
Benar saja, menghadapi penguasa puri ini memang paling susah. Kalau gampang mungkin bukan jadi pemiliknya, tapi jadi penjaga gerbang seperti yang sudah dilewati.
Masalahnya Jurig Kaladetya yang menyatu dengan sukma Ganggasara bukan budak yang dalam pengaruh jeratan buhul ataupun mantera, tapi makhluk yang sadar. Bahkan begitu percaya diri bisa mengatasi tiga tamunya ini.
"Kurang banyak!" seru Adijaya.
"Apanya yang kurang banyak, Juragan?" tanya Padmasari di sela-sela pertarungan.
"Butuh tambahan sukma atau guriang atau apalah untuk melumpuhkan si Kala-kala ini, ternyata jinak-jinak merpati!"
"Hahaha... Datangkanlah bantuan kalau kalian bisa!" balas Jurig Kaladetya.
Adijaya mendengkus kesal, dia gantungkan Labu Penyedot Sukma di pinggangnya. Lalu dia menghimpun energi yang memenuhi ruangan puri ini. Dia membuat dinding tak kasat mata untuk menjepit Ganggasara.
"Mundur dulu, Kalian!" perintah Adijaya kepada dua guriangnya.
Bersamaan dengan mundurnya sepasang guriang. Tiga dinding gaib menjepit Jurig Kaladetya dari tiga arah. Sosoknya langsung kaku tidak bisa bergerak sama sekali.
Kesempatan ini segera dimanfaatkan. Adijaya meloncat ke atas, di mana di sana ada celah dinding gaib yang mengarah langsung ke atas kepala makhluk rangkap itu. Dia bermaksud mengarahkan lubang labu di sana.
Blegarrr!
Belum sampai Adijaya ke atas, tiba-tiba dinding gaib meledak dan getarannya membuatnya terpental ke atas hampir menyundul langit-langit. Beruntung dia cepat imbangi diri sehingga tidak jatuh.
"Hahahaha...!"
Tawa Jurig Kaladetya menggelegar di seantero bangunan. Tiga makhluk lain begitu terkejut melihat dinding gaib bisa dihancurkan.
"Gebleg, siah!" umpat Adijaya tambah kesal karena caranya gagal.
"Maafkan kami, Anak muda. Kami datang terlambat!"
Seruan itu menggema bersamaan dengan munculnya enam sosok yang tidak lain adalah sukma para sesepuh. Mereka langsung mengambil posisi mengepung Ganggasara alias Jurig Kaladetya.
Kehadiran mereka membuat harapan Adijaya kembali bangkit. Sementara Jurig Kaladetya menampilkan wajah kesal. Bola matanya berputar-putar seperti sedang berpikir keras.
"Adijaya, kau diam saja di situ sambil mengarahkan lubang labunya ke tengah-tengah ruangan!" kata Ki Manguntara memberi instruksi.
__ADS_1
"Baik, Kek!"
Kini sembilan makhluk mengelilingi Jurig Kaladetya yang berdiri di tengah-tengah. Adijaya memegang kuat-kuat Labu Penyedot Sukma, mengarahkan lubangnya ke tengah-tengah.
Enam sukma dan dua guriang sudah mengeluarkan kekuatannya. Mengendalikan energi bersama-sama pasti akan lebih kuat. Sedangkan sang pemilik Puri Iblis juga mengerahkan segenap kekuatannya.
Energi di dalam puri semakin pekat. Yang berdiri didekat Adijaya bertugas menarik, yang lainnya ada yang mendorong, ada yang menekan dari atas dan ada yang menggerakkan tubuh Jurig Kaladetya agar kepalanya menghadap ke arah labu.
Gabungan kekuatan delapan tokoh saling adu kuat melawan satu makhluk rangkap yang ternyata begitu dahsyat. Kecuali Adijaya, semuanya tampak bergetar. Hawa panas menyelimuti seluruh ruangan.
Sosok Jurig Kaladetya perlahan terangkat setengah tombak. Dia berusaha sekuat tenaga menghempas semua energi yang menyerangnya. Namun, semakin lama dirinya semakin melemah.
Wajah Ganggasara yang tadinya sangat percaya diri kini berubah pucat dan ketakutan. Kekuatan gabungan tak bisa dilawan.
"Kalian pengecut, curang!" teriak Jurig Kaladetya.
"Tidak ada kata curang untuk melenyapkan calon biang kehancuran!" ujar Nyai Sangga Manik.
