Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Ternyata Masalah Cinta


__ADS_3

Di saat yang lain berkumpul di depan aula pertemuan. Tajimeta malah mengurung diri di dalam asrama. Di salah satu tempat tidur yang berjajar, dia merenungkan sebuah kalimat yang diberikan mahaguru Manguntara.


Sudah dua hari dia memikirkan kalimat ini. Apa maksudnya? Apa isinya? Dia sama sekali tidak mengerti. Dua hari yang lalu dia menyelinap memaksa bertemu mahaguru untuk melakukan protes.


Menuduh Ki Manguntara pilih kasih, diam-diam mengajari Anjasmara. Lalu dia berikan sebuah kalimat yang katanya, Anjasmara juga menerimanya. Dan menunggu hasilnya setelah tiga hari.


"Lalu kenapa Anjasmara diam-diam diajari sebuah jurus?" pikirnya. "Jangan-jangan Mahaguru berdusta, sengaja membuatku berpikir keras. Sementara dia terus mengajari Anjasmara diam-diam!"


Dua tangan Tajimeta mengepal kuat, giginya merapat sehingga rahangnya mengeras. Tatapannya penuh kebencian. Rasa dengki telah mengotori pikirannya. Sementara otaknya tak mampu mencerna apa yang telah diberikan sang mahaguru.


"Ini tidak boleh dibiarkan, ini jelas tidak adil. Mahaguru mengistimewakan Anjasmara!"


Tajimeta bangun lalu melangkah keluar, tapi bukan menuju aula pertemuan. Kemana dia?


***


Adijaya mengacungkan sembilu yang dia pegang, memperlihatkan kepada semua orang, kemudian menjelaskan.


"Orang yang memiliki ilmu Menjerat Pikiran mempunyai alat ini untuk menguasai pikiran orang yang dituju. Caranya, ucapkan nama sasaran terus lemparkan sembilu ini ke atas.


"Maka sembilu akan berubah menjadi asap hitam tipis, asap itu terbang mencari sasaran yang dituju. Lalu menempel ke bagian tubuh mana saja, dan kembali berbentuk sembilu lagi sesudah menempel. Setelah itu, baru dia bisa dikendalikan dari jauh!"


Semua yang mendengarkan tampak manggut-manggut, kecuali Purana yang sekejap kemudian menjadi pusat perhatian. Seketika itu juga Purana tampak gugup.


"Periksa badannya, atau tempat tidurnya!" perintah Adijaya.


Segera saja dua anggota Dewan Kehormatan memeriksa sekujur tubuh Purana. Dan ditemukanlah belasan sembilu yang bentuknya sama dengan yang ditemukan di badan empat tersangka.


Wajah Purana pucat pasi mulutnya terbuka, tapi tak sepatah katapun terucap. Semua orang berkesimpulan dialah pelaku pembunuhan dua orang murid tempo hari lalu, tapi dia berpura-pura sedang difitnah.


"Ternyata begitu!"

__ADS_1


"Licik dia!"


"Ya, hampir saja kita percaya dia difitnah!"


"Berarti dia murid durhaka!"


"Ya, pengkhianat!"


Suara bisik-bisik itu memenuhi dalam dan luar ruangan. Mereka tidak memikirkan dari mana Adijaya mengetahui tentang ilmu Menjerat Pikiran, tapi bagaimana dia membuktikan ternyata Purana memiliki ilmu tersebut.


"Pembunuhan pertama, dia yang melakukannya sendiri," lanjut Adijaya. "Dia sengaja meninggalkan senjatanya menancap di tubuh korban. Agar terkesan dia difitnah!"


"Dan pembunuhan kedua, baru dikendalikan dari dalam kurungan!" timpal Anjasmara yang sudah mengerti dengan penjelasan Adijaya. "Tujuannya agar semakin jelas bahwa dia difitnah!"


"Tapi masih ada tujuan utamanya!" sahut Adijaya.


Ki Manguntara berdiri, lalu mendekati Purana yang perasaannya sudah tidak karuan. Keringat mengucur deras di dahinya. Kedua tangannya tampak gemetar. Dia seperti melihat sesuatu yang menakutkan.


"Katakan, kenapa kau membunuh temanmu?" tanya Ki Manguntara pelan. Tidak ada nada membentak sedikitpun.


"Uhuk...uhuk!" Adijaya terbatuk-batuk seolah tersedak minuman atau makanan. Asmarini segera mengusap-usap punggung sang suami.


