
"Tunggu!"
Suara lembut itu menghentikan Adijaya ketika hendak membawa Gentasora. Sang pendekar menoleh ke belakang. Pandangannya membentur sosok gadis bertubuh ramping dan tinggi. Mengingatkan dia pada Puspasari.
Wajahnya cantik, tapi menampakkan raut kesedihan. Pakaiannya serba hitam kontras dengan kulitnya yang agak kuning langsat. Sekali pandang saja dapat disimpulkan gadis ini tak memiliki kepandaian silat.
"Mau kau bawa kemana ayahku?" tanya si gadis ketika menemukan tatapan penuh tanya dari sinar mata Adijaya. Tapi tatapan dia sendiri kosong.
Adijaya meletakkan kembali sosok Gentasora sambil menghela napas. Ternyata dia putrinya. Pasti mirip ibunya, pikir Adijaya. Soalnya, ayahnya kan, hitam dan jelek!
"Tadinya aku hendak membawanya, menunjukkan kepada murid-muridnya. Agar mereka menghentikan penyerangan ke Karang Bolong,"
Si gadis mendekati sosok ayahnya. Lalu dia menjelepok di tanah sambil merangkul sang ayah yang kini bernapas pun seperti kesusahan
"Ayahku sudah menderita, tak perlu menambah lagi deritanya. Biarkan aku merawat hingga akhir hayatnya,"
Dari raut wajah si gadis, Adijaya melihat ada suatu perasaan yang pernah dia alami dulu. Nuraninya bertentangan dengan sang ayah yang menjadi kepala perampok 'Lima Begal Cakrageni'.
"Dia tidak mau belajar dan memiliki ilmu silat, sebab tidak ingin seperti ayahnya yang gila kuasa sehingga menempuh jalur golongan hitam untuk mewujudkan cita-citanya," bisik Padmasari setelah mendapatkan keterangan tentang gadis itu.
Sama seperti Adijaya dulu, tidak mau memiliki ilmu silat karena takut disalah gunakan menjadi begal seperti ayahnya. Bahkan dia sampai kabur dari rumah. Lain dengan si gadis yang tampaknya tak punya pilihan.
"Di mana kau tinggal?" tanya Adijaya pelan.
"Aku tidak mempunyai tempat tinggal selain di sini,"
"Kau tidak ingin mencari tempat baru?"
"Kenapa harus ke tempat baru?"
"Tempat ini penuh dengan hawa buruk, tidak baik untuk ditinggali!"
Belasan murid yang tersisa karena tidak ikut dalam penyerangan ke Karang Bolong tampak mendekat dengan langkah gontai, wajah yang ditekuk dan tak ada berkas cahaya sedikitpun. Mereka juga takut ketika melihat Adijaya.
"Kalian pulanglah ke rumah masing-masing, dan gunakan kemampuan yang kalian miliki di jalan kebaikan!" pesan Adijaya, suaranya biasa saja tidak bernada menakuti.
Belasan orang ini menunduk hormat. Masih beruntung mereka dibiarkan hidup. Kemudian mereka meninggalkan tempat itu. Sementara si gadis masih terlihat kebingungan.
"Kalau kau mau, aku bisa carikan tempat di desa yang berada di kaki gunung," tawar Adijaya.
__ADS_1
Si gadis hanya diam dengan tatapan kosong.
"Kalau diam berarti mau!" bisik Padmasari.
Adijaya langsung memanggul tubuh Gentasora ke atas bahunya. Lalu dia melangkah juga meninggalkan tempat itu. Si gadis yang diam beberapa saat akhirnya mengikuti pendekar muda itu.
Sebenarnya Adijaya bisa membawa keduanya terbang menggunakan Payung Terbang, tapi dia takut disalah pahami oleh si gadis. Dan cukup repot juga.
Misalnya, tangan satu memegang Gentasora di pundaknya agar tidak jatuh. Tangan satunya lagi memegang payung. Nah, berarti si gadis harus menggelayut atau memeluknya. Ah, repot. Mendingan jalan kaki saja yang normal.
Sore hari baru Adijaya menemukan sebuah desa yang lumayan jauh dari bekas markas padepokan Gunung Sindu. Adijaya mencari sebidang tanah di sudut desa. Lalu dia membuatkan rumah sederhana menggunakan bahan kayu dan bambu.
