Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Mengunjungi Sahabat


__ADS_3

Alasan Puspasari mengambil tugas menyelidiki Seta Aji karena selain mengenal laki-laki ini -sebatas kenal saja- juga mempunyai sahabat yang bertetangga dengan Seta Aji.


Puspasari berharap bisa mengorek keterangan banyak dari sahabatnya ini. Namanya Amba Citra, gadis seumuran dengannya. Rumah Amba Citra tepat di depan rumah Seta Aji. Di pisahkan oleh jalan desa.


Perjalanan menuju rumah Amba Citra lumayan lama. Agak sore baru sampai di sana. Sebelum mengetuk pintu, Puspasari sempatkan melihat ke rumah Seta Aji. Tampak sepi. Sepertinya pemuda itu sedang keluar.


Muncul Amba Citra dari dalam langsung menyilahkan masuk. Setelah basa-basi sejenak Puspasari meminta bicara di dalam kamar saja.


Kebetulan kamar Amba Citra berada di bagian depan berdampingan dengan ruang tamu. Dengan membuka jendela kamar, bisa melihat ke arah rumah Seta Aji.


"Sepertinya ada hal yang sangat penting ,sehingga kau meminta bicara di dalam," kata Amba Citra.


Saat sahabatnya bicara tadi, Puspasari sedang memandang ke rumah Seta Aji. Amba Citra yang memperhatikannya tampak heran tapi belum berani menanyakan.


"Sangat penting," sahut Puspasari.


"Soal apa?"


Puspasari angkat dagunya menunjuk ke rumah Seta Aji.


Dalam benak Amba Citra berpikir kenapa sahabatnya iniselalu memperhatikan rumah tetangganya itu. Sebagai sahabat pasti tidak akan ada yang ditutup-tutupi. Pasti dia mau terbuka.


"Seta Aji, ada apa dengan dia?" tanya Amba Citra.


"Aku ingin tahu lebih jauh tentang dia,"


Bibir Amba Citra menganga, keningnya mengkerut. "Jangan katakan kalau kau jatuh cinta padanya?"


Giliran Puspasari yang kerutkan kening sambil menarik wajahnya. Lalu dia menghempas napas lega. Maklum saja Amba Citra menyangka demikian, karena dia belum tahu tujuan yang sebenarnya.


Amba Citra menatap sahabatnya menunggu jawaban. Si gadis ini perawakannya tak jauh beda dengan Puspasari. Tinggi semampai, cantik, hanya wajahnya bulat dengan mata agak belo. Berbeda dengan Puspasari yang memiliki wajah lonjong dan mata tipis.


"Aku tak mau kau menyangka yang bukan-bukan terlebih dahulu, aku ingin memperoleh keterangan yang banyak tentang dia darimu,"


"Baik, tapi apa kau yakin aku memiliki pengetahuan banyak tentang Seta Aji?"


"Tentu saja, karena kau tetangganya!"


"Baiklah, silakan bertanya!" Amba Citra mengangkat telapak tangannya menghadap ke atas.


Puspasari menarik napas panjang. Kesannya seolah-olah dia menenangkan hatinya agar tidak gugup. Ini malah membuat Amba Citra semakin menyangka gadis itu telah jatuh hati kepada Seta Aji.


"Aku ingin tahu siapa saja wanita yang pernah menjalin tali kasih dengannya?"


"Nah, kan!" Bola mata Amba Citra membelalak bagai hendak mencelat keluar.


"Kenapa kau?" Puspasari sedikit terkejut melihat sikap Amba Citra.


"Tampaknya benar, kau jatuh cinta padanya,"

__ADS_1


"Cepat katakan!" rengek Puspasari.


Namun, ketika Amba Citra hendak berkata tangan Puspasari mengangkat. Dia mengikuti mata Puspasari yang memandang ke rumah di seberang jalan.


Terlihat seseorang datang, ketika hendak membuka pintu orang itu malah mematung. Sepasang matanya melihat ke sebuah bangku di dekat jendela. Orang itu adalah si pemilik rumah alias Seta Aji.


Tangan Seta Aji meraih sesuatu di atas bangku. Diangkat dan diacungkan di depan mukanya. Ternyata secarik kain putih. Bukan secarik! Setelah diperhatikan lagi rupanya ada tiga lapis.


Tiga lembar kain putih dengan ukuran selebar siku tangan. Yang mengejutkan, setiap carik kain itu ada lukisan bergambar tanda silang berwarna merah di tengah-tengah.


Puspasari yang melihat dari kamar sahabatnya merasakan jantungnya berdebar kencang. Dia melihat Seta Aji menggulung tiga lembar kain itu jadi satu lalu dibawa masuk.


