
Sepanjang perjalanan berikutnya tidak ada gangguan lagi yang menimpa Adijaya. Sikap tenangnya menutupi hatinya yang kecut.
Setelah kehilangan kekuatannya, benaknya lebih banyak dikuasai rasa takut.
Sebenarnya dia masih bisa mengingat dan hafal gerakan jurus-jurus yang dia kuasai. Hanya saja sekarang cuma bisa mengandalkan tenaga luar.
Kekuatannya benar-benar musnah semua. Tubuh yang kuat kini terasa keropos. Kulit yang kebal kini terhembus angin dingin saja terasa seperti ditusuk jarum.
Adijaya benar-benar kembali menjadi manusia lemah.
Bila di jalan menjumpai sebuah kedai. Dia akan membeli makan dengan dibungkus. Tidak lagi langsung dimakan, tetapi di bawa masuk ke kereta. Di makan di sana.
Walaupun sekarang kaya, Adijaya malas untuk tidur di penginapan. Dia hanya menghentikan kereta di tempat yang agak ramai, membeli makanan, lalu tidur jika sudah waktunya.
Dia juga tidak mempedulikan bila ada keributan antar pendekar. Hanya jadi penonton saja. Tidak mau ikut campur.
Intinya sekarang Adijaya lebih banyak mengurung diri di dalam kereta yang jadi kamar pribadinya. Sesekali dia memanggil guriang untuk menemani ngobrol. Suatu hal yang dulu jarang dilakukannya.
Beruntung dia memiliki kereta kuda yang besar ini. Apa jadinya kalau cuma jalan kaki? Tanpa kekuatan saktinya pasti akan membuat kedua kakinya bengkak-bengkak.
Adijaya menertawakan nasibnya. Tertawa getir.
Setelah menempuh perjalanan panjang. Akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Padepokan Linggapura.
Terlihat ada perubahan di padepokan itu. Ada beberapa bangunan baru berdiri. Bangunan kecil seperti rumah.
Entah kenapa dia tidak begitu bersemangat saat memasuki padepokan. Walaupun ingat Kinasih, tapi hatinya kecut.
Setelah menempatkan kereta kudanya, Adijaya langsung ke tempat Ki Ranggasura. Namun, sebelum sampai Arya Sentana sudah menyambutnya duluan.
"Adijaya, kau telah kembali!"
Adijaya tersenyum lalu menjura. "Saya hendak bertemu Kakek,"
"Kebetulan guru sedang bersemedi, belum bisa diganggu. Mari ke tempatku saja!"
Arya Sentana membawa Adijaya ke rumah baru miliknya yang belum lama di bangun. Rumah ini tentu saja ditempati bersama istrinya, Praba Arum.
Wanita itu juga menyambut Adijaya dengan senyum kecil. Pancaran matanya menyimpan sesuatu.
Adijaya dibawa masuk ke ruang tamu. Praba Arum segera menghidangkan beberapa makanan dan minuman.
"Bagaimana tugasmu?" tanya Arya Sentana setelah berbasa-basi sejenak.
Tanpa basa-basi juga Adijaya menceritakan keberhasilan tugasnya bersama Cakra Diwangsa.
"Hebat, sudah aku duga pasti kau berhasil!" puji Praba Arum.
Adijaya hanya senyum canggung.
"Paman, kenapa sekarang ada banyak rumah baru?" tanya Adijaya.
Mendengar pertanyaan itu Praba Arum tersenyum getir. Sedangkan Arya Sentana masih bisa menahan perasaan.
"Itu adalah rumah-rumah bagi mereka yang telah berjodoh,"
Arya Sentana menjelaskan bahwa antara murid laki-laki dan perempuan banyak yang saling menyukai. Kemudian Ki Ranggasura yang menjadi penghulu menikahkan mereka.
__ADS_1
Agar mereka lebih nyaman maka dibangunlah rumah-rumah sederhana untuk mereka tinggali. Satu rumah untuk satu pasangan.
"Termasuk rumah ini?" tanya Adijaya.
"Iya!" jawab Praba Arum.
"Rayi Komara juga sudah menikah," Arya Sentana memberi tahu.
"Oh, ya!" Adijaya tersenyum.
"Kau istirahatlah dulu di sini, Bibi mau memasak air."
Kemudian Praba Arum bergegas ke belakang. Sebelumnya dia melirik suaminya dulu.
Arya Sentana mengerti lirikan itu.
"Sebentar, kau makanlah. Perjalananmu pasti melelahkan."
Arya Sentana juga melangkah ke belakang. Sementara Adijaya yang sudah kehilangan ilmunya, sudah tidak peka lagi terhadap situasi di sekitarnya.
Di belakang sepasang suami istri ini tampak bingung memikirkan sesuatu.
"Bagaimana, Dinda? Sudah mendapatkan cara?"
"Kanda tenang saja, aku sudah mendapatkan caranya,"
"Ada yang aneh dengan Adijaya, apa Dinda bisa melihatnya?"