Jangan ditanya bagaimana bikinnya. Ilmunya sudah tinggi, jadi bisa membuat rumah itu dalam tempo yang singkat. Sebelum hari gelap, rumah itu telah berdiri dan siap dihuni.
"Tinggallah dengan damai di sini, tapi jangan sampai warga yang lain tahu bahwa ayahmu adalah Gentasora,"
Tiba-tiba dalam sekejap tangan Adijaya sudah memegang tiga peti kecil, lalu menyodorkan ke gadis itu.
"Apa ini?"
"Ini adalah harta ayahmu yang disimpan di padepokan,"
"Kenapa kau baik padaku?"
"Karena kamu cantik, eh...! Maksudku, pada dasarnya setiap orang itu baik. Nafsunya yang mengubah sifatnya. Jika baik dalam mengendalikan nafsu maka sifatnya akan baik pula. Tapi bila tidak bisa menahannya, ya... begitulah!"
Adijaya garuk-garuk kepala lalu memalingkan muka.
Si gadis sempat memerah wajahnya. Sementara dalam hati Adijaya menggerutu kenapa bisa bilang begitu?
"Dasar lelaki!" bisik Padmasari pelan.
"Ya, sudah, aku pergi!" pamit Adijaya tidak mau ada rasa yang berkelanjutan. Makanya dia juga tak menanyakan nama si gadis.
Dia jadi ingat istrinya. Si mungil yang selalu membuatnya terhempas dalam kepuasan.
"Berapa hari sampai di Karang Bolong?" tanya Adijaya setelah jauh meninggalkan desa.
"Tiga hari," Jawab Padmasari.
__ADS_1
"Berarti tiga hari lagi penyerangan itu terjadi,"
"Juragan ingin berjalan biasa yang menempuh tiga hari, atau ingin yang sekejap sampai?" tawar Ki Santang memberikan pilihan.
"Istriku sudah sampai di sana?"
"Dari tiga hari yang lalu, dalam semalam Juragan Istri sudah sampai,"
"Wah!" Adijaya membayangkan kereta kuda yang terbang dengan kecepatan tinggi.
"Jangan menunggu lama-lama, di sana banyak pemuda yang jatuh hati sama Juragan Istri," goda Padmasari.
"Tidak perlu cemas, istri itu cerminan suami. Kalau aku setia, maka dia juga akan setia!" sanggah Adijaya diakhiri tertawa mengekeh.
"Betul, Juragan. Sip, lah!" sahut Ki Santang.
"Ya, sudah. Mumpung hari gelap, aku ingin terbang dalam semalam sampai di padepokan Karang Bolong. Aku takut istriku digoda pemuda di sana!"
Terdengar suara tawa lantang Ki Santang dan Padmasari sebelum Adijaya melesat dengan Payung Terbang di atas langit malam.
Dulu dia pernah melakukan hal ini ketika menuju lereng gunung Indrakilla. Terbang dengan tujuan yang sangat jauh. Pertama kalinya bertemu dengan Padmasari di sana. Tapi dulu terbangnya siang jadi masih bisa melihat pemandangan di bawahnya.
Sekarang terbangnya malam. Walau di atas langit tampak bintang-bintang, tapi di bawah tetap hitam menghampar seluas jagat. Hanya sedikit tempat yang menggunakan penerangan damar.
Adijaya lapisi tubuh luar dan dalam dengan hawa sakti hangat. Udara malam di angkasa sangat dingin menusuk tulang. Dia tidak mengendalikan payungnya, melainkan tergantung Ki Santang membawanya ke mana. Karena dia belum tahu letak tempat yang ditujunya.
"Jangan terlalu cepat!" pinta Adijaya. "Kira-kira sampai sana hari sudah terang,"
"Juragan takut ketinggian?" tanya Padmasari menggoda.
"Aku sudah sering seperti ini, masa takut?"
"juragan tidak cemas, malam ini bagaimana Juragan Istri tidur?"
"Ah, tenang saja. Aku percaya dia baik-baik saja!"
"Aneh, tadi Juragan bilang takut digoda orang!"
"Aku berubah pikiran, berprasangka yang baik-baik, maka yang terjadi juga akan baik-baik saja!"
__ADS_1
Padmasari tak bersuara lagi. Sikap majikannya semakin bijaksana. Dia merasa harus selalu melindungi manusia baik semacam Adijaya sampai akhir hayatnya. Dia merasa beruntung memilik majikan seperti Adijaya.