"Kenapa kau seperti ketakutan?" tanya Amba Citra.


"Tidak!" Puspasari segera menggeleng. "Teruskan!"


"Apanya?"


Puspasari melotot kesal. "Yang tadi aku tanyakan!"


"Kenapa tidak langsung tanya ke orangnya saja?" Amba Citra malah menggoda sahabatnya. Kedua matanya berkedip-kedip genit dengan sesimpul senyum di bibirnya.


Puspasari mendesah panjang. Amba Citra memang suka bercanda. Candaannya memang menghibur di kala hati sedang gundah. Tapi tidak untuk masalah ini.


"Ayolah, aku benar-benar memerlukan keterangan ini," rengek Puspasari agak manja. Sikap yang belum pernah ia tunjukkan kepada Adijaya.


"Baiklah, setahu aku ada empat wanita yang pernah berhubungan dengan dia..."


"Yang pertama Arum Honje. Setelah kandas sama gadis itu, dia dapat yang baru namanya Rara Intan..."


"Yang ke tiga Kemala!" potong Puspasari.


"Nah, kau sudah tahu..."


"Yang ke empat aku belum tahu!"


"Hah!" Amba Citra malah terkejut. Dia menutup mulutnya.


Bukan apa-apa, gadis berwajah bulat ini tiba-tiba ingat dengan kabar peristiwa pembunuhan yang belum lama menggegerkan. Nama-nama yang barusan dia sebut adalah korban pembunuhan.


"Kamu kenapa?" tanya Puspasari yang melihat sorot mata sahabatnya seperti ketakutan.


"Ap.. ap.. ap...!"


"Apa?" tukas Puspasari.


"Apa kau sedang menyelidiki pembunuhan itu?" tanya Amba Citra setelah menenangkan diri. Kini dia merasa salah sangka.


"Memangnya kenapa kalau iya?"

__ADS_1


"Aku tahu kau juga sahabatnya Arum Honje. Bekas-bekas kekasih Seta Aji itu telah menjadi korban pembunuhan. Entah kebetulan atau tidak mereka semua bekas kekasih Seta Aji. Apa kau menuduh Seta Aji pelakunya?"


"Iya!" jawab Puspasari. "Semuanya dibunuh dengan cara dicekik, lalu ada goresan tanda silang di paha. Dan yang lebih tragis, Kemala sempat diperk*sa terlebih dahulu,"


"Untuk apa Seta Aji melakukannya?"


"Balas dendam!"


"Terus kenapa kau ingin tahu bekasnya yang ke empat?"


"Karena dia sasaran berikutnya!"


"Hah!"


Lagi-lagi Amba Citra terkejut seperti baru saja melihat dedemit (setan). Tubuhnya tampak bergidik ketakutan. Seolah-olah dia yang akan jadi korban selanjutnya.


"Keteranganmu akan membantu menyelamatkan nyawa seseorang. Kau tadi melihatnya, kan? Dia membawa kain yang ada gambar tanda silang,"


Amba Citra mengkerutkan badannya. Dia memeluk sahabatnya.


"Kamu kenapa?" tanya Puspasari.


"Aku takut,"


"Jangan-jangan, kau yang ke empatnya!"


"Bu.. bukan!"


"Terus kenapa ketakutan?"


"Mendengarnya, ngeri!"


"Ya, sudah, cepat katakan!"


"Namanya Larasati."


Amba Citra menjelaskan tentang gadis bernama Larasati itu. Selengkap mungkin. Dia juga merasa tenang, dengan begitu setidaknya sahabatnya yang memiliki ilmu silat ini akan menjaga Larasati dari ancaman pembunuhan.


Sebelum pulang Puspasari diajak makan sore bersama Amba Citra dan orang tuanya. Amba Citra anak kedua. Kakaknya yang juga perempuan telah tinggal bersama suaminya.


Dia mempunyai adik laki-laki yang masih berumur enam tahun. Si adik tidak ada di rumah karena sedang di ajak main bersama kakek neneknya.


Lagi-lagi Puspasari merasa teriris hatinya melihat keluarga sahabatnya yang masih lengkap. Tidak seperti dirinya yang sebatang kara.


Ketika Puspasari keluar dari rumah sahabatnya, dia melihat Seta Aji sedang membetulkan pagar rusak yang di samping rumah. Dia menatap tajam ke arah pemuda itu.


Rasanya ingin melabrak dan menyerangnya, memaksanya mengakui kalau si pemuda itu telah membunuh Arum Honje. Tetapi belum ada bukti kuat yang mengarah kepadanya.


Puspasari langsung memalingkan wajah ketika Seta Aji berpaling memandangnya. Gadis ini segara melangkah cepat meninggalkan tempat itu.

__ADS_1



__ADS_2