Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Nasib Tragis Jerangkong Koneng


__ADS_3

Tubuh kurus Jerangkong Koneng menempel di telapak tangan Adijaya. Terlihat kejang-kejang. Tubuh kurus semakin kurus. Salah satu fungsi ajian Serap Sukma adalah menyedot kekuatan atau tenaga dalam lawan.


Tapi yang dilakukan Adijaya terhadap kakek ini bukan seperti itu. Dia tidak ingin menyedot kekuatan lawannya karena dia sudah memiliki kekuatan Padmasari.


Adijaya membuat aliran tenaga dalam dan seluruh kekuatan yang dimiliki si kakek bergerak kacau balau di dalam tubuh kurusnya. Termasuk aliran darahnya juga.


Yang dirasakan si kakek dalam tubuhnya seperti ada ular yang bergerak ke setiap ruang di tubuh dan memakan organ-organ tubuhnya. Sakit bukan main, rasanya lebih baik cepat mati daripada menderita seperti ini.


Beberapa saat kemudian Adijaya menghentikan ajiannya. Tubuh Jerangkong Koneng ambruk bagai nangka jatuh ke tanah. Masih kejang-kejang semakin tak berdaya. Lalu dia tak berkutik, tapi masih bernapas megap-megap.


"Aku memberikanmu kesempatan untuk bertobat sebelum ajal menjemputmu. Ingat kau sudah bangkotan. Lupakan urusan dunia!" Nasihat Adijaya.


Beberapa pendekar hendak menurunkan tangan. Tapi Adijaya mencegahnya.


"Sekarang dia hanya seorang tua bangka yang tidak ada apa-apanya. Biarkan dia menjadi baik sambil menunggu ajal tiba."


Para pendekar pun tampaknya setuju. Kematian terlalu enak bagi Jerangkong Koneng. Biarkan dia menderita sebelum mati. Sekarang kakek ini benar-benar manusia lemah tanpa daya.


Pada dasarnya Adijaya tidak ingin membunuh. Biarlah orang mengatakan dia tidak kejam terhadap lawan. Baginya setiap orang jahat masih punya hak hidup untuk memperbaiki diri.


Semua orang membubarkan diri dari tempat itu. Kecuali si kakek kurus yang tergeletak lemah. Orang-orang bertopeng bekas anak buah Dewi Kembang Kuning yang masih hidup digiring ke kota raja.


Beberapa tawanan yang ditemukan di ruang bawah tadi dilepaskan dan diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.


Dalam perjalanan terlihat Sekar Kusuma selalu mengikuti rombongan Adijaya di belakangnya. Sehingga Praba Arum menghampiri gadis itu.


"Apa kau tidak tahu jalan pulang?"


Sekar Kusuma tidak langsung menjawab. Dia kelihatan ragu-ragu. Wajahnya murung.


"Kami bisa mengantarmu, di mana kau tinggal?"


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku tidak tahu harus pulang kemana?"


Praba Arum menghela napas. "Kalau begitu aku akan membawamu ke padepokan, kau mau?"


Sekar Kusuma diam sejenak lalu mengangguk pelan. Kemudian Praba Arum menariknya hingga berjalan lebih dekat dengan yang lainnya.


Sepanjang jalan Adijaya menceritakan semuanya kepada Asmarini secara terperinci. Asmarini hanya ingat ketika dia pulang bersama calon suaminya itu. Lalu esok harinya entah kenapa dia tidak ingat apa-apa lagi.


Dan baru sadar sekarang karena kejadian ini. Lalu dia ingat Nyai Gandalaras gurunya. Hatinya begitu terpukul setelah mendengar penuturan Adijaya. Pedang Bunga yang jadi senjatanya dan juga kitab Tapak Wangi ikut hangus bersama gurunya.

__ADS_1


"Dinda tenang saja, aku akan melindungimu dengan baik sekarang!"


Asmarini juga teringat nasib ayah dan ibunya, bagaimana keadaan mereka sekarang? Jika ingat hal ini, si gadis merasa bersalah kepada Adijaya. Tapi nyatanya calon suaminya ini masih menyayanginya.


Ingin rasanya Asmarini mencari keberadaan orang tuanya. Tapi takut menyinggung Adijaya kalau dibicarakan. Bagaimana pun juga ayahnya telah menghina habis-habisan Adijaya.


Wajarlah ayahnya mendapatkan hukuman seperti itu. Semoga dengan begitu dia bisa mengambil pelajaran bahwa kedudukan dan harta bukanlah segalanya.


Adijaya dan Asmarini berencana ikut ke padepokan Linggapura. Padepokan itu dalam keadaan kosong kepemimpinan setelah tewasnya Ki Ranggasura.


