Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Menguak Misteri


__ADS_3

Asmarini memegang lembaran kulit, memandangi agak lama tulisan yang tercantum di atas lembaran kulit itu. Membaca ulang lagi isi tulisan itu beberapa kali.


"Aku tahu semua kerajaan-kerajaan bawahan Tarumanagara, tapi tidak ada yang bernama Purwa Sedana," kata si gadis mungil. Pemikirannya terpusat pada nama kerajaan yang tertera di dalam tulisan.


Tentu saja dia hapal nama-nama kerajaan dari ayahnya yang seorang pejabat pemerintahan di Wanagiri. Sejak kecil sudah diajarkan pengetahuan tentang kerajaan.


Lagi-lagi Adijaya dibuat kagum oleh si gadis. Pengetahuannya cukup luas. Sedangkan dia kurang tahu tentang kerajaan. Walaupun pernah terlibat dalam pemberontakan Cakrawarman dan juga membantu Cakra Diwangsa. Andai saja dulu dia menerima tawaran jadi pejabat di Tarumanagara, mungkin tidak akan bertemu Asmarini sekarang.


Adijaya tidak menyesal, dia lebih bersyukur bertemu gadis cantik bertubuh mungil itu. Hidupnya terasa lebih berwarna.


"Mungkinkah itu bukan bawahan Tarumanagara?" Adijaya mengungkapkan pikirannya.


"Bisa jadi, kemungkinan wilayahnya diluar kekuasaan Tarumanagara. Tapi di mana?"


Sedangkan Adijaya tidak tahu kerajaan besar selain Tarumanagara.


"Dinda baru mendengarnya?"


"Ya,"


Keduanya terdiam. Asmarini mencoba mengingat-ingat mungkin saja dia pernah mendengar nama kerajaan ini. Selain dari ayahnya, mungkin pernah membaca surat resmi yang bertanda tangan kerajaan yang baru ia dengar ini.


Sementara Adijaya mencoba mencerna maksud tulisan di atas lembaran kulit kata demi kata. Bagaimana pun juga harus mencari petunjuk dari benda ini. Karena benda ini terjatuh dari badan Candra Kusuma yang bangkit dari kubur.


"Dinda, sekarang kita kesampingkan dulu tentang nama kerajaan ini. Kita coba kaitkan isi tulisan ini dengan pembunuhan keluarga Brata Kusuma," usul Adijaya memecah keheningan.


"Benar, Kakang. Di sini dijelaskan, Candra Kusuma memberikan sumbangsih kepada kerajaan Purwa Sedana. Lalu diberikan tanda jasa berupa jabatan Mentri Muda,"


"Pertama," kata Adijaya. "Harta keluarga Brata Kusuma raib,"


"Berarti itulah sumbangsihnya, dengan harta!" sahut Asmarini.


"Kenapa Candra Kusuma mau menyumbangkan harta keluarganya?"


"Karena diiming-iming menjadi Mentri Muda,"


"Kenapa harus meracuni seluruh keluarga bahkan pembantunya juga?"

__ADS_1


Asmarini berpikir sejenak mencari kemungkinan yang lebih mendekati dan masuk akal.


"Mungkin saja Brata Kusuma tidak setuju. Takut kena tipu karena nama kerajaan itu terdengar asing. Sementara Candra Kusuma begitu berhasrat ingin jadi pejabat."


Kembali sepasang pemuda ini tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suasana begitu sepi, hanya suara binatang malam yang terdengar dari luar. Angin malam menyapu lembut wajah mereka lewat celah-celah kecil jendela kereta.


"Orang yang mempengaruhi Candra Kusuma agar menyumbangkan hartanya pasti menjanjikan sesuatu yang lebih besar lagi daripada sekedar menjadi Mentri sehingga dia tega mengorbankan keluarganya sendiri," dugaan Adijaya setelah diam beberapa saat.


"Berarti tujuan peracunan ini sudah jelas, mengambil harta untuk disumbangkan dan ditukar dengan jabatan. Untuk mengelabui orang lain, Candra Kusuma berpura-pura jadi korban. Seakan-akan seluruh keluarga Brata Kusuma dibantai pihak lain termasuk para pembantunya,"


"Ya, karena orang-orang tidak akan tahu dia hidup kembali sebagai seorang Mentri," sahut Adijaya pendek.


"Sekarang kita mengusut siapa yang telah menarik Candra Kusuma? Tadi kita lihat ada dua orang lain yang menunggu di luar walaupun yang datang terakhir bergerak seperti hantu!" Asmarini menunjukan kekesalannya lagi kalau ingat buruannya lepas.


"Petunjuk satu-satunya hanya lembaran kulit ini,"


Asmarini mendesah panjang seolah-olah kehilangan jejak. "Mau tak mau kita harus mencari kerajaan itu yang entah berada di mana. Yang paling utama siapa rajanya?"


