
Asmarini mendengkus kesal setelah mendengar penuturan Parwati. Karena dulu dia juga pernah merasakan namanya dijodohkan paksa. Tentu saja Parwati belum tahu apa yang menimpa keluarganya setelah dia melarikan diri.
"Aku tidak bisa melawan keluarga Raksana, ilmu silat mereka lumayan tinggi. Entah siapa gurunya," lanjut Parwati membayangkan akibat yang akan diderita seandainya nekad melawan.
Menurut gadis itu, dia menyayangkan ayahnya kenapa sampai meminta bantuan kepada keluarga itu. Padahal semua orang tahu mereka suka menindas yang lemah karena merasa paling hebat ilmunya.
"Bahkan Ki Lurah di desa mereka bertekuk lutut di bawah pengaruhnya!"
Asmarini menoleh ke Adijaya. Sebuah tatapan minta persetujuan dan Adijaya tahu maksudnya. Lalu pemuda yang sudah jadi suaminya ini mengangguk pelan.
Seperti rencana Asmarini semula. Bahwa setelah menikah dia ingin kembali berpetualang bersama suaminya. Dua hari setelah pernikahan mereka langsung meninggalkan padepokan.
Tidak ada yang melarang kepergian mereka. Orang-orang terdekat Adijaya di padepokan memakluminya. Adijaya tidak pernah lama tinggal di padepokan. Walaupun begitu jasa-jasanya terhadap padepokan terhitung banyak.
"Asal sekali-sekali pulang ke sini!" pinta Praba Arum saat itu.
Sementara itu Ki Brajaseti dan Cakra Diwangsa masih berada di sana. Mereka hendak membujuk Sekar Kusuma untuk diboyong ke kediaman Ki Brajaseti dan dijadikan muridnya.
"Aku akan membantumu," kata Asmarini kepada Parwati lalu berpaling ke suaminya. "Dari mana kita mulai?"
"Kita lihat situasi desa terlebih dahulu. Kita tidak tahu apa yang terjadi setelah Parwati pergi," jawab Adijaya.
Asmarini kembali menatap Parwati. "Tenang saja, suamiku ini seorang pendekar terkenal!"
Adijaya terbatuk-batuk. "Jual nama dia!" gerutunya pelan.
"Apa?"
"Oh, tidak, tidak apa-apa!" Adijaya memilih fokus ke tali kekang.
Perjalanan mereka menuju desa Rancawangi yang tidak jauh lagi dari sini. Tapi mereka tidak sampai masuk ke dalam wilayah desa. Kerera kuda mereka berhenti di depan kedai pinggir jalan.
Hanya Asmarini yang turun dan memasuki kedai. Parwati tetap sembunyi di dalam dan Adijaya masih di tempat kusir.
Di dalam kedai cukup ramai dan kebetulan laki-laki semua. Melihat kedatangan Asmarini, semuanya mendadak terdiam. Pandangan mereka seolah tak ingin lepas dari tubuh mungil tapi indah itu.
Asmarini tidak peduli, dia melangkah mendekati tempat pemilik kedai untuk memesan beberapa makanan. Dia bilang makanannya mau dibawa ke dalam kereta kuda.
__ADS_1
Ketika gadis ini hendak kembali setelah mendapatkan dan membayar pesanannya, dua orang lelaki menghadangnya.
"Gadis cantik, Juragan pasti mau, kau harus ikut kami!" Salah satunya hendak menarik tangan, tapi Asmarini segera mundur.
"Siapa kalian, kenal juga tidak tapi seenaknya saja mau bawa-bawa orang!"
Dua lelaki ini tertawa keras, tapi wajah mereka sengaja dibuat garang bermaksud menakuti. Nyatanya Asmarini masih bersikap datar.
"Tidak perlu tahu siapa kami, kau sudah memasuki desa ini dan kebetulan kau cantik. Maka kau harus diserahkan ke Juragan Raksana!"
"Siapa Raksana, raja? Aku tidak mau!"
"Jangan sampai kami berbuat kekerasan, kami tidak ingin melukai tubuhmu yang mulus itu. Nanti Juragan marah lagi, hahaha...!"
"Coba saja kalau berani!" tantang Asmarini.
Gadis ini tidak menunggu serangan, malah dia yang menyerang duluan. Karena satu tangannya membawa makanan, dia menggunakan kaki untuk menendang.
Dua lelaki ini tidak menyangka akan mendapat serangan. Beruntung mereka masih sempat bisa menghindar lalu menyerang balik.
