Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Sukma Sang Ayah


__ADS_3

Tadinya Adijaya hendak melepas jepitan tanahnya, tapi ternyata sukma Jerangkong Koneng terangkat sendiri ke udara lalu lenyap menjadi serpihan angin.


"Sudah di alam lelembut, tapi masih tidak tahu terima kasih!" umpat Padmasari kesal.


Adijaya dan Padmasari langsung melangkah memasuki gerbang ke empat. Dalam beberapa langkah mereka langsung waspada, mungkin saja akan menghadapi keanehan lagi.


Dan ternyata benar, di depan mereka terbentang jurang yang sangat lebar dengan kedalaman yang tak bisa diukur karena tidak terlihat dasarnya.


Bukan karena banyaknya batu tajam yang menonjol pada tebingnya, tapi karena ada lautan api sejauh mata memandang. Dari tempat Adijaya berdiri saja sudah terasa sangat panas.


"Sepertinya butuh jembatan lagi!" ujar Adijaya, sebenarnya sebuah perintah untuk pendampingnya.


Padmasari segera kibaskan tangan setelah merapal mantera. Sebuah jembatan lurus yang tak terlihat ujungnya sudah terpasang di depan mereka. Keduanya langsung melangkah di atas jembatan.


Tubuh mereka serasa dipanggang bahkan mungkin seperti dibakar kalau tidak menyalurkan hawa dingin setebal mungkin untuk melindungi diri.


"Apakah ini yang dinamakan Kawah Candradimuka?" pikir Adijaya.


"Yang pasti bukan, hanya ilusi tapi nyata!"


"Ilusi tapi nyata, aneh!"


Melihat ke depan, jembatan ini seolah tidak berujung. Dua makhluk beda alam ini berlari agar cepat sampai ke ujung. Namun, entah sudah berapa jarak mereka tempuh belum juga terlihat ujungnya.


Ketika menoleh ke belakang juga sudah tidak terlihat lagi ujungnya. Mereka terus berlari kadang-kadang menggunakan ilmu meringankan tubuh. Benar-benar seperti di alam mimpi. Berlari terus tiada ujungnya.


Tapi Adijaya yakin, ada awal pasti ada akhir. Ini masih alam lelembut. Bukan alam keabadian tempat kembalinya segala makhluk menghadap sang pencipta.


"Apakah bisa terbang dengan payung, tapi tetap di jalur jembatan?" tanya Adijaya mengutarakan pikirannya.


"Asal jangan lebih dari satu tombak tingginya!"


"Kenapa tidak bilang dari tadi?"


"Aku kira jaraknya pendek!"

__ADS_1


Kemudian Adijaya menarik pinggang Padmasari, merangkulnya kuat. Selanjutnya mereka terbang dengan Payung Terbang pada ketinggian tidak lebih dari satu tombak.


Akhirnya setelah melesat cepat, ujung jembatan ini sudah nampak di depan mata. Dalam beberapa kejap kemudian mereka telah berhasil menyeberangi jurang lautan api. Dua puluh tombak di depan tampak gerbang ke lima.


Ada lima sosok juga yang menjaga gerbang ini. Jantung Adijaya berdetak kencang. Satu dugaan muncul di benaknya. Mereka pasti tidak asing baginya. Langkah demi langkah menjadi terasa lama.


Padmasari melihat perubahan wajah majikannya. Sepertinya kelima penjaga gerbang itu orang-orang yang pernah dekat dengan Adijaya semasa hidupnya.


Benarlah dugaan Adijaya, tidak meleset sama sekali. Mereka adalah Lima Begal Cakrageni. Kawanan rampok yang dipimpin oleh Gandara, ayahnya Adijaya.


"Siapa mereka?" Padmasari jelas belum tahu.


"Mereka adalah Lima Begal Cakrageni yang dipimpin ayahku!"


Padmasari tercekat, pantas saja wajah Adijaya begitu berbeda.


"Kendalikan emosi Juragan, mereka tetap dalam kendali Jurig Kaladetya. Mereka tidak mengenali diri sendiri!"


Benar, Adijaya datang bukan untuk melawan, tapi menyelamatkan mereka. Dia ingat saat-saat akhir hidup ayahnya. Gandara menyadari dan menyesali perbuatannya. Bisa dibilang sang ayah telah bertobat sebelum menghembuskan nafas terakhir.


