
Ada perasaan aneh menyelimuti pikiran Adijaya terhadap kekasihnya itu. Gadis mungil itu kabur dari rumah karena menolak dijodohkan. Pelariannya cukup jauh sampai menemukan rumahnya di bukit Gajah Depa.
Yang membuat aneh itu, Asmarini banyak tahu segala hal. Di mulai dari tentang racun, nama-nama kerajaan bawahan Tarumanagara. Sekarang, letak sebuah desa juga dia hafal.
"Sepertinya Dinda tahu semua nama dan jumlah desa di negeri ini," kelakar Adijaya.
Asmarini hanya terkikik dari dalam.
"Aku harus lebih banyak belajar dari Dinda,"
"Kakang suka merendah. Kebetulan saja aku tahu desa yang akan kita tuju karena sebelumnya aku pernah melewatinya. Ketika pelarian dulu,"
Tiba-tiba kereta berhenti. Suara ringkikan kuda terdengar nyaring. Dua binatang ini sepertinya sangat kaget melihat sesuatu di depannya.
"Ada apa, Kakang?"
"Ada masalah!"
Asmarini menyeruak keluar. Terlihat lima orang lelaki bertampang garang menghadang jalan mereka. Penampilan seperti itu tidak jauh pasti sekomplotan perampok.
Sepasang yang mirip ayah dan anak ini baru sadar kalau jalan yang dilewati sekarang berada di kawasan yang sepi. Daerah kesukaan para perampok untuk menangkap mangsanya.
"Orang tua!" teriak salah satu dari kelima penghadang itu menunjuk kepada Adijaya tua. "Jika kau ingin hidup lebih lama lagi, tinggalkan kereta kuda dan putrimu itu!"
Penyamaran Adijaya cukup sempurna, lima lelaki bertampang garang itu menyangka Adijaya adalah orang tua.
Asmarini mencibir. "Siapa kau berani mengatur hidup orang lain?"
"Hei, gadis cilik! Aku yang akan menjadi dunungan-mu sekarang!"
Lalu terdengar gelak tawa menggelegar dari kelima orang itu. Tawa pongah seolah mereka bisa mengatur hidup seseorang semudah membalikan telapak tangan.
"Memangnya kalian mampu?" ejek Asmarini.
"Heh! Punya nyali juga kau, se-!"
Belum selesai ucapannya kelima orang ini dikejutkan oleh si gadis yang sudah berkelebat sambil mengirimkan tendangan.
Wutt!
Kelima lelaki bertampang garang mengambil langkah mundur untuk menghindar. Serangan gertakan Asmarini hanya mengenai ruang kosong.
Tapi gadis lincah ini dengan gesit sudah melepas serangan susulan. Gerakannya sangat cepat, dalam sekejap lima serangan terkirim ke lawannya.
Kelima orang ini tidak menyangka gadis mungil ini begitu berani menghadapi sendirian. Segera saja mereka membentuk formasi jurus. Mengurung Asmarini dari lima arah.
__ADS_1
Dari tempatnya Adijaya merasa khawatir kali ini si gadis menghadapi lawan yang sulit. Tapi kali ini jurus yang diperagakan Asmarini tampak berbeda dari sebelumnya.
Kali ini Asmarini mengeluarkan jurus Tarian Walet. Jurus yang lebih hebat dari Tarian Japati. Jurus ini juga ada sembilan tingkat. Dan gadis ini sudah menguasai semuanya.
Semua jurus dan ilmu ajaran Nyai Gandalaras sudah ia warisi. Makanya nenek itu juga segera mewariskan Pedang Bunga kepadanya.
Asmarini cukup kesulitan membongkar pertahanan lawannya. Ini yang pertama kalinya menghadapi lima orang sekaligus. Mungkin dibilang termasuk ceroboh karena hasratnya yang besar akan petualangan, sehingga selalu menganggap dia mampu menghadapinya.
Namun, di sisi lain dia merasa tenang. Karena bila ia mendapat kesulitan, pasti Adijaya akan turun membantunya.
Sudah dua puluh jurus berlalu, pertarungan tampak seimbang. Asmarini sudah mengeluarkan tingkat yang ke lima. Sampai salah satu dari lima lelaki bertampang garang itu melakukan serangan bok*ngan dengan melempar senjata rahasia.
Sring!
Adijaya yang melihat kecurangan itu segera menyentilkan jari yang sudah diisi tenaga dalam. Seperti menyentilkan sebuah kerikil, padahal itu tenaga dalam yang dipadatkan seperti kerikil.
Tring!
Sentilan itu tepat menghantam senjata rahasia yang meluncur hampir mengenai Asmarini. Senjata rahasia yang berupa paku itu terpental entah kemana.
