Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Tipuan Pembalasan


__ADS_3

Secara perlahan sosok pelayan kedai berubah wujud menjadi seorang pemuda tampan berkumis tipis yang mengenakan pakaian serba hitam. Tangan kanan pemuda ini mengibas.


Wussh!


Seketika bangunan kedai beserta isinya lenyap. Kini Adijaya berada di dalam sebuah hutan. Di atas, langit telah gelap. Pemuda berkumis tipis yang tidak lain Rangrang Geni tersenyum sinis. Salah satu tangannya menunjuk ke kanan.


Tring!


Tampak empat orang seperjalanan Adijaya dalam keadaan terikat kuat. Masing-masing dijaga satu orang berpakaian sama seperti Rangrang Geni. Tatapan mata keempatnya terlihat kosong.


"Jika ingin mereka selamat, maka serahkan dua mahluk guriang pengikutmu!" ancam Rangrang Geni.


Adijaya mengambil sikap tenang, tidak banyak orang yang tahu tentang Ki Santang dan Padmasari.


"Apa aku bisa mempercayaimu?"


Rangrang Geni tertawa pelan. Sinar mata liciknya seperti tak pernah padam.


"Terserah kau!"


Adijaya menghela napas. "Aku lebih suka memakai cara ksatria!"


"Aku tidak peduli, mau dibilang licik, pengecut, pecundang. Yang penting keinginanku tercapai," Rangrang Geni tertawa keras. Suara tawanya seperti membelah langit.


"Kalau begitu gunakan aji-aji manteramu yang katanya mampu menundukkan siluman, apakah bisa digunakan kepada manusia?"


Wajah Rangrang Geni mengkelam. Giginya merapat, rahangnya menggembung. Matanya menyipit menatap Adijaya.


"Aku tahu kau berjuluk Pendekar Payung Terbang yang katanya memiliki kesaktian tiada tara. Aku ingin mencoba apa kau mampu melawan ilmu aji-ajianku?"


"Silakan!" tantang Adijaya.


"Jadi percuma aku susah payah menangkap mereka!" Rangrang Geni mendengkus kesal. Kemudian pemuda berkumis tipis ini rangkapkan telapak tangan di dada. Mulutnya merapal.


Saluhur mega


Sajero sagara


Manut


Sagala elmu


Manut


Sagala ati

__ADS_1


Manut


Sagala sukma


Manut


Diputarkan kedua telapak tangannya lalu didorongkan ke arah Adijaya.


Wussh!


Adijaya tampak terhempas angin. Kedua matanya berkedip-kedip. Seketika wajahnya berubah pucat. Rangrang Geni tertawa puas merasa usahanya berhasil.


"Sekarang ikuti perintahku!" seru Rangrang Geni. Dalam hati mengumpat, kalau ternyata semudah ini kenapa harus susah-susah membuat hutan dan kedai jadi-jadian?


Adijaya terdiam kaku.


"Ucapkan ikrar ini sebagai tanda penyerahan semua hak milikmu!"


Adijaya masih kaku. Kemudian Rangrang Geni mengucapkan ikrar yang ditiru oleh Adijaya.


"Aku Adijaya, dengan ini menyatakan menyerahkan mahluk guriang yang aku punya kepada Rangrang Geni dengan sukarela dan tanpa paksaan!"


Tring!


Sosok Ki Santang dan Padmasari kini berdiri di samping Rangrang Geni. Pemuda ini tertawa lepas penuh kemenangan.


Orang-orang yang menjaga teman-teman Adijaya segera melaksanakan perintah. Mereka memecahkan kepala Arya Sentana, Praba Arum dan Sekar Kusuma dengan telapak tangan.


Prak! Prak! Prak!


Tiga orang ini langsung roboh ke tanah tanpa suara dan tanpa perlawanan. Tinggal Asmarini yang terikat kaku dan tatapan kosong.


"Sekarang giliranmu menyusul mereka!" Rangrang Geni mendekati Adijaya bersiap hendak memecahkan kepalanya.


"Kenapa kau mengingkari janjimu?"


"Kau!" Rangrang Geni terkejut, dia tarik tangannya yang hendak menghantam kepala Adijaya. "Aku sudah mendapatkan yang aku mau, buat apa lagi berbaik-baik hati. Kau akan menjadi duri penghalang dalam meraih cita-citaku!"


Kembali Rangrang Geni mengangkat tangannya. Kali ini dilapisi tenaga dalam. Lalu digebukkan ke kepala Adijaya. Tapi ternyata hanya mengenai angin. Sosok Adijaya telah mundur dua langkah.


Pemuda ini tahu, Adijaya telah sadar dari pengaruh manteranya. Dia perintahkan pengikutnya untuk membunuh Adijaya. Puluhan orang berpakaian hitam tiba-tiba muncul dan langsung menyerang.


