Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Akhir Para Dedengkot Gunung Sindu


__ADS_3

Pola penyerangan yang diterapkan murid-murid padepokan Karang Bolong secara terus menerus membuahkan hasil yang bagus. Dari pihak mereka belum ada satupun korban yang jatuh.


Sedangkan dari pihak Gunung Sindu sedikit demi sedikit sudah mulai bertumbangan. Situasi yang seperti itu membuat mereka kesulitan untuk bertarung satu lawan satu, karena mereka bingung lawan muncul lalu menghilang secara bergantian.


Sementara dua dedengkot Gunung Sindu yang masing-masing melayani sepuluh anggota Dewan Kehormatan, juga mulai kehabisan tenaga. Yang menjadi lawan mereka seharusnya empat murid utama Mahaguru Manguntara.


Dewan Kehormatan yang ilmunya dianggap paling tinggi di antara murid lain ternyata masih jauh di bawah murid utama Gentasora ini. Sehingga harus menurunkan sepuluh orang yang menyerang secara kerja sama.


"Kalian aliran putih apa tidak malu menggunakan cara pengecut seperti ini!" teriak Komba di antara serbuan sepuluh lawannya.


"Yang kami hadapi adalah orang-orang yang mengandalkan kelicikan, untuk apa memakai aturan!"


Bila sampai saat ini Komba belum juga terluka, itu karena energi yang dipancarkan tubuhnya mampu melindungi diri. Setiap serangan salah satu lawannya selalu terpeleset karena membentur energi pelindungnya.


Tapi dengan jumlah yang lebih banyak, Dewan Kehormatan bisa menghemat tenaga. Mereka menyerang secara bertubi-tubi bergantian, berputar. Bila yang satu gagal, yang lain membantu. Belum lagi mereka menggunakan jurus berkelompok.


Di sisi lain, murid-murid terbaik Karang Bolong ini tidak menargetkan cepat menghabisi lawan. Mereka sengaja mengulur waktu, menghabiskan tenaga lawan. Yang penting, tujuan akhirnya mereka bisa memenangkan pertarungan.


Begitulah, ketika Komba dan Dadung Aksa sudah kelelahan. Mereka tak mampu melindungi diri lagi. Hawa sakti yang menjadi pelindung juga sudah menipis. Akhirnya tusukan, sabetan dan ayunan senjata lawan kini mampu menorehkan luka-luka di tubuhnya.


Luka-luka yang mengakibatkan semakin rapuhnya pertahanan. Mereka hanya bisa menggeram. Mengutuk cara menyerang lawan yang tidak ksatria. Tapi ini perang yang mengutamakan kemenangan dengan taktik apapun caranya. Bukan adu tanding satu lawan satu.


Dan pada akhirnya seberapa besar kekuatan apapun akan habis. Dewan Kehormatan yang sudah tahu musuh tak berdaya hanya menggunakan satu orang untuk menghabisi lawannya.


Dadung Aksa dan Komba sama-sama tertusuk satu pedang tepat di bagian jantungnya. Tubuhnya perlahan roboh ke tanah dengan wajah yang tidak percaya akan semua ini.

__ADS_1


Tidak percaya upaya mereka menghancurkan Karang Bolong gagal begitu saja. Padahal secara kekuatan mereka lebih unggul. Pihak lawan yang jumlahnya lebih sedikit ternyata mampu mengobrak-abrik dengan taktik yang sudah dipersiapkan.


Pada saat itu pula dari dalam hutan terlihat tubuh Hanujara yang dikobari api lalu meledak. Pentalan tubuhnya sampai keluar. Kebetulan yang jatuh di depan Komba adalah potongan kepala Hanujara.


Sementara di depan Dadung Aksa jatuh sosok Abilawa yang telah menjadi kurus kering lemah tak berdaya. Melihat empat pemimpin telah jatuh semua, sisa-sisa murid Gunung Sindu yang masih bertahan segera jatuhkan senjata lalu lari terbirit-birit.


***


Sebelumnya.


Pertarungan Asmarini dan Hanujara semakin sengit. Hanujara tidak hanya melemparkan satu bara api yang keluar dari parangnya, tapi bisa dua atau lebih banyak lagi.


