
Tanah lereng di depan gerbang masuk padepokan Gunung Sindu cukup luas dan datang. Di sana Adijaya berdiri menunggu sang mahaguru padepokan. Sikapnya biasa saja seolah tidak ada persiapan sama sekali.
Gentasora baru saja tiba di antar salah seorang muridnya. Dugaannya benar bahwa Kuntawala dibuntuti, tapi mengapa hanya seorang saja? Katanya sepasang suami-istri. Nyatanya dia mengenali Adijaya.
"Kita berjumpa lagi, Mahaguru!" kata Adijaya. "Dulu tidak sempat bertegur sapa, sekarang aku sengaja menyambangi padepokan ini!"
Sang mahaguru tidak menjawab, dia hanya menatap tajam seolah sedang mengukur kebesaran nyali pendekar muda itu. Di sisi lain dia sedang mendengar bisikan guriang sekutunya.
"Guriangnya bersemayam di dalam tubuhnya, kau tidak akan mampu melawannya. Biarlah aku yang akan memaksa guriang itu keluar dari raganya. Setelah itu kau baru bertindak!"
Adijaya tersenyum karena dia juga mendengar bisikan Padmasari bahwa ada sesosok guriang mendampingi Gentasora.
"Oh, ya!" lanjut Pendekar Payung Terbang. "Perihal salah satu muridmu yang tewas tempo hari, itu istriku yang melakukannya. Sekarang dia sedang di Karang Bolong!"
Gentasora baru mengerti sekarang. Sepasang suami istri. Si suami ternyata Adijaya. Rupanya dia juga sudah tahu rencana penyerangan ke Karang Bolong. Tidak heran, pasti guriang pendampingnya yang membantu.
"Baiklah, tidak perlu banyak basa-basi lagi. Aku tidak usah susah-susah mencarimu lagi, karena kau sudah mengantarkan nyawa sendiri. Hanya, sebelum aku turun tangan, ada sekutuku yang ingin berurusan dengan pendampingmu!"
Setelah berkata begitu, Gentasora menunjuk ke depan.
Tring!
Satu sosok lelaki tinggi besar berkulit ungu berwajah seram berdiri dua tombak di depan Adijaya. Lelaki bermuka kotak dihiasi kumis tipis dan rambut kribo. Hidung bulat dan mata sipit.
"Keluarlah!" bentak si kribo. "Aku ingin menjajaki sesama bangsa!" Maksudnya dia bicara kepada guriang yang bersemayam di raga Adijaya.
"Kalau kau mampu tariklah dia keluar!" tantang Adijaya.
Si kribo mendengkus. "Sombong kau, Manusia!"
Dua tangan si tinggi besar berputar-putar di depan dada. Dari putarannya menimbulkan tiupan angin di sekitar tempat itu menjadi kencang. Di lereng gunung itu seperti ada badai mengamuk.
__ADS_1
Di antara pusaran angin dahsyat itu terasa ada angin lain yang kekuatannya seperti menyedot. Adijaya bergeming di tempatnya, tidak terpengaruh sedikit pun oleh angin besar itu.
Adijaya tahu angin yang menyedot ini ditujuan kepada mahluk guriang. Si kribo itu sedang berusaha menarik keluar Ki Santang dan Padmasari. Hanya saja si kribo menyangka cuma ada Padmasari yang terlihat di matanya.
"Keluarlah, hadapi aku, pengecut!"
Padmasari yang wujudnya mengecil setinggi satu jengkal, terlihat bayangannya di dada Adijaya. Guriang wanita ini malah menari-nari mempertontonkan kemolekan tubuhnya sambil sesekali mencibir.
Si tinggi besar berambut kribo menggeram, giginya merapat, rahangnya mengeras. Kendati sudah mengerahkan seluruh kekuatan penyedotnya, Padmasari sama sekali tak terpengaruh. Malah kini wanita guriang itu mengambil posisi tidur dengan lidah menjulur.
"Kalau tidak mau jangan dipaksa!" ujar Adijaya sama tersenyum mencibir.
Si kribo berkulit ungu meraung keras bagai raksasa yang penuh amarah.
"Berarti kau harus mam pus dulu agar mereka terpaksa keluar!" teriak si kribo.