Asmarini terkejut mendapat serangan curang walau selamat. Dia mendengkus kesal, amarahnya tersulut. Segera dia cabut Pedang Bunga.
Sring!
Seketika aroma harum pekat menebar. Lima lelaki bertampang garang tersurut beberapa langkah. Aroma wangi yang pekat membuat kepala pusing.
Sring!
Serentak mereka juga mengeluarkan senjata. Sebuah parang besar tergenggam di tangan masing-masing. Mereka siap menyerang dengan jurus barunya.
Namun, belum sempat mereka bergerak, tiba-tiba dari arah belakang kereta berkelebat enam sosok menghampiri mereka. Lima sosok mendarat mengurung lima lelaki bersenjata parang.
Satu sosok berdiri di samping Asmarini. Seorang pemuda rupawan yang mengenakan pakaian keprajuritan. Tampak tinggi dan gagah. Sebilah pedang menggantung di pinggang.
"Biar kami yang mengurusnya, Ni Sanak!" katanya pelan dan sopan dengan sedikit senyum.
Sejenak si gadis lupa senyuman Adijaya, tapi segera sadar ketika suara benturan senjata terdengar dari arah depan.
Lima lelaki bertampang garang berhadapan satu lawan satu dengan lima orang berseragam prajurit. Prajurit dari mana ini? Pikir Asmarini sambil menyarungkan pedangnya.
Pertarungan satu lawan satu itu tidak memberikan kesempatan kepada lima lelaki bersenjata parang untuk menggunakan jurus berkelompok seperti sebelumnya saat mengeroyok Asmarini.
Sementara Adijaya merasakan hatinya berdebar-debar melihat gadisnya didekati lelaki lain.
"Ehem!"
__ADS_1
Asmarini terkejut mendengar suara berdehem. Dia menengok ke arah Adijaya. Mendadak perasaannya jadi tidak enak. Segera saja dia berdiri agak menjauh dari pemuda di sampingnya.
Kembali ke pertarungan. Masih tampak seimbang. Masing-masing mengeluarkan jurus mematikan. Lima orang berseragam prajurit menggunakan senjata pedang.
Suara beradunya senjata yang begitu nyaring memekakkan telinga bagi orang biasa. Tapi bagi yang memiliki tenaga dalam semua itu tidak berpengaruh.
Adijaya beringsut turun lalu mendekati Asmarini. Mereka saling bertatapan sejenak sebelum kembali menyaksikan pertarungan yang cukup sengit.
Pertarungan sudah berubah sekarang. Lima lelaki bertampang garang tampak terdesak, walaupun belum ada satupun yang terluka. Sekuat tenaga mereka bertahan agar terhindar dari serangan yang mematikan.
Dalam sudut pandang Adijaya, pertarungan ini tampak ada yang ganjil. Namun, dia tidak akan bertindak apapun. Dia akan mengikuti apa yang akan terjadi selanjutnya. Semoga Asmarini juga menyadari keganjilan ini.
Buk! Bruk! Gedebuk!
Lima lelaki bersenjata parang tersungkur dan tak bisa berkutik lagi karena pedang lawan sudah menodong di wajah masing-masing.
"Ikat mereka!" perintah pemuda yang berdiri di dekat Asmarini.
"Terima kasih atas bantuan Ki Sanak!" ucap Adijaya.
"Sudah menjadi kewajiban kami, para perampok itu harus dibasmi,"
"Kalau boleh tahu, Ki Sanak ini siapa?" tanya Asmarini.
Adijaya mengikut pelan si gadis. Asmarini hanya meliriknya sejenak.
"Perkenalkan, saya senapati Suta Wingit dari kerajaan Purwa Sedana,"
Adijaya dan Asmarini sempat kaget mendengarnya, tapi mereka cepat menguasai diri. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Yang dicari-cari kini datang sendiri.
Kelima perampok itu sudah diikat kuat. Yang satu menyambung ke yang lain sehingga tidak akan mudah melarikan diri.
"Kalau boleh tahu Ki Sanak berdua ini hendak kemana?" tanya Suta Wingit.
"Kami hendak pulang ke Wanagiri," jawab Adijaya mendahului Asmarini yang hendak menjawab. Si gadis terdiam.
"Bagaimana kalau saya mengundang Anda berdua sebagai tamu di kediaman Gusti Patih?" ajak senapati Suta Wingit.
"Gusti Patih?" tanya Adijaya.
"Oh, iya. Gusti Patih Munding Wirya!"
Adijaya tua tampak berpikir sejenak. Sementara Asmarini diam saja, mengikuti apa yang direncanakan kekasihnya.
"Baiklah, sebagai tanda terima kasih kami, tidak ada ruginya." Adijaya menyetujui ajakan itu.
__ADS_1
Memang itu tujuannya.