Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Pertarungan Dalam Diam


__ADS_3

Melihat Kuntala tewas, si tinggi besar segera melesat menuju padepokan. Praba Arum langsung mengejar.


Di dalam bilik.


Pada saat Praba Arum bertarung melawan Kuntala, kekuatan yang menarik Birawayaksa untuk menjauhi lubang labu berkurang. Perlahan sosok manusia yang telah berganti jenis menjadi siluman itu tersedot ke dalam labu.


Sosoknya meronta-ronta seperti orang yang tak bisa berenang tenggelam di sungai. Mulutnya terus mengeluarkan raungan yang memekakkan telinga.


Pada saat masuk ke labu, sosoknya menciut, mengecil seperti gumpalan asap hitam.


Wess!


Sep!


Adijaya langsung menutup labu begitu bayangan hitam Birawayaksa telah tersedot semua ke dalam labu.


Badai angin berhenti. Suasana gelap. Tubuh Komara kembali terkulai tak sadarkan diri. Pada saat itu Adijaya merasakan kesiur angin dari belakang. Secara sigap pemuda ini memutar badan dan langsung menendang ke arah sosok yang meluncur, menyergap. Sepertinya hendak merebut Labu Penyedot Sukma.


Duk!


Sosok itu terpental kembali keluar. Adijaya juga menerjang keluar setelah sebelumnya menitipkan labu kepada Ki Ranggasura.


Di luar sudah ada Praba Arum menghalau lelaki tinggi besar yang hendak kembali merebut labu.


"Ganggasara!" seru Adijaya. "Biar saya saja, Bibi!" serunya lagi sambil menghambur menyerang si tinggi besar yang ternyata Ganggasara, muridnya Birawayaksa.


Praba Arum segera menjauh. Kini di bawah temaramnya sinar bulan sabit, untuk kedua kalinya Adijaya bertarung dengan Ganggasara.


Kali ini Ganggasara tampak lebih kuat. Seluruh tubuhnya dilindungi hawa siluman. Tenaga dalamnya lebih besar. Mulutnya selalu terlihat komat-kamit. Rupanya sambil merapal mantra yang membuat dirinya semakin kuat.


Adijaya lebih hati-hati lagi. Sambaran angin yang keluar dari serangan lawan mengandung hawa jahat. Maka dia juga melindungi dirinya dengan hawa sakti miliknya. Rupanya Ganggasara sudah banyak mewarisi ilmu siluman dari gurunya.


Pertarungan kali ini bukan lagi adu tanding untuk mempertontonkan jurus andalan. Atau sekedar bertahan sambil mencari kelemahan lawan. Tapi sekarang benar-benar bertarung untuk menjatuhkan lawan. Melumpuhkan. Atau bahkan bila terpaksa membunuhnya.


Siasat Birawayaksa sewaktu merasuk ke dalam raga Bongkeng saja bisa dia bongkar. Apalagi sekarang sukmanya telah terkurung dalam labu. Tinggal mengatasi muridnya yang masih berjenis manusia sama dengan dirinya. Seharusnya lebih mudah.


Tapi ternyata cukup alot juga menjatuhkan Ganggasara. Si tinggi besar ini masih tampak perkasa melayani serangan-serangan.


Kini. Tidak lagi serangan adu jurus, melainkan adu tenaga halus.


Dalam jarak tujuh tombak Adijaya dan Ganggasara berhadap-hadapan di tengah lapangan. Ganggasara rangkapkan telapak tangan di depan dada. Mulutnya komat-kamit. Matanya memancar merah.


Sedangkan Adijaya bersedekap dan kedua mata terpejam. Dia kerahkan segenap hawa saktinya. Alirkan ke seluruh tubuh lalu dipancarkan keluar. Menghalau dan melawan serangan hawa sakti milik Ganggasara.


Pertarungan dalam diam. Pertarungan tingkat tinggi. Dua hawa sakti yang dahsyat saling beradu. Menimbulkan ledakan-ledakan di sekitar tempat mereka berdiri.

__ADS_1


Tar! Tar! Tar!


Ledakan-ledakan yang menggetarkan tanah sekitar padepokan. Membuat murid-murid terbangun dari istirahatnya. Lalu berhamburan melihat apa yang terjadi.


Ki Ranggasura, Arya Sentana dan Praba Arum menyaksikan di pinggir lapangan.


"Semuda ini sudah tinggi kekuatannya," ujar Ki Ranggasura mengagumi kekuatan dahsyat milik Adijaya.


"Semoga hati dan sifatnya selalu baik," ucap Arya Sentana mendoakan.


Bagi Adijaya ini yang pertama kalinya bertarung semacam ini. Entah kenapa dalam pikirannya tiba-tiba muncul gagasan seperti ini. Dan dia yakin bisa melakukannya.


Sungguh pertarungan yang menggetarkan jiwa. Ternyata melawan muridnya lebih dahsyat lagi. Tidak seperti melawan gurunya yang terkesan mudah. Aneh.


