Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Persidangan


__ADS_3

Semua perbuatan ini tak lepas dari pengintaian. Para pengintai yang bersembunyi segera bergerak mengikuti penjaga yang membawa pedang milik Purana. Gerakan mereka sangat halus tidak menimbulkan suara.


Ketika si penjaga sampai di depan pintu salah satu asrama, dia meminta kepada penjaga asrama agar membiarkan dia masuk. Anehnya, dua penjaga asrama ini seperti sudah bersekongkol dengan si pembawa pedang.


Namun, ketika si pembawa pedang hendak masuk, para pengintai berjumlah tiga orang segera muncul menghentikan dia.


"Berhenti!"


Tapi apa yang terjadi? Si pembawa pedang berbalik malah menyerang. Lebih mengejutkan lagi dua penjaga asrama juga ikut menyerang tiga pengintai.


Jadilah pertarungan tiga lawan tiga berlangsung di depan asrama. Keributan ini membuat penghuni asrama terjaga karena mendengar suara bentakan bahkan beradunya senjata.


Murid-murid segera keluar ingin melihat apa yang terjadi. Sementara para pengintai yang dari tempat lain juga sudah berkumpul di tempat kejadian. Penjaga pondok Dewan Kehormatan yang satunya sudah ditangkap.


"Siapa mereka?" tanya Anjasmara.


"Itu Rampaka yang membawa pedang milik Purana, Sonapati yang menemani Rampaka berjaga, sudah diamankan!"


"Dua penjaga asrama itu Giling Kansa dan Kudawening, ternyata mereka berempat bersekongkol, tapi aku yakin masih ada yang lainnya lagi!"


"Ringkus mereka!" perintah Anjasmara.


Segera saja anggota Dewan Kehormatan yang lain membantu tiga rekannya. Awalnya Rampaka dan dua kawannya cukup gesit dengan jurus yang tampak asing bagi murid-murid padepokan Karang Bolong.


Namun, karena kalah jumlah akhirnya mereka terdesak dan tak bisa melawan lagi. Rampaka sudah kehilangan senjatanya, begitu juga Kudawening dan Giling Kansa.


Selama pertarungan tadi, tiga orang yang dituduh bersekongkol itu tidak mengeluarkan suara sekalipun. Sikap mereka begitu dingin tanpa ekspresi. Bahkan ketika berhasil diringkus, tidak tampak kesakitan sedikitpun.


Wajah mereka tetap datar, walau sudah diikat dan digiring paksa ke aula pertemuan. Murid-murid lain bergerombol ikut menggiring mereka yang kini dituduh telah memfitnah Purana.


Empat orang didudukkan di tengah ruangan dalam keadaan terikat. Sinar wajah mereka tetap dingin dan datar. Beberapa orang merasa aneh dengan sikap mereka yang tidak biasanya.


"Persidangan akan dilakukan besok siang, jadi sekarang kembalilah ke tempat masing-masing!" perintah Anjasmara kepada para murid.


"Kita bergiliran jaga di sini!" kata Anjasmara kepada anggota Dewan Kehormatan yang berkumpul di situ.


***


Pagi di waktu 'Haneut Moyan' seluruh murid padepokan berkumpul di depan aula pertemuan. Mereka ingin menyaksikan persidangan atas kejadian semalam. Termasuk murid perempuan juga ikut menyaksikan.

__ADS_1


Suasana cukup berisik dengan berbagai perbincangan yang penuh prasangka. Ki Manguntara dan tiga nenek sakti juga mengikuti persidangan ini. Mereka duduk paling depan menghadap ke arah hadirin.


Anggota Dewan Kehormatan ada yang berbaris di dalam dan ada yang berjaga di luar. Anjasmara berdiri di samping kanan antara empat tersangka yang duduk terikat menghadap mahaguru dan tiga nenek sakti.


"Rampaka, Sonapati, Giling Kansa dan Kudawening. Kalian tertangkap basah hendak melakukan pembunuhan berencana!" seru Anjasmara.


Keempat tersangka kini tidak seperti semalam, sekarang raut muka mereka tampak ketakutan dan keheranan. Seolah-olah mereka baru sadar dari mimpi.


"Ini tidak benar, Mahaguru!" sangkal Rampaka. Tiga orang lainnya mendukung pernyataan Rampaka.


"Apa maksudmu? Kalian tidak bisa menyangkal, banyak saksinya!" tukas Anjasmara.


"Saya benar-benar tidak mengerti, Mahaguru!" keluh Sonapati. "Kenapa tiba-tiba saja kami diikat seperti ini, padahal kami tidak melakukan kesalahan apapun?"


