Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Penginapan Orang Asing


__ADS_3

"Selamat datang Ki Sanak!"


Sapa seseorang di pintu masuk begitu melihat Adijaya datang. Logat bicaranya agak aneh. Setelah diperhatikan ternyata orang ini bukan pribumi, tapi sudah mampu berbahasa orang sini.


Dia memang memakai pakaian orang pribumi, tapi wajah dan kulitnya sangat berbeda. Terutama kedua matanya yang agak sipit. Gaya rambutnya digelung tapi masih ada yang terurai ke bawah.


"Apa masih ada kamar kosong?"


"Masih, Ki Sanak. Silakan!"


Lelaki yang agak kurus ini menunjukan jalan. Adijaya baru melihat penginapan sebesar ini. Ada dua lantai. Lantai bawah sebagian dijadikan kedai.


Setelah bertemu pemiliknya yang menunggu di 'kasir', Adijaya baru tahu penginapan ini milik orang asing yang datang dari seberang. Pantas saja bentuk bangunan beserta hiasan banyak gambar ular raksasa yang memiliki taring dan kaki (naga).


Adijaya diantar ke kamarnya setelah membayar sewa. Kamar yang didapatkan berada di lantai atas. Di lantai atas ini ada tempat pertemuan yang cukup luas.


Terlihat ada banyak orang yang sepertinya dari kalangan persilatan tengah berkumpul di sana. Adijaya tidak peduli, dia segera ingin istirahat. Secara kebetulan untuk menuju kamarnya tidak harus melewati tempat pertemuan itu.


Sampai di kamarnya Adijaya langsung menutup pintunya. Sebelumnya dia sudah memesan makanan untuk diantar ke kamarnya. Dia sedang malas ke kedai.


Menurut pelayan tadi, kamar ini ada tempat mandinya. Setelah melihat seisi kamar, ternyata tempat mandi ada di bagian pojok belakang. Mungkin di negeri asalnya juga seperti ini.


Tak lama kemudian seorang pelayan mengantarkan pesanannya. Adijaya langsung makan dengan lahap sebelum akhirnya membaringkan tubuhnya. Dia tidak ingin mandi dulu. Besok pagi saja.


Di saat sedang memejamkan mata, dia mendengar suara bising dari tempat pertemuan tadi. Suara adu mulut. Sambil menunggu terlelap telinganya usil mendengarkan kegaduhan itu.


"Ki Legawa, kau dan murid-murid asuhmu dinyatakan sebagai pemberontak padepokan Karang Bolong!"


"Yang hendak memberontak itu pesanggrahan Bumi yang dipimpin Ki Ganjar!" bantah Ki Legawa.


"Kau tidak memiliki bukti apapun soal tuduhanmu kepada Ki Ganjar, sementara kau sudah terbukti memberontak dengan membunuh Ki Ganjar. Semua juga tahu, pesanggrahan Laut yang kau pimpin lebih cenderung ke aliran hitam. Bahkan kau ingin mengubah halauan padepokan menjadi aliran hitam!"


"Ki Rangkas, apa maksudmu menuduh seperti itu? Sama sekali aku tidak berpikiran untuk mengganti halauan. Kalian juga tahu, Mahaguru dan aku cukup dekat. Tidak mungkin seperti itu!"

__ADS_1


"Terlepas hal itu benar atau tidak, hanya kau yang merasakan. Tapi pembunuhan terhadap Ki Ganjar adalah pemberontakan!"


"Jadi sekarang kau mau apa?" suara Ki Legawa semakin tinggi.


"Lebih baik menghadap Mahaguru dan akui perbuatanmu, mungkin akan lebih ringan hukuman yang kau terima,"


"Tidak sudi, yang jelas aku mengetahui rencana busuk Ki Ganjar. Kalau ada yang tidak puas dengan keputusanku, kita selesaikan dengan cara pendekar!"


Setelah itu tidak terdengar lagi suara percakapan. Adijaya tidak ingin tahu lebih banyak. Dari suaranya, orang-orang itu kira-kira sudah berumur enam puluhan.


"Tenang, Juragan. Jika ingin cerita lanjutannya, aku akan merekamnya dan mengirim ke dalam mimpi Juragan. Sehingga tetap bisa tidur nyenyak sambil menonton mimpi," bisik Padmasari.


Adijaya hanya menghela napas. Tapi ternyata benar, dalam mimpinya dia melihat beberapa orang yang tadi berada di tempat pertemuan, kini berada di halaman belakang penginapan yang cukup luas.