Wanita memang membawa masalah. Dengan adanya murid wanita di padepokan, pasti masalah seperti ini akan timbul. Adijaya pernah merasakannya sewaktu di padepokan Linggapura, tapi diselesaikan dengan cara pendekar.


Persoalan cinta terkadang membutakan mata.


Suasana yang semula tegang kini riuh dengan tawa semua orang. Tak terkecuali Anjasmara juga tak bisa menahan tawanya sambil memandang ke arah Parta Dinata. Tatapan menyindir. Parta Dinata menyembunyikan wajahnya yang merona merah.


"Ternyata urusan cinta!" gumam Adijaya, tapi masih di dengar istrinya sehingga si mungil tertawa geli.


Anjasmara memerintahkan agar empat tersangka dilepaskan. Dia mendekati Purana yang tak dapat menyembunyikan rasa malunya.

__ADS_1


"Kita ini di dunia pendekar, jadi segala sengketa diselesaikan dengan cara kependekaran. Yang kalah harus berjiwa besar. Jangan main curang dengan ilmu Menjerat Pikiran atau juga ilmu pelet!"


Pada saat mengucapkan ilmu pelet, Anjasmara melirik ke arah Parta Dinata. Yang bersangkutan segera tundukkan wajah. Adijaya dan Asmarini hanya tertawa tak bersuara melihatnya.


"Tapi Purana harus tetap dihukum!" lanjut Anjasmara. Lalu dia menghadap ke mahaguru, menyerahkan keputusan kepada sang pemimpin tertinggi.


Ki Manguntara menarik napas sebelum bicara. "Ada dua kesalahan yang dilakukan Purana. Membunuh dan diam-diam berguru kepada orang lain tanpa ijin. Ingat, aku tidak melarang kalian mencari ilmu di luar padepokan. Tapi, harus mendapat ijin dulu.


"Untuk pembunuhan, jelas hukuman mati. Dan untuk yang kedua, dilenyapkan ilmunya dan dikeluarkan dari padepokan. Namun, demi memberikan kesempatan kepadanya agar merenungkan kesalahannya dan berubah menjadi lebih baik, maka..."


Ki Manguntara berhenti sejenak. Memandang ke seluruh hadirin. Sikapnya, sorot matanya yang berwibawa mampu menghipnotis sehingga ruangan itu tampak sunyi. Mereka menahan napas menunggu sang mahaguru melanjutkan perintahnya.


"Purana hanya dilenyapkan ilmunya dan dikeluarkan dari padepokan!" Begitupun vonis yang dijatuhkan untuk Purana yang disambut dengan hembusan napas lega.


Ada yang setuju ada juga yang tidak. Namun, keputusan mahaguru tak bisa diganggu gugat. Anjasmara yang mengeksekusi Purana. Beberapa urat penting diputuskan untuk melenyapkan semua ilmu yang telah Purana miliki. Termasuk ilmu Menjerat Pikiran.


Persidangan selesai. Empat sesepuh sudah meninggalkan ruangan. Empat tersangka sudah dinyatakan bebas. Adijaya dan istri juga sudah kembali ke rumah kereta. Para murid membubarkan diri langsung melakukan kegiatan rutin yang tertunda.


Purana hari itu juga meninggalkan padepokan. Dia sudah bukan lagi murid Karang Bolong. Raut penyesalan nampak di wajahnya. Dia sadar, yang dia lakukan hanya karena napsu belaka.


Seandainya dia berpikir jernih, perkataan Anjasmara memang benar. Sebagai pendekar tentu menyelesaikan masalah secara pendekar pula.


Termasuk urusan perempuan. Bukankah sudah banyak sayembara memperebutkan seorang putri misalnya. Seandainya dia memilih untuk menantang dua orang yang telah dibunuhnya untuk memperebutkan wanita yang dia sukai, mungkin kesempatan menangnya akan lebih besar.


Karena secara ketangkasan dia lebih unggul daripada mereka, tapi dia telah memilih jalan keliru hanya karena terburu-buru napsu.


Tapi apa daya, semua sudah terjadi. Dan sekarang dia kembali menjadi manusia biasa. Akhirnya dia hanya pasrah dan mulai memikirkan rencana ke depannya. Hendak jadi apa dia nanti.


Masalah di padepokan Karang Bolong belum selesai. Ki Manguntara kini menunggu hasil yang akan ditunjukkan Tajimeta. Sang mahaguru sudah menebak watak murid yang satu ini.


Ki Manguntara segera memanggil Anjasmara dan beberapa anggota Dewan Kehormatan.

__ADS_1


____


Baca dan nikmati, terima kasih yang udah bikin semangat.


__ADS_2