Adijaya tetap bersikap tenang, seolah-olah tidak terpengaruh dengan kematian teman-temannya. Dengan mudah dia menghindari setiap serangan walaupun puluhan jumlahnya.


Dengan ajian Bantai Jagat, orang-orang anggota Laskar Rangrang Geni itu tak mampu menyentuh sedikitpun. Malah ketika dua tangan Adijaya menyentak, secara bersamaan semuanya terpental jauh dan jatuh bergulingan.

__ADS_1


Pada saat itu Rangrang Geni melesat melakukan serangan bokongan. Dia yakin Adijaya tak kan mampu menghindar. Dia kumpulkan tenaga dalam di kepalan tangan.


Nyatanya Adijaya memang sengaja tak menghindar. Dia malah menyambut pukulan lawan dengan pukulan juga.


Dukkk!


Dua pukulan beradu sampai menggetarkan tanah sekitar. Adijaya tampak bergeming di tempatnya. Tapi Rangrang Geni tak menyangka akan seperti ini. Ternyata tenaga dalam Adijaya lebih besar.


Rangrang Geni terpental ke belakang. Hampir jatuh kalau tidak segera menyeimbangkan diri. Wajahnya meringis, tinjunya seperti menghantam baja. Niatnya akan menyerang dengan mantera-mantera lagi, tapi lawannya tak memberi kesempatan.


Adijaya berinisiatif menyerang duluan. Dia tidak akan membiarkan Rangrang Geni mengeluarkan sihir dari alam siluman. Aksinya cukup berhasil membuat Rangrang Geni kerepotan.


Ternyata tanpa bantuan apapun, Rangrang Geni tak mampu mengimbangi Adijaya. Malah dia yang terdesak. Walaupun dia telah memiliki pengikut baik dari manusia atau guriang, akan sia-sia kalau harus mati juga. Sedangkan dirinya dibuat repot tak karuan.


Adijaya menggunakan ilmu 'Membalik Langit' untuk meniru gerakan lawan dengan mudah bahkan lebih sempurna menggunakannya daripada lawannya.


Merasa semakin terdesak akhirnya Rangrang Geni mengeluarkan ilmu pamungkasnya, 'Pukulan Raja Jurig' dengan segenap tenaganya. Lalu tinju kanannya bergerak cepat.


Wutt! Desss!


Tinju Rangrang Geni tepat menghantam kepala Adijaya sampai sosoknya terlempar jauh lalu tergeletak di tanah tak berkutik lagi.


Rangrang Geni memeriksa keadaan Adijaya. Senyumnya mengembang lalu tertawa keras membahana sambil menatap langit.


***


Di suatu tempat tersembunyi Adijaya menguarkan teman-temannya dari tabir gaibnya. Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana mereka masih tetap utuh tak kurang suatu apapun?


Ketika rombongan Adijaya masuk ke kedai. Padmasari dan Ki Santang sudah melihat gelagat yang tidak baik. Mereka segera menemui sepuluh guriang pengikut Rangrang Geni. Tentu saja bagi mereka mudah menemukannya.


Mereka janji akan melepaskan buhul yang menjerat Magada dan kawan-kawan asal mau membantu Adijaya. Sedangkan Pancala yang sudah bebas ikut membantu juga sebagai balas budi.


Maka sebelum Adijaya dan teman-temannya menyantap makanan mereka sudah beraksi. Adijaya, Asmarini, Arya Sentana, Praba Arum dan Sekar Kusuma telah berpindah ke tabir gaib.


Lima guriang malih rupa menggantikan mereka. Selanjutnya seperti yang telah diceritakan tadi. Semuanya berjalan sangat rapi sehingga Rangrang Geni tak menyadari kalau dirinya sedang dipermainkan.


"Dia yang mempermainkan kita di hutan jadi-jadian," jelas Adijaya. "Jadi sekarang kita balas mempermainkan dia!"


Mereka semua mengerti atas apa yang terjadi setelah Adijaya menjelaskan. Diam-diam merasa ngeri kalau seandainya mereka benar-benar tertangkap sungguhan.


"Aku harap dia senang!" ejek Praba Arum sambil menatap suaminya.


"Tapi aku tetap lapar!" ujar Asmarini.


Mereka berada di dalam hutan. Suasana begitu gelap karena malam telah larut. Akhirnya mereka membuat api unggun. Mereka tidak takut lagi karena sudah dilindungi mantera pelindung Padmasari.

__ADS_1


Adijaya dan Arya Sentana sempat mencari binatang buruan untuk dibakar dan disantap bersama.


[Maaf kalau banyak typo, up-nya sambil ngantuk]


__ADS_2