Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Sukma Nenek Kembar


__ADS_3

Dari jauh Adijaya sudah menduga-duga dua penjaga gerbang kedua ini pasti sosok yang sudah dia kenal. Dan ternyata dugaannya tidak meleset sama sekali. Mereka adalah nenek kembar.


Nyai Gandalaras guru dari istrinya dan Nini Bedul penghuni bukit Bedul. Adijaya lupa nama asli nenek ini, yang pasti agak mirip dengan saudara kembarnya. Mereka berdua tewas oleh Jerangkong Koneng di bukit Bedul.


Seperti Ki Ranggasura sebelum terlepas buhul penjeratnya, nenek kembar berwajah pucat dan pasti tetap menyeramkan seperti pada waktu masih hidupnya.


"Apakah sukma tidak bisa kembali menjadi muda?" Pertanyaan konyol tiba-tiba saja keluar dari mulut Adijaya.


"Tergantung kemauan!" jawab Padmasari.


"Berarti mereka inginnya tetap berpenampilan menyeramkan, padahal mereka ingin menakuti siapa?"


"Juragan, tentunya!"


Padmasari sudah mengambil jarak. Adijaya berdiri tegap menatap tajam dua nenek yang berdiri empat tombak di depannya. Mereka memegang tongkat sama seperti Ki Ranggasura.


Menghadapi dua sukma sekaligus pasti lebih sulit. Adijaya siapkan kekuatan, dia angkat payung ke samping seperti mengangkat pedang.


Sepasang nenek kembar mulai bergerak. Mereka meloncat sambil berputar satu ke kiri satu ke kanan. Tongkat diputar cepat dan kuat. Mereka bertemu di satu titik, yaitu sasaran mereka.


Adijaya jongkok, melindungi dirinya dengan payung terbuka. Dua tongkat nenek kembar datang menggebuk payung.


Dukk!


Kejap berikutnya sepasang tongkat membabat ke bagian bawah. Adijaya yang sudah membaca serangan lawan, sudah lebih dulu meloncat lurus ke atas. Pada saat meluruk turun, posisi kepala di bawah.


Payung dalam keadaan terbuka ditodongkan ke bawah menjadikan sebagai tameng karena nenek kembar kini menusukkan tongkat ke atas.


Dess! Dess!


Ujung tongkat menghantam daun payung. Adijaya terpental balik ke atas. Pada saat itu dua nenek juga melesat ke atas hingga menyamai ketinggian lentingan Adijaya.


Dua tongkat kembali menggebuk sangat cepat. Adijaya yang tidak siap hanya mengandalkan Payung Terbang sebagai pelindungnya.


Brakk!


Walaupun hanya payungnya yang kena kemplang, tapi gebukkan tongkat itu sangat kuat sehingga tubuh Adijaya meluruk cepat ke bawah. Dia berhasil mendarat di tanah dengan sempoyongan, hampir jatuh.

__ADS_1


Tidak ada jeda untuk menghimpun tenaga. Dua nenek sudah turun sambil mengemplang lagi. Adijaya tidak sempat gunakan payung, maka dia berguling beberapa kali ke depan.


Setelah dirasa jaraknya cukup jauh, Adijaya segera bangkit dan berbalik, tapi dia terkejut ternyata nenek kembar tetap dekat dan melancarkan serangan tongkatnya.


Trakk!


Refleks Payung Terbang menjadi perisai ketika dua ujung tongkat hampir menyodok mukanya. Daya dorong tongkat sangat kuat menghantam daun payung, sehingga sukma Adijaya ikut terdorong jauh.


Ada kesempatan untuk mengambil jarak. Adijaya berjalan mundur sambil berpikir keras bagaimana cara mendekati nenek kembar untuk mencabut buhulnya, sedangkan tongkat mereka terus memburu.


Posisi nenek kembar selalu berdekatan dalam menyerang. Yang satu saling membantu yang lainnya. Ketika posisinya masih sejajar, Adijaya bisa menghalau serangan mereka.


Namun, ketika mereka melebar satu di kanan dan satu di kiri, Adijaya agak kerepotan menerima serangan bersamaan. Beruntung dia bisa bergerak sangat cepat. Pada saat menghindari serangan sebelah kiri, di sebelah kanan dia menangkis serangan satunya.


Begitulah dalam beberapa lama, posisi Adijaya hanya bertahan. Dia mengandalkan kecepatan, kekuatan dan ketepatan. Pikirannya harus tepat mengambil keputusan dalam waktu sepersekian kejap.