Ada dua calon yang akan menggantikan Ki Ranggasura. Arya Sentana dan Komara.


"Aku rasa Rayi Komara lebih sanggup memimpin," ujar Arya Sentana.


"Bagaimana kalau murid-murid memilih Kanda?"


"Aku akan meminta langsung pada Rayi Komara. Terus terang aku tidak memiliki jiwa pemimpin,"


Bagi Praba Arum jadi pemimpin atau tidak, bukan masalah. Dia bukan orang yang gila kedudukan. Kalau memang suaminya merasa tak mampu, dia akan mendukung keputusan sang suami.


Praba Arum melirik ke arah Sekar Kusuma yang berjalan sendirian. Biar gadis itu tidak merasa bosan, Pendekar Kipas Perak ini mendekatinya dan mengajak ngobrol.


Ketika lembah Jonggrang sudah sepi. Tinggal Jerangkong Koneng yang terkapar tak berdaya. Seseorang datang menghampiri sosok kakek kurus itu.


"Mungkin seluruh ilmu dan kekuatanmu telah musnah. Tapi kau masih bisa dimanfaatkan!"


Lelaki tinggi besar berkepala botak ini kemudian memanggul tubuh yang bagai tengkorak itu. Dengan kecepatan tinggi dia berlari meninggalkan lembah ke arah selatan ke arah lereng gunung Indrakilla.


Karena larinya begitu cepat dan tanpa berhenti walau sejenak dan sepertinya tidak merasa lelah sedikitpun, sebelum sore si botak tinggi besar ini sudah sampai di lereng utara gunung Indrakilla.


Di sana terdapat bangunan alami terbuat dari rimbunan daun dan pepohonan yang saling dempet hingga membentuk sebuah ruangan. Suasananya tampak remang-remang.


Di ujung ruangan di atas sebuah batu, satu sosok tengah duduk bersila. Sosok pemuda tampan berkumis tipis, tapi sinar matanya menyiratkan sifat culas dan licik. Juga bibirnya yang menyeringai licik.


Si botak lemparkan tubuh yang dipanggulnya.


"Hanya kulit pembungkus tulang!" seru pemuda berpakaian serba hitam ini.


"Meskipun tidak lagi memiliki kekuatan, kulit, tulang dan dagingnya masih bermanfaat untuk menambah kekuatan juragan," jelas si botak memberitahu.


"Kau urus saja dia, aku ingin yang sudah jadi!"

__ADS_1


"Baik, Juragan!"


Si botak hendak mengangkat kembali tubuh Jerangkong Koneng tapi diurungkan ketika majikannya berseru.


"Tunggu!"


"Ya, Juragan!"


"Kau tahu pemuda yang membuat sasaranku jadi begini?"


"Setelah diselidiki, dia bernama Adijaya yang bergelar Pendekar Payung Terbang,"


Pemuda berkumis tipis mendengkus kesal. "Dia akan menjadi penghalangku, dia yang pertama akan kuhabisi! Di mana dia tinggal?"


"Kabar terakhir yang aku dapat, dia menuju padepokan Linggapura."


Pemuda itu diam sejenak. Mengingat-ingat tentang padepokan yang disebutkan tadi.


"Sudah, pergilah!"


Si botak memanggul kembali tubuh Jerangkong Koneng. Dia membawa ke suatu tempat yang masih di lereng. Di sana ada sebuah tong besar yang letakkan di atas tungku besar terbuat dari tanah.


Byur!


Tubuh kurus dilemparkan ke dalam tong yang sudah berisi air itu. Kemudian si botak mengambil dan menumpuk kayu bakar di lubang tungku lalu membakarnya.


Jika ada orang lain melihatnya tentu pemandangan ini akan mengerikan. Seorang yang masih hidup direbus dalam tong besar. Hanya saja Jerangkong Koneng sudah tak bisa bersuara lagi.


Perebusan ini memakan waktu cukup lama. Sampai seluruh tubuh kakek kurus itu hancur bagaikan bubur. Setelah air dalam tong menyusut karena menguap. Si botak memindahkan air rebusan manusia itu ke dalam gentong.


Sampai tiga gentong untuk memuat air itu. Tanpa merasa kepanasan tiga gentong itu dibawa sekaligus ke tempat majikannya tadi.


"Juragan, silakan!"


Si pemuda berkumis tipis mengambil gayung. Menyiduk air dalam gentong lalu perlahan meminumnya tanpa ragu dalam sekali tegukan.


Setelah meminum kembali dia duduk bersila dan memejamkan kedua matanya. Bersemedi mengolah air yang tadi diminum untuk menambah kekuatannya.


Siapakah orang ini?


Apa yang akan terjadi selanjutnya?

__ADS_1


__ADS_2