"Ya, dia tampak murung. Pancaran wajahnya tidak seperti dulu lagi. Tidak segar. Apa ada sesuatu yang menimpanya. Terus dia tidak menyinggung soal Kinasih,"
"Mungkin dia pendam saja."
Sebenarnya Adijaya ingin menemui Kinasih sendirian. Tapi entah kenapa Praba Arum menyarankan agar diantar bersamanya. Katanya malam nanti bibinya akan mengatur pertemuannya dengan Kinasih.
Kenapa harus diatur? Bukankah dulu mereka bebas bisa bertemu kapan saja mereka mau?
Ada yang aneh!
Perasaannya mendadak berdebar ketika di halaman depan rumah itu dia melihat ada sepasang manusia berjalan melewati halaman.
Adijaya hanya melihat punggung mereka. Tapi dari perawakannya tahu siapa yang perempuan.
"Kinasih!" desisnya. "Dengan siapa dia?"
Adijaya bangkit hendak mengejar. Tapi satu tangan menariknya.
"Tunggu, Adijaya! Mari ikut aku!"
Praba Arum menarik tangan Adijaya. Keluar rumah. Berjalan memutar ke belakang. Melewati jalan kecil lalu sampailah di halaman belakang sebuah rumah.
"Kau tunggu di sini!"
Praba Arum masuk ke rumah itu lewat pintu belakang. Agak beberapa lama wanita itu keluar lagi bersama Kinasih.
"Kalian bicaralah!" ujar Praba Arum sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.
Sepasang manusia ini saling menatap. Adijaya urungkan senyum kebahagiaannya ketika melihat raut wajah Kinasih yang datar saja.
__ADS_1
"Kenapa? Apa Nyai tidak senang aku kembali?"
"Jangan panggil aku begitu lagi!"
"A.. ada apa ini?"
"Kau lihat, ini rumahku," tunjuk Kinasih.
Adijaya tercekat. Ingat kata-kata pamannya. Setiap pasangan baru membangun sebuah rumah untuk mereka tinggali. Padepokan ini kini terlihat seperti sebuah kampung kecil.
"Jadi, kau..." Adijaya tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Kinasih diam saja dengan sikap dinginnya. Benar-benar berubah. Seperti tidak pernah mengenal sebelumnya. Sementara perasaan Adijaya berkecamuk tak karuan.
"Aku ingin tahu apa alasannya?" suara Adijaya kini bergetar.
Dadanya bergetar. Tangannya mengepal menahan perasaannya yang berkecamuk. Bibirnya bergetar. Matanya terasa perih.
"Kau pergi terlalu lama!" jawab Kinasih ketus. Lalu dia membalik badan meninggalkan Adijaya yang telah hancur hatinya.
Sampai di pintu, sekilas Adijaya melihat seseorang yang kini menjadi suami Kinasih.
Soma!
Dengan langkah gontai Adijaya kembali ke rumah Arya Sentana.
Dia tidak mengerti dengan nasib yang dialami. Sudah kehilangan kekuatan, sekarang kehilangan cinta juga. Rasanya dia ingin menjerit setinggi langit.
Praba Arum dan Arya Sentana juga merasa aneh dengan sikap Adijaya yang kini hanya murung di kamar. Apakah jiwanya serapuh itu?
"Mungkin ini pertama kalinya mengalami patah hati," ujar Praba Arum.
"Aku kira ada hal lain lagi yang membuatnya merasa terpukul. Ini aneh, seseorang dengan kekuatan besar pasti mampu mengendalikan perasaannya,"
"Kasihan dia!"
Sementara di dalam kamar Adijaya tak tahan membendung air matanya. Hanya saja dia masih mampu untuk tidak bersuara.
"Aku harus kuat. Harus! Ini garis hidup yang sudah ditentukan yang Maha Kuasa. Semua orang pasti mengalami hal ini."
Bukankah Kinasih pernah mengalami kehilangan suami?
Buat apa meratapi nasib? Tak akan mengubah apa yang sudah terjadi.
"Apapun takdirnya, hidup harus dijalani." nasihat Ki Ranggasura dulu.
Praba Arum menjelaskan setelah perasaan Adijaya agak tenang.
"Wanita itu tidak sanggup menunggu lama. Apalagi jika di dekatnya ada orang yang selalu memperhatikannya. Maka lama-lama hatinya akan luluh juga.
"Selain itu juga nasibmu belum tahu kepastiannya. Apakah masih hidup atau gagal dalam tugas. Tidak ada yang tahu. Atau bahkan kau tertarik wanita lain di luar sana,"
Adijaya menerima penjelasan ini. Memang bukan salah Kinasih. Mungkin lebih cenderung dia yang salah.
"Sebagai lelaki biasa aku memang menyukai banyak perempuan. Tapi sebagai lelaki sejati, aku lebih menjunjung kesetiaan," ucap Adijaya getir.
"Kau lelaki hebat, pasti akan mendapat jodoh yang hebat pula!"
__ADS_1
"Dan sebagai lelaki jantan, aku mengakui kesalahanku!"