
Adijaya memasuki alam lain yang dihuni oleh makhluk semacam Padmasari dan Ki Santang. Dia tidak bisa menunggu kebangkitan Ganggasara. Harus segera dicegah agar tidak menimbulkan malapetaka di kemudian hari.
Kalau saja tidak akan menganggu ketentraman bangsa manusia, tidak akan dia bertindak seperti ini. Mencegah itu lebih baik.
Di alam ini tentu saja Adijaya membutuhkan dua pendampingnya. Di sini wujud mereka selalu terlihat, seperti halnya manusia dengan manusia di alam nyata. Ki Santang berwujud payung yang selalu dibawa Adijaya.
Sementara Padmasari tetap berwujud wanita cantik yang mendampingi sang pendekar. Mereka melangkah menyusuri jalan di alam lelembut yang tidak jauh berbeda dengan alam nyata.
"Seperti apa siluman yang menjadi junjungan Ganggasara?"
"Sangat kuat menurut ukuran kami,"
Adijaya merasakan jantungnya berdebar. Pikirannya mendadak ragu, apakah dia mampu melawan musuhnya kali ini?
"Kenapa dia bisa menjadi majikan Ganggasara?"
"Karena manusia itu memberikan imbalan yang dia sukai,"
"Misalnya?"
"Sukma orang-orang sakti. Kekuatannya diserap lalu sukmanya dijadikan budak,"
Adijaya bergidik ngeri membayangkannya. Menjadi budak di alam keabadian, tidak bisa mati lagi sampai datangnya hari perhitungan.
"Sayangnya di sini aku tidak bisa menggunakan ilmu Serap Sukma, aku hanya bisa mengandalkan ajian Membalik Langit dan Bantai Jagat,"
"Dan ingat, kami tidak bisa mati!"
Adijaya terperanjat hampir lupa dengan hal ini. "Jadi kita mau kemana dulu sekarang?"
"Mencari Labu Penyedot Sukma!"
"Oh, ya ya ya!" Adijaya angguk-angguk sambil memegang dagunya. "Tapi, bukannya itu susah dicarinya?"
"Bukan berarti tidak ada, kan?"
"Betul, lantas bagaimana cara mengetahui bahwa di suatu tempat terdapat labu itu?"
"Lempar payung itu!"
Adijaya langsung melakukannya. Payung jelmaan Ki Santang itu berdiri tegak di tanah.
"Santang, kau sudah memiliki kekuatan baru untuk mendeteksi keberadaan Labu Penyedot Sukma. Tunjukkan kepada kami tempatnya!" perintah Padmasari.
__ADS_1
"Siaaap!" Terdengar suara Ki Santang menyahut.
Kemudian payung berputar cepat di atas tanah. Awalnya daun payung masih melipat, lama-lama semakin mengembang dan terbuka penuh.
Selanjutnya Payung Terbang bergerak-gerak di tanah. Ujungnya menggores tanah seperti sedang membuat sebuah gambar. Memang, payung itu gambar wilayah. Setelah selesai payung menutup dan kembali ke genggaman tangan Adijaya.
"Apa itu?" Adijaya melihat sebuah gambar yang menurutnya susah untuk dimengerti.
"Lembah Saloka, mari Juragan!"
Padmasari langsung melangkah cepat menuju arah di mana terdapat lembah Saloka berada. Adijaya buru-buru mengejar wanita guriang itu.
Perjalanan Adijaya melewati sebuah bukit batu yang bentuknya aneh. Tidak ada pohon besar di sekitarnya. Hanya semak-semak dan rerumputan liar. Bentuk bukit ini seperti batok kura-kura.
"Di balik bukit itu lembahnya!" tunjuk Padmasari.
Padmasari tidak berjalan menaiki bukit, tapi memilih jalan memutar yang agak jauh. Padahal menaiki bukit juga tidak terlalu sulit. Apalagi batu semua yang tidak licin sehingga kecil kemungkinannya kalau sampai terpeleset.
"Kenapa tidak naik bukit saja?"
"Nanti kura-kura itu bangun!"
"Jadi itu benar-benar kura-kura?"
Jalan mengelilingi bukit kura-kura lumayan panjang juga. Adijaya mendongak ke langit. Terang, tapi tidak ada matahari. Apakah di sini selalu terang tidak ada malam hari?
Padmasari melanjutkan langkah ke jalan setapak yang menurun. Semakin menurun, pepohonan semakin tinggi dan besar. Lama-lama seperti memasuki sebuah hutan. Baru sadar kalau di alam ini tidak terasa hembusan angin.