Satu ide terlintas dalam benaknya, tanpa pikir panjang dia langsung menggunakan idenya. Tak peduli hasilnya bagaimana nanti. Yang penting harus dicoba. Mencoba adalah pengalaman.


Adijaya bergerak memutari salah satu nenek, tentunya dengan kecepatan kilat. Begitu berada di belakang si nenek, dia menggunakan sukma entah Nini Bedul atau Nyai Gandalaras sebagai tameng.


Bagian tengkuk nenek ini dicengkeram kuat sambil digerak-gerakkan untuk menghalau serangan tongkat nenek satunya. Nenek yang dicengkeram juga memutarkan terus tongkatnya ke belakang, tapi selalu ditangkis Payung Terbang.


Brett!


Sukma si nenek langsung mematung. Adijaya segera menjauh karena nenek satunya terus menyerang. Setelah berada di tempat yang siap, dia mulai menghadapi nenek yang tinggal sendirian ini.


Padmasari mendekati nenek yang sudah terlepas buhulnya. Nenek ini jatuh berlutut. Wajahnya tampak berwarna, dan kedua matanya bersinar. Jubahnya juga berubah putih.


"Kau sudah bebas!" Padmasari memberi tahu.


Si nenek berdiri lalu menoleh ke saudara kembarnya yang masih bertarung.


"Jangan khawatir, Juragan pasti dapat membebaskan saudara kembarmu!"


Si nenek menatap Padmasari. Tatapan yang penuh rasa terima kasih dan juga harapan. Harapan agar saudaranya juga bebas dari jeratan buhul.


"Aku percayakan kepada dia, untuk menumpas Jurig Kaladetya!" Hanya itu yang diucapkan si nenek sebelum soaoknya naik ke atas kemudian berubah menjadi percikan asap dan menghilang.

__ADS_1


Tinggal menghadapi satu sukma nenek kembar, Adijaya tidak kerepotan lagi. Dulu dia bisa membedakan nenek kembar dengan postur tubuhnya yang berbeda. Nini Bedul tampak bungkuk.


Sekarang keduanya sama-sama tegak, jadi tak bisa lagi membedakan mana Nyai Gandalaras dan mana Nini Bedul. Namun, satu di antara mereka kini sudah bebas. Tinggal satu lagi.


Adijaya tidak lagi hanya menggunakan payungnya untuk menahan atau menangkis serangan. Kadang tangannya juga tidak ragu menahan sabetan tongkat. Tentu saja tangannya sudah dilapisi tenaga dalam.


Kadang juga tangannya bergantian memegang payung. Jurus-jurus si nenek kini mudah dibaca. Tinggal mencari kesempatan untuk melepaskan buhul.


Kesempatan itu datang ketika satu sodokan tongkat mengarah ke muka. Adijaya malah bergerak maju seperti membiarkan wajahnya terkena serangan.


Namun, satu senti lagi hampir kena, kepala Adijaya mengepos sedikit sehingga tongkat menusuk udara dan sukma si nenek makin mendekat. Pada saat itu Adijaya meliuk cepat hingga posisinya berada di belakang si nenek.


Brett!


Tangannya berhasil mencengkeram leher. Tanpa menunggu lama tangannya segera menjambret buhul yang menempel di tengkuk si nenek. Sukma nenek ini langsung mematung lalu jatuh berlutut. Adijaya kembali ke depan.


Memastikan bahwa sukma nenek ini telah terbebas dari jeratan buhul. Benar saja, wajah dan matanya kini tampak bersinar. Jubahnya juga berubah putih.


"Bagaimana keadaan muridku?" Pertanyaan itu yang keluar dari mulut si nenek. Berarti dia adalah Nyai Gandalaras.


"Dia baik-baik saja, dia akan jadi ibu!"


"Kalian sudah menikah?"


Adijaya mengangguk sambil tersenyum.


"Jaga dia!"


Kemudian sukma Nyai Gandalaras yang semasa hidupnya bergelar Pendekar Pedang Bunga melayang ke atas dan lenyap menjadi serpihan asap tipis. Adijaya memandanginya sampai benar-benar lenyap.


Adijaya menoleh ke Padmasari yang sudah berdiri di dekat gerbang.


"Aku dengar nenek tadi menyebut sebuah nama!"


"Jurig Kaladetya!"


"Hmmm... Menyeramkan!"

__ADS_1


Kemudian langkah mereka memasuki gerbang ke dua.


__ADS_2