Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Dendam Tak Pernah Habis


__ADS_3

Larasati langsung berlari ke orang tuanya. Dia tak menyangka kalau Pranata mempunyai niat buruk terhadapnya. Hampir saja dia terbujuk rayuannya.


Pranata sudah dibawa pergi. Hukuman mati menantinya. Tinggal tiga orang yang masih di sana.


"Terima kasih anak muda, sudah menyelamatkan putri kami," ucap ayah Larasati sambil menjura.


"Kiranya singgahlah sebentar di gubuk kami ini, hari sebentar lagi sareupna," ajak Larasati.


"Mungkin hanya dia yang akan singgah," kata Adijaya sambil mendorong Seta Aji ke depan.


Seta Aji gelagapan salah tingkah.


"Kami ada keperluan yang lain!" timpal Puspasari tersenyum.


"Mari!" ucap Adijaya.


Tanpa mempedulikan perasaan Seta Aji yang kebingungan, Adijaya dan Puspasari segera pergi.


Setelah jauh dari rumah Larasati ketika melewati jalan sepi menuju rumah Puspasari, perjalanan sepasang pemuda ini dihadang dua orang. Salah satunya mereka kenal, Ki Jantaka.


Yang satu lagi adalah seorang perempuan tua yang membawa tongkat. Wajahnya seram, tapi masih lebih seram Nini Bedul.


"Itu orangnya!" tunjuk Ki Jantaka ke arah Puspasari.


"Jadi gara-gara kau muridku tewas?" sentak si perempuan tua. Suaranya agak cempreng.


"Maksudmu Sukawati?" tanya Puspasari. "Bukankah Nyi Rengganis yang membunuhnya?"


"Ya, tapi gara-gara kau, istriku gagal mendapatkan ilmu yang diidam-idamkannya!"


"Jadi mau apa?" tantang si gadis.


"Tentu saja membalaskan dendamnya!" sentak perempuan itu.


Dendam memang tiada habisnya.


"Sudah tahu yang jelas-jelas salah itu istrimu, kalau dia mendapatkan karmanya ya itu wajar, lah, setimpal!" seru Adijaya menengahi.


"Diam kau!" semprot si perempuan.


"Nyai Permoni, habiskan saja mereka!" hasut Ki Jantaka.


"Biar aku yang mengatasi," kata Puspasari kepada Adijaya pelan. Pemuda itu mundur beberapa langkah.

__ADS_1


Puspasari berdiri tegap, tangan kanannya menggenggam gagang pedang yang menggantung di pinggang kiri. Walaupun cuma berdiri tapi ini merupakan kuda-kuda yang kokoh dan sikap waspada.


"Huh! Gadis sombong, rasakan ini!"


Belum selesai berucap perempuan bernama Nyai Permoni sudah menyodokkan tongkatnya ke wajah Puspasari.


Wutt!


Puspasari hanya mengegos sedikit sehingga sodokan tongkat kayu hitam mengenai tempat kosong, lalu badannya menyeruduk kedepan seperti hendak menubruk sambil menarik Pedang Ular Hitam.


Nyai Permoni menghindar ke kiri, ternyata gerakan itu hanya tipuan. Segera saja ia tarik tongkat lalu disabetkan ke badan lawan.


Tring!


Dua senjata beradu. Walaupun tongkat kayu tapi keras seperti baja sehingga menimbulkan suara berdenting.


Puspasari tahu bahwa lawannya akan seperti itu maka ia cabut pedang dan melintangkannya di belakang sehingga tongkat lawan beradu dengan senjatanya.


Dari sini mulai bisa diukur kekuatan masing-masing. Puspasari sedikit tersorong kedepan sedangkan Nyai Permoni juga terpental beberapa langkah.


Kejap berikutnya keduanya sudah bersiap dengan kuda-kuda mantap. Puspasari memaklumi kalau tokoh tua ini memiliki tenaga yang besar pasti karena pengalaman. Sementara Nyai Permoni sedikit terkejut melihat perempuan yang masih muda memiliki kekuatan yang tak bisa dianggap sembarangan.


Entah siapa yang mulai duluan, tahu-tahu keduanya bersamaan menerjang ke depan sambil mengayunkan senjata masing-masing.


Trang!


Trang! Trang! Trang!


Tongkat panjang Nyi Permoni kelihatannya lebih beruntung karena bisa menjangkau jarak lebih panjang. Tapi Pedang Ular Hitam yang lebih ringan namun kuat tak bisa dianggap remeh.


