
Wanita berpakaian ketat yang menampakkan lekuk tubuhnya berbalik badan menghadap sepasang pemuda di belakangnya.
"Mereka hanya bisa dikalahkan oleh ayahmu bila sudah hidup kembali, tapi itu masih lama. Masih sembilan purnama lagi hingga basuhan darah bayi terakhir. Darah bayi kembar!"
Wanita ini bernama Madari, usia sebenarnya hampir tujuh puluh tahun. Dia adalah ibu dari pemuda yang berdiri bersama pasangannya itu. Si pemuda bernama Gagakseta dan gadis di sampingya bernama Trikarsih.
Sedangkan mayat yang terputus kepalanya itu adalah suami Madari. Beberapa purnama yang lalu sang suami bersama anak sulungnya ditangkap gabungan pasukan kerajaan pusat bersama pasukan kerjaan bawahan lainnya.
Sang suami terlibat dalam pendirian kerajaan baru tanpa seijin penguasa pusat Tarumanagara. Bahkan dituduh hendak memberontak sehingga dia dan anak sulungnya dijatuhi hukuman penggal.
Dengan usaha yang gigih, Madari dibantu anak bungsunya, Gagakseta berhasil mencuri jasad suami beserta kepalanya. Kenapa mereka mencurinya? Dan kenapa hanya jasad suaminya?
Dulu sang suami berilmu tinggi, tapi seorang pendekar muda telah melenyapkan semua ilmunya yang juga otomatis menggagalkannya mendirikan kerajaan baru.
Namun, meski telah hilang semua ilmunya, badannya memiliki keistimewaan. Yaitu sudah tercampur dengan badan siluman. Dia akan hidup kembali sebagai manusia setengah siluman.
Ada syarat bila ingin menghidupkan kembali. Yaitu setiap malam bulan purnama, bekas penggalan di leher, baik di kepala atau di badan harus dibasuh oleh darah bayi yang baru lahir.
Proses penyiraman darah bayi ini memerlukan dua belas purnama. Artinya membutuhkan dua belas bayi yang baru lahir, dan yang terakhir harus darah dari bayi kembar.
Saat ini Madari baru menyiramkan darah bayi yang ketiga. Masih ada sembilan purnama lagi menunggu kebangkitan suaminya.
Sedangkan jasad anak sulungnya tidak memiliki keistimewaan itu. Hanya jasad biasa seperti manusia pada umumnya.
Selama menunggu, mereka ibu dan anak ditambah Trikarsih calon istri Gagakseta sedang mendalami ilmu hitam dari makhluk siluman yang menjadi junjungan sang suami dulu.
"Kalian pergilah, seperti biasa aku akan melakukan ritual untuk meningkatkan ilmuku!" suruh Madari.
Tanpa banyak kata, Gagakseta dan Trikarsih melangkah ke luar. Mereka tahu ritual yang dilakukan setiap malam bulan purnama. Ritual yang menjijikan, tapi bagaimana lagi demi menyempurnakan ilmu.
Tinggal Madari bersama mayat sang suami di sana. Wanita ini berdiri tegak menghadap ke mayat suaminya. Kedua mata dipejamkan, wajah mendongak ke langit-langit goa. Lalu hidungnya menghirup udara dalam-dalam.
__ADS_1
Seketika seluruh ruangan goa dipenuhi hawa dingin hingga terasa menusuk tulang. Namun, Madari tidak peduli. Dia malah melepaskan seluruh pakaian yang melekat di badannya satu persatu.
Nampaklah tubuh mulus kencang dengan bentuk indah tanpa sehelai benang. Tubuh yang dirawat dengan kekuatan ilmu hitam yang dia miliki. Karena sebenarnya dia adalah seorang nenek-nenek.
Kemudian Madari merebahkan dirinya di lantai goa yang permukaannya datar dan rata. Berbeda dari lantai di sekelilingnya. Sepertinya lantai ini dibuat khusus untuk ritual.
Madari berbaring telentang dengan kedua kaki merenggang. Dua tangan terangkat seperti sedang memeluk sesuatu. Dagunya terangkat, bibir juga mendesis bergerak-gerak. Dan seluruh tubuhnya kini menggeliat-geliat.
Jika dilihat lebih seksama lagi, maka terlihat di atas tubuh Madari ada sesosok bayangan tembus pandang berbentuk tubuh laki-laki sedang menindih wanita itu.
