
Ketika sudah bejalan cukup jauh Ki Rangkas menghentikan langkah. Ki Bontang yang berjalan di belakang jadi ikut berhenti.
"Kenapa mereka begitu lama?" Ki Rangkas menanyakan murid-murid yang membawa Ki Legawa.
"Kalau begitu aku akan memeriksa!" kata Ki Bontang sambil membalikkan badan lalu meninggalkan Ki Rangkas bersama murid-muridnya.
Murid-murid Ki Bontang juga mengikuti gurunya.
Ki Rangkas menunggu beberapa saat. Ternyata Ki Bontang juga malah lama. Rencananya mereka akan melakukan perjalanan melalui laut. Mereka akan ke pantai selatan, kemudian menaiki kapal jung ke arah barat.
"Kalian jalan duluan, aku akan menunggu di sini!" perintah Ki Rangkas kepada murid-muridnya.
Tanpa bicara apa-apa lagi murid-murid Ki Rangkas segera berlalu.
Sebenarnya Ki Rangkas sedang menyelidiki siapa yang nenyebar isu tentang Ki Ganjar yang ingin menjadi pimpinan. Dan juga Ki Legawa yang cenderung ke aliran hitam.
Padepokan Karang Bolong yang sudah puluhan tahun selalu dalam keadaan tentram, kini terusik dengan isu-isu yang entah siapa yang menyebarkan. Yang jelas mereka ingin menghancurkan padepokan terbesar di Ujung Kulon dan sekitarnya itu.
Tapi Rupanya Ki Legawa tak bisa menahan diri. Dia langsung melabrak Ki Ganjar, bahkan membunuhnya. Kalau bukan karena Dewan Kehormatan yang mencap Ki Legawa sebagai pemberontak, tentunya dia tidak akan mengejar saudara seperguruannya.
Dewan Kehormatan adalah semacam pasukan Bhayangkara di kerajaan. Anggotanya terdiri dari murid-murid yang berbakat khusus. Mereka bertugas menegakkan aturan padepokan. Siapapun yang melanggar akan mendapat hukuman tanpa pandang bulu.
Sekarang setelah ditundukkan, Ki Legawa akan disidang di hadapan Dewan Kehormatan. Tapi murid-murid yang membawa Ki Legawa belum juga muncul. Bahkan Ki Bontang juga menghilang.
Perasaan Ki Rangkas jadi tidak enak. Apalagi ketika tiba-tiba saja muncul delapan orang yang pakaiannya seragam berwarna putih dengan bentuk yang sama.
Ki Rangkas tahu siapa mereka, tapi kenapa mereka ada di sini?
"Dewan Kehormatan, bagaimana kalian ada di sini?"
"Maaf Guru, kami menerima kabar Guru telah membunuh Ki Legawa!"
"Apa!" Ki Rangkas terkejut bukan main. "Aku hanya melumpuhkan saja sesuai perintah Dewan Kehormatan, tidak sampai membunuhnya!"
__ADS_1
"Tapi Ki Legawa tewas oleh pukulan Guru Rangkas, dan kami harus menangkap Guru, maaf!"
Delapan orang mengurung Ki Rangkas dengan formasi jurus berkelompok. Walaupun kedelapan orang ini adalah murid piluhan dari empat pesanggrahan, bukan berarti tidak mampu melawan gurunya sendiri.
Mereka dibekali langsung jurus dan ilmu khusus ciptaan Mahaguru Manguntara yang tidak diturunkan kepada empat murid utama yang memimpin pesanggrahan.
"Rupanya aku dijebak!" rutuk Ki Rangkas. Pikirannya menuduh Ki Bontang. Dia segera membela diri, tidak mau ditangkap begitu saja.
Delapan anggota Dewan Kehormatan mulai menyerang. Walaupun sudah lama mengenal murid yang mempunyai kedudukan khusus ini, Ki Rangkas baru sekarang menghadapi serangan yang berbentuk formasi.
Beberapa jurus di muka, Ki Rangkas dibuat kagum melihat peragaan jurus berkelompok yang memukau tapi ganas ini. Mahaguru memang luar biasa menciptakannya. Dia jadi penasaran seberapa hebatnya Dewan Kehormatan?
Ki Rangkas berpendapat jika saja jurus ini diperagakan hanya satu orang akan sangat lemah. Jadi harus dilakukan secara bersamaan. Pimpinan pesangrahan Langit ini merasakan kedahsyatan jurus ini.
