
Asmarini mendarat di depan lelaki tua itu. Seorang kakek berpakaian serba kuning. Rambut putih gimbal juga jenggot tebal putih semua. Kedua matanya cekung. Muka kuning ada bintik-bintik hitam.
"Aku sepertinya mengenali jurus-jurusmu, gadis kecil!"
"Tebak saja sendiri, orang tua!"
"Hmm... kau pasti muridnya Gandalaras,"
"Tepat sekali, Ki Candala,"
"Untuk apa kau susah-susah menemuiku? Sudah tahu, kan, aturannya?" tanya Ki Candala. Sepasang mata cekungnya memandang ke arah Adijaya yang masih duduk tenang di kereta.
"Lupakan peraturan! Aku kesini untuk memberi tahu, racun Pelebur Jiwa ciptaanmu ditemukan dalam makanan. Dan telah merenggut korban satu keluarga kaya raya. Harta bendanya ludes!"
Ki Candala sempat terkejut gadis ini ternyata mampu mengenali racun buatannya. Wajahnya yang kuning berubah hijau.
"Kau menuduh aku pelakunya?" teriak Ki Candala.
"Tentu tidak!" tukas Asmarini. "Kau tidak tergoda dengan harta yang melimpah, kau juga tidak mempunyai silang sengketa dengan keluarga Brata Kusuma. Aku hanya ingin tanya, siapa yang telah membeli racun itu?"
Ki Candala tertawa mengekeh. "Yang membeli racun kepadaku itu banyak, siapa yang kau maksud?"
"Racun Pelebur Jiwa paling mahal harganya, hanya orang-orang tertentu yang mampu membelinya,"
Ki Candala mendesah sambil mengelus-elus jenggotnya yang tebal. Kembali dia melirik ke arah Adijaya. Kedua orang tamu tak diundang ini belum pernah melihat. Walaupun si gadis muridnya Nyai Gandalaras juga baru bertemu sekarang.
Pengetahuan si gadis tentang dirinya pasti didapat dari nenek berjuluk Pendekar Pedang Bunga itu.
"Apa hakmu menanyakan itu?" tanya kakek berambut gimbal kemudian.
"Tentu saja untuk menemukan pelakunya!"
"Apa hubunganmu dengan keluarga yang tewas itu?"
"Tidak ada!"
"Hmmh... kau mau jadi pahlawan?"
"Mau katakan atau tidak!" suara Asmarini mengeras. Wajahnya dingin mengancam.
Tapi Ki Candala tetap tenang saja. "Semua yang membeli racun kepadaku, aku lindungi jati dirinya. Makanya aku buat peraturan seperti itu,"
"Bagaimana kalau aku membayar lebih?"
__ADS_1
"Tidak akan, aku melindungi mereka!"
Tiba-tiba Asmarini tertawa melengking. Adijaya sempat kaget mendengarnya, tapi malah tersenyum sambil geleng-geleng. "Lucu!" gumamnya.
"Kau melindungi mereka, padahal mereka telah menghilangkan nyawa orang lain. Entah ini lucu atau aneh!"
"Aku ahli racun, sudah kewajibanku merahasiakan jati diri pelanggan. Kalau kau memaksa, majulah. Aku ingin lihat apakah si Gandalaras itu becus mendidik muridnya!"
"Oh, rupanya kau memilih kekerasan. Baik!"
Asmarini himpun tenaga dalam dan langsung menerjang, melepaskan pukulan tangan kosong. Kepala kakek itu yang dituju.
Dengan tenang Ki Candala menunggu datangnya serangan. Lalu tangannya menangkis saat pukulan lawan satu jengkal lagi mengenai wajahnya.
Tak!
Benturan tangan mengakibatkan getaran. Merasakan seberapa besar kekuatan masing-masing.
Si gadis sempat terkesiap merasakan tenaga dalam kakek itu lebih unggul atas dirinya. Tapi dia percaya diri dengan akal dan kelincahannya, yakin mampu mengatasi orang tua ini.
Kejap berikutnya di atas teras terjadi pertukaran jurus antara yang tua melawan yang muda. Walau lebih mengutamakan ilmu racun, tetapi Ki Candala tetap mengasah kepandaian silatnya.
Tentu saja harus tetap memiliki ilmu silat. Untuk mengatasi jika terjadi hal seperti ini. Memang jarang ada orang yang menuntut dirinya memberikan keterangan tentang pelanggannya. Karena jarang juga orang yang tahu racun buatannya.
Pertarungan kini sudah turun ke halaman. Dua orang penjaga tadi hanya berdiri menonton. Mereka yakin kalau majikannya sudah turun tangan tidak ada yang gagal.