Jurig Kaladetya tampak tidak berdaya lagi. Sosoknya berputar hingga terlentang di udara dengan kepala mengarah ke labu. Mulutnya mengeluarkan teriakan yang mengguncang bangunan.
Hampir saja mereka terganggu oleh teriakan itu. Kemudian secara perlahan sosok Jurig Kaladetya yang bersatu dalam sukma Ganggasara bergerak mendekati lubang labu.
Kemudian energi di dalam ruangan berangsur ringan. Para sesepuh sudah memulihkan diri setelah mengeluarkan kekuatan yang begitu menguras tenaga.
Adijaya menghampiri Eyang Batara, menyerahkan Labu Penyedot Sukma, sementara Ki Santang langsung bersujud di depan sesepuh yang satu ini. Setiap bertemu memang selalu begitu.
"Bangunlah, Santang!" perintah Eyang Batara. Guriang berkulit biru menurut saja.
"Terima kasih, Anak muda!" ucap Eyang Batara kepada Adijaya.
"Saya yang seharusnya berterima kasih. Kalau tidak ada para sesepuh semua, mungkin kami masih kesulitan menghadapinya,"
"Kalau tidak ada niatmu yang ingin mencegah kebangkitan kembali Ganggasara, mungkin aku tidak akan tahu tentang hal ini,"
Tuntas sudah tugas Adijaya mencegah kekacauan dan keangkaramurkaan. Kini dia ingin fokus kepada istrinya yang sedang mengandung.
"Segeralah pulang," ujar Ki Manguntara. "Waktu di sini tidak sama dengan di sana!"
__ADS_1
"Jangan lupa kalau mau mengambil selir!" kata Nyai Rengganis selalu ingat tentang hal ini. Adijaya hanya tertawa pelan.
Para sesepuh sudah pamit. Labu Penyedot Sukma dibawa Eyang Batara, seperti dulu membawa labu yang berisi sukma Birawayaksa.
Ketika Adijaya keluar puri ternyata langsung ke tempat di mana pertama kali datang. Tidak ada lagi gerbang yang berlapis-lapis. Bahkan bangunan puri tersebut kini perlahan memudar seperti gambar yang terhapus lalu lenyap.
Ki Santang sudah kembali berwujud payung. Padmasari sudah hilang entah kemana.
"Waktunya pulang!"
***
Yang pertama kali dilakukan setelah raga halusnya kembali ke raga kasarnya adalah mengatur napas dan memulihkan kondisi. Adijaya menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskan dengan pelan.
Perjalanan panjang di alam lelembut telah menguras tenaga dan pikirannya. Masih terasa lelahnya walaupun telah kembali ke alam fana. Dia menenangkan pikiran beberapa saat.
Berapa lama dia berada di alam sana? Dia ingat perkataan Ki Manguntara. Di sana dan di sini beda waktu. Tidak bisa menghitungnya karena selama di sana selalu siang hari. Tapi Adijaya yakin, pasti sudah lama meninggalkan istrinya di sini.
Ketika dia hendak memanggil Padmasari untuk menanyakan hal ini, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi.
"Tangisan bayi!"
Tak lama kemudian terdengar lagu tangisan bayi yang kedua. Perasaan Adijaya tak karuan. Mungkinkah istrinya telah melahirkan? Berarti selama berbulan-bulan dia di alam lelembut.
Dengan perasaan berdebar Adijaya segera keluar dari kamar dimensi lain ini. Sampai di atas sepasang kakek nenek jelmaan kuda guriang langsung menyambutnya dengan tawa gembira.
"Juragan, akhirnya pulang tepat waktu. Anaknya kumplit!" ujar si nenek sambil menimang bayi.
"Kumplit?" Adijaya tidak mengerti.
"Iya, Juragan. Ada laki-laki, dan juga perempuan!" jawab si kakek yang juga sedang menimang bayi.
Apa? Bayi kembar, laki-laki dan perempuan? Adijaya tak dapat mengartikan perasaannya. Dia langsung memeriksa keadaan istrinya yang terbaring lemah.
"Dinda!" ucapnya gemetar, tapi bahagia.
Asmarini tersenyum bahagia melihat kepulangan suaminya bertepatan dengan kelahiran putra-putrinya.
__ADS_1
"Kakang!"
Mereka saling berpelukan dengan linangan air mata haru. Sang istri selain bahagia karena melahirkan dengan selamat juga karena suami pulang dengan selamat. Artinya misi yang diemban telah berhasil.