Dua tangan yang panjang itu bergerak cepat hendak mencengkram leher Adijaya. Pendekar muda ini lebih cepat mundur satu langkah sehingga cengkramannya hanya mengenai angin saja.
Tapi bukan Adijaya kalau tidak menemukan solusinya. Sang pendekar muda memanfaatkan tekanan hawa itu justru untuk mempercepat gerakannya. Sehingga setiap serangan guriang kribo berkulit ungu mampu dihindari.
Tidak sedikit pula Adijaya harus membenturkan tangannya menangkis pukulan lawan. Benturannya ini, ibaratnya tulang anak kecil melawan tulang orang dewasa.
Desss!
Getarannya sampai terasa ke jantung. Degupannya seolah berhenti sejenak setelah itu malah lebih kencang dari sebelumnya. Dengan sigap Adijaya lindungi seluruh tubuh luar dalam dengan hawa sakti Melati Tunjung Sampurna.
Adijaya pendarkan lebih pekat lagi aroma harum melati untuk membuyarkan konsentrasi lawan. Lumayan, ada hasilnya. Kening guriang kribo berkulit ungu itu tampak mengkerut menahan aroma harum yang menusuk hidung.
"Ternyata guriang juga punya indera penciuman!" batin Adijaya sambil menyeringai.
Dia sudah bertanya kepada Padmasari, mungkinkah ajian Serap Sukma bisa digunakan kepada guriang?
__ADS_1
"Pada dasarnya wujud yang terlihat itu hanya samaran. Guriang adalah mahluk halus, tidak ada satupun manusia yang tahu wujud aslinya. Jadi ajian itu tidak akan berguna untuk bangsa kami," jelas Padmasari.
Mahluk semacam itu bisa ditundukkan dengan alat khusus seperti buhul yang dulu digunakan Rangrang Geni, atau Labu Penyedot Sukma. Ah, kenapa Adijaya lupa hal itu. Bukankah Ki Santang sudah memberinya sesuatu?
Adijaya sadar, pertarungan melawan guriang dengan cara seperti bertarung melawan manusia tidak akan membawa hasil. Justru malah dirinya nanti yang akan celaka. Namun, entah kenapa dia seperti ingin bermain-main dengan si kribo ini.
Kejap berikutnya Adijaya keluarkan Payung Terbang dalam keadaan menutup langsung diayunkan menahan pukulan si tinggi besar berambut kribo.
Tak! Takk!
Si kribo berkulit ungu terkejut bukan main. Penglihatan guriangnya jelas tahu bahwa payung itu adalah perwujudan guriang juga. Yang membuatnya terkejut adalah dia tidak mendeteksi ada guriang selain Padmasari.
"Tidak usah terkejut, kalian kan sesama mahluk sebangsa!" Adijaya putar-putar payung yang masih ditutup.
Kini si kribo berusaha menghindari benturan dengan payung itu. Dia merasakan kekuatan dalam payung itu sangat besar. Lebih besar dari kekuatannya.
"Siapa payung itu sebenarnya, kenapa dia bisa menjadi pendamping manusia ini?" batin Si kribo. Diam-diam dia menyesali perjanjian dengan Gentasora. Ternyata guriang pendamping Adijaya bukan sembarangan.
Di tempatnya berdiri, Gentasora heran dengan guriang sekutunya yang tampak menghindari payung yang dipegang Adijaya.
"Apa aku salah mendapatkan dia?" gumam Gentasora. "Kenapa dia seperti tak bernyali terhadap payung itu. Aku tahu payung itu juga jelmaan guriang, tapi kenapa dia takut!"
Di depan sana Adijaya kini sudah membuka payungnya. Dia terus putar jelmaan Ki Santang itu memburu si kribo yang tidak mau bersentuhan, sehingga dia melompat ke sana kemari.
"Kalau kau tidak mau menyentuhnya, aku juga tidak menyentuhnya!" teriak Adijaya.
Pendekar muda ini lemparkan payung ke atas. Payung itu melayang dan berputar di tempat pada ketinggian empat tombak dari tanah.
Seketika angin yang bertiup kencang di sekitar tempat itu berputar mengikuti putaran payung. Angin itu seperti tersedot masuk ke dalam payung.
Bahkan, mahluk guriang tinggi besar berkulit ungu dan berambut kribo terbawa oleh gelombang pusaran angin. Sosoknya layaknya daun kering yang terbawa angin.
__ADS_1