Asmarini tetap mengeluarkan jurus Tarian Japati. Sudah tingkat ke enam. Gerakannya makin lincah dan cepat. Tubuhnya seolah-olah sangat ringan. Hawa sakti yang terpancar juga mempengaruhi gerakannya.
Sadar kalau kekuatan si kakek lebih tinggi darinya, maka Asmarini berusaha lebih banyak menghindari benturan. Dia lebih memilih mencari celah untuk menghantam bagian yang lengah.
Dari kereta Adijaya mengamati pertarungan itu, dan sudah bisa dibaca siapa yang lebih unggul tenaga dalamnya. Tapi Asmarini lebih lincah dan cepat gerakannya.
"Aku sangat salut kepada gadis itu. Membuatku kagum. Sekuat-kuatnya Ki Candala, dia sudah sepuh. Cepat terkuras tenaganya. Sedangkan Asmarini masih muda, masih menggebu-gebu. Tentunya cadangan tenaganya masih banyak,"
Dan benar saja, lama kelamaan gerakan Ki Candala melambat. Nafasnya mulai tak teratur. Meski sudah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Kakek ini tidak mengira akan menghadapi lawan seperti ini.
Biasanya mendapati lawan yang sangat terburu nafsu. Ingin segera menjatuhkannya lalu mengorek keterangannya. Tapi gadis ini begitu tenang. Atau memang sengaja, ini taktiknya. Menguras tenaga terlebih dahulu?
Ki Candala mulai terdesak. Apa boleh buat? Dia menggunakan cara licik agar tetap bertahan.
Serrr!
Sriiing!
__ADS_1
Asmarini yang tahu gelagat segera cabut pedang di pinggangnya untuk menghempas senjata rahasia beracun yang dilemparkan Ki Candala dengan cara yang hampir tak dapat dilihat oleh mata.
Senjata rahasia berupa puluhan jarum beracun berhamburan tidak mengenai sasaran. Kemudian aroma harum semerbak mencampuri udara di sekitar.
"Pedang Bunga, dia juga sudah mewarisinya!"
Ki Candala terkejut serangannya mampu dipatahkan. Kesempatan ini dimanfaatkansi gadis. Dia segera melepaskan tendangan yang cukup kuat.
Deg!
Kakek berambut gimbal itu tak memilki kesempatan untuk menghindar. Tendangan Asmarini mendarat telak di dadanya. Tubuhnya terhuyung lalu tak mampu menahan keseimbangan lagi sehingga jatuh terjengkang.
Ujung pedang Asmarini sudah mengancam di lehernya. Bau harum sangat menusuk hidungnya. Walau harum tapi kalau terlalu pekat, tetap saja bikin kepala pusing. Ini adalah kekalahan pertamanya.
"Baik, aku menyerah,"
"Katakan siapa orangnya, satu orang, dua orang atau berapa banyak yang mampu membeli racunmu yang paling mahal itu!"
Di tempatnya Adijaya tersenyum bangga. Dalam hatinya bertekad jangan sampai kehilangan cintanya lagi.
"Kalau yang tewas keluarga Brata Kusuma, yang membeli racun itu ya, anak laki-lakinya, Candra Kusuma,"
"Apa, kau masih berani bohong? Bahkan dia juga ikut tewas, bagaimana bisa?"
"Pergi saja, periksa sendiri kalau mereka belum dikuburkan. Kalau sudah dikubur, bongkar lagi kuburan anaknya yang laki-laki itu."
Asmarini tertegun. Ada yang aneh dari penjelasan Ki Candala. Banyak pertanyaan dalam pikirannya. Tapi si kakek tidak mungkin berdusta. Apa mungkin, Candra Kusuma pura-pura mati?
"Baiklah, terima kasih!"
Asmarini melangkah kembali ke kereta. Adijaya menyambutnya dengan senyum mesra. Si gadis jadi salah tingkah. Padahal ini bukan yang pertama kali pemuda itu tersenyum mesra.
"Dinda, hebat!" puji Adijaya.
"Kita kembali ke rumah Brata Kusuma,"
"Baik, tuan putri."
Asmarini tertawa kecil sambil memencet hidung sang kekasih.
Kereta kuda berputar arah, kembali ke rumah Brata Kusuma. Tapi sekarang tidak berlari kencang lagi.
Adijaya sempat terkejut mendapat keterangan dari kekasihnya. Tapi setelah Asmarini menjelaskan pemikirannya, si pemuda mulai paham. Kenapa Adijaya jadi terlihat bodoh? Padahal dulu dia sempat memecahkan kematian Ki Bayan, pekatinya Darma Koswara.
__ADS_1
[Kok, tokoh utamanya jadi penonton aja, ya? Tenang aja, belum saatnya.]