
Ketika Adijaya membuka kedua matanya. Dia melihat pohon-pohon tinggi menjulang di sekelilingnya. Di sebelah kanan dan kiri tersembul puncak gunung dari balik dedaunan rimbun.
"Tempat apa ini?" Adijaya mendongak ke atas. Hari masih siang, tapi matahari tersembunyi di balik gunung sebelah barat. Keadaannya seperti mendung.
Setelah memperhatikan lebih seksama, ternyata dia berada di sebuah lembah di antara dua gunung. Namun, Adijaya tidak tahu apakah tempat ini masih dekat dengan padepokan Karang Bolong atau sebaliknya.
Seingatnya di padepokan dia belum pernah melihat gunung yang berdekatan seperti ini. Berarti tempat ini jauh dari Karang Bolong. Di mana ini? Berapa hari seandainya ditempuh dengan berkuda atau jalan kaki?
"Tempat ini berada di antara gunung Gede dan Pangrango!" Suara Padmasari memberitahu.
Kemudian Adijaya melangkah ke jalan setapak yang keadaannya menurun. Semakin ke depan semakin menurun dan berkelok-kelok. Suasana begitu sepi, bahkan sekedar suara serangga pun tidak terdengar.
"Masa serangga di sini tidak berani bersuara?"
Sambil melangkah, pendangannya menyapu setiap pelosok tempat itu. Yang terlihat hanya pepohonan dan semak belukar yang begitu rapat. Sehingga jika ada seseorang yang bersembunyi di sana, pasti tidak akan kelihatan.
Adijaya kuatkan kepekaannya untuk menyirap sekeliling tempat itu. Barangkali saja ada orang atau makhluk lain yang sedang mengintainya. Namun, sudah sejauh ini belum mendeteksi apapun yang mencurigakan.
Semakin menurun lagi, tampak kabut tipis menyelimuti seluruh lembah. Adijaya tajamkan penglihatannya. Bagaimana caranya murid padepokan Karang Bolong pemilik ilmu Menjerat Pikiran menemukan lembah ini?
Sejak kapan? Sudah berapa lama? Dan apa tujuannya? Ini sama saja dengan berkhianat. Menimba ilmu di tempat selain padepokan. Adijaya yakin pasti murid ini melakukannya secara diam-diam.
"Siapa nama orang yang mengajarkan ilmu itu?" tanya Adijaya.
"Dia dipanggil Ki Sawung!"
"Ki Sa-wung!"
Yang akan dihadapi Adijaya adalah hal baru lagi. Ilmu aneh yang sedikit mirip dengan gendam. Tidak tahu, apakah bisa dilawan dengan mantera? Rasanya tidak mungkin dilawan dengan ajian Serap Sukma.
Kini Adijaya berada di dalam kabut tipis itu. Dari luar tidak akan bisa melihat sosoknya. Di sini ada energi yang memendar kuat. Bagaikan sudah menyatu dengan kabut itu.
Sampai sejauh ini dia belum menemukan sesuatu entah itu goa, rumah atau gubuk tempat bersarangnya Ki Sawung. Di mana sarang manusia itu? Menurut Padmasari, ilmu Menjerat Pikiran milik Ki Sawung sudah sangat sempurna.
Tiba-tiba saja Adijaya merasakan tanah yang dia injak bergetar kecil seperti ada gempa dari tempat jauh yang sampai terasa ke sini. Namun, suasana masih sepi. Tidak ada suara aneh yang terdengar.
__ADS_1
Adijaya hanya menunggu yang akan terjadi berikutnya. Tidak lupa dia meningkatkan kewaspadaan.
Wukk!
Sebuah dahan pohon berkelebat muncul dari balik kabut hampir saja mengenai kepalanya. Setelah dipertajam lagi indra penglihatannya. Adijaya terkejut bukan main.
Ternyata dahan yang tadi menyambar berasal dari sini. Sebuah pohon bergerak sendiri seperti berjalan berkelok-kelok dan berputar menggerakkan dahan dan ranting seolah menjadi tangannya menyerang Adijaya.
"Beginikah ilmu Menjerat Pikiran yang sudah sangat sempurna?" gumamnya.
Adijaya melompat ke sana kemari menghindari serangan pohon hidup. Dia mencoba sambil mengucapkan mantera. Ternyata tidak berpengaruh.
