
Rombongan Adijaya memasuki sebuah hutan yang cukup rapat pepohonannya. Ada jalan setapak yang bisa dilewati. Keadaannya agak remang-remang karena dedaunan yang sangat lebat menghalangi sebagaian besar cahaya matahari. Hanya berupa titik-titik kecil saja yang berhasil menembus, itu pun pudar sampai di bawah.
Arya Sentana berjalan paling depan diikuti tiga perempuan di tengah dan Adijaya paling belakang. Mereka berjalan biasa saja tanpa merasa khawatir dihadang binatang buas atau lainnya. Tapi...
Tap!!!
Tangan kanan Arya Sentana secara naluri bergerak sendiri menangkap sesuatu yang melesat cepat dari arah depan.
"Apa itu?" tanya Praba Arum.
Di belakang, Adijaya tampak siap siaga. Kerlingannya mengitari tempat sekitar. Di sisi lain dia sedang menunggu bisikan Padmasari.
"Senjata rahasia, paku," jawab Arya Sentana setelah melihat benda digenggamannya.
"Ada yang hendak main-main dengan kita!" ujar Praba Arum.
Dua gadis lain hanya saling pandang, tapi meningkatkan kewaspadaannya. Selama perjalanan mereka mulai akrab.
"Kita lanjutkan saja." kata Arya Sentana seraya melanjutkan jalannya.
Kini langkah mereka penuh kewaspadaan. Lemparan senjata tajam tadi menandakan ada seseorang atau mungkin bisa lebih tengah mengintai mereka.
Siapa dan untuk apa belum mereka pikirkan. Yang penting sekarang adalah hati-hati dan segera keluar dari hutan ini.
Benar saja setelah sejauh lima tombak mereka dikejutkan oleh luncuran senjata rahasia lagi. Kini arahnya dari samping kanan dan kiri.
Clep! Clep!
Senjata berupa paku itu menancap di pohon setelah berhasil dihindari.
Trang!
Beberapa lagi berhasil ditangkis oleh kipas Praba Arum dan Payung Terbangnya Adijaya. Seandainya saja Asmarini dan Sekar Kusuma membawa senjata, mungkin mereka sudah menghunusnya.
Berarti ada banyak pengintai yang bersembunyi dan mungkin saja mereka ini sudah dalam kepungan.
Praba Arum tampak hendak berteriak namun ditahan oleh Arya Sentana, "Tidak perlu," bisiknya.
Lalu mereka mempercepat langkah.
Wuss! Wuss! Wuss!
__ADS_1
Trang!
Clep! Clep!
Semakin cepat langkah semakin banyak serangan bokongan. Namun selalu bisa dihindari atau ditangkis. Arya Sentana menghalau serangan itu dengan tenaga dalam yang diubah menjadi tameng angin. Sedangkan Adijaya menahan dengan payung.
"Awas diatas!" seru Adijaya memperingatkan saat melihat ada bahaya dari atas.
Arya Sentana mendongak. Satu sosok serba hitam tengah mengayunkan pedang hendak menebas kepalanya. Murid Ki Ranggasura ini cepat mundur dengan memiringkan badannya sehingga tebasan itu mengenai angin saja.
Praba Arum yang sudah geram langsung menghambur sambil mengibaskan kipasnya menyerang sosok serba hitam yang kepalanya juga dibungkus kain hitam.
"Jurig pengecut!" maki Praba Arum.
Di belakang ternyata Adijaya juga sudah terlibat dalam pertarungan dengan orang yang sama berpakaian serba hitam dan kepalanya juga dibungkus kain hitam. Juga sama bersenjata pedang.
Namun, Adijaya tetap tenang dalam menghadapi lawannya. Sampai saat ini dia belum menerima bisikan dari Padmasari. Kenapa sekarang dia bergantung padanya? Dia sendiri tak bisa menjawab pertanyaan ini.
Keheningan dalam hutan kini pecah oleh suara dentingan beradunya senjata.
"Hanya dua yang muncul." kata Arya Sentana dalam hati. Pasti bukan cuma dua tapi banyak. Siapa mereka? Apa tujuannya?
Begitu juga yang dialami Adijaya. Payungnya berhasil mendorong bagian dada lawannya hingga tersungkur tapi lenyap begitu menyentuh tanah.