"Dinda, coba kita persempit lagi pemikirannya,"


"Bagaimana maksud Kakang?"


Kembali keadaan menjadi sunyi. Hanya bibir Asmarini tampak berdesis mengucapkan kata 'sumbangsih' beberapa kali.


"Begini!" seru mereka berbarengan. Tatapan mereka beradu.


Keduanya sama-sama tertawa dengan kejadian ini. Asmarini menggelayut manja di bahu kekasihnya.


"Apa yang ingin Dinda kemukakan?"


"Kakang dulu!"


Duduk mereka kini saling menyandar ke punggung satu sama lain. Kehangatan menjalar ke seluruh tubuh. Begitu nyaman berada dekat orang yang disayang.


Keakraban mereka seolah-olah sudah lama saling mengenal. Terutama Adijaya mungkin sudah lupa dengan Kinasih. Asmarini adalah semangat baru baginya.


"Baiklah," kata Adijaya. "Aku mengira Purwa Sedana ini adalah kerajaan yang baru dirintis atau baru didirikan. Sehingga membutuhkan harta yang banyak untuk membangun. Lalu mengajak kepada orang-orang kaya yang bukan pejabat di kerajaan lain untuk menyumbangkan hartanya. Tentunya dengan iming-iming akan dijadikan pejabat penting,"

__ADS_1


"Cocok!" seru Asmarini mengagetkan Adijaya. "Ternyata pemikiran kita sama." Tertawa terkikik sambil menutup mulutnya.


Hening lagi beberapa saat.


"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Asmarini.


"Sudah malam, kita pikirkan lagi besok apa yang harus kita lakukan. Dinda istirahat saja,"


"Kakang tidur di mana?"


"Di sini lah, berdua sama Dinda!"


Asmarini melotot, tapi pipinya bersemu merah. "Sebenarnya aku mau tidur berdua, tapi kita belum suami istri. Kita jaga adat, Kakang. Jangan sampai mengundang malapetaka,"


Adijaya sedikit terhenyak mendengarnya. Ia merasa tersinggung. Tentu saja karena pernah mengalaminya, yang akhirnya mendapat malapetaka itu.


Diam-diam dia mengutuk perbuatannya dulu yang tak mampu mengekang nafsu.


"Baiklah, aku di depan saja. Aku mau mempelajari ini." Adijaya mengambil kitab tentang tenaga dalam. "Dinda tidur saja, ya!"


Lalu pemuda ini mencium kening dan bibir si gadis mungil agak lama. Asmarini memejamkan matanya. Menikmati sentuhan lembut itu beberapa saat. Ini yang pertama baginya. Hatinya bergejolak saat itu.


Sebelum beranjak keluar, sepasang remaja ini saling tatap mesra beberapa saat. Sama-sama menahan hasrat terlarang, walau tempat dan waktu seperti mengijinkan.


Tapi Adijaya tak ingin mengulangi kecerobohan yang membawa bencana lagi. Memang benar, tak mampu mengendalikan nafsu, maka bencana yang akan menyapa.


Pintu ruangan ditutup. Adijaya duduk bersila di tempat kusir. Lalu membuka kitab yang ditemukan di bawah peti. Tapi dia lupa, diluar sangat gelap gulita. Akhirnya hanya menghela nafas menyesal. Menutup dan menyimpan kembali kitab itu ke belakangnya.


Lalu dia mendapat pikiran. Bagaimana kalau mengolah kekuatan Melati Tunjung Sampurna saja? Adijaya merogoh ke ikat pinggang. Dikeluarkannya bunga melati berkelopak biru. Kemudian hidungnya menghirup aroma wangi bunga itu beberapa saat sambil memejamkan mata.


Menyedot semua aroma wangi melalui hidungnya, dikumpulkan dan disimpan dalam perutnya. Ditahan beberapa lama, tentu saja dengan cara menahan nafas.


Cukup lama Adijaya menahan nafas. Membiarkan hawa sakti yang mulai terbentuk dari aroma harum itu bergulung-gulung di dalam pusarnya.


Perlahan tubuhnya memancarkan cahaya putih tipis. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh.


Setelah cukup, bunga dimasukan kembali. Lanjut pemuda ini mulai memusatkan pikiran. Mengolah hawa harum bunga menjadi sebuah kekuatan.

__ADS_1


Pikiran Adijaya melayang antara sadar dan tidak sadar. Badannya tidak merasakan lagi keadaan di sekitarnya.


Udara yang dingin, malam yang mencekam. Ditambah peristiwa pembunuhan yang menyeramkan, membuat warga desa enggan keluar di malam hari.


__ADS_2