
"Tinggallah di sini beberapa lama, karena untuk mempelajari isi kitab ini hanya di sini tempatnya. Tidak bisa di tempat lain," jelas Ki Manguntara.
"Apa saya harus mempelajarinya?"
"Harus, karena ilmu harus disalurkan dan diturunkan. Ilmu-ilmu Mahaguru sebelumnya juga berasal dari kitab ini, tapi hanya sebagian kecil dan belum sempurna,"
Ki Manguntara yang ilmunya sudah setinggi ini saja masih di bilang tidak sempurna? Pikir Adijaya. Dia benar-benat bingung.
"Semua berawal dari Mahaguru pertama yang mendirikan padepokan ini. Beliau hanya mewariskan seperdelapan saja kepada muridnya, karena beliau keburu tapa moksa.
"Selain itu ternyata beliau tidak tahu bahwa kitab ini tidak bisa sembarangan diwariskan, tapi harus berjodoh juga. Sedangkan beliau menganggap sisa ilmu yang belum dipelajari muridnya akan didapatkan dari kitab ini, makanya beliau mengambil tapa moksa,"
"Kalau saya tidak mempelajarinya?" Pikiran Adijaya tak menentu. Dia merasa tidak enak hati. Bukan murid atau bagian dari padepokan ini, tapi berjodoh dengan kitab pusaka warisan para mahaguru. Apa kata murid-murid nantinya?
"Aku tahu pikiranmu, tidak mempelajarinya sekarang juga tidak apa-apa. Namun, kitab ini tidak akan mencari jodoh lainnya sebelum kamu mempelajarinya," jelas Ki Manguntara.
"Mahaguru yang pertama sudah menguasai semuanya, tapi yang diajarkan kepada murid-muridnya hanya seperdelapan. Bagaimana kalau setelah menguasainya, saya mengajarkan kepada Kakek. Atau, saya salin saja kitabnya agar bisa dibaca semua orang?" usul Adijaya tiba-tiba saja mendapat ide seperti itu.
Ki Manguntara menarik napas sejenak sebelum berkata, "Meskipun disalin, orang lain tetap tak bisa membacanya. Dan untuk yang pertama tadi, kau ajarkan saja kepada murid-muridku. Aku sudah tua, mungkin waktunya tapa moksa, hehehe..."
"Hah! Terus yang menggantikan Kakek, siapa?"
Asmarini menahan tawanya melihat tingkah sang suami yang kebingungan.
"Ya ... pewaris kitab ini!" Si kakek kekeh-kekeh sambil melangkah keluar. Dalam beberapa kejap sosoknya telah keluar dari ruang bawah tanah itu.
"Bagaimana, Dinda?" Wajah Adijaya seperti anak-anak yang kesulitan menemukan sesuatu yang hilang.
"Mungkin ini takdir buat Kakang." Asmarini memeluk sang suami. Menjatuhkan wajahnya di dada lelaki itu.
"Aku tidak pernah membayangkan, bagaimana jadi pemimpin. Memimpin Dinda saja rasanya aku belum becus, apalagi memimpin padepokan. Besar lagi!"
"Aku akan selalu mendukung Kakang. Kemanapun, di manapun,"
"Baiklah, aku akan ikuti takdir ini. Karena sesungguhnya bukan soal berjodohnya aku dengan kitab itu, tapi tanggung jawab besar setelah menguasainya. Ini yang menjadi beban pikiranku,"
"Kakangku, sayang!"
__ADS_1
"Ya, Dinda manisku!"
"Sebelum Kakang berlatih menguasai kitab ini, aku ingin menghabiskan waktu bersama Kakang." Lalu bibir tipis si mungil ini mendekat ke telinga kiri suaminya. Dia membisikkan sesuatu.
Adijaya angkat kedua alis sambil tersenyum lebar. "Ayo!" serunya bersemangat. Wajahnya berubah dari yang kebingungan menjadi berseri-seri.
Dua insan saling menyayangi ini segera keluar dari ruangan, mereka menemui Ki Manguntara. Adijaya bersedia tinggal di dalam ruang bawah tanah untuk mempelajari isi kitab Hyang Sajati, tapi tidak hari itu. Melainkan nanti setelah menyenangkan istrinya terlebih dahulu.
"Mau buat anak, ya!" seloroh sang mahaguru.
Sepasang suami istri tampak memerah wajahnya. Ki Manguntara tertawa cukup keras. Dulu, waktu pertama kali bertemu dengan mahaguru, kesannya Ki Manguntara ini orang yang selalu serius. Ternyata dia suka bercanda juga.
