
Beberapa saat setelah Adijaya pergi mencari seseorang yang diminta Parwati, Asmarini turun dari kereta kuda lalu duduk di bangku yang tersedia di depan kedai. Sementara Parwati tetap di dalam. Keberadaanya masih harus disembunyikan.
Gadis mungil ini merasa bersemangat. Ini petualangan pertama setelah menikah. Dia berjanji pada diri sendiri untuk mempertahankan pernikahannya. Apapun rintangannya akan dihadapi.
Selain rasa cintanya yang benar-benar tulus, dia juga merasa bersalah atas perlakuan ayahnya. Dia seperti merasa berhutang kepada Adijaya dan harus dibayar dengan jiwa raganya.
Terlihat dari arah gapura desa beberapa orang menuju ke tempatnya. Mereka adalah orang-orang yang tadi menggangu Asmarini. Kali ini bersama seorang pemuda yang pakaiannya lebih mewah.
Asmarini sudah menduga hal ini. Mereka pasti kembali membawa seseorang yang lebih tinggi ilmunya dan pastinya posisinya juga.
"Itu dia orangnya, Juragan!"
Mendengar kata juragan dan melihat pemuda itu, berarti dia yang bernama Raksana yang hendak dijodohkan dengan Parwati. "Ternyata tampangnya tidak menarik sama sekali," batin Asmarini sambil tersenyum mencibir.
Raksana langsung menghampiri Asmarini yang kini sudah berdiri tapi tidak memandang ke arahnya. Sejenak matanya menggerayangi tubuh mungil si gadis.
"Oh, jadi kau yang telah membuat mereka luka-luka, cantik juga!" Kedua mata Raksana menatap nakal. Dia menelan ludahnya dan jakunnya naik turun. Seperti melihat santapan yang lezat.
"Iya, kenapa, tidak terima?" balas Asmarini santai tanpa menoleh sedikitpun. Tidak peduli juga tatapan nakal pemuda itu. "Dasar otak kotor!" umpatnya dalam hati.
"Tentu saja, kau harus menerima hukuman dariku atas perbuatanmu..."
"Hukuman?" potong Asmarini. "Siapa yang salah?"
"Ka-"
"Mereka yang salah!" Kali ini Asmarini menatap tajam pemuda di hadapannya. Raksana masih menyunggingkan senyum sinis.
"Oh, kau berani padaku?" tukas Raksana. "Tidak ada orang yang bisa melawanku dan menentang kehendakku!" Wajahnya berubah garang.
"Jadi aku harus bagaimana? Harus pasrah saja begitu ditindas oleh mereka?" Nada bicara Asmarini sengaja dibuat-buat tapi dengan wajah ketus.
"Rupanya kau minta disumpal mulutnya!"
"Coba kalau kau mampu!"
__ADS_1
Raksana langsung melepaskan serangan tapak. Dia tidak tanggung-tanggung mengerahkan tenaga dalamnya. Melihat keadaan anak buahnya cukup memberikan keterangan tentang kekuatan si gadis. Tapi dia tetap yakin bisa melumpuhkan gadis mungil ini.
Sebenarnya dia tidak ingin melukai si gadis karena tertarik pada bentuk tubuhnya yang indah walau mungil. Dia penasaran, sangat jarang ada gadis yang seperti ini.
Serangan pertama ini hanya mengenai udara. Asmarini mampu menghindar saat tapak itu hampir mengenai wajahnya. Posisi si gadis belum bergeser sedikitpun saat serangan susulan tiba.
Sampai tujuh serangan dalam tiga kejap, Asmarini mampu mengelak tanpa menggeser kedua kakinya. Tubuhnya meliuk indah membentuk jurus Tarian Japati. Anak buah Raksana sampai terpana melihatnya. Apalagi Raksana yang berhadapan langsung. Dia harus menahan hasratnya.
"Sebenarnya aku ingin langsung menghadapi ayahmu yang katanya orang paling sakti di desa ini!" pongah Asmarini memancing sambil terus menghindar.
"Melawanku saja belum tentu kau mampu!" dengkus Raksana meningkatkan kecepatan serangan. Kejap kemudian dia merasa salah berucap. Wajahnya bersemu merah.
"Apa tidak terbalik? Sudah berapa jurus kau keluarkan tapi tidak mampu menyentuhku?"
Raksana geram. Yang dikatakan si gadis memang benar, dia belum sekalipun menyentuhnya dengan serangan. Padahal sudah meningkatkan tenaga dan kecepatan. Ejekan si gadis berhasil membuat hatinya panas.
