
Beberapa murid diutus ke setiap padepokan lain yang mempunyai hubungan baik dengan padepokan Linggapura untuk menyampaikan kabar tentang pemimpin baru dan juga tentang ancaman Laskar Rangrang Geni yang akan menyerang setiap padepokan.
Salah satunya Soma diutus ke padepokan Kundalini. Padepokan ini tidak sebesar Linggapura yang lebih mirip sebuah kampung kecil. Murid-murid di sini hanya belasan saja.
Soma adalah suami Kinasih, perempuan yang dulu sempat menjadi calon istri Adijaya.
Ki Tanujiwa yang menjadi guru dan pemimpin padepokan menyampaikan ucapan selamat kepada pemimpin baru, juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ki Ranggasura.
Soma menjelaskan, tidak ada undangan atau perayaan khusus dikarenakan persiapan menghadapi bahaya Laskar Rangrang Geni.
Mengenai hal ini Ki Tanujiwa belum sepenuhnya percaya, sebab nama laskar itu juga baru mendengarnya sekarang. Apa yang disampaikan Soma seolah-olah hanya mengada-ada.
Kesan yang diterima Ki Tanujiwa seolah-olah padepokan Linggapura ingin menjadi pelindung bagi padepokan-padepokan lain dan ingin diakui sebagai padepokan terkuat.
Ki Tanujiwa hanya menyampaikan terima kasih saja sebelum Soma pamit mundur kembali ke Linggapura.
Setelah sepeminuman teh berlalu, Ki Tanujiwa dikejutkan dengan berhembusnya hawa jahat yang begitu kuat. Bergegas dia menuju halaman depan padepokan.
Entah kapan datangnya, yang jelas telah berdiri sepuluh orang berpakaian serba hitam yang wajahnya dari hidung ke bawah ditutup kain hitam juga. Satu orang berdiri di depan sebagai pimpinan.
Ki Tanujiwa merasakan hawa jahat ini berasal dari mereka. Kedatangan mereka jelas tidak bermaksud baik. Belasan muridnya juga seketika berkumpul di belakangnya.
"Siapa kalian?"
"Laskar Rangrang Geni!"
Ki Tanujiwa terkejut. Apa yang disampaikan murid padepokan Linggapura ternyata benar. Tapi dia malah curiga, jangan-jangan Laskar Rangrang Geni ini justru ciptaan padepokan Linggapura.
Menurut kecurigaannya, laskar ini sengaja dibuat untuk mengacau. Kemudian murid lainnya akan tampil sebagai pahlawan. Sungguh sandiwara yang lucu.
Maka Ki Tanujiwa mempunyai siasat. Jika terjadi pertempuran, dia tidak akan segera menghabisi laskar ini, tapi akan mengulur waktu sampai murid-murid padepokan Linggapura datang menolong.
"Mau apa, rasanya di antara kami dan kalian tidak ada silang sengketa?"
__ADS_1
Sang guru padepokan Kundalini memandangi si pimpinan dari atas ke bawah. Mencoba menerka seberapa besar kekuatannya. Sepertinya tidak akan sulit melumpuhkan mereka. Apalagi jumlah muridnya lebih banyak.
"Kami ingin kau dan semua muridmu tunduk di bawah pemimpin kami, Juragan Rangrang Geni!"
Ki Tanujiwa terdiam sejenak, merekam nama itu dalam ingatannya.
"Aku tidak kenal siapa itu Rangrang Geni, dan aku tidak akan tunduk kepada siapapun!"
Tidak bisa dilihat bagaimana raut wajah si pemimpin saat Ki Tanujiwa berkata demikian karena tertutup kain. Hanya terlihat sorot matanya yang semakin tajam dan hawa jahat kini semakin kuat.
"Baiklah!" si pemimpin di depan merentangkan kedua tangan sebagai isyarat.
Maka sembilan orang di belakangnya langsung bergerak dengan senjata golok. Tentu saja murid-murid Ki Tanujiwa tidak tinggal diam. Sebelum serangan datang mereka sudah menyongsong lawan juga dengan senjata pedang terhunus.
Pertempuran pun terjadi. Walaupun jumlah murid Ki Tanujiwa lebih banyak, tapi ternyata sembilan orang serba hitam itu memiliki kepandaian tinggi. Jurusnya lebih mematikan. Jurus yang menampakan pemakainya seperti haus darah.
Ki Tanujiwa sendiri menghadapi si pemimpin. Dia cukup kaget, tenaga dalam lawan ternyata setingkat dengannya. Orang ini juga sepertinya bersungguh-sungguh ingin membunuhnya. Pertarungan mereka hanya mengandalkan tangan kosong.
