
"Dasar tua pikun, baru saja pukulanmu tak mampu melukaiku, sudah sesumbar lagi!" semprot Adijaya.
Resi Danuranda mendengkus. Wajahnya memerah. Dia berpikir, pemuda ini mampu menerobos hutan, bahkan keberadaannya tidak jauh dari gudang harta. Berarti dia sudah tahu tempat itu.
Terus tadi dia menyebut 'resi gadungan', apa dia sudah tahu semuanya? Siapa dia? Dari mana asalnya? Kenapa bisa ada orang asing tahu tentang isi hutan Gintung?
"Kau pasti sepasang suami istri yang mengintil Bayunata!"
"Tepat sekali Eyyang Ressi!" cibir Adijaya sedikit memonyongkan bibirnya lalu tersenyum genit.
Sang resi mendengkus lagi. "Apa tujuanmu yang sesungguhnya? Aku yakin kau sama sekali tidak bermaksud menjadi pengikutku!"
"Semula memang begitu, tapi setelah tahu ternyata kau resi gadungan, aku mengubah niatku!"
"Mau apa?"
"Tentu saja menggagalkan rencana kau dan tuanmu itu!"
Resi Danuranda terperanjat. Bagaimana pemuda ini bisa tahu semuanya, padahal baru juga masuk ke hutan ini? Pemuda ini harus segera dilenyapkan, kalau tidak mau rencana besarnya gagal. Siapapun dia, pasti berbahaya dan cukup tinggi ilmunya.
"Kau pikir mampu!" sentak resi Danuranda sambil melepaskan serangan pukulan yang sudah dilapisi tenaga dalam.
Kakek ini tidak mau main-main walaupun lawannya masih muda. Lebih cepat lebih baik. Dua kepalan tangannya sudah dilapisi ajian Brajageni andalannya. Bahkan sudah dinaikkan tingkatannya. Sehingga dari kepalan sampai sebatas siku tampak memancarkan warna merah membara.
Sedangkan Adijaya juga sama, melapisi tangannya dengan hawa sakti yang diubah menjadi dingin. Sehingga saat berbenturan dengan tangan lawan menimbulkan suara seperti api yang disiram air.
Selain itu pemuda ini juga seperti biasa menggunakan ajian Membalik Langit untuk memahami inti jurus atau ajian lawannya. Dalam belasan jurus dia hanya menghindar dan menangkis.
Jika resi Danuranda begitu agresif ingin sekali cepat melumpuhkan lawannya, maka Adijaya hanya melawan dengan tenang. Kekuatannya dibuat menyesuaikan dengan lawan.
Baru setelah lewat dua puluh jurus, Adijaya mulai membalas serangan yang membuat resi gadungan itu terkejut. Gerakan jurus yang diperagakan Adijaya sama persis dengan jurusnya. Hanya berbeda pada hawa yang dipancarkan berupa hawa dingin.
__ADS_1
"Bagaimana kau..."
"Ajian apa yang kau gunakan?" potong Adijaya. Keduanya masih saling tukar jurus.
"Ini ajian andalanku, Brajageni!" Resi Danuranda lipat gandakan lagi tenaganya.
"Kalau begitu aku menamakan ajianku, Brajasalju!" Asal sebut saja Adijaya setelah menciptakan jurus atau ajian hasil meniru ajian lawannya.
Resi Danuranda merasa aneh, baru pertama menemukan lawan yang seperti ini. Meskipun saat ini dia sudah meraba kekuatan lawan, tapi sepertinya belum keluar sepenuhnya. Dia dibuat bingung, seperti melawan jurusnya sendiri, hanya berbeda hawa saktinya.
Panas lawan dingin.
Dess! Dess!
Begitulah setiap saling berbenturan seperti api yang disiram air. Namun, hawa dingin yang lebih mendominasi. Dua tangan resi Danuranda berkedip-kedip seperti cahaya yang hendak redup.
Wussh! Blepp!
Puluhan jurus telah dilewati. Adijaya seolah-olah hanya bermain-main saja. Dia memang menyerang balik, tapi tidak untuk melumpuhkan. Hanya sekadar gerak menipu untuk memancing lawannya mengeluarkan jurus baru.
Resi Danuranda sadar kalau dia mengeluarkan jurus ajian lain, maka lawannya akan membuat tiruannya. Dia semakin bingung, lawannya selalu mematahkan serangannya bahkan dengan jurus miliknya.