"Sebaiknya kembali saja dan memohon pada ayahmu!" Selesai bicara begitu Asmarini melihat celah lawan dan langsung dimanfaatkan.
Kaki kanannya membuat gerakan menendang dari bawah ke atas. Serangan cepat yang tidak mampu dihindari Raksana.
Pinggang kiri pemuda ini serasa remuk. Badannya terbanting ke kanan hampir jatuh kalau tidak segera menyeimbangkan diri. Jarak yang menjauh karena tendangan dimanfaatkan untuk menarik napas dan mengerahkan tenaga lagi.
"Cuma segitu?" Asmarini tersenyum mengejek.
Raksana semakin murka. Dia melihat ke anak buahnya, memberi isyarat agar membantunya. Tapi mereka tampak ragu. Sebelumnya mereka dibuat kewalahan walau jumlahnya lebih banyak.
"Bukankah kau lebih hebat dari anak buahmu, kenapa masih minta bantuan!"
Ejekan Asmarini semakin membuat mukanya merah. Hatinya panas. Tidak pernah ada orang yang berani menghinanya sebelumnya. Tapi gadis ini sama sekali tidak merasa takut.
Mungkin benar hanya ayahnya yang mampu menandingi. Tapi masa semuda ini ilmunya sudah tinggi? Siapa gurunya?
Raksana kertakkan rahang. Tidak ingin mendapat malu di depan anak buah sendiri, akhirnya dia kembali menyerang dengan tenaga penuh. Kali ini dia keluarkan senjata goloknya yang lebih besar daripada punya anak buahnya.
Wugh!
__ADS_1
Trang!
Entah kapan Asmarini menarik pedangnya, tahu-tahu sudah menangkis sabetan golok lawan. Golok besar bergetar saat beradu dengan pedang Bunga Emas. Gadis ini masih tetap kokoh berdiri.
Tangan Raksana yang memegang golok juga bergetar. Dia tidak percaya pedang ramping itu mampu menahan senjatanya. Tapi dia tidak memikirkannya lagi, dia terus memutar dan menebaskan goloknya sesuai dengan pola gerak jurus yang dipakai. Jurus andalan pula.
Angin menderu dari gerakan senjata besar ini. Sepertinya Raksana sudah sempurna menguasai jurus ini. Dia tidak kesulitan sama sekali menggunakan golok yang bobotnya lebih berat lipatan kali dari senjata biasa.
Tapi sayang, sampai sejauh ini dia tetap belum bisa menyentuh lawan. Bahkan sekadar merobek baju atau memutus sehelai rambut. Asmarini begitu lincah. Gadis ini seperti mendapatkan kekuatan baru setelah beberapa kali menggunakan pedang Bunga Emas.
Dan seperti biasa, aroma harum memenuhi udara tempat pertarungan berlangsung. Aroma harum yang entah bagaimana dibuatnya, Asmarini sendiri tidak mengetahuinya.
Beberapa hari yang lalu dia belum menemukan dirinya ketika adu tanding melawan Sekar Kusuma. Sekarang perasaannya semakin mantap.
Trang!
Plak!
Dua senjata kembali beradu sangat keras. Menimbulkan getaran yang juga keras. Asmarini baru tersurut tiga langkah ke belakang. Sementara Raksana lebih parah.
Sosok Raksana terpental hingga menghantam pagar pembatas. Goloknya patah sedikit di bagian atas. Dia tidak percaya dengan yang dialaminya. Benturan senjata itu membuat dirinya luka di bagian dalam. Darah menetes di sudut bibirnya.
Dengan menopang pada goloknya Raksana bangun perlahan karena menahan sesak di dada. Beberapa anak buahnya segera membantu lalu memapah majikan mereka pergi dari tempat itu.
"Kau akan menerima balasannya!" teriak Raksana.
"Baguslah, aku tunggu ayahmu dan sekalian guru ayahmu!" tantang Asmarini mencibir.
Asmarini menarik napas lega. Di sebelah sana rombongan Raksana berpapasan dengan Adijaya yang berjalan bersama seorang pemuda.
"Pasti suamiku juga mengalami hambatan di sana,"
Asmarini tersenyum manis meskipun Adijaya masih agak jauh. Dia akan menceritakan kejadian barusan dengan antusias.
Terima kasih buat yang udah mendukung novel ini. Semoga selalu diberikan rizki yang melimpah di masa pandemi ini. Aamiin...
__ADS_1