Itulah siluman junjungan Madari dan suaminya. Dia harus menyerahkan tubuhnya kepada siluman itu sebagai syarat agar ilmunya semakin meningkat.
Madari menikmati setiap sentuhan layaknya bercumbu dengan manusia. Dia sudah tidak peduli apapun lagi. Yang penting ilmunya bertambah dan bisa membalaskan dendam suaminya.
Kelak, bila sang suami telah bangkit kembali. Semua dendam akan terbalaskan.
Siapakah mayat yang kepalanya terpisah itu?"
Di suatu pagi yang cerah. Sang surya menghangatkan bumi dengan cahayanya yang tak pernah padam sepanjang waktu. Suara air bergemericik mengalir agak deras di sebuah sungai yang kebetulan tidak jauh dari jalan.
Di pinggir sungai itu ada sebuah kereta kuda mewah 'terparkir'. Di dekat kereta kuda itu, Adijaya sedang membakar ayam hutan untuk santapan pagi ini. Sang istri yang meminta dibuatkan ayam bakar itu.
Sementara Asmarini sedang membersihkan diri di sungai. Tubuh indahnya berendam dalam jernihnya air. Dia menikmati setiap basuhan air yang menyegarkan itu.
Di tempat lain yang tersembunyi, dua pasang mata sedang mengawasi mereka. Sepasang pemuda yang sudah beberapa hari ini selalu mengawasi Adijaya dan Asmarini sejak keluar dari kota raja.
"Kau urus yang laki-laki, aku yang perempuan!" perintah Gagakseta sebelum dirinya berkelebat mendekati Asmarini.
Asmarini yang sedang enak-enaknya berendam dikejutkan dengan kedatangan Gagakseta yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya dengan senyum genit.
Belum sempat bersuara, tubuh Asmarini sudah kaku lebih dulu. Seringai Gagakseta semakin lebar dengan tatapan tajam bagai elang memburu mangsa.
__ADS_1
"Istri pendekar tersohor, ternyata begitu mudah mendapatkanmu. Kenapa aku harus susah-susah meningkatkan ilmuku!"
Gagakseta memandangi tubuh indah Asmarini, meskipun mungil tapi menggoda. Jakun pemuda ini tampak naik turun. Wanita ini ternyata lebih cantik dari Trikarsih calon istrinya.
Lidahnya melelet, perlahan tangannya menjulur memegang wajah mungil nan cantik jelita itu.
"Bagaimana kalau kau kusandera, apakah suamimu akan menuruti perintahku, tapi aku ingin memilikimu seutuhnya. Tidak akan ditukar dengan apapun,"
Gagakseta mendekat, merapatkan tubuhnya hingga menyentuh kulit mulus Asmarini. Gejolak kelelakiannya tak mampu dibendung lagi.
Walaupun dia sering menikmati lautan cinta bersama calon istrinya, tapi dia merasakan sensasi yang lain ketika menyentuh Asmarini.
Bagaikan singa buas, Gagakseta mendekap Asmarini yang mematung tak bisa bergerak. Bahkan menariknya ke bagian sungai yang dangkal.
Dengan liar seperti sudah lama tak pernah merasakan, pemuda ini menindih si mungil dengan kasar. Namun, beberapa saat kemudian dia merasakan sesuatu yang beda.
Tidak lagi merasakan kulit mulus dan kencang, malah sekarang terasa keras. Ketika melihat ke bawah, Gagakseta terkejut bukan main. Emosinya seketika membuncah.
Tak sadar dia berteriak geram. Bagaimana bisa begini? Ternyata yang dia 'garap' hanya gedebong pisang. Kemana Asmarini? Dia memandang berkeliling, tidak ada siapa-siapa di situ.
"Sial, aku ditipu mentah-mentah!"
Kini baru sadar bahwa Adijaya dan Asmarini memang tak mudah dikelabui, malah dirinya yang terjebak. Sungguh memalukan kalau ketahuan ibu atau Trikarsih.
Tiba-tiba Gagakseta ingat kekasihnya. Khawatir mengalami kejadian serupa, dia segera mencari Trikarsih yang disuruhnya mengerjai Adijaya.
_______
Eror gak eror saya tetap update, biarpun harus nunggu review sampai batas waktu maksimal yaitu tiga hari. Mungkin akibatnya akan dianggap tidak update selama tiga hari berturut-turut.
Salam hangat semoga para pembaca selalu diberikan kesehatan dan rejeki yang banyak. Aamiin...
__ADS_1