
Mendadak saja Adijaya merasakan hawa buruk di sekitarnya. Sesuatu seperti merasuki kepala dan membuat pusing mendadak. Pandangan berkunang-kunang.
Adijaya mundur tiga tindak. Dia pusatkan pikiran. Pejamkan mata dan tajamkan semua inderanya. Seketika ilmu dari Padmasari bekerja dengan sendirinya.
Kini dia tahu hawa buruk yang membuatnya pusing ternyata serangan awal ilmu sihir. Sebelum mendapatkan serangan lanjutan, segera saja dia berlari meninggalkan tempat itu.
Dia merasa belum siap menghadapinya karena belum tahu seberapa besar kekuatan yang akan dilawan. Walaupun sekarang dia paham dan menguasai ilmu semacam itu, tetap saja harus memperhitungkan dengan cermat.
Setelah jauh meninggalkan lembah tadi dan pengaruh hawa buruk telah lenyap, Adijaya hentikan larinya. Kebetulan ada kedai di dekatnya. Dia segera masuk dan memesan makanan.
Adijaya merenungkan peristiwa tadi. Sesuai dugaan sebelumnya, ada tokoh lain di belakang keempat Dewi Kembang Kuning. Tokoh yang menjadi dalangnya. Karena empat wanita bercadar dan anak buahnya hanya wayang.
Seketika dia teringat kepada Ganggasara. Namun, laki-laki itu telah dihukum mati. Tak mungkin dia bangkit lagi. Ini pasti orang lain yang menyukai warna kuning.
Ingat warna kuning membuat muncul sebuah dugaan lagi.
Adijaya menghela napas panjang untuk menenangkan pikirannya. Lalu mulai menyantap hidangan yang baru diantarkan ke mejanya.
Di saat sedang menikmati hidangannya, tiba-tiba pundaknya ada menepuk. Seketika Adijaya menoleh mencari tahu siapa yang telah menepuknya.
"Paman Arya!"
Orang kedua di padepokan Linggapura yang berjuluk Pendekar Tinju Dewa tersenyum tipis. Wajahnya agak pucat. Sinar matanya menyiratkan beban pikiran yang berat. Arya Sentana duduk di samping Adijaya.
"Sudah lama tidak bertemu, sungguh suatu kebetulan bisa bertemu di sini,"
"Sepertinya paman sedang menghadapi banyak masalah," Adijaya menghentikan bersantapnya demi menghormati orang yang cukup berjasa dalam hidupnya.
Arya Sentana tidak langsung menjawab. Dia mengatur perasaannya. Berusaha tenang saat mengutarakannya.
"Guru tewas!"
Adijaya kaget bukan main mendengarnya. Rasanya tidak akan percaya kalau bukan Arya Sentana yang bicara. Air mukanya berubah seketika. Hatinya berdebar.
Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia menahan sekuat mungkin agar tidak menangis. Dia tak dapat berkata-kata. Kemudian dia mendengar pamannya bertutur.
"Satu purnama yang lalu, seseorang datang dan membuat keributan di padepokan. Ilmunya sangat tinggi. Dia berhasil mengalahkan guru hingga akhirnya tewas dan juga..."
Arya Sentana menghentikan ceritanya. Dia menahan perasaannya. Matanya juga tampak berkaca-kaca. Belum pernah dia merasakan hal ini sebelumnya. Sementara Adijaya hanya menunggu pamannya melanjutkan cerita.
Orang seperti apa yang mampu mengalahkan Ki Ranggasura? Tidak disangka, sekian lama meninggalkan padepokan ternyata kabar buruk yang ia terima.
__ADS_1
"Orang itu membawa kabur Praba Arum!" lanjut Arya Sentana.
Sekali lagi Adijaya terkejut. Tak bisa menahan lagi akhirnya dia ajukan pertanyaan.
"Siapa orangnya, Paman?"
"Tidak tahu, tidak ada yang tahu termasuk guru,"
"Ciri-cirinya?"
"Dia memakai topeng kayu, tubuhnya sangat kurus sehingga terlihat seperti tengkorak. Tapi ilmunya sangat tinggi,"
Adijaya membayangkan bagaimana rupa orang yang dimaksud. Dia ingat Ki Bardawata juga pernah mengatakan tentang seseorang yang badannya lebih kurus dari dia yang menjadi musuh bebuyutan Nini Bedul.
"Terus, Paman hendak kemana?"
"Pada mulanya orang kurus itu mengatakan istriku akan dijadikan sebagai upeti tanda takluknya padepokan. Tapi tiga hari kemudian datang sebuah surat yang menyatakan agar padepokan menyediakan seribu keping emas untuk menebus Praba Arum,"
Arya Sentana berhenti lagi. Adijaya tampak berpikir. Tak ingin larut dalam pikiran yang memusingkan akhirnya dia mengajak pamannya makan. Dia memesan makanan lagi.