Tar! Tar! Tar!


Ledakan-ledakan terus terjadi. Baik Adijaya maupun Ganggasara tubuhnya terguncang hebat. Tapi masih mampu berdiri kuat.


Karena melihat kedua mata lawan yang terpejam, ini kesempatan buat Ganggasara membokong lawannya. Dia putarkan kedua tangan. Menghimpun tenaga sebesar-besarnya. Lalu kedua kakinya menolak ke tanah.


Wush!


Tubuh Ganggasara meluncur dengan dua telapak tangan menderu menghantam dada Adijaya.


Semua yang melihat tercekat kaget. Menahan nafas. Melihat serangan curang yang dilakukan Ganggasara.


Trak!


Duarr!


Di tangan kanan Adijaya tahu-tahu sudah tergenggam payung yang terbuka. Serangan Ganggasara mengenai daun payung yang membuat tubuhnya terpental kembali. Jauh sampai sepuluh tombak lalu jatuh bergulingan.


Sementara Adijaya juga terdorong mencelat ke atas. Tapi segera sigap dengan payungnya yang dibentangkan ke atas sehingga sosoknya melayang turun mendarat dengan perlahan dan selamat.


Di sebelah sana Ganggasara tampak sudah bangkit lagi. Tapi tidak untuk menyerang lagi, malah berkelebat lenyap melarikan diri.


Pada saat kejadian. Sebenarnya walau terpejam, tapi Adijaya bisa melihat gerakan Ganggasara yang hendak membokong. Lalu dalam sekejap dia ingat payung terbang miliknya. Maka begitu serangan lawan sedikit lagi menghantamnya, dia memanggil payung terbang. Langsung dibuka dan menodongkan ke depan.


Ternyata daya dorong serangan lawan sangat kuat. Sehingga tubuh Adijaya mencelat ke atas sampai dua tombak. Namun, lagi-lagi berkat payung terbangnya dia bisa selamat mendarat.


Pertarungan yang melelahkan. Adijaya menghampiri Ki Ranggasura dengan nafas ngos-ngosan. Payung terbangnya telah lenyap ke tempatnya.


"Dia kabur lagi, Kakek," Adijaya menyesali.


"Tidak mengapa, Nak. Yang penting dia tak akan berani lagi menginjakkan kakinya di sini,"

__ADS_1


"Siapa Ganggasara itu?" tanya Arya Sentana.


"Dia seorang menteri dari Agrabinta yang berkhianat. Muridnya Birawayaksa. Dia pasti ingin merebut Labu Penyedot Sukma untuk menyelamatkan gurunya," jelas Adijaya.


"Apakah orang yang satunya yang bernama Kuntala itu?" tanya Praba Arum.


"Mungkin, di mana dia?"


"Sudah tewas!"


Tiba-tiba saja angin yang terasa lembut tapi bertiup kencang. Adijaya pernah merasakan ini sebelumnya. Belum sempat memikirkan apa yang terjadi tampak dari atas langit melesat cahaya putih berkilau mendekat lalu berhenti di depan mereka.


Ternyata cahaya putih itu berupa sosok kakek berpakaian serba putih yang tubuhnya memancarkan sinar putih. Di samping Adijaya tiba-tiba saja muncul sosok guriang dalam keadaan bersujud.


"Eyang Batara," ucap Adijaya pelan.


Ki Ranggasura terperangah mendengarnya. Cepat-cepat dia menjura. Begitu juga Arya Sentana dan istrinya. Akhirnya kesampaian juga berjumpa dengan tokoh mahasakti manusia setengah dewa ini.


"Cucuku, kau telah berhasil menjalankan tugasmu," suara lembut Eyang Batara menyapa.


"Semua berkat bantuan Kakek, Paman dan Bibi. Tanpa mereka saya tidak bisa apa-apa," Adijaya merendah.


"Jadi, pelajaran apa yang didapat dari hal ini?"


"Bahwa manusia harus saling membantu dan menolong,"


"Bagus! Ki Ranggasura, biarkan aku yang menyimpan labu itu. Aku akan mengamankannya di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh manusia biasa. Supaya tidak ada tangan jahat yang mencoba membebaskan siluman itu,"


Ki Ranggasura memberikan labu itu. "Ini, Eyang!"


"Baiklah, lanjutkan tugas kalian menjaga kedamaian negeri ini."


Sosok Eyang Batara kembali melesat lenyap di atas langit. Sosok guriang pun lenyap. Semuanya menarik nafas lega.


Tak terasa kokok ayam pertama telah terdengar. Malam ini terasa begitu panjang.


***


*Kemelut melanda kerajaan Cupunagara. Adijaya dipaksa terlibat di dalamnya.


Bagaimanakah petualangan Adijaya selanjutnya?


Bagaimana pula dengan Ganggasara? Apakah dia akan kembali menuntut balas*?


Nantikan terus kelanjutan PENDEKAR PAYUNG TERBANG.

__ADS_1


Salam cersil Nusantara.


__ADS_2