Ketika mencoba dengan menangkisnya, ternyata sabetan dahan itu sungguh luar biasa. Dia seperti menghantam tongkat besi. Adijaya berpikir keras untuk menemukan cara melumpuhkan pohon hidup ini.
Tentu saja bukan hidup secara pengertian harfiah. Adijaya paham pohon ini berada dalam pengaruh dan dikendalikan dari jarak jauh oleh Ki Sawung.
"Jangan sungkan-sungkan, Juragan!" saran Padmasari.
Adijaya tidak mengerti maksudnya. Lalu Padmasari melanjutkan bisikannya.
Adijaya mengikuti saran Padmasari. Setelah membaca mantera dia hantamkan tumit ke tanah dengan kuat.
Degh!
Tanah yang dihantam tumit retak sedikit demi sedikit kemudian tanah terbelah memanjang ke depan. Pohon yang bisa bergerak ini otomatis terjerembab ke dalam belahan tanah ini.
Blass! Blep!
Pohon itu seolah tersedot ke bawah hingga ke pucuknya. Setelah habis semua, tanah kembali merapat seperti tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.
"Gelo!"
Adijaya ternganga melihat hasilnya. Bagaimana kalau yang tersedot itu manusia. Langsung terkubur. Suasana kembali hening. Sang pendekar menunggu rintangan apa lagi yang akan menghadangnya.
Halangan ini datang karena niatnya yang tidak baik. Adijaya ingin mengorek keterangan siapa saja yang menjadi murid Ki Sawung yang salah satunya pasti murid padepokan Karang Bolong.
__ADS_1
"Apa maksud jangan sungkan-sungkan?" tanya Adijaya kemudian sambil terus waspada.
"Rusakkan atau tumbangkan pohon tadi, kalau ada serangan semacam tadi," jawab Padmasari.
Tiba-tiba terdengar suara berkereketan seperti bergesekan antara kayu dengan kayu lainnya. Adijaya kitarkan pandangan. Tidak melihat apapun, tapi suara kereketan itu sangat jelas.
Sampai akhirnya dari delapan penjuru arah mata angin muncul orang-orangan terbuat dari kayu mengepung Adijaya.
"Apa lagi ini?"
"Manusia kayu!"
Walaupun bentuknya lebih mirip tengkorak, manusia kayu ini berdiri dengan posisi kuda-kuda siap menyerang. Adijaya hanya mendengkus pendek sambil memutar bola matanya.
"Wah, bisa bikin prajurit kayu kalau begini mah!" ujar Adijaya sambil menyiapkan tenaga. Karena pasti manusia kayu atau lebih pas disebut tengkorak kayu itu akan menyerangnya.
***
Ki Manguntara menatap menyelidik murid yang berani menyusup ke kediamannya. Kakek ini melihat garis wajah kedengkian dan ambisi terpendam. Bahaya manusia semacam ini kalau dibiarkan.
"Baiklah," kata Ki Manguntara. "Pertama sebaiknya kau pikirkan dulu prasangkaanmu sebelum menumpahkannya. Karena memiliki pertimbangan yang sudah matang sebelum aku melakukan sesuatu.
"Kedua, aku beri kesempatan kau untuk membongkar isi dan inti dari satu kalimat yang akan aku ucapkan. Karena dengan cara ini juga aku berikan kepada Anjasmara,"
Kemudian sang mahaguru mengucapkan kalimat pertama yang ia tulis tempo hari bersama tiga nenek sahabatnya ketika Adijaya menunjukkan hasil kerjanya selama mengurung diri di ruang bawah tanah.
"Aku beri kesempatan tiga hari untuk menunjukkan hasilnya!"
Ki Manguntara yakin, orang dengan ambisi keserakahannya tidak akan mampu memahami kalimat tadi. Dia terpaksa melakukannya, karena murid ini melayangkan protes.
Ternyata benar, meskipun padepokan ini beraliran putih. Bukan berarti tidak ada murid yang berwatak hitam. Pasti ada walaupun sedikit.
Si murid kemudian pergi setelah menjura terlebih dahulu. Dalam hatinya masih kesal. Dia menuduh sang mahaguru tetap berlaku tidak adil. Dia yakin bukan seperti itu caranya.
Buat apa mencari makna dari sebuah kalimat yang terdengar asing. Bahkan puitis juga tidak. Si murid menyangka sang guru pasti hanya mengarang saja.
__ADS_1
Bagaimana hasilnya?