Dalam mimpinya dia mendengar suara Padmasari menuturkan asal muasal kenapa orang-orang itu berselisih?


Di ujung barat negeri ini ada sebuah padepokan besar, lebih besar dari padepokan Linggapura. Namanya padepokan Karang Bolong.


Setiap pesangrahan memiliki murid lebih dari seratus orang.


Perselisihan yang melanda mereka sekarang karena sebuah isu yang entah dari mana datangnya, bahwa Ki Ganjar pemimpin pesanggrahan Laut ingin menggulingkan posisi Mahaguru.


Hal ini membuat Ki Legawa, pemimpin pesanggrahan Bumi marah. Namun, dia ceroboh, tanpa mengumpulkan bukti terlebih dahulu dia langsung menyerang Ki Ganjar di malam hari saat semua murid sedang terlelap.


Ki Ganjar yang tidak siap akhirnya tewas ditangan Ki Legawa. Setelah itu beredar kabar bahwa Ki Legawa membunuh Ki Ganjar karena ingin mengubah halauan padepokan menjadi aliran hitam.


Di halaman itu ada tiga pemimpin pesanggrahan. Ki Legawa, Ki Rangkas dari pesanggrahan Langit dan Ki Bontang dari pesanggrahan Gunung. Sedangkan orang-orang lainnya merupakan murid masing-masing pesanggrahan.


Terlihat Ki Rangkas dan Ki Legawa sudah berhadap-hadapan.


Tiba-tiba Adijaya bangun dari tidurnya. Lalu mendekati jendela belakang dan membukanya sedikit.


"Memang Juragan tidak ngantuk?" tanya Padmasari.

__ADS_1


"Menyaksikan langsung lebih enak daripada melihat rekaman!"


Padmasari mengikik pelan. "Benar, Juragan!"


Adijaya tidak mau melewatkan pertarungan ini. Mereka dari padepokan besar. Ilmunya pasti tinggi-tinggi. Apalagi mereka adalah pemimpin pesangrahan. Kalau dibandingkan mungkin Ki Ranggasura hanya setingkat mereka.


Tak lama kemudian hawa sakti mulai menebar. Adijaya yang berada di lantai atas dan jarak ke tempat mereka berada sekitar sepuluh tombak, masih merasakan dengan kuat hawa sakti ini.


"Luar biasa!"


Tapi sekejap kemudian Adijaya mengeluh. "Kapan bertarungnya, kok masih beridiri saja tatap-tatapan?"


Kalau dulu saat dia bertarung melawan Ganggasara, saling diam tapi ada angin dahsyat yang keluar dan saling hantam. Apakah mereka juga sama bertarung dalam diam, tapi yang terasa hanya hawa saktinya saja.


"Juragan mereka bertarung di alam lain," kata Padmasari.


"Di alam lain?"


Adijaya lihat orang yang bernama Ki Bontang tampak mematung tak berkedip. Murid-murid mereka seperti sedang menjaga guru-gurunya.


"Ya, kalau mau melihat gunakan Ngaraga Sukma!"


"Oh, begitu!"


Segera Adijaya duduk bersila. Pejamkan mata. Atur napas dan hawa sakti di dalam tubuh lalu merapal mantera. Terlihat badannya seperti kaget. Lalu tubuh halusnya mulai keluar dari badan kasarnya.


Adijaya memasuki alam lain. Di sana sudah ada Ki Santang dan Padmasari yang sedang menyaksikan pertarungan Ki Legawa melawan Ki Rangkas. Adijaya juga melihat Ki Bontang berdiri di sisi yang lain.


Pertarungan di alam lain tidak ubahnya pertarungan biasa di alam nyata. Pertarungan yang hanya mengandalkan tenaga kasar. Karena tenaga dalam tidak dapat digunakan.


Seperti yang telihat antara Ki Legawa dan Ki Rangkas. Dalam pertarungan ini kecepatan dan kekuatan menjadi hal penting untuk menjatuhkan lawan. Permainan jurus yang indah tersaji apik di sini.


Terima kasih untuk yang terus mengikuti cerita sampai sejauh ini. Saya selaku author masih merasa cerita ini jauh dari sempurna. Tapi saya akan terus memperbaiki agar lebih bagus lagi. Biar semangat, jangan lupa like, vote, tips dan rate-nya.

__ADS_1


__ADS_2