kehadirannya. Berarti sosok ini lebih tinggi kesaktiannya.
"Aku tunggu di bawah!"
Ucap sosok itu lalu lenyap dan Ki Manguntara baru terkejut seperti bangun dari mimpi. Namun, perasaannya yang peka mengatakan ini bukan mimpi. Ini adalah petunjuk. Suara tadi adalah milik pendiri padepokan.
Segera saja sang mahaguru bangun lalu menuju ruang bawah tanah. Sampai di sana dia melihat sosok lelaki tua yang wajahnya hampir mirip dengannya dan tampak bersinar terang seperti sinarnya kitab Hyang Sajati.
"Eyang Mahaguru!" Ki Manguntara menjura. Begitu juga Adijaya langsung berdiri di samping Ki Manguntara dan ikut menjura. Dia baru tahu kalau kakek yang tiba-tiba saja hadir di hadapannya ternyata pendahulu Ki Manguntara.
Awalnya Adijaya menyangka Ki Manguntara sendiri karena wajahnya yang mirip. Setelah diperhatikan baik-baik ternyata kakek tua di hadapan mereka nampak seperti bayang-bayang saja. Bukan wujud fana.
"Aku hanya menyampaikan anak ini telah paham dengan isi kitab ini, dan tidak perlu berlatih secara tertutup lagi di sinu. Dia tahu inti sari kitab ini dan dia sedang menghapalnya,"
Suara yang dipanggil Eyang Mahaguru terdengar menggema. Karena sejatinya dia hanya sukmanya saja. Di alamnya dia merasa terpanggil ketika kitab Hyang Sajati mendapatkan jodohnya, sehingga dia ingin lebih tahu siapa yang telah beruntung itu.
Dan Eyang Mahaguru kagum dengan kepintaran Adijaya yang cepat paham dalam waktu singkat.
"Aku hanya menyarankan itu," lanjut Eyang Mahaguru. "Biarkan dia menghapalnya di luar, hasilnya kau boleh coba, Manguntara!"
Setelah berkata begitu sosok bayangan Eyang Mahaguru perlahan sirna lalu lenyap. Dua manusia berbeda umur yang dari tadi menahan napas, kini menghembuskan dengan lega.
"Sudah sampai mana kau menghapalnya?" tanya Ki Manguntara.
"Baru sepuluh halaman, Kek!"
"Besok pagi aku tunggu kau di aula pertemuan. Seperti kata Eyang Mahaguru, sekarang kau boleh keluar. Bawa saja kitabnya!"
"Baik, Kek!"
________
__ADS_1
Baca dan nikmati.