Sampai sejauh ini keduanya belum mengerahkan tenaga penuh. Masih ditahan-tahan. Malah sepertinya Puspasari sengaja melambat-lambat. Selain ingin menguras tenaga lawan juga mencari celah kelemahannya.


Sementara Nyai Permoni sepertinya dongkol, pertarungan ini dianggap main-main seperti latihan saja. Tapi bila dia tak bisa menahan amarahnya justru akan merugikannya.


Trang!


Sudah dua puluh jurus lebih belum ada satu pun yang terluka. Ini yang membuat hati Nyai Permoni semakin dongkol. Lawannya tak mudah ditaklukan.


Perkembangan dunia persilatan memunculkan tokoh-tokoh muda yang hebat. Baru usia muda saja sudah bisa menandingi kekuatannya. Tidak seperti dirinya dulu yang harus berlatih keras untuk bisa jadi seperti sekarang.


Trang!


"Gadis jelek! Sudah saatnya kau mamp*s!" maki Nyai Permoni.

__ADS_1


Wanita setengah baya ini kerahkan seluruh tenaga luar dan dalam. Alirkan hawa sakti ke setiap urat tangan. Disalurkan juga ke tongkat hitamnya sehingga tampak menyilaukan. Lalu diputar diatas kepala.


Wusssh!


Dari putaran tongkat ini mendatangkan angin dahsyat menghantam lawannya.


"Pukulan Tongkat Badai!" teriak Nyai Permoni melapatkan nama jurusnya.


Dengan sigap dan tenaga penuh Puspasari lintangkan pedang di depan. Tenaga sakti yang berpusat di pusarnya dialirkan ke seluruh tubuh. Sehingga kedua kakinya seperti terpatok ke tanah menahan tubuhnya agar tidak terdorong angin badai. Rambutnya yang panjang indah berkibar-kibar seperti dedauan di pucuk pohon.


Semakin keras diputar tongkatnya semakin dahsyat angin yang timbul. Bahkan seantero tempat bagaikan digulung badai. Daun-daun rontok, dahan pohon rapuh retak dan hancur, pohon-pohon kecil tumbang. Tapi Puspasari tetap kokoh di tempatnya.


Adijaya kagum melihat kekuatan sebenarnya yang ditunjukkan si gadis yang belum tahu siapa gurunya ini.


Sudah saatnya gadis jangkung ini mengeluarkan jurus andalannya 'Menusuk Gelombang Badai' sesuai dengan keadaannya. Berhasil atau tidak, harus dicobanya. Mencoba adalah pengalaman.


Puspasari lipat gandakan kekuatan di kedua kaki. Terus menyalurkan hawa sakti ke pedang. Terlihat badannya doyong ke depan sambil menjulurkan pedangnya. Seperti anak panah, tiba-tiba tubuhnya melesat ke arah Nyai Permoni.


Trang! Trang!


Wukk!


Crasss!


Pedang Ular Hitam menusuk menghancurkan putaran tongkat Nyai Permoni hingga kacau bahkan patah. Wanita setengah baya ini kaget bukan main.


Saking kagetnya dia tak sempat menghindar ketika diatas kepalanya tubuh Puspasari berputar sambil mengayunkan pedang hingga dadanya tersayat pedang cukup dalam.


Bruk!


Nyai Permoni terpental lalu ambruk. Angin badai seketika berhenti. Bagian dada yang tersayat terasa panas dan perih seperti ada sengatan dari luka sayatan menjalar ke seluruh tubuh. Wanita ini menjerit keras, tubuhnya kelojotan. Dan akhirnya melayang nyawanya.


Adijaya yang menyaksikan seperti melihat Puspasari dari sisi yang lain. Ilmunya dahsyat juga. Tidak berhenti dia memuji dalam hati. Pedang Ular Hitam di tangan pemiliknya sungguh mengerikan.


Melihat guru istrinya tewas mengenaskan, Ki Jantaka segera ambil langkah seribu. Entah kemana lagi dia akan berlindung jika Puspasari mengejarnya. Nyai Permoni yang dia andalkan ternyata tak mampu membalaskan sakit hatinya.


Puspasari tersipu-sipu ketika Adijaya memandanginya tak berkedip.


"Kau kenapa?"


"Aku baru tahu kehebatanmu yang sesungguhnya, mengagumkan," puji Adijaya.


"Masih tidak ada apa-apanya dibandingkan Pendekar Payung Terbang," balas Puspasari sambil melempar senyum.

__ADS_1


Sebenarnya Adijaya gemas melihat senyuman itu. Ingin rasanya mengecup bibir indah itu. Tapi dia calon istri orang. Akhirnya mereka hanya saling tatap mesra.



__ADS_2