
Adijaya kembali bersemedi. Setelah menghirup aroma harum bunga Melati Tunjung Sampurna, ada perubahan yang dia rasakan dalam tubuhnya.
Nafasnya lebih ringan dan panjang dari sebelumnya. Badannya lebih segar. Tadi saat berjalan kembali ke tempat semedinya, langkahnya begitu ringan.
Ini hanya aroma yang dihirup, bagaimana kalau bunga melati berkelopak biru itu dimakan seperti kata Ki Santang. Namun, pemuda ini berniat akan secara bertahap membangkitkan kembali kekuatannya.
Langit masih pekat, bintang-bintang bagai ditelan awan hitam. Udara malam tetap dingin, tapi sudah tidak berpengaruh bagi badan Adijaya.
Pemuda itu kini sudah kembali memusatkan pikiran. Menghirup nafas dalam-dalam. Menahannya di perut, dialirkan ke seluruh tubuh. Tak lama kemudian dia merasakan sebuah hawa muncul dari pusar bagian dalam.
Dengan segera Adijaya mengendalikan hawa itu. Mengalirkan ke setiap bagian dalam tubuhnya. Semakin lama semakin hangat. Tubuh Adijaya perlahan memancarkan cahaya putih tipis samar-samar.
Kemarin baru tiga hari saja Asmarini sudah mengantar makanan. Dia lupa Adijaya pernah bilang dia akan semedi selama tujuh hari. Kini setelah ingat, maka di hari ke delapan pagi-pagi waktu Carangcang Tihang, Asmarini mengunjungi Adijaya lagi dengan membawa masakan.
Benar saja sesampainya di sana, Adijaya sedang berlatih memperagakan jurus. Pemuda itu sudah mengenakan pakaian atasnya.
"Wilujeng enjing, Kakang Adijaya!" ucap Asmarini. Suaranya mengalun lembut terdengar lebih merdu dari kicauan burung pagi hari.
Adijaya menghentikan kegiatannya. Memandang si gadis dengan melempar senyuman.
"Dinda Asmarini, sepagi ini kau sudah mengunjungi suamimu. Istri yang baik!"
Asmarini kerutkan kening. Wajahnya bersemu merah. Tapi dia malah tertawa kecil sambil menutup mulut dengan punggung tangannya.
"Sejak kapan kita menikah?" sungut Asmarini.
"Kamu maunya kapan?"
Adijaya mendekat, mengambil sebakul kecil makanan yang dibawa gadis mungil itu. "Terima kasih, istriku yang cantik dan baik hati,"
"Ih, kamu heureuy-nya kaliwatan!"
Adijaya menarik Asmarini ke sebuah batu pipih yang sering dipakai tempat duduk.
"Kita makan bersama, suami istri itu harus selalu makan bareng,"
"Kamu bercanda terus!"
"Tidak, aku sungguh-sungguh!"
Walau begitu Asmarini menyiapkan makanan yang dibawanya. Adijaya menerima makanan yang disajikan lalu memakannya dengan lahap.
Asmarini memperhatikan hampir tak berkedip. Rasanya semakin dekat saja dengan pemuda ini. Bahkan bercanda tanpa sungkan-sungkan.
"Dinda tidak makan?"
Gadis ini tercekat mendengar suara yang lembut ini. Membikin hatinya berdebar. Sesaat tatapan mereka saling beradu.
"Kakang..."
__ADS_1
"Makanlah!"
Gadis cantik mungil ini akhirnya ikut makan juga. Tak ada obrolan saat makan. Hanya mereka sering saling tatap. Tatapan penuh makna. Mungkinkah keduanya sama-sama jatuh hati?
Setelah makan, dan minum dari air yang tersimpan dalam kendi. Adijaya mengajak si gadis duduk di tempat semedinya.
Di dalam hati keduanya sebeneranya berdebar-debar hanya berduaan saja di tempat itu.
"Kamu mau jadi istriku?" tanya Adijaya mengejutkan si gadis.
Wajah Asmarini kembali bersemu merah. Beberapa saat gadis ini tampak gugup tak bisa berkata. Benarkah yang dia dengar tadi?
"Kakang sendiri apa belum punya istri? Atau sudah punya calon istri?"
Adijaya menatap lekat perempuan mungil itu. "Aku pernah mempunyai calon istri di padepokan. Lalu aku pergi untuk menjalankan tugas beberapa lama. Setelah kembali, dia sudah menikah dengan orang lain,"
Saat bercerita tadi tatapan Adijaya tak pernah berpaling dari Asmarini.
"Oh, begitu..." ucap Asmarini pelan merasa terharu dengan kisah sedih tentang percintaan Adijaya.
"Sebenarnya sampai aku datang ke rumah beberapa waktu yang lalu, hatiku masih terpukul atas kejadian ini. Tapi..."