"Sebaiknya kau gunakan ilmu milikmu, jangan mencuri punya orang!" seru resi Danuranda sangat geram.
"Yang namanya mencuri itu tanpa sepengetahuan pemiliknya. Nah, aku kan terang-terangan. Apa masih disebut mencuri. Lagi pula isinya berlawanan walaupun luarnya sama, hehehe...!"
Si kakek resi ini menggeram keras. Dia mundur beberapa langkah untuk mengambil napas dan menghimpun tenaga penuh.
"Kalau begitu terimalah ilmu pamungkasku, Ajian Seuneu Jurig!"
Seluruh tubuh resi Danuranda dikobari api yang menyala-nyala berwarna merah. Mulutnya keluar suara raungan menyeramkan. Dari dua tangan dan mulutnya menjulur lidah api yang sangat panas menyembur ke arah Adijaya.
__ADS_1
Suasana di sekitar tempat itu menjadi terasa terik. Padahal mentari sudah berada di 'Tunggang Gunung' (pukul 16.00). Ditambah udara hutan sebenarnya sangat sejuk bahkan cenderung dingin.
Lidah api itu memang mampu mengenai sasaran. Tampak seperti membakar tubuh Adijaya, tapi hanya beberapa kejap saja terus padam dan tubuh pemuda itu masih utuh tidak terluka sedikitpun.
Resi Danuranda kini bagaikan seseorang yang mampu mengendalikan api. Dia bisa membuat lidah api kapan saja dengan ukuran berbeda-beda. Namun, begitulah, sepertinya api itu tidak bisa menyentuh Adijaya.
Padahal sebelumnya tidak ada pendekar yang mampu melawan 'Seuneu Jurig"-nya (Api Setan). Sekali terlalap tubuhnya langsung hangus. Tapi Adijaya tidak sedikitpun terbakar walaupun cuma pakaiannya.
Yang dilakukan Adijaya adalah menebalkan hawa dinginnya dengan kekuatan dari Melati Tunjung Sampurna. Dia tidak menggunakan ajian Membalik Langit lagi. Sekarang dia sedang mempersiapkan ajian Serap Sukma.
Adijaya bergerak mendekati resi Danuranda. Bagi sang resi ini kesempatan untuk meleburkan tubuh Adijaya dengan apinya yang panasnya mampu mencairkan baja sebesar kerbau dalam waktu singkat.
"Konyol, cari mati kau!" seru sang resi tersenyum merasa menang. Lalu dengan cepat dia songsong Adijaya. Dua telapak tangan berhasil meraih bahu pemuda itu.
Seketika api membungkus seluruh tubuh Adijaya. Bahkan dari mulut sang resi juga menyembur lidah api khusus membakar bagian kepala.
Tapi Adijaya tetap tenang. Dia tidak merasakan kepansan sama sekali. Kobaran api itu tidak membuatkan terbakar. Tubuhnya dalam keadaan baik-baik saja. Malah seolah sengaja dirinya dibakar. Adijaya berdiri sambil bersedekap. Kedua matanya menatap tajam wajah resi Danuranda.
Beberapa lama keadaan tetap seperti itu meskipun resi Danuranda telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Jika dilihat dari jauh maka kobaran api itu seperti api unggun yang meluap-luap.
"Siapa kau sebenarnya, kenapa aku tidak pernah tahu ada orang semacam kau di dunia ini?"
Adijaya hanya tersenyum sebelum dia menghempaskan napas dari hidung dengan kuat. Hempasan itu ternyata mampu memadamkan api baik yang membakar tubuhnya maupun yang berkobar di tubuh resi Danuranda.
Pesss!
Api lenyap seketika dan udara langsung berubah menjadi sangat dingin seolah berada di puncak gunung es. Tubuh resi Danuranda kaku. Dua tangannya masih menempel di bahu Adijaya, malah tak bisa lepas.
Hawa sedingin es merasuki tubuh sang resi yang tak mampu bergerak akibat pergantian hawa panas ke dingin yang sangat tiba-tiba. Selanjutnya kakek ini merasakan ada suatu kekuatan yang menyedot seluruh tenaganya.
Semakin lama semakin lemas. Dua lututnya kini bergetar keras. Tubuhnya benar-benar kehilangan daya dan kesaktian yang sudah puluhan tahun didapatkan dengan susah payah.
__ADS_1