***
Di suatu tempat. Di dalam goa dekat pantai yang bersuasana temaram. Seorang lelaki muda tampak duduk bersila di lantai goa yang banyak pasir pantainya. Wajahnya menunduk hormat. Hatinya selalu berdebar bagaikan tak mampu menahan rasa yang bergelora.
Di depan orang ini ada sebuah batu besar yang di atasnya duduk seseorang yang mengenakan jubah hitam berpenutup kepala. Namun, wajah orang ini tetap masih kelihatan.
Wajah tirus, dagu dan hidung lancip, bibir tebal berwarna hitam. Kedua matanya sangat cekung sehingga terlihat hanya berupa rongga saja. Tulang pipinya juga menonjol jelas.
"Untuk ke tiga kalinya kau menemuiku, apa kau benar-benar yakin dengan keputusanmu?" Suara serak menyeramkan berasal dari orang berjubah hitam berwajah seram yang ternyata seorang nenek.
"Kau tahu resikonya?"
"Aku siap menanggungnya, asal ajian dari Nenek benar-benar hebat tiada banding. Aku sungguh-sungguh mencintainya, dan aku ingin memiliki seutuhnya,"
Terdengar suara tawa si nenek yang mengerikan, membuat bulu kuduk merinding. Tawanya bagaikan suatu pertanda datangnya malapetaka. Bahkan seluruh ruangan goa terasa bergetar. Si pemuda sampai menopang tubuhnya dengan kedua tangan.
"Aku Nini Kewuk, tidak pernah gagal dalam membantu siapapun yang memohon pertolonganku, hihihi...!"
"Berikan ajian itu sekarang, Nek!"
"Tidak mudah, kau harus bertapa tiga hari tiga malam sambil membaca mantera berulang-ulang, kau sanggup?"
"Apapun syaratnya, aku sanggup!"
"Hihihi... Kalau cinta sudah menggelora, maka mata akan buta. Demi cinta, segalanya cara akan dilakukannya, hihihi... Akulah ratu pelet yang akan menuntaskan segala persoalan cinta, hihihi...!"
__ADS_1
"Sekarang juga aku sanggup melaksanakan syaratnya!" Lelaki ini begitu menggebu-gebu. Matanya berkilat-kilat membayangkan satu sosok wajah perempuan yang belum lama dikenalnya, tapi sudah mencuri hatinya.
Hanya saja ada dinding terlarang yang menghalangi cintanya. Namun, karena sudah terlanjur jatuh hati, maka segala cara akan dilakukan demi menggapai cintanya.
"Baiklah, dengarkan mantera ini, hanya satu kali ucapkan. Kau harus langsung hapal. Inilah ajian Semar Mesem!"
"Aku siap, Nek!"
"Srikandi beureumna
Salaki maneh si Arjuna
Adeg aing Togog
Lungguh aing Semar
Maneh welas
Maneh asih
Ngahiji awak
Salira aing
Si... Sebutkan namanya!"
Dengan cekatan, pemuda itu langsung menirukan ucapan Nini Kewuk dan diulang-ulang dalam hatinya. Lalu dia bangkit dari duduknya. Berjalan mencari tempat nyaman untuk bertapa. Bibirnya selalu komat-kamit menghapalkan mantera tadi.
Pemuda ini mencari tempat di luar goa. Dia menemukan sekumpulan batu karang yang mempunyai celah pas untuk dijadikan tempat bertapa. Di dalam celah itu tidak akan kemasukan air laut jika terjadi pasang atau ada gelombang yang menghantam.
Di sana juga tidak bisa ditemukan orang lain kalau tidak secara teliti melihatnya. Dia mulai mengambil posisi yang nyaman untuk duduk bersila. Setelah itu dia pejamkan mata dan membaca mantera berulang-ulang.
Pada saat bertapa seperti itu, dia merasakan jiiwanya seolah-olah keluar dari raganya. Melayang-layang di angkasa. Siang hari yang terik dan malam yang dingin tak dipedulikannya.
Bahkan ketika mendengar berbagai macam bisikan di telinganya, dia tetap bergeming sebelum menuntaskan tapa sampai tiga hari tiga malam.
Setiap membaca mantera selalu menyebutkan nama perempuan yang menjadi targetnya. Maka selalu terbayang wajah wanita itu di pelupuk matanya.
__ADS_1
Berhasilkah dia?