Konsentrasi Ki Tanujiwa terpecah ketika mendengar teriakan salah satu muridnya. Ujung matanya menyaksikan satu muridnya meregang nyawa dengan kepala terbelah.
Hal itu membuatnya sadar setelah melihat walau sekilas. Murid-murid lainnya tampak terdesak meski unggul dalam jumlah. Akibatnya Ki Tanujiwa tidak bisa mengeluarkan jurusnya secara penuh. Malah dia sendiri kini terdesak.
Kalau sudah begini akan sulit untuk membalikkan keadaan. Apalagi terdengar jerit kematian muridnya yang kedua kali membuat hatinya lemah.
Sementara bantuan yang dia sangka akan datang belum juga muncul. Sepertinya Laskar Rangrang Geni memang berdiri sendiri, bukan seperti yang dia duga.
Pada saat itu satu pukulan telak membuatnya jatuh berlutut. Pukulan keras ini membuat tenaganya berkurang dan sepertinya tak ada harapan untuk bangkit. Semua murid yang menyaksikan kekalahan gurunya lansung lemparkan senjata.
"Coba kalau sejak awal kau menyerah baik-baik, mungkin murid-muridmu masih lengkap!"
Satu suara datang dari atas. Satu sosok melayang turun perlahan sambil tersenyum licik. Orang ini tidak menutupi wajahnya. Tapi pakaiannya sama hitam. Pemuda berkumis tipis ini menjentikkan jari-jarinya.
Set!
__ADS_1
Tiba-tiba Ki Tanujiwa dan semua muridnya merasakan ada sesuatu seperti tali yang melilit lehernya. Sangat kencang dan menyakitkan seperti hendak memotong lehernya. Mereka meronta-ronta kesakitan.
"Katakan, kau bersedia tunduk!" sentak Rangrang Geni.
"Baik, baik aku tunduk!" Susah payah Ki Tanujiwa mengucapkannya karena lehernya serasa disayat.
Seketika rasa sakitnya hilang, begitu juga murid-muridnya setelah Ki Tanujiwa menyatakan tunduk.
"Bagus, tali penjerat itu akan memotong lehermu jika berusaha berkhianat. Sekarang kau dan muridmu harus patuh pada perintahku!"
Ancaman Laskar Rangrang Geni ternyata bukan omong kosong dan bukan rekayasa yang dibuat padepokan Linggapura menurut dugaannya. Sekarang Ki Tanujiwa tidak bedanya dengan budak.
Sementara ini mereka tak bisa melawan. Entah benda apa yang melingkar pas di leher? Apakah mereka akan selamanya jadi budak Rangrang Geni? Berbagai bayangan mengerikan tergambar di pikiran mereka.
Selain padepokan Kundalini, Laskar Rangrang Geni juga menaklukan padepokan-padepokan kecil lain. Di sekitar gunung Lingga hanya padepokan Linggapura yang bisa dibilang terbesar. Apalagi sejak menerima murid perempuan.
Tidak seperti padepokan lain yang hanya ditundukkan untuk dijadikan pengikutnya. Rangrang Geni berniat ingin membantai habis semua penghuni padepokan Linggapura.
Dan yang paling utama adakah melenyapkan Adijaya. Dendam kesumatnya terhadap pemuda itu sudah mencapai sumsum tulangnya. Tidak akan hidup tenang sebelum membunuh Adijaya.
Tidak pernah ketinggalan jika sudah menaklukan satu padepokan, Rangrang Geni mencari seseoang dengan tanda khusus untuk diserap kekuatannya dengan cara direbus.
Seperti di padepokan Kundalini, ternyata salah satu muridnya mempunyai ciri istimewa. Maka di depan Ki Tanujiwa dan murid-muridnya, tanpa ragu Rangrang Geni merebusnya.
Ketika tubuh yang direbus hancur dan menjadi cairan yang sangat kental, Rangrang Geni meminumnya dengan santai seperti minum air kelapa saja.
Ki Tanujiwa pejamkan matanya melihat kengerian di hadapannya. Hatinya sangat perih menyaksikan muridnya diperlakukan seperti hewan sembelihan. Sungguh biadab manusia jurig yang satu ini.
Tapi dirinya sungguh tak berdaya sama sekali.
Setelah menyatakan tunduk, Ki Tanujiwa dan murid-muridnya diwajibkan mengganti pakaian dengan warna serba hitam. Ki Tanujiwa dijadikan pemimpin salah satu kelompok yang anak buahmya terdiri murid-muridnya sendiri.
Tidak seperti yang sudah terbentuk sebelumnya, satu kelompok sepuluh orang. Salah satunya jadi pemimpin. Ki Tanujiwa memimpin lebih dari sepuluh orang. Sekarang mereka ditugaskan untuk menaklukan padepokan lain yang terdekat.
__ADS_1