Melihat badan Asmarini yang mungil, tentu saja mereka menganggap enteng. Dengan congkak mereka seperti mempermainkan si gadis. Tapi begitu masing-masing mendapat satu tendangan keras, kecongkakan mereka seketika hilang.
Perut mereka seolah jebol. Dua tangan langsung menekap perut karena saking sakitnya. Belum selesai sampai di situ, tendangan Asmarini kini menghantam pipi mereka. Dua lelaki ini terjungkal.
Teman-teman mereka yang lain segera menghambur mengurung Asmarini. Ada enam orang yang semuanya berwajah garang. Tidak tanggung-tanggung mereka langsung menggenggam golok.
Tangan kiri masih memegang makanan. Tangan kanan menarik pedang Bunga Emas. Pertempuran di depan kedai langsung terjadi. Asmarini sama sekali tidak mengalami kesulitan menghadapi enam lawannya.
Pedang Bunga Emas buatan Adijaya sangat berkualitas. Dalam keadaan biasa atau tidak dialiri tenaga dalam pedang ini tetap kuat walau berbenturan keras. Sebaliknya, golok-golok lawan banyak yang retak setelah berbenturan dengan pedang ini.
Bahkan ada yang hancur berkeping-keping karena memaksa terus dipakai. Orang yang goloknya sudah hancur segera meninggalkan pertarungan.
Pada saat Asmarini sedang bertarung, Adijaya diam-diam masuk ke kedai mencari keterangan. Tidak sulit mendapatkannya, pemilik kedai bicara blak-blakan tanpa rasa takut.
Baru tadi pagi posisi lurah desa diambil paksa oleh Raksana. Tapi anak buah Raksana sudah banyak menyebar ke pelosok desa untuk menindas dan menakut-nakuti.
Tidak ada orang yang berani melawan. Bahkan keluarga Ki lurh Wardana yang memiliki ilmu silat juga tidak mampu melawan. Desa Rancawangi berada dalam cengkraman penderitaan.
__ADS_1
Pedang Bunga Emas yang menebar aroma harum sudah banyak menggoreskan luka di lawan-lawannya. Enam orang ini tak mampu menyentuh si gadis barang sedikitpun. Bahkan mereka keteteran menghadapi gadis mungil ini.
Beberapa jurus kemudian mereka sudah tak mampu melanjutkan. Akhirnya memilih kabur semuanya. Mereka tahu, majikan mereka pasti tak akan percaya dengan hal ini. Tapi daripada mereka mati konyol masih lebih baik dimaki-maki juragan mereka.
Setelah keadaan aman, Adijaya bersama istrinya sudah berada di dalam kereta. Parwati sangat terkejut setelah mendengarkan keterangan yang didapatkan Adijaya. Bahkan dia tidak tahan untuk menangis.
Bagaimana tidak, kakaknya dijadikan budak nafsu Raksana. Ayah dan ibunya dikurung. Sesaat dia merasa menyesal, kenapa tidak menerima saja perjodohan ini.
Sekarang kalaupun dia menyerahkan diri, tidak mungkin keluarganya akan selamat. Malah akan semakin bertambah penderitaannya. Satu-satunya cara adalah melawan. Ini juga akan membebaskan warga desa dari rasa ketakutan.
Sayangnya dia tidak memiliki kekuatan besar. Dia juga ragu apakah kedua orang pemilik kereta kuda ini juga mampu melawan keluarga Raksana?
"Kami akan membantumu sampai tuntas," kata Asmarini meyakinkan. "Percayalah!"
"Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi aku juga takut karena masalah ini kalian mendapat celaka nantinya,"
"Sudahlah tenang saja, sebaiknya kau tetap sembunyi di sini,"
"Bisakah kalian membantuku?"
"Tentu saja kami akan membantumu," tukas Asmarini.
"Maksudku, bisakah kalian mencari seseorang?"
"Siapa?" tanya Adijaya.
Kemudian Parwati menyebutkan sebuah nama beserta letak rumahnya yang masih satu desa dengannya.
"Baiklah, aku yang akan mencarinya!" kata Adijaya. "Sekarang kita makan dulu, aku juga sudah lapar!"
***
PROMO:
Author menulis novel lain yang berjudul :
TERPAKSA JADI PENDEKAR
__ADS_1
Seperti apa ceritanya? Cari aja di platform lain yang berwarna kuning. Udah ada 15 bab.
Terima Kasih.