Adijaya menatap lebih lekat wajah Asmarini. Gadis ini semakin kencang debaran dalam hatinya. Baru sadar ada sesuatu yang lain dari Adijaya. Badannya dan hembusan nafasnya. Menebar aroma harum bunga.
"Tapi apa?"
"Sejak bertemu kamu, hatiku berbunga-bunga kembali,"
"Kamu cuma..."
Asmarini tidak melanjutkan bicaranya saat Adijaya memegang tangannya. Terasa hangat. Jantungnya semakin berdegup kencang. Memang dia juga menyukai pemuda itu. Tapi setelah mendengar kisah cintanya, Asmarini jadi takut kalau dia hanya dijadikan pelampiasan.
"Aku tidak bercanda, dan aku tidak akan tega menjadikanmu cuma pelarian. Aku tidak ingin menyakiti hati wanita,"
Asmarini tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia melihat pancaran ketulusan dari tatapan Adijaya. Apa tidak salah? Bisa secepat ini? Padahal belum lama saling mengenal.
Tapi soal perasaan memang tidak ada yang menyangka. Ada kalanya yang sudah lama saling kenal, tapi tetap tidak ada rasa saling ketertarikan satu sama lain.
Dalam benak Adijaya sebenarnya bergejolak menahan nafsunya. Ini adalah kelemahannya bila berada dekat dengan perempuan. Bahkan karena hasrat menggelora yang tak bisa ditahan itu mengakibatkan malapetaka menimpa dirinya.
Ya, Adijaya kehilangan kekuatan setelah memadu cinta dengan Santini. Gadis pembunuh suruhan Ganggasara. Dia tidak menyangka kalau gadis itu telah disusupi ajian yang bisa menyedot kekuatan. Walau akhirnya gadis itu tewas karena tak mampu menampung kekuatan yang begitu besar.
Sekarang, walau bisa saja dia merayu Asmarini hingga rela menyerahkan dirinya. Tapi sebisa mungkin dia menahan diri. Dia hanya akan melakukannya jika sudah resmi menjadi suaminya.
Suami? Benarkah secepat itu dia ingin menjadi pendamping seumur hidup gadis ini? Asmarini putri bangsawan. Apakah orang tuanya akan menyetujuinya? Bukankah gadis ini sedang bersembunyi karena tidak mau dijodohkan?
"Aku bisa menerima Kakang, tapi guru memberikan syarat," kata Asmarini kemudian.
"Syarat?"
__ADS_1
"Iya,"
"Lalu orang tuamu?"
"Mereka akan setuju atas saran guru,"
"Terus, perjodohanmu?"
"Guru memberi kabar, bahwa ayahanda sudah tidak berniat menjodohkanku lagi. Orang yang tadinya hendak dijadikan suamiku, kini sudah dinikahkan dengan kakakku,"
"Dinda punya kakak perempuan?"
"Aku anak kedua, aku masih punya adik laki-laki umurnya masih delapan tahun sekarang,"
"Apa syaratnya?"
"Cukup mengimbangi guru dalam sepuluh jurus!"
Adijaya manggut-manggut pelan. Matanya menerawang.
"Kalau aku gagal bagaimana?" tanya Adijaya kemudian. Tangannya masih memegang tangan lembut Asmarini.
"Kawin lari!" seru Asmarini sambil mendelik dan tersenyum. Gadis ini balas menggenggam tangan Adijaya.
Si pemuda sempat tercekat. Lalu terdengar tawa Asmarini yang renyah dan merdu. Adijaya mencubit hidung gadis itu yang juga mungil dan lancip.
"Aw, Kakang!"
"Kapan nenek itu akan datang lagi?"
"Tujuh hari lagi, Kakang punya kesempatan untuk memperdalam ilmumu. Guru sudah tahu Kakang sedang memulihkan kekuatan. Beliau sempat heran, kenapa Pendekar Payung Terbang begitu mudah dijatuhkan dalam sekali serangan? Lalu aku menjelaskan tentang keadaan Kakang." Begitulah gaya bicara Asmarini yang suka neretel.
Tapi Adijaya menyukainya. Baginya terlihat lucu dan menggemaskan kalau Asmarini sedang bicara dengan gayanya itu.
"Baiklah, aku akan menunjukan kesungguhanku. Demi Dinda!"
Cup!
Satu ciuman mendarat di pipi kiri gadis itu. Asmarini kaget bukan main. Wajahnya kembali memerah.
"Ih, nakal, genit!" umpat si gadis tapi sambil melempar senyum manis yang mempesona.
Asmarini bangkit.
"Aku turun, Kakang berlatihlah kembali. Aku yakin Kakang mampu. Aku percaya!"
Cup!
Si gadis mengecup bibir Adijaya secepat kilat sebelum melangkah cepat meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Adijaya kaget mendapat balasan seperti itu. Dia tersenyum bahagia. Sempat terdengar suara tawa kecil gadis itu sebelum pergi.