Asmarini sedikit kerepotan ketika bara api yang menyerangnya semakin banyak. Yang bisa ditangkis, maka dia tangkis dengan cepat, dan yang tak mampu dihalau dihindari saja sehingga bara api itu menghantam semak atau pohon di belakangnya.


Bara api yang terpental balik langsung tersedot lagi ke dalam senjata Hanujara. Semangatnya bertambah lagi ketika dia mengambil alih jalannya pertarungan. Niatnya yang ingin membalas kematian Gardika semakin membara.


Si cantik mungil ini melihat setiap bara api yang berhasil ditangkis selalu tersedot balik ke dalam parang. Sementara kebakaran akibat bara api yang nyasar semakin banyak.


Akhirnya Asmarini mundur sejauh mungkin sambil memutar pedang di depan. Dengan senjata yang sudah dialiri hawa sakti dia membuat pusaran angin di depan tubuhnya.


Baru kali ini dia harus keluarkan tenaga lebih banyak. Peluh menetes di dahinya. Tubuhnya juga sedikit bermandi keringat. Namun, dia terus tenang. Dia yakin bisa mengatasinya.


Bara api seolah tak pernah habis melesat keluar dari parang. Kali ini bukan ditangkis, begitu berada di dekat pusaran angin yang tercipta dari putaran pedang, bara api itu ikut berputar-putar tak mampu menembus pusaran angin.


Semakin banyak bara api yang terkumpul di dalam pusaran angin. Sebenarnya Asmarini merasa kepanasan di belakang pusaran angin itu. Dia hanya terus memutarkan pedangnya.

__ADS_1


Bara api yang banyak itu terkumpul di tengah-tengah pusaran angin. Semuanya bergabung menjadi satu dan ukurannya semakin besar. Setelah dirasa cukup, Asmarini hentikan putaran pedang. Lalu dengan cepat mendorongkan dua tangan dengan tenaga penuh.


Wugh!


Gabungan belasan bara api yang berukuran besar terdorong melesat cepat menghantam Hanujara. Asmarini sendiri sampai terdorong ke belakang dan jatuh telungkup.


Sementara Hanujara siap menyedot kembali bara api berukuran sepuluh kali lipat dari sebelumnya itu. Senyumnya terkembang lebar. Dia merasa kemenangan sebentar lagi akan diraih.


Akan tetapi apa yang terjadi? Semakin dekat bara api besar itu berubah menjadi bola api yang berkobar-kobar sangat panas. Begitu menyentuh senjatanya, bukannya tersedot malah parangnya meleleh.


Dalam keterkejutannya, Hanujara tak sempat menghindar lagi ketika bola api ini menghantam dirinya, lalu badannya dikobari api yang panasnya tidak terkira. Tubuhnya terpental jauh dan meledak hancur seperti di ceritakan sebelumnya.


Di tempatnya, Asmarini sudah duduk bersila mengatur napas dan memulihkan tenaga. Dia sempat melihat nasib Hanujara tadi sebelum dirinya bermeditasi. Dia bernapas lega karena caranya berhasil.


Sungguh pertarungan yang melelahkan. Namun, dia merasa puas. Selain dirinya selamat, pengalamannya juga bertambah.


***


Beralih ke Adijaya yang melawan Abilawa.


Adijaya menyerang dalam jarak dekat. Dia tidak takut berbenturan dengan tangan lawan yang terlihat membara. Karena dua tangannya sudah dibuat sedingin salju. Dia menggunakan jurus yang sama dengan lawan, tapi beda hawanya, dingin.


Panas lawan dingin. Abilawa terlihat heran melihat gerakan Adijaya merupakan jurus miliknya. Malah hawa dingin yang terpancar semakin kuat membuat hawa panas yang dimilikinya seolah tertahan.


"Meniru jurus lawan, tapi dengan hawa yang berbeda. Siapa dia sebenarnya?" batin Abilawa sambil terus mengeluarkan hawa panasnya.

__ADS_1


Abilawa kerahkan seluruh kekuatannya. Dia merasakan kekuatan lawan setingkat gurunya. Ada sekelumit dalam benaknya ingin menghindari pertarungan ini, tapi lawan sepertinya tak memberikan celah.


"Astaga!" desis Abilawa ketika kekuatannya tertahan. Tak bisa melepaskan ilmunya yang mengandung hawa panas. Malah hawa dingin mulai merasuk ke dalam tubuhnya.


__ADS_2