Semakin turun suasana semakin berkurang cahaya karena rapatnya pohon dan rimbunnya dedaunan. Sepanjang jalan Adijaya mengitarkan pandangan ke setiap arah. Dia merasakan suasana yang sangat aneh, seperti di dalam mimpi.
Makin aneh lagi ketika Padmasari berhenti di suatu tempat yang memisahkan antara terang dan gelap. Ya, di depan sana terlihat gelap seperti malam hari. Sedangkan di tempatnya berdiri walaupun agak gelap, tapi menunjukkan siang hari.
"Bagian yang gelap itulah lembah Saloka!"
Baru selesai Padmasari berkata, tiba-tiba terasa energi dingin yang begitu kuat sampai menekan ke ulu hati. Adijaya segera lindungi diri dengan hawa sakti Melati Tunjung Sampurna.
Lalu terlihat daun-daun bergoyang cepat seperti tertiup angin padahal sama sekali Adijaya tak merasakan adanya hembusan angin.
Padmasari mundur hingga berdiri sejajar dengan majikannya. Dari arah kegelapan muncul satu sosok tinggi besar. Tingginya dua kali lipat tinggi Adijaya. Besarnya sampai empat kali tubuhnya.
Bentuk sosok ini menyerupai manusia. Kulitnya merah, wajahnya seperti burung gagak. Dia hanya mengenakan celana sontog.
"Bangsa manusia?" ucap mahluk merah ini heran melihat ada manusia yang masuk ke alamnya. "Mau apa kau, kenapa tukang sihir itu mendampingimu?"
__ADS_1
"Saya hendak mengambil Labu Penyedot Sukma,"
Raksasa merah berwajah burung pelototkan mata dan membuka paruhnya lebar-lebar. Terlihat lidah yang berwarna hitam yang ujungnya lancip seperti lidah ular.
"Ooh, manusia memang serakah, pembuat kerusakan di muka bumi, tidak akan kuberikan!"
"Saya hendak menggunakannya untuk kebaikan,"
"Kebaikan, hahaha... Kau terlalu membual. Aku tahu sifat manusia, kau pasti akan menggunakannya untuk menangkap siluman atau guriang untuk dijadikan budakmu!"
"Anda salah sangka!"
"Aku tidak percaya!"
"Kau harus percaya Buta Merah!" teriak Padmasari.
"Huh! Kau sudah menjadi budaknya, kan?" hardik Buta Merah kepada Padmasari.
"Kau salah, kau tahu, kan. Hukuman yang aku terima dari raja guriang? Dialah manusia yang ditakdirkan untuk membebaskanku, dan juga payung itu!"
Buta Merah terperanjat lalu menoleh ke payung yang dibawa Adijaya.
"Ah! Rupanya kau, Santang!"
"Ya, ini aku. Sebaiknya kau serahkan apa yang dia minta!"
"Hmmm...!" Raksasa merah berwajah burung gagak lipatkan tangan di dada. Kepalanya menggeleng pelan.
"Tujuan dia baik!" ujar Padmasari.
"Sayangnya tidak bisa. Aku ditugaskan untuk menjaganya. Aku akan mempertahankannya, meskipun kalian berdua membantunya aku tidak akan segan-segan!"
Padmasari tersenyum. "Kalau begitu kami akan memaksa!" Wanita guriang ini mundur menjauh hingga di sana hanya ada Adijaya dengan payungnya.
"Baiklah!" Buta Merah berkacak pinggang. "Aku akan melemparkan kalian dari lembah ini!"
Buta Merah putar kedua tangan di atas kepala. Seketika hawa yang semula dingin langsung berubah panas. Tidak ada angin berhembus, tapi hawa ini seperti mendorong kuat tubuh Adijaya.
Sang pendekar alirkan tenaga dalam ke dua kali sehingga tubuhnya terpatok ke tanah, tapi tidak sampai amblas. Payungnya juga ditekankan ke tanah agar tubuhnya tidak terdorong.
Setelah kekuatannya tersebar merata dan cukup untuk menahan dorongan tak kasat mata itu, Adijaya angkat payung siap menyerang.
"Manusia, lumayan juga kekuatanmu!"
__ADS_1
Belum selesai ucapan Buta Merah, Adijaya langsung menerjang. Payung Terbang diputar lalu menusuk ke arah leher si raksasa merah.
Wutt!