Lima tongkat menyodok ke lima sasaran. Adijaya meloncat sambil berputar mengibaskan Payung Terbang. Lima ujung tongkat bertemu di bawah kaki. Pada saat itu segelombang energi menghempas ke lima wajah lawan.


Wussh!


Gandara dan kawan-kawan tersurut beberapa langkah. Namun, mereka dengan gesit langsung menyerang kembali selagi Adijaya masih melayang di udara.


Sang pendekar terlambat menahan berat raga halusnya, akibatnya dua tusukan tongkat menghantam pinggang dan bahu. Tiga lainnya masih bisa ditangkis payung.


"Ukh!"


Rasanya benar-benar sakit seperti badan kasar saja yang terkena hantaman itu. Selanjutnya Adijaya direpotkan dengan serangan lima tongkat lawan yang gerakannya sangat cepat.


Adijaya salurkan hawa sakti agar gerakannya lebih gesit lagi. Tidak lupa dia menggunakan berbagai macam perubahan energi agar bisa mengimbangi lawan.


Tidak hanya mengandalkan payung. Energi yang memenuhi udara di tempat itu dimanfaatkan menjadi perisai. Tidak hanya menggunakan tangan yang tidak memegang payung, tapi juga kedua kaki bisa dia manfaatkan.

__ADS_1


Ini hal baru lagi yang diciptakan Adijaya, bersumber dari kitab Hyang Sajati. Secara bertahap, akhirnya dia mampu mengimbangi kelima lawannya. Sekarang dia berpikir cara untuk melepaskan buhul.


Seperti yang dilakukan pada nenek kembar, Adijaya incar salah satu lawan. Mendesak satu orang sambil bertahan dari empat lainnya. Sampai berhasil merebut tongkatnya.


Sett!


Tangan kosong Adijaya mengincar bahu. Begitu dapat langsung dia tarik dan putar sehingga menjadi tameng dari empat lawan lainnya. Sayangnya yang dia dapatkan bukan ayahnya.


Seingatnya sukma yang kini dalam cengkramannya bernama Darpa. Dengan cepat dia tarik benda yang menempel di tengkuk Darpa, lalu menendangnya ke depan.


Bret! Duk!


Buhul terlepas, sukma Darpa terhuyung ke depan menjadi sasaran empat ujung tongkat membuatnya kembali terpental jatuh ke belakang.


Tidak pedulikan sosok Darpa yang tergeletak, empat sukma lain merangsek maju menyerang Adijaya. Dalam beberapa kejap pemuda itu berada dalam kepungan lagi.


Adijaya kembali mengincar salah satunya. Tidak peduli siapa yang duluan jadi target, mau ayahnya atau bukan yang penting semuanya harus terselamatkan.


Begitulah kali ini Adijaya mendapatkan Kuntala, dulu dia sempat diselamatkan Birawayaksa sehingga lolos dari kematian. Dia anggota Begal Cakrageni yang terakhir tewas oleh Praba Arum beberapa bulan kemudian setelah kematian ayahnya.


Dari sini dia menduga, mungkin ayahnya juga salah satu murid Birawayaksa. Seperguruan dengan Ganggasara. Hanya Ganggasara tidak bergabung menjadi perampok, melainkan jadi pejabat di kerajaan Agrabinta.


Setelah Kuntala bebas, kini giliran Wikarta yang jadi sasaran. Semakin sedikit lawannya semakin mudah Adijaya bergerak. Dalam waktu singkat buhul di tengkuk Wikarta telah lepas.


Berikutnya Sarkawi terbebas tidak lama setelah sukma Wikarta terbang dan lenyap di udara. Dan terakhir ayahnya. Seperti yang lainnya, begitu buhul terlepas, jubahnya berubah warna putih. Wajahnya tampak berseri.


Adijaya berharap bisa berbicara dengan ayahnya walau sedikit. Dia melihat Gandara masih berlutut, akhirnya dia juga berlutut di depan sukma ayahnya.


"Ayah bangga padamu, Nak!" ucap Gandara sambil memandang wajah anaknya yang kini telah dewasa. Dulu dia meninggalkannya saat masih berumur tiga belas tahun.


"Semoga ayah tenang di alam sini." Kalau saja ini raga kasarnya pasti sepasang matanya sudah berkaca-kaca. Yang terpampang hanya wajah yang terharu.


Pertemuan yang cukup menggembirakan walaupun di alam lelembut.


"Terima kasih, namamu kini harum dalam kebaikan. Aku sangat senang mendengarnya, Adijaya!"

__ADS_1


__ADS_2