"Manusia atau jurig mereka?" gumam Adijaya.
"Lanjutkan lagi, kita harus segera keluar dari hutan ini." kata Arya Sentana kembali berjalan paling depan.
Sampai lima tombak, tidak ada lagi gangguan. Tapi mereka belum merasa aman selagi masih di dalam hutan itu. Sikap awas dan waspada selalu dipasang di setiap langkah.
Tiba-tiba terdengar suara dari atas. Mereka segera melompat ke depan sejauh dua tombak setelah melihat apa yang ada di atas.
Brukk!
Sebuah kerangkeng besar terbuat dari kayu hampir saja mengurung mereka. Jelas ada pihak yang ingin menangkap mereka hidup-hidup.
Serangan-serangan yang mereka terima juga bersifat hanya melumpuhkan bukan untuk membunuh. Apakah ini masih berhubungan dengan peristiwa kemarin malam?
Padmasari telah mengingatkan Adijaya, akan ada bahaya yang selalu mengintai. Sementara Asmarini dan Sekar Kusuma berusaha lebih dekat dengan Adijaya. Mencari perlindungan.
"Mungkin mereka penguasa hutan ini." ujar Arya Sentana.
__ADS_1
"Bisa jadi mereka orang bayaran yang ingin menangkap kita," timpal Adijaya yang mulai sadar akan peringatan Padmasari.
"Keduanya serba mungkin," ujar Praba Arum.
"Ayo!"
Arya Sentana sudah berjalan lagi di depan. Yang lainnya segera mengikuti. Kalau yang merintangi mereka adalah penghuni hutan ini maka setelah keluar tidak akan mengganggu lagi. Tapi kalau penyerang itu adalah orang bayaran, maka akan tahu juga setelah di luar nanti.
Tapi mereka tidak tahu berapa lama lagi keluar dari hutan itu? Berapa panjang jalan setapak yang mereka lalui? Namun mereka tak takut sama sekali, mereka selalu siap jika ada rintangan lagi yang menghadang.
Jauh di ujung sana sekitar puluhan tombak tampak cahaya terang. Cahaya matahari. Ujung dari hutan ini. Semangat mereka tambah menggebu karena sebentar lagi bisa keluar dari hutan ini.
Namun apa yang terjadi? Baru beberapa langkah saja mereka sudah dihadang oleh sosok serba hitam lagi. Sosok ini tinggi besar, berdiri tegak menghadang jalan mereka. Sepasang mata dari lubang kain hitam pembungkus kepalanya menyorot tajam memancarkan sinar kekuningan.
"Apa maksud Ki Sanak menghalangi jalan kami?" tanya Arya Sentana.
Bukan jawaban yang didapat. Tapi serangan ganas mendadak menerjang Pendekar Tinju Dewa. Orang ini tidak bersenjata namun angin yang menyertai gerakan pukulannya terasa sangat kuat.
Serangan pertama berhasil mengelak, serangan kedua harus ditangkis.
Dek!
Dua tenaga beradu. Sangat kuat. Arya Sentana mengukur tenaga lawan berada di atasnya. Tapi aneh, dia yang mengira akan terpental akibat adu tenaga ternyata tubuhnya tetap bergeming di tempatnya.
Orang tinggi besar itu pun tampak berseru heran ketika malah dirinya yang terdorong empat langkah. Segera dia lipat gandakan tenaga lalu menyerang lagi dengan gerakan lebih cepat dan kuat.
Arya Sentana yang masih belum mengerti keadaanya disibukan kembali menghadapi lawannya. Saat beradu tadi tangannya terasa sakit bagai menghantam besi, tapi rasa sakit itu cepat hilang.
Begitu juga sekarang ketika gerakan jurusnya memaksa harus berbenturan dengan tangan lawan. Rasa sakitnya cuma sekejap.
Namun, Adijaya mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Karena sebelumnya dia melihat bayangan Padmasari menyelinap masuk ke raga Arya Sentana.
Apa yang dirasakannya membuat tidak fokus kepada penyerangnya, pikirannya tak menentu. Akibatnya Arya Sentana lengah sehingga dihujani pukulan dan tendangan. Hal ini membuat istrinya cemas.
Segera saja Praba Arum hendak turun tangan membantu sang suami tapi...
Dukk!!!
Wuussh!
Bruugh!
__ADS_1