Terdengar suara gemuruh di seantero ruangan dan diluar juga. Kebanyakan menghujat karena tersangka tidak mengakui perbuatannya, padahal banyak saksinya.


"Rampaka, kau yang diberikan kunci asli pondok Dewan Kehormatan, membuka pintu dan mengambil pedang milik Purana lalu pergi hendak membunuh. Kau masih menyangkalnya?" hardik Anjasmara.


"Sekali lagi saya tidak melakukan apapun. Saya sedang berjaga, tapi tiba-tiba saja sudah dalam keadaan terikat begini. Saya tidak mengerti!" jawab Rampaka.


"Ya, saya juga begitu!"


"Cukup!" teriak Anjasmara mulai naik pitam, tapi tetap menahan diri.


Dari bisik-bisik para murid kebanyakan menganggap tersangka keterlaluan. Sudah kepergok dan banyak saksi masih juga membantah. Padahal apa susahnya mengakui kesalahan?


Dari kerumunan para murid tampak sepasang manusia yang mendadak jadi pusat perhatian sedang berjalan menuju ruang aula pertemuan. Dengan mudah pasangan yang tak lain Adijaya dan Asmarini kini sudah berada di dekat para tersangka.


"Bolehkah saya ikut campur?" tanya Adijaya memandang ke setiap orang yang berwenang di sana.


"Silakan," jawab Anjasmara dengan ramah.


"Terima kasih!"


"Apa kau menemukan sesuatu, Adijaya?" tanya Ki Manguntara.


"Benar, Mahaguru!" Kemudian Adijaya menunjukkan sebuah sembilu yang panjangnya seruas jari kelingking. "Coba cari benda ini di tubuh mereka," kata Adijaya sambil menunjuk ke empat tersangka.


Anjasmara memberikan isyarat kepada anak buahnya. Empat anggota Dewan Kehormatan segera melakukan yang diperintahkan Adijaya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mereka yang melakukan pemeriksaan tampak terkejut begitu menemukan benda yang bentuknya sama dengan yang dipegang Adijaya.


"Apa itu?" tanya Nyai Parasuri.


"Ini semacam alat untuk mengendalikan pikiran," jawab Adijaya.


Semua orang tampak menggumam tak jelas.


"Lanjutkan!" perintah mahaguru.


"Dengan sembilu ini, si pemiliknya akan bisa mengendalikan orang yang dituju untuk melakukan tindakan apapun yang diperintahkannya,"


"Jadi maksudmu mereka dalam kendali seseorang?" tanya Nyai Rengganis.


"Benar!"


Pantas saja keempat tersangka ini keukeuh dengan pernyataannya. Namun, tetap saja perlu pembuktian lebih lanjut.


"Bisa kau buktikan dan tunjukkan siapa orang yang mengendalikan mereka?" tantang Ki Manguntara.


"Baiklah, sebelumnya apakah Mahaguru dan para sesepuh pernah mendengar ilmu 'Menjerat Pikiran'?"


Keempat sesepuh tampak berpikir sejenak, begitu juga para anggota Dewan Kehormatan. Suasana jadi hening, bahkan di luar juga tak terdengar bisik-bisik lagi.


"Aku ingat, ilmu ini di miliki seseorang yang jarang muncul ke dunia persilatan. Namanya Ki Sawung!" kata Nyai Sangga Manik.


"Nah, ternyata salah satu murid padepokan ini memiliki ilmu tersebut!"


Seketika semuanya terperanjat tak percaya, bagaimana bisa seorang murid berani berkhianat mengambil ilmu di luar padepokan?


"Siapa orangnya?" tanya Anjasmara.


"Coba bawa Purana kemari!" pinta Adijaya.


Beberapa saat kemudian Purana telah dihadirkan di tengah persidangan yang membuat kegiatan sehari-hari di padepokan ini terhenti sampai sidang selesai.


Sepulang dari lembah di antara dua gunung kemarin, Adijaya sudah menemukan petunjuk tentang orang yang memiliki ilmu Menjerat Pikiran. Walaupun tidak bertemu langsung dengan Ki Sawung.


Pertama dia melihat asap hitam tipis yang hampir merasuki dirinya, kedua dia menemukan sembilu terselip di antara bulu-bulu harimau. Dua benda itu cukup menjadi petunjuk baginya.

__ADS_1


Semua orang kini menantikan penjelasan yang akan dituturkan Adijaya. Sosok orang baru, tapi sudah menanamkan pengaruhnya di padepokan Karang Bolong.


__ADS_2