"Berarti orang itu menyuruh Paman datang ke suatu tempat?"
"Lembah?" Adijaya ingat baru saja dia dari lembah tapi tidak tahu lembah apa namanya.
"Tidak jauh dari sini!"
Apakah lembah tempat markasnya Dewi Kembang Kuning? Pikir Adijaya.
"Apa paman membawa emasnya?"
"Tentu saja tidak, aku akan membebaskan istriku dengan cara apapun!"
Pesanan untuk pamannya datang. Adijaya mempersilakan Arya Sentana untuk makan. Mereka pun bersantap tanpa bicara lagi.
Matahari sudah siap di pintu senja. Hari sebentar lagi gelap. Walaupun sudah selesai makan, Adijaya dan pamannya masih duduk di sana.
Adijaya menceritakan pengalamannya selama meninggalkan padepokan. Arya Sentana baru tahu kalau dulu ketika Adijaya pulang dengan membawa kereta kuda, ternyata pemuda itu telah kehilangan kekuatannya.
Sekarang Adijaya sedang mencari Asmarini, calon istrinya.
"Ternyata lika-liku hidupmu sungguh menakjubkan,"
__ADS_1
"Ah, dibandingkan Paman, pengalaman saya masih belum seberapa,"
Arya Sentana mengusap-usap pundak Adijaya. Tentu saja menakjubkan baginya. Setelah kehilangan kekuatan, bangkit dan berjuang lagi sehingga mendapatkan kekuatan baru yang tak kalah dahsyatnya.
"Oh, ya, Paman. Pernah mendengar tentang Dewi Kembang Kuning?"
"Aku baru mendengarnya ketika dalam perjalanan. Dia mendatangi setiap desa, menarik paksa upeti. Kadang-kadang membawa paksa istri dan anaknya Ki Lurah,"
"Apa Paman pernah bentrok dengannya?"
"Tidak, aku hanya mendengar dari cerita orang-orang!"
Kedai mulai sepi. Tinggal mereka berdua dan satu orang lagi yang tampak duduk saja seperti sedang menunggu seseorang.
Lalu orang itu bangkit dan mendekati mereka. Tampaknya orang ini dari kalangan persilatan.
"Aku dengar Ki Sanak hendak ke lembah Jonggrang?" tanya orang itu kepada Arya Sentana.
Dilihat dari penampilannya setidaknya orang ini seumuran dengan Arya Sentana.
"Iya, apakah Ki Sanak juga mau ke sana?"
"Saya Tunggul Manik, juga hendak ke sana!"
Tunggul Manik menceritakan hal yang serupa yang menimpa Arya Sentana dan padepokan Linggapura. Hanya saja orang yang menyuruhnya datang adalah Dewi Kembang Kuning. Karena yang menyerang padepokannya adalah wanita bercadar kuning itu.
Dari sini Adijaya menyimpulkan bahwa, orang kurus yang telah membunuh Ki Ranggasura adalah dalang langsung alias pemilik empat Dewi Kembang Kuning. Orang yang kedudukannya lebih tinggi dari wanita bercadar kuning.
Berarti sihir yang menyerangnya sewaktu di lembah tadi berasal dari orang kurus itu. Dan lembah itulah yang di namakan Jonggrang. Tinggal memastikan dugaan satu lagi yang masih tersimpan dalam benak Adijaya.
"Kalau begitu, kita sama-sama pergi ke sana," ajak Arya Sentana. "Hanya saja, sebentar lagi malam. Kita cari penginapan dulu."
"Baiklah, karena tampaknya bukan hanya kita yang akan pergi kesana. Banyak pendekar lain juga hendak ke sana terutama yang mengalami nasib serupa dengan kita."
Kemudian mereka keluar dari kedai dan mencari penginapan. Mereka merencanakan pergi ke lembah Jonggrang besok paginya.
Kabar tentang banyak pendekar yang hendak pergi ke Lembah Jonggrang telah terendus telik sandi kerajaan. Senapati Ajidarma yang dipercaya menjalankan tugas ini segera mengumpulkan prajurit khusus.
Ajidarma, senapati yang sudah berumur empat puluh tahun. Masih gagah dan berwibawa. Dia akan mengerahkan dua ratus prajurit untuk mengepung lembah Jonggrang. Dia tidak mau menganggap enteng lawan walaupun jumlahnya lebih sedikit.
Rencananya mereka akan bergerak mendahului sebelum para pendekar datang ke lembah itu.
__ADS_1