Sampai puluhan jurus, Ki Rangkas masih mampu meladeni Dewan Kehormatan. Namun, beberapa jurus kemudian pola serangannya mulai susah dibaca. Banyak tipuan dadakan. Belum lagi setiap orang berbeda gerakan.
Jadi Ki Rangkas menghadapi delapan gerakan berbeda tapi merupakan satu kesatuan dalam satu waktu. Ilmu baru ciptaan Mahaguru mungkin sengaja untuk dijadikan penjinak empat murid utamanya.
Pikirannya berubah menjadi lebih kagum kepada Mahaguru yang kesaktiannya tak dapat diukur. Mungkin karena 'Weruh Sadurung Winara' maka sang Mahaguru membentuk Dewan Kehormatan.
Kini Ki Rangkas menjadi kerepotan menghadapi muridnya sendiri. Dia tidak akan merasa terhina andaikan Dewan Kehormatan mampu membekuknya. Dia akan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dan akhirnya Ki Rangkas benar-benar tak mampu melawan lagi. Dari delapan serangan, lima di antaranya bersarang telak di tubuh membuatnya terjatuh. Walau tidak parah tapi sudah tak ada kesempatan melawan lagi.
Ki Rangkas membiarkan dirinya diikat lalu dibawa pergi oleh Dewan Kehormatan.
...***...
Ki Bontang berjalan dengan tergesa-gesa seperti mencemaskan sesuatu. Mendadak dia berhenti karena merasa murid-muridnya mengikuti.
"Kalian menunggu bersama Ki Rangkas saja!" perintah Ki Bontang.
Maka murid-muridnya segera kembali ke tempat Ki Rangkas.
__ADS_1
Ki Bontang menarik napas lega setelah tidak lagi melihat muridnya. Lalu melangkah kembali. Dia tidak ingin murid-muridnya mengetahui apa yang dia lakukan. Sebenarnya ada yang mengganjal dalam pikirannya.
"Jangan-jangan!" gumam Ki Bontang ketika teringat kepada Adijaya. Seorang pemuda tapi sudah mampu Ngaraga Sukma. Pemuda yang membuatnya merasa was-was.
Dia merasa akan membuat perhitungan dengan pemuda ini.
Perasaanya agak lega ketika Ki Bontang menemukan dua orang bertopeng sedang berlari ke arahnya. Salah satunya mamanggul tubuh seseorang di bahu kanannya.
"Apa kalian mendapat kesulitan?" tanya Ki Bontang langsung karena mengenali dua orang ini.
"Ada seseorang yang sempat mengganggu, tapi bisa di atasi!" jawab salah satunya.
Ki Bontang sempat tertegun. "Siapa dia?" tanyanya memastikan apakah yang mengganggu itu pemuda yang bisa Ngaraga Sukma?.
"Orang asing pemilik penginapan, tapi kami tidak membunuhnya!"
Ki Bontang menarik napas lega. "Baguslah! Bawa dia untuk dijadikan bukti!" tunjuk Ki Bontang ke arah mayat yang dipikul.
"Sungguh malang nasibmu, Legawa!" desis Ki Bontang pelan setelah dua orang bertopeng hilang dari pandangannya.
Ki Bontang tersenyum puas. Tidak sia-sia dia menyusupkan murid yang benar-benar setia kepadanya ke dalam Dewan Kehormatan. Sehingga bisa membantu rencananya dengan mulus. Rencana yang sudah lama dipersiapkan matang-matang.
"Dua penghalangku telah lenyap tanpa perlu terlibat, tinggal satu lagi. Tapi aku tetap tidak mau mengotori tanganku!" Ki Bontang tertawa pelan. Sesuatu yang sudah lama dicita-citakan membayang di pikirannya.
Kemudian Ki Bontang melangkah meninggalkan tempat itu dengan senyum licik penuh kemenangan.
Pemimpin pesanggrahan Gunung dari padepokan Karang Bolong ini tidak tahu bahwa dua orang bertopeng tadi memang murid setianya. Tapi sudah dirasuki guriang suruhan Padmasari.
Tidak sulit guriang cantik itu mencari kawan sebangsanya. Dengan pangkat di pundaknya dia menurunkan perintahnya agar dua guriang itu memasuki dan mengendalikan raga dua orang itu.
Dan mayat yang dipikul itu juga bukan Ki Legawa, tapi salah satu murid yang tewas sewaktu membuatkan tandu untuk Ki Legawa yang diserupakan wajahnya.
Seperti diceritakan sebelumnya, dua murid suruhan Ki Bontang telah dilumpuhkan Adijaya. Kemudian Padmasari yang mengurusnya.
__ADS_1