Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Tugas Baru


__ADS_3

Secara pribadi Cakra Diwangsa menemui Maharaja Wisnuwarman hanya empat mata saja.


"Mohon ampuni kelancangan saya, Raka Prabu," begitulah Cakra Diwangsa memanggil sang Maharaja.


Karena Cakrawarman adiknya Purnawarman. Maka sebagai putranya, Cakra Diwangsa memanggil Raka (kakak) kepada Wisnuwarman.


"Ada apa Rayi?"


"Perihal Kakek saya,"


"Bukankah sudah jelas, kakekmu mempersiapkan pemberontakan?"


Cakra Diwangsa menarik nafas sejenak. Dari penuturan kakeknya, Prabu Satyaguna di dalam kurungan. Bahwa sang raja merasa ada yang memfitnah dirinya. Dia meminta Cakra Diwangsa menyelidikinya.


"Kakek merasa difitnah. Jika Raka Prabu berkenan, izinkan saya menyelidikinya sampai tuntas,"


"Rayi yakin?"


"Saya yakin!"


"Berapa lama Rayi sanggup mengusutnya?"


"Tergantung kebijaksanaan Raka Prabu,"


"Baiklah, jika Rayi ingin membersihkan nama kakekmu. Aku beri kesempatan seluas-luasnya."


"Terima kasih Raka Prabu, saya akan bekerja keras mengungkapkan semuanya."


Begitulah akhirnya perasaan Cakra Diwangsa lega. Sejak awal juga dia curiga kenapa tiba-tiba saja banyak prajurit baru di Cupunagara. Padahal sang kakek tidak pernah memerintahkan untuk merekrut prajurit baru. Dugaannya pasti ada seseorang yang ingin menjatuhkan nama baik kakeknya dengan mengait-ngaitkan pemberontakan ayahnya.


"Carilah pemuda bernama Adijaya," suruh ibunya memberi petunjuk sebelum Cakra Diwangsa berangkat. "Walaupun sempat bersama sebelum ayahmu tewas, aku yakin pemuda itu tidak ikut dalam pertempuran,"


"Kemana saya harus mencarinya, Ibunda?"


"Pertama, tanyakan kepada Ki Brajaseti di desa Kulur di wilayah Agrabinta. Sebelumnya pemuda itu kacungnya Darma Koswara muridnya Ki Brajaseti,"


"Apa yang harus saya lakukan jika sudah menemukan Adijaya?"


"Mintalah bantuannya, aku yakin dia bukan pemuda sembarangan."


"Baiklah, saya pamit, Ibunda!"


***


Singkat cerita setelah menempuh perjalanan jauh. Bertanya ke setiap orang yang dijumpainya. Akhirnya sampai juga Cakra Diwangsa ke tempat tinggal Ki Brajaseti sahabat kakeknya di desa Kulur.


Ki Brajaseti langsung bersikap hormat begitu tahu yang datang adalah cucu sahabatnya. Dia cukup kaget dan sedih juga atas apa yang menimpa Prabu Satyaguna.

__ADS_1


"Terus terang, aku tidak tahu keberadaan pemuda bernama Adijaya itu," kata Ki Brajaseti membuat Cakra Diwangsa tampak kecewa.


"Mungkin murid Kakek yang bernama Darma Koswara itu tahu,"


"Mungkin juga, aku akan membantumu. Besok kita ke Giri Mukti menemui muridku."


"Terima kasih, Kek."


Besoknya mereka berangkat ke kediaman Darma Koswara di desa Giri Mukti. Di perjalanan mereka melewati kaki gunung Lingga.


"Tidak keberatan, kan? Kalau kita singgah dulu di padepokan Linggapura. Sudah lama aku tak bertemu sahabatku Ki Ranggasura," tanya Ki Brajaseti.


"Tidak, Kek!"


"Baiklah, kita naik ke lereng gunung ini. Padepokannya ada di sana."


Sampai di padepokan Ki Ranggasura menyambut baik kedatangan sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu. Sudah biasa bila teman lama saling bertemu kembali banyak basa-basi dalam perbincangan mereka.


Ketika Ki Brajaseti menyampaikan maksudnya membantu Cakra Diwangsa mencari Adijaya. Ki Ranggasura terkejut. Mungkinkah yang dimaksud adalah Adijaya muridnya? Atau yang lain? Maka, segera dia memanggil Adijaya.


"Adijaya, apakah kau mengenal mereka?" tanya Ki Ranggasura.


"Ki Brajaseti?" Adijaya terkejut tapi senang.


"Kau sudah mengenal muridku, Seti?"


"Bukankah pernah saya ceritakan dulu, Kek?" kata Adijaya kepada Ki Ranggasura.


Ki Ranggasura usap-usap rambutnya yang putih lalu tertawa mengekeh. Baru ingat kalau Adijaya pernah cerita tentang kebersamaannya dengan Cakrawarman yang sebelumnya bertemu dengan Darma Koswara dan Ki Brajaseti. Hanya saja waktu itu Ki Ranggasura belum menyadari ternyata Ki Brajaseti yang dimaksud adalah sahabatnya.


"Maklum sudah tua, hehehe...!"


"Ada apa Ki Brajaseti mencari saya? Apa ada kaitannya dengan agan Darma?" tanya Adijaya.


"Bukan saya yang mencari kamu," jawab Ki Brajaseti. "Tapi dia,"


"Saya Cakra Diwangsa," lelaki ini langsung memperkenalkan diri begitu ditunjuk Ki Brajaseti.


Adijaya memandang penuh tanya. Dia baru melihat orang ini, tapi wajahnya mengingatkannya pada seseorang.


"Dia adalah cucu Prabu Satyaguna, putranya Cakrawarman," jelas Ki Brajaseti.


Ki Ranggasura dan Adijaya tercekat lalu buru-buru menjura. Biar tidak canggung berkelanjutan Cakra Diwangsa segera menyampaikan maksudnya mencari Adijaya. Juga menuturkan apa yang telah menimpa kakeknya.


"Begitulah tujuan saya," ujar Cakra Diwangsa.


Adijaya melirik ke arah Ki Ranggsura. Kakek ini mengerti maksudnya.

__ADS_1


"Ini tugas baru untukmu, Adijaya," kata Ki Ranggasura.


"Apa saya sanggup, Kek?" Adijaya ragu.


"Kau pasti sanggup!"


"Semula kami hendak ke tempat tinggal muridku yang saudagar itu. Tapi di tengah jalan aku teringat dirimu Ranggasura. Ternyata Sang Hyang Widhi menghendaki pertemuan ini. Orang yang kami cari ada di sini." ucap syukur Ki Brajaseti.


***


Malam belum mencapai puncaknya, tapi dua insan yang dimabuk cinta ini sudah berada di puncak gunung. Tempat yang menjadi kesukaan bagi keduanya.


Malam ini menjadi malam perpisahan untuk sementara. Besok pagi Adijaya hendak meninggalkan padepokan untuk membantu urusan seseorang.


"Apakah akan lama Akang pergi?"


Kinasih menyandarkan punggungnya ke dada Adijaya. Dengan perasaan berdebar, pemuda ini memeluk tubuh Kinasih dari belakang. Mereka duduk di batu yang atasnya rata.


"Entahlah, tapi aku janji. Begitu urusan selesai aku segera kembali,"


Ini pertama kali Adijaya menyentuh perempuan. Lembut dan hangat. Bahkan kehangatannya mengalahkan udara dingin puncak gunung.


Suasana gelap tak ada rembulan di atas sana. Hanya kelap-kelip bintang, tapi tak mampu menerangi puncak gunung itu.


"Semoga urusan Akang cepat selesai, dan kembali dengan selamat. Aku pasti merindukan Akang,"


"Aku juga, Nyai!"


Setelah itu tidak ada lagi kata-kata yang terucap. Cinta yang menggelora, bergejolak dalam dada memberanikan Adijaya memeluk Kinasih lebih erat.


Jiwanya telah dirasuki nafsu birahi. Bagi Adijaya yang secara umur masih muda, ini yang pertama mengecap nikmatnya cinta. Pertama kali merasakan lembutnya kulit wanita. Hangatnya tubuh wanita. Sehingga dia terbuai dalam indahnya lautan asmara.


Lain lagi bagi Kinasih. Dia yang pernah menikah sebelumnya. Pernah merasakan indahnya cinta bersama suaminya dulu. Setelah lama ditinggal mati suaminya. Lama juga tak merasakan sentuhan cinta. Sekarang bagaikan musafir yang kehausan di tengah padang pasir. Dan Adijaya ibarat mata air di tanah gersang.


Sepasang manusia ini telah lupa diri. Melakukan perbuatan yang semestinya tidak boleh jika belum terikat dalam sebuah pernikahan.


Melanggar aturan adat, bahkan aturan Sang Hyang Widhi.


Tapi jiwa yang mabuk kepayang telah mengabaikan aturan itu.


Tidak ada manusia yang benar-benar lurus tanpa cela atau kesalahan. Bahkan seorang Pandhita atau Resi pun pernah melakukan kesalahan.


Lelah dan ngantuk melanda dua insan ini setelah mengecap indahnya puncak asmara. Mereka tertidur di atas tanah menyandar ke batu sambil berpelukan. Semula mereka di atas batu, kini terlelap di bawahnya.


Adijaya terbangun saat cahaya sang surya menyiram wajahnya. Menyilaukan matanya. Dia tidak lagi merasakan lembutnya kulit Kinasih. Ternyata perempuan itu sudah tidak ada.


Pendekar Payung Terbang sempat tengak-tengok mencari kekasihnya sampai akhirnya sadar bahwa Kinasih mungkin sudah kembali ke padepokan. Maka dia pun segera turun ke lereng.

__ADS_1


__ADS_2